JELAJAH LITERASI

Karen Armstrong: Muhammad, Pribadi Abadi

in Nukilan by

Dalam momen maulid Nabi Muhammad dan juga ulang tahun penulis Karen Armstrong, kami menukil tulisan pengantar Armstrong untuk bukunya Muhammad: A Prophet For Our Time yang diterjemahkan dan diterbitkan Penerbit Mizan. Armstrong menyatakan bahwa Muhammad justru sosok yang relevan pada masa kini karena jahiliah bukan era sejarah melainkan cara berpikir yang melahirkan kekerasan dan teror.

Sejarah sebuah tradisi keagamaan merupakan dialog berkelanjutan antara realitas transenden dan peristiwa terkini di ranah duniawi. Orang yang beriman menyelidik masa lalu yang disucikan, mencari-cari pelajaran yang dapat berbicara secara langsung kepada kondisi kehidupan mereka.

Sebagian besar agama memiliki figur utama, seorang individu yang menjelmakan ideal-ideal iman tersebut dalam sosok manusia. Dalam merenungkan kesunyian Buddha, kaum Buddhis melihat realitas tertinggi Nirwana yang ingin diraih oleh tiap-tiap mereka; dalam Yesus, orang Kristen mendedah kehadiran Ilahi sebagai kekuatan kebaikan dan kasih sayang di dunia.

Sosok-sosok paradigmatik itu menerangi kondisi yang seringkali suram dalam dunia penuh cacat tempat kita mencari penyelamatan ini. Mereka menunjukkan kepada kita apa yang dapat diraih oleh manusia.

Kaum Muslim telah senantiasa memahami ini. Kitab suci mereka, al-Quran, memberi mereka sebuah misi: untuk menegakkan masyarakat yang adil dan layak, yang di dalamnya segenap anggotanya diperlakukan dengan hormat. Kesejahteraan politik komunitas Muslim dulu, dan juga kini, merupakan hal yang sangat penting.

Layaknya setiap cita-cita agama, hal itu nyaris mustahil untuk dipenuhi, namun setelah setiap kegagalan, kaum Muslim mencoba untuk bangkit dan memulai kembali. Banyak ritual, filosofi, doktrin, teks suci, dan tempat suci Islam merupakan hasil dari kontemplasi yang seringkali menyakitkan dan kritis terhadap diri sendiri atas peristiwa politik dalam masyarakat Islam.

Kehidupan Nabi Muhammad (570-632 M) menjadi penting dalam upaya perwujudan cita-cita Islam itu, baik dulu maupun sekarang. Perjalanan hidupnya menyingkap kerja Tuhan yang misterius di dunia dan mengilustrasikan ketundukan sempurna (dalam bahasa Arab, kata untuk “tunduk” adalah islam) yang harus dilakukan setiap manusia kepada Ilahi.

Sejak masa hidup Nabi, kaum Muslim telah berupaya untuk memaknai kehidupan beliau dan menerapkannya kepada kehidupan mereka sendiri. Kurang lebih seratus tahun semenjak wafatnya Muhammad, ketika Islam terus menyebar ke wilayah-wilayah baru dan mendapatkan pemeluk baru, para sarjana Muslim mulai mengompilasi kumpulan besar ucapan (hadis) dan kebiasaan (sunnah) Nabi, yang kelak akan menjadi landasan bagi hukum Islam. Sunnah mengajarkan kaum Muslim untuk meneladani cara Muhammad berbicara, makan, mencintai, bersuci, dan beribadah, agar dalam detail-detail terkecil kehidupan sehari-hari mereka, mereka mereproduksi kehidupan beliau di muka bumi dengan harapan mereka akan meraih kecenderungan batin Nabi untuk tunduk sepenuhnya kepada Tuhan.

Pada masa yang kurang lebih bersamaan, pada Abad ke-8 dan ke-9, sejarawan Muslim pertama mulai menuliskan riwayat hidup Nabi Muhammad: Muhammad ibn Ishaq (w. 767); Muhammad ibn ‘Umar al-Waqidi (w. s. 820); Muhammad ibn Sa’d (w. 845); dan Abu Jarir ath-Thabari (w. 923). Para sejarawan ini tidak sekadar mengandalkan ingatan dan kesan-kesan mereka sendiri, melainkan sedang mengupayakan rekonstruksi sejarah yang serius. Mereka memasukkan dokumen-dokumen awal dalam narasi mereka, melacak tradisi lisan hingga ke sumber aslinya, dan, kendati memuliakan Muhammad sebagai hamba Allah (man of God), mereka bukannya sama sekali tidak kritis.

Sebagian besar lantaran upaya-upaya merekalah kita tahu lebih banyak tentang Muhammad daripada tentang hampir semua pendiri tradisi-tradisi religius besar lainnya. Sumber-sumber awal ini tak dapat diabaikan oleh para penulis biografi Nabi yang belakangan, dan saya akan sering merujuk kepada mereka di halaman-halaman buku ini (Muhammad: A Prophet For Our Time).

Karya penulis biografi awal Muhammad barangkali tidak akan memuaskan seorang sejarawan modem. Mereka adalah orang-orang dari masa mereka sendiri dan sering memasukkan kisah-kisah mukjizati dan bersifat legendaris yang akan kita tafsirkan berbeda hari ini.

Tetapi mereka sadar akan kerumitan bahan mereka. Mereka tidak mengajukan satu teori atau interpretasi atas peristiwa-peristiwa tertentu sembari mengabaikan yang lainnya. Terkadang mereka menjajarkan dua versi yang berbeda atas sebuah peristiwa, dan memberi bobot yang setara kepada kedua kisah itu, sehingga para pembaca bisa membuat keputusan mereka sendiri. Mereka tidak selalu setuju dengan riwayat yang mereka muat, tetapi mencoba untuk menyampaikan kisah Nabi mereka sejujur dan sebenar mungkin yang mereka bisa.

Ada bagian-bagian yang hilang dalam pengisahan mereka. Kita nyaris tidak mengetahui apa-apa tentang kehidupan awal Muhammad sebelum beliau mulai menerima apa yang diyakininya sebagai wahyu dari Allah pada usia empat puluh. Tak pelak, legenda-legenda penuh pemujaan berkembang tentang kelahiran Muhammad, masa kecil, dan masa mudanya, dan ini benar-benar lebih memiliki nilai simbolis daripada historis. Juga sangat sedikit bahan tentang karier politik awal Muhammad di Makkah. Pada masa itu, beliau merupakan sosok yang relatif samar, dan tak seorang pun berpikir ada manfaat untuk merekam aktivitasnya.

Sumber informasi utama kita adalah kitab suci yang dibawakannya kepada orang-orang Arab. Selama kurang lebih dua puluh tiga tahun, dari sekitar 610 hingga wafatnya pada 632, Muhammad menyatakan bahwa beliau adalah penerima pesan-pesan langsung dari Tuhan, yang dikumpulkan menjadi teks yang kini dikenal sebagai al-Quran.

Kitab ini tentu saja tidak memuat kisah yang terang tentang kehidupan Muhammad, tetapi turun kepada Nabi sedikit demi sedikit, sebaris demi sebaris, ayat demi ayat, surah demi surah. Kadang-kadang, wahyu itu berkenaan langsung dengan situasi khusus di Makkah atau Madinah. Di dalam al-Quran, Tuhan menjawab para pengkritik Muhammad; beliau meninjau argumen mereka; beliau menjelaskan arti penting yang lebih mendalam dari sebuah pertempuran atau perselisihan di dalam masyarakat.

Ketika setiap kumpulan ayat baru diwahyukan kepada Muhammad, kaum Muslim menghafalkannya, dan mereka yang bisa menulis menuliskannya. Kompilasi resmi pertama al-Quran dibuat pada 650, dua puluh tahun setelah kematian Muhammad, dan meraih status kanonik.

Al-Quran merupakan firman suci Tuhan, dan otoritasnya tetap bersifat mutlak. Tetapi kaum Muslim tahu bahwa menafsirkan al-Quran tidak selalu mudah. Hukum-hukum al-Quran mula-mula diserukan kepada sebuah komunitas kecil, tetapi satu abad setelah wafat Nabi, kaum Muslim menguasai sebuah imperium yang luas, merentang dan Himalaya hingga Pirenia (pegunungan yang memisahkan Semenanjung Iberia dari daratan Eropa). Lingkungan mereka sama sekali berbeda dengan lingkungan Nabi dan generasi pertama Muslim, dan Islam harus berubah dan beradaptasi.

Esai-esai pertama dalam sejarah Muslim ditulis untuk menjawab kebingungan ini. Bagaimana kaum Muslim bisa menerapkan wawasan dan kebiasaan Nabi untuk masa mereka sendiri?

Ketika menyampaikan kisah kehidupan Nabi, para penulis biografi awal mencoba untuk menjelaskan beberapa ayat al-Quran dengan mereproduksi konteks historis ketika wahyu tersebut disampaikan kepada Muhammad. Dengan memahami apa yang telah mendorong munculnya ajaran al-Quran tertentu, mereka bisa mengaitkannya dengan situasi mereka sendiri dengan menggunakan proses analogi yang ketat. 

Para sejarawan dan pemikir masa itu percaya bahwa mempelajari perjuangan Nabi untuk membuat firman Tuhan didengar pada Abad Ke-7 akan membantu mereka melestarikan semangatnya pada masa mereka sendiri. Sejak awal sekali, menulis tentang Nabi Muhammad tak pernah merupakan pekerjaan yang sepenuhnya bertujuan untuk mengenang masa lalu (antiquarian pursuit).

Proses tersebut berlanjut hingga kini. Sebagian fundamentalis Muslim melandaskan ideologi militan mereka pada kehidupan Muhammad; kaum ekstremis Muslim yakin bahwa beliau tentu akan membenarkan dan mengagumi perbuatan kejam mereka. Muslim lain terperangah dengan klaim ekstremis ini, dan menunjukkan pluralisme al-Quran yang sangat luar biasa, yang mengutuk tindakan agresi dan memandang bahwa semua agama yang diberi petunjuk dengan benar sebagai agama-agama yang berasal dan satu Tuhan.

Kita memiliki sejarah panjang Islamofobia dalam budaya Barat yang berakar jauh sejak masa Perang Salib. Pada Abad ke-12, para pendeta Kristen di Eropa berkeras bahwa Islam merupakan agama pedang yang kejam, dan bahwa Muhammad merupakan seorang penipu yang memaksakan agamanya pada dunia yang enggan menerimanya dengan kekuatan senjata; mereka menyebutnya seorang bernafsu besar dan berkelainan seksual. Versi menyimpang tentang kehidupan Nabi ini menjadi salah satu ide yang diterima oleh Barat, dan orang Barat selalu merasa sulit untuk memandang Muhammad dalam sorotan yang lebih objektif.

Sejak penghancuran World Trade Center pada 11 September 2001, para anggota Christian Right di Amerika Serikat dan beberapa media Barat telah melanjutkan tradisi kebencian ini, dengan menuduh bahwa Muhammad adalah seorang pecandu perang. Sebagian bahkan lebih jauh lagi menyebutnya sebagai seorang teroris dan pedofil.

Kita tidak bisa lagi membiarkan kebencian semacam itu, karena ini menguntungkan para ekstremis yang bisa menggunakan pernyataan tersebut untuk membuktikan bahwa dunia Barat memang sedang menggalang serangan Perang Salib baru terhadap Dunia Islam. Muhammad bukanlah seorang yang kejam. Kita mesti mendekati kehidupannya dalam cara yang seimbang agar dapat mengapresiasi capaian-capaiannya yang besar. Memelihara prasangka yang tak akurat bisa merusak toleransi, kebebasan, dan bela rasa yang semestinya mencirikan budaya Barat.

Saya menjadi yakin akan hal ini lima belas tahun lalu, setelah fatwa Ayatullah Khomeini yang menetapkan hukuman mati bagi Salman Rushdie dan penerbitnya karena apa yang dipersepsi sebagai penghujatan terhadap Muhammad dalam The Satanic Verses. Saya membenci fatwa itu dan yakin bahwa Rushdie memiliki hak untuk menerbitkan apa pun yang dia pilih, tetapi saya terganggu oleh sebagian pendukung liberal Rushdie yang secara halus beralih dari pengecaman fatwa tersebut kepada pengutukan Islam itu sendiri tanpa hubungan sama sekali dengan fakta-fakta.

Tampaknya keliru untuk membela prinsip liberal dengan menghidupkan kembali prasangka Abad Pertengahan. Kita sepertinya tidak belajar apa-apa dari tragedi 1930-an, ketika jenis kebencian semacam ini membukakan peluang bagi Hitler untuk membunuh enam juta Yahudi.

Tetapi saya menyadari bahwa banyak orang Barat yang tidak punya kesempatan untuk merevisi kesan mereka tentang Muhammad, sehingga saya memutuskan untuk menuliskan sebuah kisah populer yang bisa dibaca orang banyak tentang riwayat hidupnya untuk melawan pandangan yang sudah berakar dalam ini. Hasilnya adalah Muhammad: A Biography of the Prophet, yang pertama kali terbit pada 1991.

Akan tetapi, dengan terjadinya peristiwa 11 September, kita perlu berfokus pada aspek lain dari kehidupan Muhammad. Maka, ini adalah sebuah buku yang sama sekali baru dan sepenuhnya berbeda, yang saya harap akan berbicara secara lebih langsung kepada realitas dunia pasca 11 September yang mengerikan.

Sebagai sosok paradigmatik, Muhammad menyampaikan pelajaran penting, bukan hanya kepada kaum Muslim, melainkan juga kepada orang-orang Barat. Kehidupannya adalah sebuah jihad: seperti yang akan kita lihat, kata ini tidak berarti ‘perang suci’, melainkan “perjuangan”.

Muhammad benar-benar berpeluh dalam upayanya untuk menghadirkan kedamaian di dunia Arab yang tercabik oleh perang, dan kita butuh orang yang siap untuk melakukan hal tersebut pada hari ini. Hidupnya merupakan kampanye tanpa lelah untuk melawan ketamakan, kezaliman, dan keangkuhan.

Beliau menyadari bahwa tanah Arab sedang berada pada titik balik dan bahwa cara pikir lama tidak lagi memadai. Maka, beliau mempertaruhkan dirinya sendiri dalam upaya kreatif untuk mengembangkan sebuah solusi yang sama sekali baru.

Muhammad benar-benar berpeluh dalam upayanya untuk menghadirkan kedamaian di dunia Arab yang tercabik oleh perang, dan kita butuh orang yang siap untuk melakukan hal tersebut pada hari ini. Hidupnya merupakan kampanye tanpa lelah untuk melawan ketamakan, kezaliman, dan keangkuhan.

Karen Armstrong

Kita memasuki era sejarah yang lain pada 11 September, dan harus berjuang dengan kesungguhan yang setara untuk mengembangkan cara pandang yang baru. Anehnya, peristiwa-peristiwa yang berlangsung di Arab Abad ke-7 mengajarkan banyak hal kepada kita tentang peristiwa-peristiwa di masa kita dan arti pentingnya yang mendasar jauh lebih banyak, sesungguhnya, daripada ucapan-ucapan para politisi yang pintar bersilat lidah.

Muhammad tidak sedang mencoba memaksakan ortodoksi agama–beliau tidak terlalu tertarik pada metafisika–melainkan mengubah hati dan pikiran orang-orang. Beliau menyebut semangat yang sedang menyebar luas di zamannya sebagai jahiliah. Kaum Muslim biasanya memahami ini sebagai “zaman kebodohan”, yakni periode pra-lslam di Arab. 

Akan tetapi, seperti yang ditunjukkan oleh riset terbaru, Muhammad menggunakan istilah jahiliah untuk merujuk bukan kepada era sejarah, melainkan kepada keadaan pikiran yang menyebabkan kekerasan dan teror di Arab Abad ke-7. Saya akan menunjukkan bahwa jahiliah juga banyak terdapat di Barat hari ini, sebagaimana juga di dunia Muslim.

Muhammad secara paradoks menjadi sosok pribadi yang tak lekang oleh waktu justru karena beliau begitu berakar dalam periodenya sendiri. Kita hanya bisa memahami pencapaian ini jika kita mau mengerti apa yang dihadapinya pada saat itu.

Akan tetapi, seperti yang ditunjukkan oleh riset terbaru, Muhammad menggunakan istilah jahiliah untuk merujuk bukan kepada era sejarah, melainkan kepada keadaan pikiran yang menyebabkan kekerasan dan teror.

Karen Armstrong

Untuk dapat melihat kontribusi apa yang bisa diberikannya kepada kesulitan yang sedang menimpa kita sendiri saat ini, kita mesti memasuki dunia tragis yang menjadikannya seorang nabi hampir seribu empat ratus tahun silam, di puncak sebuah gunung yang sepi dan tak jauh dari pinggiran kota suci Makkah.[]

(Dinukil dari: Armstrong, Karen. 2007. Muhammad: Prophet for Our Time. Bandung: Penerbit Mizan. Hal. 28-36.)

Foto: Karen Armstrong dalam sebuah wawancara dengan televisi Swedia pada 23 September 2016. Sumber foto: Wikipedia.org.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Latest from Nukilan

Kicau Burung-Burung

Cerpen Saleem Haddad Catatan Redaksi: Cerpen ini dinukil dan diterjemahkan dari Palestine
Go to Top