JELAJAH LITERASI

Jangan Remehkan Fiksi!

in Bukupedia by

Banyak penelitian menunjukkan bahwa membaca karya sastra atau fiksi mampu meningkatkan empati dan kasih sayang. Bahkan, University of California Irvine mengajarkan sastra kepada mahasiswa kedokteran.

APA yang anda rasakan saat membaca bagian akhir novel Bumi Manusia; saat Annelies Mellema dipaksa meninggalkan suaminya, Minke, dan ibunya, Nyai Ontosoroh, ke Belanda? Kepedihan, bukan? Kepedihan karena kekalahan menghadapi hukum kolonial; kepedihan karena cinta yang dibunuh oleh penjajahan.

Itulah kemampuan karya sastra atau fiksi. Ia mampu menyedot emosi pembacanya ke dalam perasaan karakter-karakter di dalamnya. Aristoteles bilang, ketika membaca tragedi, manusia diliputi oleh dua emosi: rasa kasihan (bagi karakter) dan ketakutan (bagi diri sendiri). Imajinasi kita membayangkan apa yang akan kita rasakan dan lakukan seandainya kita adalah Annelies, Minke, atau Nyai Ontosoroh.

Sudah banyak penelitian psikologi yang menunjukkan bahwa membaca karya sastra mampu meningkatkan empati dan kasih sayang. Ahli psikologi kognitif Kanada, Keith Oatley, menyebut sastra sebagai “simulator penerbangan untuk pikiran”. Seperti pilot yang bisa merasakan sensasi terbang tanpa lepas landas dalam sebuah simulator, maka orang bisa meningkatkan kecakapan sosial dan pengalaman hidup dengan membaca novel sambil rebahan.1Oatley, Keith. 2016. “Fiction: Simulation of Social Worlds”. US National Library of Medicine, National Institutes of Health.

Menurut Oatley, ketika membaca fiksi, orang mulai mengidentifikasi dirinya dengan tokoh-tokoh di dalamnya: mencoba memahami tujuan mereka; menjalani perubahan karakter mereka; dan menyerap hasrat mereka seakan dirinya sendiri. Tapi pada saat yang sama, seperti pilot di dalam simulator, pembaca sastra tetap sadar bahwa semua yang terjadi terhadap karakter tidak menimpa dirinya.

Oatley juga bilang, pembaca fiksi mengaktifkan apa yang diistilahkan dengan “theory of mind”: kemampuan seseorang untuk mengaitkan keadaan mentalnya (hasrat, keyakinan, pengetahuan, dan emosi) dengan orang lain, dan akhirnya memahami bahwa orang lain mungkin memiliki keadaan mental yang berbeda. Kemampuan inilah yang melahirkan empati.

Saat menikmati plot, misalnya, kita merasakan kebutuhan untuk mengetahui apa yang tiap-tiap karakter itu ketahui dan rasakan; apa respon mereka terhadap peristiwa-peristiwa; dan apa yang mereka pikirkan terhadap satu sama lain. Pengalaman ini, menurut Oatley, bermanfaat bagi seseorang untuk mengaktifkan empati: kemampuan memahami keadaan mental orang lain.

Riset lain oleh psikolog Diana Tamir dari Princeton Social Neuroscience Lab menunjukkan bahwa orang yang membaca lebih banyak karya sastra memiliki kognisi sosial yang lebih baik daripada yang tidak. Mereka lebih berkemampuan dalam membaca dan memahami apa yang orang lain pikirkan dan rasakan. Hal ini ditunjukkan oleh sebuah riset perilaku. Ketika dijatuhkan sesuatu ke lantai, orang yang merasa fiksi berpengaruh besar terhadap emosinya ternyata lebih peduli, sehingga dengan spontan mengambil barang yang jatuh tersebut.2Tamir, Diana, dkk. 2015. “Reading fiction and reading minds: the role of simulation in the default network”.US National Library of Medicine, National Institutes of Health.

Pengarang asal Inggris, Claudia Hammond, menulis di BBC, dari hasil riset-riset tersebut, tidak bisa dikatakan seratus persen bahwa orang yang membaca banyak fiksi bakal lebih altruistik (suka menolong) daripada yang kurang atau bahkan yang tidak. Hammond bilang, ada kemungkinan lain, yakni orang yang suka membaca fiksi justru mereka yang sudah memiliki empati besar di awal. Dua kemungkinan itu bisa saja terjadi. Riset kurang bisa mengamati itu kecuali dilakukan dalam periode waktu yang panjang.3Hammond, Claudia. 3 Juni 2019. “Does reading fiction make us better people?”. BBC.com.

Meskipun demikian, menurut Hammond, karya sastra atau fiksi memiliki sejumlah kemewahan yang tak dipunyai tulisan jenis lain, misalnya artikel jurnalistik. Pertama, seseorang bisa mendapatkan akses kepada kondisi mental dan spiritual orang lain secara lebih dalam dan intens. Kedua, pembaca fiksi untuk sementara waktu menonaktifkan prosedur berpikir logis-rasional. Dalam fiksi, tak ada pertanyaan-pertanyaan: fakta atau bukan, akurat atau tidak, dan bahkan logis atau tidak. Ketiga, dengan fiksi, orang bisa mengisahkan dan mengamati satu karakter dalam jangka waktu lama: puluhan, ratusan, dan bahkan ribuan tahun.

Jadi, mulai sekarang sepertinya kita harus mulai menghilangkan stereotipe bahwa fiksi lebih rendah daripada non-fiksi, seperti dalam pernyataan “fiksi atau fakta” atau “itu kan cuma fiksi”. Beberapa institusi kesehatan saat ini mulai menjadikan fiksi dan sastra salah satu bagian dari upaya pengobatan. Seperti ditulis Hammond, University of California Irvine bahkan telah menetapkan sastra dan humaniora sebagai salah satu mata kuliah bagi mahasiswa kedokteran.[]

1 Comment

  1. Buku-buku sastra sama penting, bahkan, menurut saya pribadi, lebih penting dari kitab-kitab baku yang memuat “kebenaran yang telah selesai”. “Kebenaran” yang telah selesai ini berbeda di masing-masing buku, tidak heran menjadi sumber pertentangan dan pertikaian ketika berada di tangan orang-orang bebal.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Latest from Bukupedia

Buku Panduan Membunuh

Kebebasan datang dengan tanggung jawab. Di alam kebebasan, penulis dan penerbit harus

Menulis di Masa Corona

Menulis bisa menjadi katarsis di masa-masa sulit. Menulis punya keistimewaan. Tak hanya
Go to Top