JELAJAH LITERASI

Seks, Sastra, Kita

in Nukilan by

Oleh Goenawan Mohamad

Catatan Redaksi: Dalam tulisan tanggapan terhadap artikel Harry Aveling dan Shahnon Ahmad yang dimuat di Majalah Horison Oktober 1969, Goenawan Mohamad berpandangan sikap kehati-hatian pengarang Indonesia terhadap seks disebabkan perubahan sifat medium dan khalayak pembaca kesusastraan Indonesia modern.

SEKS adalah suatu risiko dalam kesusastraan Indonesia modern. Dalam sebuah studi singkat tentang seks dan kesusastraan kita masa kini, Harry Aveling menulis:

In modern Indonesian literature, we miss those themes so common in the classical indigenous, and other, modern, literature: the themes of flirtation, seduction, adultery, rape, and full bodily, intellectual and emotional commitment of lovers (married or not) to each other as equal human beings. There is, on the contrary, prudery about the body and its functions, and an elaborate pretense that marriage—and even parenthood—is sustained without reference to sex.1

Ada semacam sikap berhati-hati, ada semacam pretensi yang dipersiapkan baik-baik, untuk tidak menyinggung seks dalam kehidupan percintaan, perkawinan dan kehidupan ibu-bapak: saya kira demikianlah memang kecenderungan umum sejumlah besar hasil sastra kita, meskipun tidak semuanya. Keadaan ini memang menarik, bila kita bandingkan—sebagaimana Aveling membandingkannya—dengan apa yang terdapat dalam kesusastraan modern lainnya, dan terutama dengan pelbagai hasil sastra lama dalam sejarah kita.

Tapi mungkin soalnya ialah karena hasil sastra modern, sedikit-banyaknya, cenderung untuk merupakan sebuah pose. Seorang pengarang, dalam penglihatan saya, selalu nampak sebagai seorang dirigen.

Seorang dirigen menyajikan lagu dan sebuah orkestra di suatu saat dan menyajikan lagu serta orkestra lain di lain saat, tapi dengan begitu ia juga menyajikan dirinya sendiri. Di atas sana ia tampak dengan jelas, di tiap bagian partitur yang diperdengarkan ia selalu hadir sebagai pemberi interpretasi. Di hadapan publik, dialah orkestra itu sendiri: mengharapkan aplaus, menunggu pujian—dan mungkin juga keterkejutan serta amarah—atau apa saja, kecuali sikap tak acuh. Demikian pula pada dasarnya seorang pengarang modern: ia diberi kesempatan untuk menjadi genit dan kenes, sebagaimana ia diberi beban untuk bertanggung jawab atas namanya sendiri.

Sebab, bagi kita, zaman kesusastraan anonim sudah berakhir. Juga zaman ketika para penyair malu-malu dan enggan untuk menyatakan namanya—berarti menonjolkan diri—dan oleh sebab itu memakai “sandi-asma”, seperti misalnya Ronggowarsito dalam Serat Witaradya. Tradisi kesusastraan kita kini bermula dengan perbendaharaan sejarah masa Balai Pustaka dan Pujangga Baru, di mana paling sedikit nama pengarang tak disembunyikan lagi dan apa yang disebut Alisjahbana di tahun 1930-an sebagai “individualisme” ditekankan.

Sejak itu, seorang pengarang prosa atau puisi terlibat dalam persoalan bagaimana cara mengetengahkan diri sebaik mungkin. Ia tak bisa lagi bersembunyi dengan teknik lama, di balik karya-karya tanpa nama. Ia harus tampil terbuka penuh, atau memakai topeng, memilih satu pose yang dianggapnya baik buat dirinya.

Pada hemat saya, salah satu ciri kesusastraan kita dewasa ini ialah bahwa ia menjadi gelisah dengan publik yang hadir di hadapan dan di sekitarnya. Kesusastraan kontemporer kita, dalam derajat tertentu, adalah kesusastraan yang self-conscious.

Semua itu bukan saja karena disebabkan hilangnya kesusastraan anonim dari tengah-tengah kita, tapi juga karena terjadinya perubahan sifat medium serta khalayak. Berbeda dengan kesusastraan tradisional, karya-karya tak lagi diedarkan dalam bentuk manuskrip yang cuma dibaca oleh suatu lingkungan terbatas dengan tingkat persiapan jiwa yang sudah memperoleh bentuk, dan yang reaksinya sudah dapat diduga. Dengan kata lain: suatu publik yang intim. Sebaliknya, kesusastraan modern adalah kesusastraan lewat percetakan dan distribusi: ia menjangkau sidang pembaca yang previlege satu-satunya hanyalah melek-huruf. Ia menerobos keluar balairung-balairung, di mana karya-karya sastra lama dipelihara dan beredar secara terbatas, dan ia menemui khalayak yang tak selamanya siap dengan tradisi kultural yang sudah mapan: suatu khalayak yang bahkan—seperti kurang-lebih yang merupakan anggapan para pendiri “Volks-lectuur”–masih perlu dididik dengan bacaan “bermutu”. Perluasan kesempatan untuk memperoleh kesusastraan telah memberi kesusastraan modern kita suatu posisi baru: kita kehilangan keintiman dengan khalayak yang meluas itu.

Dari sanalah tumbuh dan berkembang beberapa frustrasi. Di satu segi kesusastraan modern Indonesia merupakan sebuah dunia tersendiri, dihuni oleh sejumlah kecil pengarang dan sejumlah para peminat yang paham; di lain segi ia berhadapan langsung dengan masyarakat yang heterogen dan kian menjadi heterogen. Di satu pihak ia menampilkan dan ditampilkan oleh seorang “aku”, tetapi di lain pihak ia terletak di tengah-tengah suatu lingkungan kebudayaan yang masih tetap enggan untuk membiarkan amour propre semacam itu. Dalam situasi itu ia pun mencari orang kedua yang bisa diajaknya berbicara, seorang “engkau”—tapi yang dihadapinya selalu adalah suatu konglomerat yang tanpa bentuk, bernama masyarakat. Perkembangan selanjutnya menunjukkan bahwa justru konglomerat yang tanpa bentuk itu menjadi kian penting dan kian nyata bagi dirinya, meskipun tidak juga menjadi mudah untuk dipahami dan memahaminya. Dalam dialektik seperti itulah kesusastraan Indonesia modern lahir dan diasuh. Masalah hubungan kesusastraan dengan masyarakatnya, oleh karena itu, merupakan masalah yang senantiasa menggelisahkan, sejak kritik sastra kita untuk pertama kalinya ditulis sampai dengan sekarang ini.2

Pada hemat saya, selama keintiman dengan khalayak belum pulih kembali dalam diri seorang pengarang, selama hubungan antara kesusastraan dengan masyarakatnya masih belum tenteram, selama kesusastraan masih belum bebas dari sikapnya yang self-conscious dan kikuk, selama itu pula banyak hal takut untuk dibicarakan atau sebaliknya terlalu keras diteriakkan—termasuk seks.

Dengan demikian yang menjadi persoalan bukanlah hadir atau tidak hadirnya seks dalam sastra, tetapi wajar atau tidak wajarnya suatu pengucapan literer. Dengan demikian kita tak bisa secara mudah menilai suatu kesusastraan yang tanpa seks sebagai kurang atau sebagai lebih, sebab yang menentukan di sini ialah sikap para pengarang terhadap masalah itu. Dan sikap adalah juga suatu peristiwa sosial. Seks atau tanpa seks bisa merupakan sekadar pose di hadapan publik.

Yang kita butuhkan dari tiap hasil sastra modern, dengan kecenderungannya untuk merupakan sebuah pose, tentu saja justru hilangnya kecenderungan itu. Godaan terbesar seorang penulis modern ialah ketika ia terlalu diperhatikan publik. Tetapi kita harus lebih dulu merasa tenteram dengan khalayak kita, untuk berbicara tanpa kekhawatiran, tanpa tuntutan, juga di saat kita berbicara menyinggung hal-hal penting seperti seks. Pada akhirnya kesusastraan yang dewasa akan lahir, ketika pengarangnya tidak menganggap khalayak itu sebagai majelis penguji ataupun sebagai jemaah pemuja.

Shahnon Ahmad dalam tanggapannya atas tulisan Aveling di atas, mengatakan:

Buat saya, apa yang disebut oleh Aveling sebagai “ketidakbolehan” (ketidakmampuan?–G.M.) pengarang-pengarang Indonesia memaparkan sudut-sudut seks ini tidak timbul sama sekali. Yang timbul hanya ketidakmauan. Dan ketidakmauan ini mempunyai hubungan yang erat dengan obligation pengarang-pengarang Indonesia terhadap bangsa dan tanah air mereka.3

Sukar bagi kita untuk menemukan dari mana Shahnon Ahmad sampai pada kesimpulan yang sedemikian: ia tak membubuhkan fakta-fakta untuk menyokongnya. Walaupun demikian, apa yang dinyatakannya tidak seluruhnya meleset. Ada sementara pikiran di antara pengarang-pengarang Indonesia, sepanjang sejarah kesusastraan kita, yang memang tidak ingin berbicara tentang seks dalam kesusastraannya. Salah satu sebabnya—tidak persis saya katakan dengan kalimat Shahnon Ahmad tentang “obligation pengarang-pengarang Indonesia terhadap bangsa dan tanah air mereka”—ialah karena semacam pendirian tentang noblesse oblige.

Seperti sudah dikatakan di atas, perluasan kesempatan bagi orang banyak untuk memperoleh kesusastraan, dengan pendidikan, mesin cetak dan distribusi, telah memberi kesusastraan Indonesia modern suatu posisi baru. Dalam frustrasinya menghadapi khalayak yang makin meluas itu, ia mene-mukan kompensasinya: ia mulai merasa dan menimbang-nimbang besarnya pengaruh karya-karya sastra di masyarakat. Kita mengenal tokoh Tuti, wanita pergerakan yang tipikal, dalam novel Takdir Alisjahbana, Layar Terkembang. Dalam suatu bagian diceritakan bahwa ia menonton sebuah pertunjukan sandiwara, dan menjadi terharu karenanya. Atas dasar itu ia pun dengan segera menyimpulkan, “betapa besarnya pengaruh seni atas jiwa manusia.” Tapi hampir serentak dengan itu, dan justru karena kesimpulannya itu, ia pun sampai pada pendirian selanjutnya: ia menolak karya seni yang bagus, jika kebagusannya itu “melemahkan hati”.

Tokoh Tuti, sebagaimana Takdir Alisjahbana sendiri, adalah prototip seorang intelektual yang membesar-besarkan potensi kesenian dan kesusastraan di satu pihak, tetapi—justru karena itu—ingin membatasi kebebasan kesusastraan di lain pihak, atas nama fungsi sosial. Demikianlah kesenian sebagai “satu olahraga mewah yang tanpa tujuan” ditolak, dan Takdir yang memujikan individualitas itu berbicara juga tentang solidaritas dan pertanggungan jawab kepada masyarakat4. Bagi jalan pikiran seperti ini, amat wajar apabila pengekangan diri sendiri dan pengekangan terhadap orang lain dapat dilihat sebagai kebajikan, bila perlu. Tidak semua hal boleh dikatakan, karena kesusastraan adalah kekuatan yang bisa menggerakkan kehidupan.

Saya sendiri tidak yakin, bahwa pendapat seperti itu merupakan sikap yang ideal. Di mana seorang pengarang begitu sibuk mengembangkan impiannya tentang kekuatan pengaruh karya-karya sastra di masyarakat, di situlah ia bisa kehilangan kebebasannya. Ia terperangkap oleh perkiraan yang pongah tentang dirinya sendiri: merasa bahwa ia punya peran yang begitu menentukan dalam kehidupan sosial (suatu hal yang amat meragukan, khususnya buat kesusastraan Indonesia), ia dikekang oleh kekhawatiran-kekhawatiran. Ia ngeri untuk salah langkah dengan perannya sendiri yang disangkanya besar itu. Seorang yang menganggap setiap kalimatnya akan menjadi milik umum, hanya akan menemukan dirinya tidak merdeka lagi untuk berbisik.

Tapi bagaimanapun harus kita akui, bahwa pandangan seperti yang dirumuskan Takdir Alisjahbana itu merupakan pandangan yang galib, dan cukup dominan, dalam sejarah kesusastraan Indonesia sejak permulaan Abad ke-20 ini.

Dalam versi lain “Volkslectuur”—dinas bacaan rakyat yang kemudian menjadi Balai Pustaka itu—menganutnya. Itulah sebabnya pelbagai macam sensor dilakukan di sana, dan itu pulalah sebabnya karya-karya yang dianggap immoral tidak diberi tempat dalam rencana penerbitannya dan digunting oleh dewan redaksinya.5 Bukankah badan penerbit terpenting di zaman sebelum perang itu, atas nama kesopanan, menolak sebuah novel yang kemudian ternyata merupakan salah satu karya terpenting dalam sejarah sastra modern Indonesia, yakni Belenggu?6

Dalam versi yang lain lagi, pandangan di atas juga pandangan HB Jassin, yang di satu pihak menerima Belenggu, tapi di lain pihak menganggap peranannya sebagai lukisan tentang masyarakat semata-mata. Kritikus ini menghendaki “lukisan yang menjadikan yang membentuk masyarakat”, dan menganjurkan pengarang-pengarang lain untuk “menggambar masyarakat yang idealistis, manusia yang tinggi derajatnya, manusia yang sempurna dalam segala-galanya, yang boleh dijadikan pedoman”. Bukankah pengarang dapat disamakan dengan “pesuruh yang diturunkan Dewi Kesenian akan menjadi penunjuk jalan bagi bangsanya?”7

Bagi sementara orang mungkin—paling tidak bagi saya—kepercayaan bahwa para pengarang adalah utusan Dewi Kesenian hanyalah sebuah takhayul, dan gambaran tentang “manusia yang sempurna dalam segala-galanya” adalah sesuatu yang tak mungkin, meskipun itu dilakukan oleh para pesuruh Dewi-dewi sekalipun. Tapi apa boleh buat: hal semacam itulah yang dikehendaki oleh para kritisi kesusastraan “pendidikan kita”. Hal itu pulalah yang diteruskan oleh para pemikir kesusastraan “perjuangan”: kalangan penulis realisme-sosialis, yang amat berpengaruh selama pertengahan 1960-an dan sesudahnya, yang dengan kerasnya telah mengucilkan otot genital dari otot-otot lain, dan berbicara tentang semangat, pikiran, dan perasaan manusia, tetapi tidak tentang nafsu berahinya.

Secara umun dapat dikatakan, bahwa sepanjang sejarah kesusastraan “pendidikan” dan “perjuangan” kita, pengarang-pengarang telah memperbesar pahlawan cerita mereka dengan menghilangkan fungsi alat kelaminnya. Tokoh yang sempurna itu mungkin bisa dikarikaturkan sebagai orang kasim yang kekar dan sekaligus berhati malaikat, tapi agaknya begitulah gambaran ideal sementara penulis kita tentang peran utamanya—yang sering disebut sebagai manusia baru. Dengan demikian nampak bahwa bagi sastra “perjuangan” umumnya seks bukan saja sebagai sesuatu yang terpisah dan tak relevan, tapi juga merupakan suatu kekuatan oposisi. Atau lebih tepat: seks adalah simbol reaksi, dan nafsu berahi adalah suatu unsur renegad.

Dibandingkan dengan perkembangan kesusastraan di Barat, ini adalah suatu kontras yang menarik. Dalam eseinya tentang pornografi dan kesusastraan Steven Marcus menulis:

Di dalam karya-karya para seniman avant-garde Abad ke-19 dan awal Abad ke-20, dan terutama di antara novelis-novelis, seluruh lapisan masyarakat modern mendapat serangan. Fokus penyerangan itu adalah kehidupan seks kaum borjuis dan kelas menengah, karena kelas ini dan cara-cara hidup yang mereka jalankan, telah menjadi kekuatan sosial yang berpengaruh. Kesukaran-kesukaran, kegelisahan, kontradiksi, hipokresi, ketidaksamaan, perasaan-perasaan bersalah dan kekacauan-kekacauan dalam kehidupan seksual kelas menengah, bagi novelis-novelis ini, bukan saja pada dasarnya buruk, tapi juga merupakan lambang dari ketidakadilan, kebobrokan, demoralisasi, dan malaise, yang bagi seniman-seniman ini merupakan ciri dari masyarakat di mana mereka hidup.

Mereka menyatakan bahwa suatu kehidupan seksual yang lebih merdeka, pada dasarnya adalah baik; mereka menggambarkan kegelisahan manusia modern di dalam hipokresi seksual, bukan saja untuk menonjol-nonjolkan atau membuat sensasi (meskipun ada gejala-gejala seperti ini), tapi untuk menggugah dan membangunkan masyarakat yang telah membiarkan berlangsungnya perbudakan yang begitu menakutkan.8

Apa yang dikatakan Steven Marcus itu menunjukkan, bahwa kehadiran seks dalam kesusastraan Barat Abad XIX dan awal Abad XX tak bisa dilepaskan dari kehendak emansipasi sosial. Jika bagi kesusastraan Indonesia modern (yang notabene juga lahir dalam hubungan dengan gerakan emansipasi sosial) seks adalah simbol reaksi, maka bagi kesusastraan Barat seks justru lambang revolusi. Dan ini pulalah yang masih terjadi hingga sekarang: eros berada di sayap kiri. Hippies, yippies dan pementasan “Hair” di Amerika, para provo di negeri Belanda, dan majalah Konkret di Jerman, adalah kombinasi Marx, Marcuse, Mao, Guevara dan cinta bebas.

Persoalan yang untuk dijawab di sini ialah: mengapakah kontras ini?

Aveling dalam studinya yang dikutip di atas menggambarkan para pengarang Indonesia sebagai on the whole young, well-educated men of the upper and more modernized strata of society. Saya lebih suka menyebut mereka sebagai sekelompok orang yang dibesarkan, dan hidup, sebagai bagian dari lapisan sosial yang justru tidak aman dengan strata atas masyarakatnya, tapi sementara itu juga bukan bagian dari tingkat paling bawah. Dengan kata lain, pada mereka terdapat pelbagai ciri satu kelas menengah yang sedang bergerak—paling sedikit karena pendidikan, kalau tidak karena asal-usul. Kenyataan ini juga berlaku buat para penulis realisme sosialis.

Dari situlah agaknya, bisa diterangkan mengapa kesusastraan kita ditimbuni dengan karya-karya protes sosial.

Dari situ pulalah agaknya bisa menjadi jelas mengapa sikap kita terhadap seks dalam kesusastraan diwarnai oleh semacam puritanisme. Kaum realisme-sosialis meletakkan “kemaksiatan feodal” sebagai salah satu musuh utamanya9. Apa yang dimaksudkan dengan istilah itu agaknya bisa diperjelas, jika kita mengetahui betapa bebasnya kehidupan seks lapisan masyarakat Gusti Kanjeng—seperti diceritakan oleh tokoh nenek dalam cerita Nugroho Notosusanto, “Tayuban”. Dan jika kita memperhatikan bagaimana seks dimasukkan ke dalam karya-karya sastra kontemporer kita, akan nampak suatu pola: seks adalah satu bagian logis dari keleluasaan berbuat, satu lanjutan dari kekuasaan dan kekayaan yang tidak sah. Novel Korupsi dari Pramoedya Ananta Toer dan Senja di Jakarta dari Mochtar Lubis adalah contoh terbaik dari pola itu. Cerita-cerita yang dibikin Motinggo Busye, terutama Cross-Mama, juga termasuk di dalam kecenderungan tersebut, demikian pula Gigolo Asbari Nurpatria Krisna dan Laki-laki dan Kota dari Kelik Diono, di mana adegan-adegan seksual dilukiskan dengan bebas sekali. Sebagaimana kaum feodal, wujud lama dari stratum atas masyarakat kita, mem-punyai kekuasaan untuk berbuat leluasa dalam kehidupan seksual, demikian pula kaum kaya baru, wujud baru dari stratum atas masyarakat kita, bisa meneruskan imoralitas tersebut. Semua itu, langsung atau tidak langsung, menunjukkan prasangka-prasangka suatu kelas menengah yang sedang bergerak, dan pada umumnya dapat dikatakan, bahwa seks dalam kesusastraan kita bukanlah pertanda serangan terhadap kehidupan seksual yang tak bebas, beku, dan borjuis (seperti yang terdapat dalam kesusastraan Eropa sejak awal Abad ke-20 hingga kini), tapi semacam afirmasi terhadap puritanisme itu.

Dengan mengatakan hal itu, tidak berarti dengan sendirinya kita bisa menyimpulkan adanya kesadaran akan masalah kelas dalam kesusastraan modern kita. Bagaimanapun dislokasi-dislokasi sosial berlangsung secara ruwet.

Lagipula, jika kita berbicara mengenai sikap terhadap seks dalam kesusastraan, banyak sekali faktor yang ikut membentuknya. Yang terpenting di antaranya ialah pelbagai sistem nilai-nilai: keyakinan Islam, adat, gereja, kepatuhan tradisional, yang berpadu dengan disiplin pendidikan Belanda. Bagian penting hidup kita ditentukan oleh sistem nilai-nilai itu, termasuk inhibisi kita mengenai hal-hal yang bersifat genital. Ini adalah kenyataan sosial yang amat jelas. Ini adalah kenyataan sosial yang terus semakin jelas, justru dalam masa kegelisahan dan keguncangan sistem nilai-nilai yang ada. Dalam masa seperti itu, orang selalu condong untuk mendapatkan apa yang sering disebut sebagai “pegangan”, suatu hal yang menunjukkan bukan saja masih kuatnya solidaritas serta ikatan, tapi juga menunjukkan masih dibutuhkannya solidaritas serta ikatan itu. Bagi alam pikiran kita, hidup yang tanpa “pegangan” tidak cuma dirasakan (dan memang) riskan, namun juga dirasakan kurang patut. Dalam kecemasan zaman ini, orang masih selalu ingin berlindung dalam apa yang dinamakan Lionel Trilling “kepastian-kepastian sistematis”.

Antara seks sebagai pengalaman berabad-abad dengan seks sebagai obyek research, kita memang berdiri di tengahnya. Bersama kita ialah kesusastraan Indonesia modern. Membandingkan sikap terhadap nafsu berahi heteroseksual dalam kesusastraan lama dengan yang dalam kesusastraan modern memang menarik. Tapi antara keduanya yang tampil bukanlah suatu “kontras yang aneh”, seperti yang dikatakan Aveling, melainkan suatu kontras yang wajar. Kesusastraan lama, seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, bukan cuma memiliki khalayak yang sudah intim, akan tetapi sekaligus merupakan milik khalayak homogen yang lebih toleran terhadap penggambaran seksual—karena rasa aman dari gangguan perubahan, serta rasa pasti tentang diri sendiri.

Dalam keadaan semacam itu para pengarang serta hadirinnya mempunyai prerogatif untuk mengendurkan yang amat kaku, serta mengembangkan kehidupan fantasi mereka dengan gembira, tanpa ketegangan. Dalam keadaan semacam itu, penggambaran seksual dapat tumbuh sedemikian rupa hingga keberahian terlukis secara wajar, menyenangkan dan indah, seperti yang kita lihat dalam versi Bali atas cerita Panji, “Malat”. Bahkan penggambaran seksual dari situ bisa berkaitan dengan hal-hal yang dekat dengan perlambangan mistik, seperti yang kita dapatkan dalam buku Gatoloco di Jawa.

Tapi, dapatkah kita mengharapkan prerogatif semacam itu dari kesusastraan modern? Kenyataan sejarah kebudayaan kita mengenai apa yang diketahui dan tidak diketahui tentang seks, apa yang diizinkan dan dilarang tentang perkelaminan, kini merupakan variasi ketegangan-ketegangan serta ketegangan dari variasi-variasi. Misteri asal yang agaknya telah melahirkan relief erotis Candi Sukuh, telah digantikan oleh tabu-tabu defensif yang berhadapan dengan rasa ingin-tahu. Di satu pihak berdiri sensor, organisasi massa dan pengadilan, di lain pihak berdiri dunia penonton blue-film, pornografi dan cinta bebas. Pengalaman konkret seksualitas kita telah diredusir menjadi soal hukum dan anti-hukum. Apakah yang tinggal kemudian, selain daripada konflik! Kesusastraan modern kita, dengan tegaknya yang ragu dan self-conscious, dengan posisinya yang gampang kena di tengah-tengah masyarakat yang heterogen mau tak mau ditentukan sebagian hidupnya oleh konflik itu.

Oleh sebab itulah, adegan-adegan seks di buku-buku dan di mingguan-mingguan kita dewasa ini pada dasarnya adalah tempat bagi rasa senang dan rasa berdosa kita. Untuk memenuhi rasa senang kita mendapatkan bahannya pada adegan-adegan semacam itu, sedang untuk menenteramkan rasa berdosa kita mengutuknya keras-keras. Tabu telah dilanggar, dan sesaji harus diadakan. Inilah sebenarnya yang dilakukan oleh para pengisi koran-koran minggu di Jakarta—yang lazimnya disebut “koran porno” itu. Di satu pihak mereka membongkar kisah-kisah pelanggaran susila, dengan sebisa mungkin disertai detail dan gambaran-gambaran untuk menggelitik nafsu pembaca. Di lain pihak mereka tak tanggung-tanggung memperingatkan bahaya imoralitas. Dalam derajat yang lain, dan dengan teknik yang lebih pandai, saya kira begitu pulalah rahasia kelarisan buku-buku Motinggo Busye akhir-akhir ini: ia tahu akan konflik yang tersembunyi di hati para pembacanya, ia memancing perhatian dan kegemaran mereka akan adegan tempat tidur, tapi ia sekaligus menebus perasaan bersalah mereka dengan moralisme dan beberapa tetes filsafat. Dan ia pun aman dari segala tuduhan kotor.

Tidakkah dengan demikian kita sebenarnya berada dalam situasi hipokrisi?

Dalam tingkat tertentu, memang begitulah agaknya. Kita berada dalam suatu ketegangan antara dorongan pembebasan emosional (yang berarti juga pembebasan individu dari sistem pantangan dan inhibisi) dengan ketakutan untuk memberontak. Freud dan Erich Fromm belum datang membantu kita. Sebagaimana dikatakan Aveling, nafsu berahi memang bukan untuk orang baik-baik dalam kesusastraan Indonesia modern umumnya, meskipun kita semua tahu bahwa kita memilikinya dan bahwa nafsu itu merupakan bagian yang sah dari hidup.

Namun dengan demikian yang kita butuhkan bukanlah dengan sendirinya sekian karya tentang coitus uninterruptus, di mana pengarang memilih pose sebagai seorang libertin dan sekaligus sebagai pemberontak sosial yang meneriakkan revolusi seksual. Seks yang terlampau diteriakkan sama kurang meyakinkannya dengan seks yang dilenyapkan. Yang kita butuhkan adalah semacam sikap wajar, yang mengembalikan seksualitas ke dalam kehidupan, dan menerima kenyataan itu tanpa ketegangan, sebagaimana kita menerima badan sebagai diri kita. Inilah saya kira yang telah dicapai Sitor Situmorang di pertengahan tahun 1950-an, ketika ia menulis “La Ronde”:

Adakah yang lebih indah
dari bibir padat merekah?
Adakah yang lebih manis
dari gelap di bayang alis?

Di keningnya pelukis ragu:
Mencium atau menyelimuti bahu?
Tapi rambutnya menuntun tangan
hingga pantatnya, penuh saran.

Lalu paha, Pualam pahatan
mendukung lengkung perut.
Berkisar di pusat, lalu surut
agak ke bawah, ke pusar segala,

hitam pekat, siap menerima dugaan indah.
Ah, dada yang lembut menekan hati
Terimalah
kematangan mimpi lelaki!

Di dalamnya tidak kita lihat adanya “sikap berhati-hati tentang badan dan fungsi-fungsinya”–seperti yang dikatakan kan Aveling sebagai salah satu ciri kesusastraan kita—dan di dalamnya berkembang kemungkinan keindahan pengalaman nafsu berahi. Di sana seksualitas adalah bagian yang tak terkutuk, tak menjijikkan, dan tidak pula diaksentuasikan sebagai pernyataan protes yang melengking. Apa yang tersirat di situ adalah juga yang tersirat dalam cerita Umat Kayam, “Musim Gugur Kembali Di Connecticut”. Tokoh utama cerita ini, Tono, menemukan kembali hasratnya untuk hidup, lebih jelas, dalam persetubuhan dengan istrinya. Seksualitas di sini begitu murni, suatu kontras yang mengharukan dengan sel penjara sebelumnya dan maut yang dipaksakan sesudahnya. Sebelum berangkat dibawa oleh pembunuh-pembunuhnya, Tono mencium lengan jaketnya, dan mencium bau mani di sana, dan ia tersenyum sebagaimana istrinya juga tersenyum: kenangan terakhir dari tanda kehidupan. Sebab seksualitas dalam cerita ini memang pertanda kehidupan, yang konkret dan yang berharga, dan yang tidak seharusnya lenyap hanya karena nasib yang absurd.

Sebagaimana begitulah kenyataannya.[]

[Dikutip dari: Goenawan Mohamad, Seks Sastra, Kita, (Jakarta: Sinar Harapan), 1981, hal 1-14. Tulisan ini juga pernah dimuat sebelumnya dalam Horison, No. 10, Tahun IV, Oktober 1969.]

[Sumber foto: White Board Journal]

1 Harry Aveling, “The Thorny Rose: The Avoidance of Passion in Modern Indonesian Literature”, Indonesia, No. 7 (April), 1969, Modern Indonesia Project, Cornell University, Ithaca, New York, hal. 67-76. Terjemahan tulisan itu, berikut tanggapan Shahnon Ahmad, dimuat dalam Horison, No. 10, Tahun IV, Oktober 1969.

2Barangkali sebuah tulisan perlu ditulis secara tersendiri untuk menggambarkan kenyataan ini: sejak polemik Takdir Alisyahbana dengan Sanusi Pane, atau bahkan sebelumnya, sampai dengan polemik Lekra versus Manifes Kebudayaan, pada hakikatnya kita menyaksikan perdebatan mengenai soal tersebut.

3Shahnon Ahmad, “Pengarang-pengarang Indonesia yang Malu-malu dan Sipu-sipu”, Horison, No. 10 Tahun IV, Oktober, hal. 298.

4S Takdir Alisyahbana, “Individualisme en Gemeenschapsbewustzijn in de Moderne Indonesische Letterkunde”, dalam Poedjangga Baroe, No. 9 Tahun VIII, Maret 1941, hal. 233-237.

5Lihat A Teeuw, Modern Indonesian Litenuture, Martinus Nijhoff, The Hague, 1967, hal. 14.

6Lihat AH Johns, “Genesis of a Modern Literature”, dalam Ruth McVey (ed), Indonesia, New Haven, H.R.A.F., 1963, hal. 418.

7HB Jassin, Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei, cetakan ke-4, Gunung Agung, Jakarta. MCMLXVII, hal. 135.

8Steven Marcus, “Pornografi dan Kesusastraan”, Horison, No. 11 Tahun III, November 1968, hal. 330.

9 Lihat D.N. Aidit, Tentang Sastra dan Seni, Yayasan “Pembaruan”, Jakarta, 1964, hal. 38.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Latest from Nukilan

Suap

Cerpen karya Putu Wijaya Catatan Redaksi: Cerpen “Suap” karya Putu Wijaya pertama

Pemurnian Hati

Artikel ini ditulis Hamza Yusuf sebagai pengantar untuk terjemahan dan penjelasan Kitab

Beragama dengan Nyaman

Mengapa ada sebagian orang beragama yang selalu saja merasa tidak nyaman dalam
Go to Top