JELAJAH LITERASI

Yerusalem: Sebuah Pendahuluan

in Nukilan by

Oleh Karen Armstrong

Catatan Redaksi: Artikel berikut ini dinukil dari Yerusalem: Satu Kota, Tiga Agama karya Karen Armstrong (Mizan Pustaka, 2018). Artikel ini menarik karena berupaya memahami Yerusalem—kota yang dirundung klaim politik Israel dan Palestina—dari sudut pandang spiritualitas dan mitologi. Apa makna “kota suci” bagi manusia? Kenapa Yahudi ateis tetap sangat posesif dengan Tembok Barat dan Arab sekuler bisa menangis saat menatap Masjid Al-Aqsha?

DI YERUSALEM, melebihi segala tempat yang pernah saya kunjungi, sejarah adalah dimensi kekinian. Mungkin hal ini dijumpai di semua wilayah sengketa, tetapi kesan itu begitu hebat saya rasakan ketika pertama kali saya datang untuk bekerja di Yerusalem pada 1983. Mulanya, saya terkejut oleh betapa kuat reaksi saya sendiri terhadap kota itu. Aneh rasanya berjalan berkeliling di sebuah tempat yang telah menjadi realitas imajinatif dalam hidup saya semenjak saya masih seorang anak kecil yang menyimak kisah-kisah Raja Daud atau Yesus. Sebagai seorang biarawati muda, saya diajarkan untuk memulai meditasi pagi saya dengan membayangkan adegan biblikal yang hendak saya renungkan. Maka, saya pun membayangkan Taman Getsemani, Bukit Zaitun, atau Via Dolorosa. Ketika saat itu saya hendak menjalani kegiatan sehari-hari di tengah situs-situs tersebut, saya jumpai bahwa Kota Yerusalem yang sesungguhnya jauh lebih gaduh dan membingungkan daripada yang saya bayangkan. Sebagai contoh, saya harus menerima fakta bahwa Yerusalem jelas merupakan kota yang amat penting pula bagi umat Yahudi dan Muslim. Ketika saya melihat orang-orang Yahudi berbalut kaftan atau para tentara tangguh Israel mencium bebatuan di Tembok Barat atau menyaksikan rombongan keluarga-keluarga Muslim memadati jalan dengan mengenakan busana terbaik mereka untuk menunaikan shalat Jumat di Haram Asy-Syarif, untuk pertama kalinya saya menyadari tantangan bagi pluralisme agama. Orang-orang bisa memandang simbol yang sama dengan cara yang sepenuhnya berbeda. Tak perlu diragukan keterpautan orang-orang itu dengan kota suci mereka tersebut, tetapi selama ini mereka tak pernah hadir dalam Yerusalem saya. Tetap saja kota itu juga merupakan kota saya: bayangan-bayangan lama saya tentang adegan-adegan biblikal senantiasa menjadi titik tolak pengalaman langsung saya tentang Yerusalem Abad ke-20. Terkait erat dengan sejumlah peristiwa terpenting dalam hidup saya, Yerusalem entah bagaimana telah menjadi bagian dari identitas saya sendiri.

Namun, sebagai warga negara Inggris, saya tak punya klaim politik atas kota itu, tak seperti rekan-rekan dan teman-teman baru saya di Yerusalem. Sekali lagi, ketika orang-orang Israel dan Palestina mengajukan argumen mereka kepada saya, saya terkesima melihat kekinian yang begitu nyata dari peristiwa-peristiwa masa lalu. Mereka semua mampu menuturkan, kadang dengan amat mendetail, peristiwa-peristiwa yang mengawali pembentukan Negara Israel pada 1948 atau Perang Enam Hari pada 1967. Sering saya amati bahwa penggambaran-penggambaran tentang kejadian masa lalu itu berpusat pada pertanyaan siapa yang melakukan sesuatu pertama kali. Siapa yang pertama kali memakai jalan kekerasan, Zionis atau orang Arab? Siapa yang pertama kali menyadari potensi Palestina dan membangun negeri itu? Siapa yang pertama kali mendiami Yerusalem, orang Yahudi atau orang Palestina? Ketika mereka mendiskusikan masa kini yang bergejolak, baik orang Israel maupun orang Palestina secara naluriah menengok ke masa lalu, perdebatan mereka dengan gampang bergulir dari Zaman Perunggu ke Abad Pertengahan, sampai ke Abad ke-20. Sekali lagi, ketika teman-teman Israel dan Palestina dengan bangga mengajak saya berkeliling melihat-lihat kota mereka, monumen-monumen yang sama terseret ke dalam konflik itu.

Pada pagi pertama saya di Yerusalem, saya diajari rekan-rekan Israel saya cara menemukan batu-batu yang digunakan Raja Herodes, yaitu dengan melihat sisi-sisinya yang terpotong menyudut. Batu-batu itu sepertinya ada di semua tempat dan selamanya menjadi pengingat akan komitmen umat Yahudi kepada Yerusalem sejak (dalam kasus ini) abad pertama Sebelum Masehi—jauh sebelum Islam muncul. Saat kami melewati pekerja-pekerja konstruksi di Kota Tua, mereka tak henti memberi tahu saya betapa Yerusalem sungguh-sungguh ditelantarkan oleh Kesultanan Utsmaniyyah saat kerajaan itu menguasai kota tersebut. Yerusalem baru bangkit lagi pada Abad ke-19, sebagian besar berkat jasa investasi orang-orang Yahudi—mereka menunjuk kincir angin yang dibangun Sir Moses Montefiore dan berbagai rumah sakit yang didanai keluarga Rothschild. Berkat Israel-lah kota itu mengalami kemakmuran yang tidak pernah ada sebelumnya.

Teman-teman Palestina saya memperlihatkan wajah Yerusalem yang amat berbeda. Mereka memamerkan kemegahan Haram Asy-Syarif dan madaris, madrasah-madrasah Islam, yang indah, didirikan di pinggir-pinggirnya oleh orang-orang Mamluk sebagai bukti komitmen umat Muslim kepada Yerusalem. Mereka membawa saya ke situs Nabi Musa di dekat Yerikho, yang dibangun untuk mempertahankan Yerusalem dari serbuan umat Kristen, dan istana-istana Umayyah yang luar biasa di dekat situ. Suatu kali, saat kami berkendaraan melintasi Betlehem, kenalan Palestina saya menghentikan mobil di dekat makam Rahel yang terletak di dekat jalan raya. Dengan bersemangat, ia ingin membuktikan bahwa bangsa Palestina telah merawat tempat suci umat Yahudi ini selama berabad-abad—sebuah laku kesalehan yang dibalas dengan kejahatan.

Dalam semua percakapan kami, satu kata terus muncul. Bahkan, orang Israel dan Palestina yang paling sekuler pun menyatakan bahwa Yerusalem adalah “suci” bagi bangsa mereka. Orang-orang Palestina bahkan menyebut kota itu Al-Quds, “Kudus”, meskipun orang-orang Israel menolak mentah-mentah pernyataan itu, dengan mengajukan fakta bahwa umat Yahudi-lah yang pertama kali menyebut Yerusalem sebagai kota suci, dan bahwa kota itu tidak pernah mendapat kedudukan sepenting Makkah dan Madinah bagi umat Muslim. Namun, apa makna kata “suci” dalam konteks ini? Bagaimanakah sebuah kota, penuh oleh manusia-manusia yang berbuat kesalahan dan dibanjiri oleh perbuatan-perbuatan yang paling tak suci, bisa dikatakan suci? Mengapa orang-orang Yahudi yang mengaku menganut ateisme militan begitu peduli pada kota suci itu dan sangat posesif terhadap Tembok Barat? Mengapa seorang Arab yang mengaku tak beriman meneteskan air mata ketika pertama kali berdiri di dalam Masjid Al-Aqsha? Saya bisa memahami mengapa kota itu suci bagi umat Kristiani, karena Yerusalem adalah tempat meninggal dan bangkitnya Yesus: kota itu menjadi saksi kelahiran agama Kristen. Namun, peristiwa-peristiwa penting kelahiran agama Yahudi dan Islam terjadi di tempat yang jauh dari Yerusalem, yaitu di Semenanjung Sinai dan kawasan Hijaz di Semenanjung Arab. Sebagai contoh, mengapa Bukit Zion di Yerusalem yang menjadi tempat suci umat Yahudi, bukannya Gunung Sinai tempat Tuhan menurunkan Sepuluh Perintah kepada Musa dan membuat perjanjian-Nya dengan bangsa Israel? Jelas saya keliru mengasumsikan bahwa kesucian sebuah kota disebabkan oleh hubungannya dengan peristiwa-peristiwa dalam sejarah penyelamatan, kisah mitis intervensi Tuhan dalam urusan umat manusia. Keinginan menemukan alasan mengapa sebuah kota menjadi suci membuat saya memutuskan menulis buku ini.

Hasil yang saya temukan adalah bahwa meskipun kata “suci” bertebaran dalam hubungannya dengan Yerusalem, seakan-akan sudah jelas dengan sendirinya, ternyata maknanya sangat rumit. Setiap agama dari tiga ajaran monoteistik memiliki riwayat-riwayat yang sangat mirip mengenai kota suci itu. Terlebih lagi, penghormatan kepada sebuah tempat atau kota suci adalah fenomena yang nyaris universal. Para sejarahwan agama percaya bahwa hal itu adalah salah satu manifestasi terawal dari agama di semua budaya. Manusia membentuk apa yang disebut sebagai geografi suci, yang tak ada hubungannya dengan peta saintifik dunia, tetapi memetakan kehidupan batin mereka. Kota, kebun, dan gunung di dunia fisik menjadi simbol-simbol spiritualitas ini, yang hadir di begitu banyak tempat sehingga tampaknya merupakan jawaban terhadap kebutuhan manusia yang mendalam, apa pun keyakinan kita tentang “Tuhan” atau hal-hal supernatural. Yerusalem menjadi—dengan berbagai alasan berbeda—titik pusat geografi suci umat Yahudi, Kristen, dan Muslim. Hal ini membuat amat sulit bagi mereka untuk memandang kota itu secara objektif, karena kota itu terkait erat dengan konsepsi mereka tentang diri mereka sendiri dan realitas tertinggi—kadang disebut “Tuhan” atau yang-sakral—yang memberi kehidupan duniawi kita makna dan nilai.

Ada tiga konsep saling berhubungan yang bakal sering muncul di halaman-halaman yang akan datang. Konsep pertama terkait dengan Tuhan atau yang-sakral. Dunia Barat cenderung memikirkan Tuhan secara agak antropomorfik dan terpersonalisasikan, dan akibatnya, gagasan tentang ketuhanan sering tampak inkoheren dan tidak masuk akal. Oleh karena istilah “Tuhan” ditolak oleh banyak orang karena hal-hal naif dan sering tidak bisa diterima yang dinyatakan dan dilakukan manusia atas nama-“Nya”, mungkin lebih mudah jika kita menggunakan istilah “yang-sakral”. Ketika merenungi dunia, manusia selalu mengalami sesuatu yang transenden dan menjumpai misteri di jantung eksistensi segala sesuatu. Mereka merasa bahwa hal itu sangat terkait dengan diri mereka sendiri dan dunia lahiriah, tetapi sekaligus juga melampauinya. Apa pun yang kita pilih untuk mendefinisikannya—manusia menyebutnya, antara lain, sebagai Tuhan, Brahman, atau Nirwana—transendensi ini merupakan fakta dalam kehidupan manusia. Kita semua pasti pernah mengalami hal seperti itu, apa pun pendapat teologis kita, ketika mendengarkan musik yang indah atau menyimak sebuah puisi indah dibacakan. Kita merasa batin kita tersentuh, dan untuk beberapa saat, kita merasa terangkat melampaui diri kita sendiri. Kita punya kecenderungan untuk mencari pengalaman semacam ini, dan jika tidak menemukannya di satu tempat—misalnya di gereja atau sinagoge—kita akan mencarinya di tempat lain. Yang-sakral dialami melalui berbagai cara: hal itu membuat manusia merasa takut, takjub, bersemangat, damai, cemas, dan mendorong mereka melakukan aktivitas moral. Hal itu merepresentasikan eksistensi secara lebih penuh, lebih bemilai, yang akan membuat diri kita utuh. Hal itu tidak hanya dirasakan sebagai kekuatan “di luar”, tetapi juga dirasakan di kedalaman diri kita sendiri. Namun, seperti pengalaman estetik apa pun, rasa kesakralan harus ditumbuhkan. Dalam masyarakat sekuler modern kita, hal ini tak selamanya menjadi prioritas, sehingga seperti kemampuan lain yang tak digunakan, kemampuan ini cenderung melemah. Dalam masyarakat yang lebih tradisional, kemampuan memahami yang-sakral dipandang sangat penting. Bahkan, tanpa rasa akan kehadiran keilahian, manusia sering merasa hidup ini tidak layak untuk dijalani.

Hal ini sebagian disebabkan manusia senantiasa mengalami dunia sebagai tempat yang penuh penderitaan. Kita menjadi korban dari bencana alam, kematian, kemusnahan, serta kezaliman dan kekejaman sesama manusia. Pencarian religius biasanya diawali dengan kesadaran bahwa ada sesuatu yang salah di dunia ini, sebagaimana sabda Buddha, “Hidup adalah penderitaan.” Selain penderitaan-penderitaan yang jamak dialami badan, kita semua pasti mengalami tekanan batin personal yang menyebabkan masalah yang tampak tak penting menjadi amat meresahkan kita. Ada perasaan ditinggalkan yang menyebabkan pengalaman-pengalaman semacam kematian seseorang yang dekat dengan kita, perceraian, putusnya persahabatan, atau bahkan sekadar kehilangan sebuah benda kesayangan, kadang-kadang tampak sebagai bagian dari sebuah keburukan yang mendasar dan universal. Seringkali penderitaan batin ini ditandai oleh rasa keterpisahan. Tampaknya ada sesuatu yang hilang dari hidup kita; eksistensi kita terasa terpecah belah dan tak lengkap. Kita merasakan ketidaksempurnaan, bahwa hidup tak semestinya seperti ini, dan bahwa kita kehilangan sesuatu yang hakiki bagi kebahagiaan kita—meski kita akan kesulitan menjelaskannya secara rasional. Rasa kehilangan ini muncul dalam banyak bentuk. Hal itu tampak jelas pada penggambaran Platonik tentang kembaran-jiwa yang kita terpisah darinya saat lahir dan pada mitos universal tentang surga yang hilang. Pada abad-abad yang telah lalu, para lelaki dan perempuan berpaling kepada agama untuk meredakan kepedihan ini, mereka mendapatkan kesembuhan dalam pengalaman kesakralan. Pada masa sekarang, di Barat, orang kadang-kadang mencari bantuan psikoanalisis, yang mengungkapkan rasa keterpisahan mendasar ini dalam peristilahan yang lebih ilmiah. Maka, rasa keterpisahan ini dihubung-hubungkan dengan memori kita saat berada dalam kandungan ibu dan syok traumatik yang kita alami saat dilahirkan. Apa pun pandangan yang kita pilih, rasa keterpisahan dan kerinduan untuk mengalami semacam keterhubungan kembali (rekonsiliasi) menjadi inti dari penghormatan kepada sebuah tempat suci.

Konsep kedua yang harus kita diskusikan adalah masalah mitos. Ketika manusia berusaha menjelaskan yang-sakral atau penderitaan dalam eksistensi manusia, mereka tidak mampu mengungkapkan pengalaman mereka dalam istilah-istilah yang logis dan diskursif, tetapi terpaksa menuangkannya dalam mitologi. Bahkan, Freud dan Jung, orang-orang pertama yang merintis penelaahan yang (dianggap) ilmiah atas jiwa, menggunakan mitos-mitos dari peradaban klasik atau agama ketika mereka berusaha menjelaskan peristiwa-peristiwa batin ini, dan mereka sendiri pun menciptakan mitos-mitos baru. Sekarang, kata “mitos” dipandang agak rendah dalam budaya kita; kata itu umumnya dipakai untuk menyebut sesuatu yang tidak benar-benar terjadi. Berbagai peristiwa ditolak karena “hanya” merupakan mitos. Hal ini berlaku pula dalam debat mengenai Yerusalem. Orang-orang Palestina mengklaim bahwa sama sekali tak ada bukti arkeologis bahwa kerajaan Yahudi didirikan Raja Daud dan bahwa tak ditemukan sedikit pun jejak keberadaan Bait Suci Salomo. Kerajaan Israel tidak disebut-sebut di satu pun teks yang sezaman dengannya, kecuali di Bibel. Oleh karenanya, besar kemungkinan hal itu hanyalah “mitos”. Orang-orang Israel juga menolak kisah perjalanan Nabi Muhammad ke langit (Mi’raj) dari Haram Asy-Syarif di Yerusalem—sebuah mitos yang menjadi dasar penghormatan umat Muslim kepada Al-Quds—sebagai sesuatu yang jelas tak masuk akal. Namun, saya kini yakin bahwa pandangan semacam itu tidak tepat. Mitologi tidak pernah dirancang untuk menggambarkan peristiwa-peristiwa sejarah yang bisa dibuktikan benar-benar terjadi. Mitologi merupakan sebuah upaya untuk mengungkapkan nilai batin atau untuk mengarahkan perhatian pada realitas-realitas yang terlalu kabur untuk dibicarakan secara koheren dan logis. Mitologi secara tepat telah didefinisikan sebagai sebuah bentuk kuno psikologi, karena menggambarkan kedalaman batin diri manusia yang sangat misterius sekaligus sangat memikat kita. Oleh karena itu, mitos-mitos “geografi suci” mengungkapkan kebenaran-kebenaran tentang kehidupan batin. Kisah-kisah itu menyentuh sumber-sumber tersamar kepedihan dan hasrat manusia, dan dengan demikian bisa menimbulkan emosi-emosi yang sangat kuat. Kisah-kisah tentang Yerusalem tidak bisa ditolak karena “hanya” merupakan mitos: kisah-kisah itu penting justru karena merupakan mitos.

Masalah Yerusalem menjadi eksplosif karena kota itu telah mendapat status mitis. Tak heran jika orang-orang di kedua kubu dalam konflik saat ini dan di masyarakat internasional sering mengimbau dikembangkannya debat rasional mengenai hak dan kedaulatan, terbebas dari semua tindakan berdasarkan emosi. Sungguh baik jika hal itu bisa terwujud. Namun, pernyataan bahwa kita bisa melampaui kebutuhan akan mitologi, akan selamanya menimbulkan bahaya. Manusia sudah sering mencoba mengenyahkan mitos dari agama. Sebagai contoh, para nabi dan pembaru pada masa Israel Kuno berupaya keras memisahkan agama mereka dari mitologi bangsa pribumi Kanaan. Mereka tidak berhasil. Kisah-kisah dan legenda-legenda kuno muncul kembali dengan amat kuat dalam mistisisme Kabbalah, sebuah proses yang digambarkan sebagai kemenangan mitos atas bentuk-bentuk agama yang lebih rasional. Dalam sejarah Yerusalem, kita akan menyaksikan bahwa orang-orang secara naluriah menengok pada mitos saat hidup mereka didera kesulitan dan mereka tidak bisa menemukan pelipur lara dalam ideologi yang lebih logis. Terkadang, peristiwa-peristiwa di dunia luar tampak seperti secara sempurna mengungkapkan realitas batin suatu kaum, sehingga segera mendapat status mitis dan memantik ledakan antusiasme yang mengalami proses mitologisasi. Dua peristiwa semacam itu adalah penemuan Makam Yesus Kristus pada Abad ke-4 dan penaklukan Israel atas Yerusalem pada 1967. Dalam kedua kasus, orang-orang yang terkait merasa yakin bahwa mereka telah jauh meninggalkan cara berpikir primitif ini, tetapi proses berjalannya peristiwa-peristiwa itu terbukti terlalu kuat bagi mereka. Malapetaka yang menimpa orang-orang Yahudi dan Palestina pada masa kita sendiri sungguh luar biasa sehingga tak heran bahwa sekali lagi mitos tampil kembali ke depan. Oleh karena itu, entah baik atau buruk efeknya, penelaahan mitologi Yerusalem sangatlah penting, setidaknya untuk menjelaskan hasrat dan perilaku orang-orang yang dipengaruhi oleh tipe spiritualitas ini.

Istilah terakhir yang harus kita pertimbangkan sebelum berangkat menelusuri sejarah Yerusalem adalah simbolisme. Dalam masyarakat kita yang berorientasi-sains, kita tak lagi secara alamiah berpikir dalam kerangka citraan dan simbol. Kita telah mengembangkan modus berpikir yang lebih logis dan diskursif. Ketimbang memandang fenomena lahiriah secara imajinatif, kita melucuti semua asosiasi emosi dari sebuah objek dan berkonsentrasi pada objek itu sendiri. Hal ini telah mengubah penglaman religius banyak orang di Barat, sebuah proses yang nanti akan kita saksikan dimulai pada Abad ke-16. Kita cenderung mengatakan bahwa sesuatu hanyalah simbol, secara hakiki terpisah dari realitas lebih misterius yang direpresentasikannya. Tidak demikian yang terjadi di dunia pramodern. Sebuah simbol dipandang turut berperan dalam realitas yang ditunjukkannya; sebuah simbol religius punya kekuatan untuk menunjukkan ranah sakral kepada orang-orang yang percaya. Sepanjang sejarah, yang-sakral tidak pernah dialami secara langsung—kecuali mungkin oleh sangat sedikit manusia yang luar biasa. Hal itu selalu dirasakan dalam sesuatu yang lain. Maka, keilahian dialami dalam sesosok manusia—lelaki atau perempuan—yang menjadi avatar atau inkarnasi dari yang-sakral; hal itu juga dijumpai pada suatu teks suci, undang-undang, atau doktrin. Salah satu simbol keilahian yang paling awal dan paling banyak dijumpai adalah suatu tempat. Manusia merasakan kesakralan pada gunung, kebun, kota, dan kuil. Ketika mereka datang ke tempat-tempat itu, mereka merasa memasuki dimensi lain, terpisah sekaligus selaras dengan dunia lahiriah yang biasanya mereka huni. Bagi orang-orang Yahudi, Kristen, dan Muslim, Yerusalem merupakan sebuah simbol keilahian semacam itu.

Hal ini tidak terjadi secara otomatis. Sekali sebuah tempat dipandang manusia sebagai sakral dengan cara tertentu dan terbukti mampu memberi manusia akses kepada keilahian, orang-orang yang percaya mencurahkan energi kreatif yang amat besar untuk membantu orang lain menumbuhkan rasa transendensi ini. Kita akan lihat nanti bagaimana arsitektur kuil, gereja, dan masjid punya makna simbolis yang penting, seringkali memetakan perjalanan batin yang harus ditempuh seorang peziarah untuk mencapai Tuhan. Doa dan ritual juga meningkatkan perasaan terhadap ruang sakral ini. Dalam budaya Barat-Protestan, orang-orang sering mewarisi kecurigaan terhadap seremoni keagamaan, memandangnya semata sebagai omong kosong. Namun, mungkin lebih akurat jika kita memandang upacara keagamaan sebagai sebentuk teater, yang dapat memberikan pengalaman kuat transenden bahkan dalam konteks yang sepenuhnya sekuler. Di Dunia Barat, drama bermula dari agama: dalam festival-festival sakral di Yunani Kuno dan perayaan Paskah di gereja-gereja dan katedral-katedral pada Abad Pertengahan di Eropa. Mitos juga digunakan untuk mengungkapkan makna batiniah Yerusalem dan berbagai bangunan serta tempat sucinya.

Salah satu dari mitos-mitos ini adalah apa yang disebut oleh cendekiawan Rumania-Amerika, Mircea Eliade, sebagai mitos kepulangan kekal (eternal return), yang ia jumpai di hampir semua budaya. Menurut modus berpikir ini, semua objek yang kita jumpai di dunia ini punya padanannya di ranah ilahiah. Kita dapat memandang mitos jenis ini sebagai upaya untuk mengungkapkan perasaan bahwa hidup kita di dunia ini entah bagaimana tidak lengkap dan terpisah dari kehidupan lain yang lebih utuh dan memuaskan. Semua aktivitas dan kemampuan manusia juga memiliki prototipe ilahiah: dengan meniru tindakan-tindakan Tuhan atau dewa-dewa, manusia dapat turut serta di dalam kehidupan ilahiah mereka. Tindakan imitatio dei ini masih dilakukan hingga hari ini. Orang-orang masih berhenti bekerja pada hari Sabat atau makan roti dan minum anggur di gereja—tindakan yang pada dirinya sendiri tak bermakna—karena mereka percaya bahwa dalam makna tertentu, Tuhan pernah melakukan hal yang sama. Ritual-ritual di sebuah tempat suci adalah cara simbolik lain untuk meniru Tuhan atau dewa dan memasuki modus eksistensi mereka yang lebih utuh dan adidaya. Mitos yang sama juga amat penting bagi penghormatan terhadap kota suci, yang bisa dipandang sebagai replika rumah Tuhan di langit; sebuah kuil dipandang sebagai reproduksi dari sebuah istana surgawi milik dewa tertentu. Dengan meniru arketipe surgawi semirip mungkin, sebuah kuil bisa menjadi rumah Tuhan/dewa di bumi.

Dalam pandangan modernitas rasional yang dingin, mitos-mitos semacam itu tampak menggelikan. Namun, gagasan-gagasan ini tidak dibentuk lebih dahulu dan kemudian diterapkan pada sebuah lokasi “suci” tertentu. Gagasan-gagasan ini merupakan upaya untuk menjelaskan sebuah pengalaman. Dalam agama, pengalaman selalu terjadi lebih dahulu sebelum penjelasan teologis. Manusia mula-mula merasa bahwa mereka bertemu dengan yang-sakral di sebuah kebun atau di puncak gunung. Terkadang mereka mencapainya dengan bantuan sarana-sarana estetik berupa arsitektur, musik, dan doa yang mengangkat perasaan mereka melampaui diri mereka sendiri. Mereka kemudian berusaha menjelaskan pengalaman ini dalam bahasa puitis mitologi atau dalam simbol-simbol geografi suci. Yerusalem ternyata menjadi salah satu lokasi yang “berguna” bagi umat Yahudi, Kristen, dan Muslim karena kota itu tampaknya terbukti mempertemukan mereka dengan keilahian.

Satu catatan lagi diperlukan di sini. Praktik-praktik agama sangat mirip dengan praktik-praktik kesenian. Baik seni maupun agama berupaya menemukan penjelasan besar atas dunia yang tak sempurna dan tragis ini. Namun, agama berbeda dengan seni karena agama harus punya dimensi etika. Agama mungkin bisa dideskripsikan sebagai sebuah estetika moral. Tidak cukup mengalami keilahian atau transendensi; pengalaman itu harus kemudian diterapkan dalam perilaku kita kepada orang lain. Semua agama besar menekankan bahwa ujian spiritualitas sejati adalah pengamalan sikap welas asih. Buddha pernah bersabda bahwa setelah mengalami pencerahan, manusia harus turun dari puncak gunung dan kembali ke pasar, dan di sana mengamalkan kasih kepada semua makhluk hidup. Hal ini juga berlaku pada spiritualitas sebuah tempat suci. Sejak awal, hal yang amat mendasar dalam kultus terhadap Yerusalem adalah pentingnya amal baik dan keadilan sosial. Kota tersebut tidak bisa menjadi suci kecuali jika kota itu juga adil dan berbelas kasih kepada kaum yang lemah dan tak berdaya. Namun sayangnya, perintah moral ini sering diabaikan. Sejumlah kekejaman terburuk terjadi ketika manusia mengutamakan kemurnian Yerusalem dan hasrat mendapat akses kepada kesucian agungnya, melampaui upaya mempraktikkan keadilan dan amal kebaikan.

Semua arus di bawah permukaan ini telah berperan dalam sejarah Yerusalem yang panjang dan penuh gejolak. Buku ini tidak berupaya mengetengahkan saran-saran untuk masa depan Yerusalem. Itu merupakan sebuah kepongahan. Buku ini hanya merupakan sebuah upaya untuk mengetahui apa yang umat Yahudi, Kristen, dan Muslim maksudkan ketika mereka mengatakan bahwa kota tersebut “suci” bagi mereka dan untuk menunjukkan sebagian implikasi dari kesucian Yerusalem dalam setiap tradisi tersebut. Hal ini tampaknya tidak kalah penting dari menentukan siapa yang menghuni kota itu pertama kali dan karenanya berhak memilikinya, terutama karena asal mula Yerusalem sangat tidak jelas.[]

(Dinukil dari: Karen Armstrong, Yerusalem: Satu Kota, Tiga Agama, (Bandung: Mizan Pustaka), 2018, hlm. 17-29)

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Latest from Nukilan

“Hotel Tua”

Cerpen Budi Darma Cerpen “Hotel Tua” dinukil dari kumpulan cerpen berjudul sama
Go to Top