JELAJAH LITERASI

Sahabat Saya Cordiaz

in Nukilan by

Cerpen Asrul Sani

Catatan Redaksi: Orang banyak lebih mengenal Asrul Sani (1927-2004) sebagai esais dan sineas. Lewat Djam Malam, Naga Bonar, dan Kejarlah Daku Kau Kutangkap adalah di antara film pemenang penghargaan yang skenarionya ditulis Asrul. Tapi, ‘ideolog’ Angkatan 45 ini juga mengarang puisi dan cerpen. Mengomentari kumpulan cerpen satu-satunya Asrul, Dari Suatu Masa Dari Suatu Tempat (1972), Eka Kurniawan menilai cerpen-cerpen Asrul adalah cerpen ide. Strategi literer Asrul juga Eka lihat mendahului Jorge Luis Borges. Cerpen berikut ini, Sahabat Saya Cordiaz dinukil dari kumpulan cerpen tersebut dan dianggap A Teeuw sebagai salah satu “kisah modern Indonesia”.

CERITA ini mulai sebulan yang lalu, yaitu waktu saya memperoleh sebuah kamar baru. Kamar itu baik. Agak besar, cukup luas untuk tempat tidur dan rak-rak buku saya. Hawanya pun baik. Kalau hari siang ia amat panas dan kalau hari malam ia amat dingin. Sekiranya angin tidak ada, terbau-bau tengik yang mesti saya atasi dengan bau obat nyamuk. Selain dari itu ada lagi tikus. Tikus-tikus ini berusaha untuk hidup dan untuk dapat beranak-bercucu. Jadi mereka tidak lebih dari kaum proletar. Saya juga seorang proletar. Dan karena proletar seluruh dunia harus bersatu, maka akan dapatlah kami kiranya hidup rukun dalam kamar itu. Tetapi kawan-kawan serikat saya ini, suka berpesta. Kalau kegembiraan mereka sudah naik marak, maka dimakannya buku-buku saya. Sehingga tak mengherankan jika saya pagi-pagi hari menemui de Maupassant tak berkepala atau Dos Passos tak berpunggung.

Suatu hari datang seorang anak muda bersepatu putih, bertopi hitam, bajunya belang-belang dan ia memperkenalkan diri kepada saya sebagai C. Darla. Ia tidak mengatakan apakah ia seorang Indo-Spanyol atau Manila, atau pun orang Indonesia yang berasal dari pulau Enggano (saya mendengar kabar bahwa orang-orang Enggano masih memakai nama-nama Spanyol). Ia beroleh kamar yang letaknya lebih dekat ke kamar mandi. Bahasa Indonesianya langgam-langgam Singapura bercampur bahasa Inggris sedikit-sedikit. Demikian ia bercerita tentang “British nebi yang lendid di Singapura”. Saya tertarik kepadanya karena ia pandai berbicara tentang macam-macam pengalaman yang didapatnya di Singapura. Tentang bajingan-bajingan “geng” katanya, tentang kaum komunis dan sebagainya. Waktu ia menyusun buku-bukunya, diberikannya buku Atlantic Charter kepada saya. Saya makin kagum. Tetapi kemudian hari dikatakannya bahwa buku roman yang sebagus-bagusnya ialah buku Elang Mas karangan Jusuf Sou’yb. Segera hilang kagum saya. Sungguhpun demikian kami tetap bersahabat.

Pergaulan kami amat rapat, sehingga banyaklah yang terkecil-kecil yang diceritakannya kepada saya. Ia menceritakan bahwa ia mempunyai darah Spanyol, tetapi ia telah lama tinggal di Indonesia. Sebelum ia datang ke mari, ia berdiam di Singapura. Kedatangannya ke Jakarta membawa kisah sedih. Ia harus meninggalkan kekasihnya seorang gadis Pilipina di Singapura. Sesudah menceritakan itu ia mengetik ucapan-ucapan pernyataan cinta dalam bahasa Inggris yang tunggang-balik, lalu ditinggalkan di kamar saya. Tentang pekerjaannya tidak pernah ia berbicara. Hanya ia berangkat pukul sembilan dari rumah dan pukul satu ia telah ada pula. Tetapi rupanya pekerjaannya amat banyak, sehingga setiap sore ia meminjam mesin ketik, lalu mengetik terus-menerus. Sesudah itu lalu dibakarnya segala kertas yang sudah diketiknya tadi. Lalu ia bersungut-sungut. Kemudian ia datang kepada saya untuk menyatakan bahwa mesin ketik saya kurang “enak”. Kalau boleh ia hendak membawanya ke bengkel supaya diminyaki. Ini saya izinkan. Lalu ia hendak membelikan saya pita mesin tulis yang berwarna merah hitam. Itu pun saya setujui dengan hati yang tulus ikhlas. Demikian ia melakukan perbuatan-perbuatan yang ganjil-ganjil dan yang penuh simbolik, sehingga menarik perhatian segala isi rumah. Ia menjadi pusat perhatian. Entah memang itu maksudnya, saya tidak tahu. Tetapi ia berhasil benar, sehingga tiada lagi orang yang menghiraukan keluhan-keluhan saya setiap pagi tentang pengarang anu yang kehilangan kepala atau yang kehabisan punggung ataupun yang pecah-pecah kulit. Demikian saya tinggal dengan teman-teman serikat saya yang menjadi musuh saya dan sahabat saya C. Darla yang mengalahkan saya.

Pernah Darla bertanya tentang cinta kepada saya, dan apakah telah banyak pengalaman saya tentang hal ini. Rupanya sangat tertarik benar hatinya akan pokok percakapan ini, sehingga kadang-kadang sampai sekerat malam kami bercakap-cakap. Katanya, ia masih muda, masih ingin melihat dunia dan belum mau kawin. Tetapi ia sekarang sedang tersangkut pada suatu perkara yang sulit. Perkara itu ialah perkara kasih sayang juga.

Sekali ia pulang membawa sebuah gelang rantai perak, seperti yang biasa saya lihat dipakai oleh serdadu-serdadu India atau Australia. Gelang itu diperlihatkannya kepada saya. Di sana tertulis, Cordiaz Darla. Jadi sahabat saya itu ialah Cordiaz. Bukan nama Indonesia. Saya tidak tahu berbahasa Spanyol, tetapi kalau mendengar-dengar bunyinya, ada juga mengarah-arah sedikit. Sama enak kedengarannya, seperti perkataan Ortega dalam buku Ortega y Gasset dan perkataan Fernando dalam nama Fernando Poe. Percakapan kami malam itu dimulainya dengan ketawa besar. Sesudah itu ia berbicara tentang Arni. Saya tidak kenal Arni. Katanya, Arni, ialah “bekas” kekasihnya, dan sekarang gadis itu sudah kurus kering, karena ia tidak pernah lagi datang ke rumahnya. “Tidak ada orang yang dapat menggantikan saya,” katanya. “Huh! Awak kire awak punye negeri! Ayahnya mesti datang kepada saya, minta ampun baru saya datang ke sana. Ia mesti mendapat ajaran.”

“Jadi, menang lagi?” tanya saya.

“Siapa bilang kalah,” katanya.

Saya ikut tertawa karena sahabat saya menang. Tapi Arni panjang umurnya di rumah kami, karena sahabat saya itu, mempercakapkan Arni saja kerjanya. “Ia tidak dapat bercerai dengan saya. Hatinya hancur luluh,” katanya. “Semua salah bapaknya. Sekarang anaknya makan hati.” Ia makin hari makin tidak senang diam. Surat-surat yang diketiknya makin lama makin banyak. Tetapi sebanyak itu yang diketiknya, sebanyak itu pula yang dibakarnya. Kalau ia tidak menyetrika celananya, ia mengetik, kalau ia tidak mengetik, ia ke luar rumah. Perginya terburu-buru. Tetapi secepat itu perginya, selekas itu pula kembalinya. Kalau sedang makan ia bercerita tentang saya-kasihan-sama-Arni.

Suatu malam ia pulang bergegas-gegas. Terus ke kamar saya.

“Ia mencari dukun,” katanya. “Saya mau diberi guna-guna. Bangsat! Saya juga ada dukun.”

Entah dari mana ia mendapat kemauan untuk pergi kepada dukun, entah dari ibunya, entah dari neneknya orang Spanyol, saya tidak tahu. Pendeknya—ia pergi kepada dukun. Sore-sore itu ia mengirim surat dan suatu bungkusan kepada Arni. Surat dan bungkusan itu kembali malam itu juga. Sesudah menerima itu, rupanya runtuh segala pasak-pasak tubuhnya.

Dengan terbungkuk-bungkuk ia masuk kamarnya, lalu dikuncinya pintu erat-erat. Esok harinya, waktu saya kembali dari berjalan-jalan, saya lihat kopernya tidak ada lagi. Di atas meja saya ada surat. Di dalamnya tertulis, “Saya tidak tahan lagi tinggal di sini. Rumah ini terlampau ribut buat saya.” Kasihan! Rupanya banyak juga tikus-tikus dalam kamarnya. Dan kawan-kawan serikat saya ini rupanya bertindak sebagai kaum kapitalis, sehingga sahabat saya yang sama proletarnya dengan saya, tidak dapat bersatu dengan mereka—lalu pergi.

Sangka saya selesailah riwayat Cordiaz Darla. Tetapi minggu yang lampau saya mendengar kabar bahwa ia telah kawin dengan seorang janda yang beranak lima. Saya pergi ke rumahnya. Agak merumuk ia sedikit waktu saya temui. Saya tanyakan bagaimana mereka kawin. “Bagaimana orang Indonesia kawin,” kata istrinya. Perempuan ini peramah betul dan ia lebih berpengalaman daripada Darla, sehingga tak dibiarkannya Darla banyak cakap. Ia memperlihatkan surat kawin mereka kepada saya. Saya baca di sana nama Chaidir Darla, jadi huruf C itu tidak berarti Cordiaz. Namanja memang Chaidir, karena istrinya memanggil “dir, dir!” Jadi ia bukan orang Spanyol atau orang Pilipina. Waktu saya mau pergi saya katakan kepada Darla bahwa saya ikut berbesar hati. Saya berjanji akan mendoa-doakan supaya mereka lebih banyak mendapat anak. “Ingat,” kata saya “orang tua-tua bilang, banyak anak, banyak padi!” Istrinya tersenyum berseri-seri.

Dua hari yang lalu saya menerima surat dari Darla. Dalam surat itu tertulis, “Saya tidak tahan lagi tinggal di sini. Tolonglah saya!”

Saya maklum sudah. Bagaimana ia akan tahan, kalau hatinya keras untuk jadi orang Spanyol atau orang Pilipina, sedangkan orang menganggap dia orang Indonesia. Lagi pula apalah salahnya. Bangsa saya banyak sudah yang menjadi orang Belanda, mengapa pula tidak akan diberi kesempatan kepadanya untuk menjadi orang Spanyol. Orang Indonesia belum banyak lagi yang jadi orang Spanyol. Sebab itu saya kirimkan uang 50 rupiah dan saya tulis pada surat pengantarnya, “Untuk ongkos menjadi orang Spanyol.” Surat ini tidak berbalas. Menurut kira-kira saya sudah berhasil kehendaknya.

Tapi tadi pagi, saya lewat bersepeda di depan rumah Darla. Kebetulan saya bertemu dengan bujang perempuannya, lalu saya tanyakan kalau-kalau ia tahu tentang amplop berisi uang yang saya kirimkan.

“Ya, saya sendiri yang kasih sama nyonya,” jawabnya.

“Sama nyonya? Jadi …?”

“Nyonya terus beli kebaya baru.”

“O, bagus, bagus.” (Hati saya berkata, celaka tiga belas).

“Tuan sekarang di mana?”

“Katanya, kerja di bagian distribusi. Masuk dulu, Tuan!”

“Ndak, ndak. Lain kali saja.”

Saya pergi.

Ah, kandas. Tragis betul. Belum juga rupanya sampai cita-cita Darla untuk bernama Cordiaz Darla. Tetapi tidak apa, siapa tahu ia besok menjadi orang Jerman atau orang Amerika.[]

[Dinukil dari Asrul Sani, Dari Suatu Masa Dari Suatu Tempat, (Jakarta: Pustaka Jaya), 2018, hal. 10-14]

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Latest from Nukilan

Demokrasi Kita (2)

Oleh Mohammad Hatta Setelah mengkritik perilaku partai dan politikus, Hatta mengungkap tiga

Demokrasi Kita (1)

Oleh Mohammad Hatta Demokrasi Kita tulisan Mohammad Hatta yang dimuat dalam Pandji

Pasar Malam

Cerpen Hamka Berbeda dari novel Tenggelamnya Kapal van der Wijck atau Di

Surabaya

Cerpen Idrus Surabaya (1947) adalah cerpen panjang kontroversial dari Idrus, pelopor prosa
Go to Top