JELAJAH LITERASI

Pasar Malam

in Nukilan by

Cerpen Hamka

Berbeda dari novel Tenggelamnya Kapal van der Wijck atau Di Bawah Lindungan Kabah yang mengisahkan percintaan melawan adat, Hamka dalam cerpen Pasar Malam (1940) melukiskan penderitaan masyarakat kecil melalui penceritaan sederhana.

HARI telah beranjak petang, kulihat gadis-gadis remaja mengenakan pakaian yang paling baru. Pemuda-pemuda telah menaiki sepedanya, berjalan berempat dan berlima dengan wajah yang riang. Rambutnya disisir rapi dan licin. Seorang ayah tampak sedang menuntun anaknya yang kecil dan mengiringkan yang besar, di sisinya berjalan istrinya yang masih muda dengan wajah tersenyum. Bunyi gong, rebana, musik, dan riuh-rendah suara manusia di pasar malam membangkitkan hati mereka. Suasana tersebut istimewa karena di kiri dan kanan terpasang lampu-lampu listrik dengan berbagai macam warna.

Aku… aku telah bersiap hendak pergi pula. Bukankah tidak baik jika kita yang hanya sekali saja singgah ke dunia, selalu tepekur membaca kitab saja, meneliti buku-buku filsafat, dan melihat syair-syair yang penuh berisi kezuhudan. “Hanya melihat-lihat saja, apa salahnya,” kataku dalam hati.

Sementara aku menggosok sepatu yang hendak dipakai, di meja telah kuletakkan dua buah kain sarung yang berwarna merah dan berwarna ungu, sambil aku bersiul kegirangan. Aku melihat seorang anak kecil berhenti di hadapan rumahku.

“Engku, aku disuruh Emakku datang kemari untuk menjemput Engku. Ayahku sakit keras!”

Aku kaget melihat anak itu. Rambutnya kusut disisir, baju bagian bahunya robek, mukanya sangat pucat dan kurus. Sesaat kemudian baru aku ingat, anak itu ialah anak seorang kuli yang tinggal di dekat rumahku dulu, tidak jauh dari rumahku sekarang.

“Mengapa aku yang kau panggil?”

“Kata Ibu, Engkulah yang diharapkan dapat menolong.”

Mendengar perkataan itu, hatiku agak terenyuh rasanya. Langkahku ke pasar malam telah terhalang. Padahal sudah dua hari pasar malam berlangsung, tetapi aku belum pernah mengunjungi dan menonton acara di sana. Anak itu masih berdiri, dia rupanya berharap besar kepadaku…”

“Engku, ayolah! Ayahku bertambah parah sakitnya. Ibuku dari tadi menangis saja.”

Dengan segera aku berkemas dan pergi ke sana. Sebetulnya, sudah lama aku kenal Bang Wongso, kuli yang baik hati. Dia orang yang rajin dan sabar. Gajinya hanya 45 sen sehari. Anaknya lima, tiga laki-laki dan masih kecil, laki-laki yang sulung berumur 12 tahun, serta dua orang perempuan, yang sulung berumur 15 tahun. Tentu saja gaji 45 sen itu tidak cukup bagi mereka sekeluarga. Oleh karena itu, anaknya yang tua pergi menjadi tukang cuci, sedangkan istrinya mengurus anak yang kecil di rumah.

Sekarang dia sedang sakit payah, aku akan segera datang ke sana. Tanganku dituntun oleh gadis kecil itu menuju ke rumahnya. Aku pun sampai dan aku masuk ke rumahnya. Sebenarnya tempat itu bukan rumah, bisa disebut gubuk yang jelek, yang disewa serupiah sebulan. Di sana dapur, di sana tempat makan dan tempat tidur, kecil dan sempit.

Di atas sebuah bangku yang terbuat dari buluh bambu, berbaring seorang laki-laki yang sedang merintih kesakitan, di sisinya duduk istrinya yang sedang menggendong anak yang masih menyusu. Anaknya yang kedua sudah tidur dan anaknya yang tua sekali sedang duduk termenung di sudut kamar kecil itu. Di tengah-tengahnya terletak sebuah lampu minyak tanah. Jelaganya memenuhi hidung.

“Bangunlah Bang, bukalah matamu! Ini Engku sudah datang,” ujar istrinya yang malang itu.

Si sakit pun membuka matanya. Dia melihatku dengan wajah sangat sedih dan muram. Dilambaikan tangannya dan dengan segera aku pegang, tangannya sangat panas. Dadanya turun naik dengan kencang dan matanya merah karena demamnya sangat tinggi.

“Engku…” katanya dengan perlahan-lahan, “Sudah dua hari aku tidak keluar dari rumah karena sakit. Tiga hari lebih sudah terasa juga demam olehku, tetapi kupaksakan juga hati untuk pergi bekerja karena takut anak-anak tidak akan makan. Dalam dua hari ini, badanku tidak tahan lagi, panas bertambah. Kata orang jika minum aspirin, yang harganya hanya lima sen, demamku akan sembuh.

Namun, setelah sampai di rumah dengan uang 45 sen, tiada sampai hatiku hendak menguranginya karena harga beras sekarang sudah naik lagi. Uang 45 sen tidak cukup untuk makan kami, untuk membeli sayur dan minyak tanah selama sehari semalam. Oleh sebab itu, kutahan juga sakitku. Sekarang sudah dua hari badanku bertambah sakit.

Anak-anakku belum makan! Tadi pagi kusuruh Katijah ke rumah majikannya meminta uang upah mencuci pada bulan lalu, tetapi ternyata ketiganya tidak mau membayar. Katanya, sebab tidak ada uang, padahal dari pagi mereka naik taksi, naik sado dan mobil, pelesir ke sana kemari, karena sekarang ada pasar malam. Anakku pulang dengan tangan kosong. Alasan meminta Engku datang kemari, aku hendak meminta tolong kepada Engku. Bagaimana ikhtiar Engkulah supaya mereka makan.”

Mendengar bicaranya itu hatiku tidak tahan, air mataku mengalir. Aku keluarkan uang beberapa rupiah, yang aku sediakan untuk menyewa pasar malam dan membeli air minum. Aku suruh Katijah pergi membeli beras dan apa-apa yang perlu pada saat itu. Melihat bantuanku itu, mengalirlah air mata Wongso. Dia hendak mencium tanganku dan istrinya pun menangis karena sangat girang.

Aku duduk di sana menenangkan si sakit. Tidak lama kemudian Katijah pun pulang membawa beras kering. Mereka kusuruh ke dapur untuk segera memasak dan tidak lama kemudian anak-anak itu pun makan dan minum dengan lahap.

Lama aku duduk di sana. Aku sentuh tubuhnya dan kurasakan demam Wongso tidak berkurang dan tidak turun, aku pun minta permisi kepada seisi pondok yang malang itu hendak pergi menjemput dokter. Awalnya Wongso menahan aku supaya jangan panggil dokter. Akan dibayar dengan apa biaya dokter itu nanti, katanya. Namun, setelah aku janjikan bahwa aku yang akan membayar, barulah mukanya tenang. Istrinya pun memandangku dengan wajah yang sangat bersyukur.

Aku pergi ke rumah seorang sahabat yang memiliki telepon, lalu menelepon ke rumah seorang dokter. Suaraku hanya dijawab oleh pembantunya. Katanya, tuan dokter sedang tidak ada di rumah, sedang pergi mengobati orang sakit. Aku telepon seorang lagi, beliau pergi ke pasar malam. Aku sambung saja teleponnya kepada dokter yang lain. Untung, tuan dokter itu ada di rumah. Mula-mula dokter menanyakan di mana rumah si sakit, lalu kujelaskan. Kedengaran dia gugup dan berkata,”Oo, oo… lebih baik… besok saja, besok pagi saja.” Telepon itu pun saya letakkan dengan keras.

“Ya,” kataku dalam hati, “lebih baik besok pagi saja… Kalau penyakit Wongso bertambah keras? Kalau…” Sambil menggelengkan kepala, kuletakkan pula telepon itu di tempatnya. Setelah itu, aku pun kembali ke rumah Wongso, kembali menanyakan keadaannya. Hatiku sedikit senang sebab kudapati Wongso sudah tidur. Menurut istrinya, demam panas tubuhnya sudah agak lebih baik, sesudah makan sesuap kecil. Syukurlah, aku pun kembali pulang, tetapi tidak jadi pergi ke pasar malam.

Aku beranjak tidur. Di dalam pikiranku masih teringat bagaimana nasib Wongso yang malang dan miskin itu, serta bagaimana pula menanggung istri juga anak-anaknya, sementara masih banyak orang lain bahagia.

Pukul lima pagi saya bangun. Sehabis shalat Shubuh, aku bermaksud hendak mencari angin, tiba-tiba dengan tergopoh-gopoh datang anak yang memanggilku tadi malam, menerangkan bahwa ayahnya telah meninggal!

Wajahku pun pucat. Kalau kiranya Wongso segera mendapat pertolongan, tentu tidak akan meninggal pada hari itu. Belumlah lima orang anak yang masih kecil-kecil dalam pondok yang jelek itu akan kehilangan ayah dan hi-dup menjadi yatim.

Dengan segera aku datang ke sana. Oh, di sana, aku lihat suatu hal yang menyedihkan. Jenazah Wongso sedang terbujur kaku di atas bangku. Istri serta kelima orang anaknya menangis dan meratap di sekelilingnya. Aku pun masuk lalu kubuka penutup mukanya. Pada matanya yang terbuka sedikit itu masih terbayang waswas hatinya meninggalkan dunia ini.

Tidak berapa lama kemudian datanglah penghulu kampung dan beberapa orang tetangga yang lain. Kata istrinya, masih ada seorang saudara kandungnya. Dia tinggal agak jauh, tetapi patut sekali diberi tahu supaya dia jangan melihat tanah penggalian yang merah saja kelak.

Tengah hari dokter datang memeriksa dan mengatakan bahwa Wongso meninggal sebab lapar! Padahal beberapa hari yang lalu dia sudah melihat orang kaya yang mati karena terlalu banyak makan!

Pada petang hari, baru saudara Bang Wongso datang. Dia kurus dan tua, tinggal di sepetak tanah kecil, yang diberikan orang kepadanya. Tinggalnya di suatu tempat yang agak jauh dari kantor pos, karena itu dia terlambat datang.

Pukul lima sore barulah jenazah Wongso diantarkan ke pemakaman. Ketika kerandanya akan diangkat dari rumah yang sangat sederhana itu, tampaklah terlihat suasana yang sedih, yang tidak dapat kulupakan selama-lamanya. Aku melihat anak-anaknya menangis, meratap dan meraung memanggil-manggil ayahnya. Istrinya menggendong anaknya yang kecil. Kesedihannya yang amat hebat itu telah mengeringkan air matanya. Dia pun tidak berbicara sepatah pun lagi, melainkan ketika jenazah diangkat orang, dilihatnya saja tenang-tenang serta menuntun anak perempuannya yang memanggil aku ke rumah malam itu.

Di sebuah simpang jalan, arak-arakan pengantar jenazah itu terhalang sebentar karena bertemu dengan arak-arakan acara pasar malam. Kami harus melalui jalan yang amat sempit karena masyarakat berduyun-duyun datang ke pasar malam.

Semuanya berbaju baru dan indah. Semuanya gembira serta berseri-seri mukanya. Setelah matahari condong ke barat, barulah kami sampai ke pemakaman.

Ketika kami menguburkan mayat itu, ketika papan penutup lahat sudah terpasang dan berbunyi berdembun-dembun dengan suram-kecut, karena ditimpa tanah penimbun, kami pun terkejut mendengar suara petasan karena pasar malam telah dimulai pula.[]

[Kumpulan cerpen Di Dalam Lembah Kehidupan pertama kali diterbitkan Pedoman Masyarakat pada 1939, lalu diterbitkan kembali oleh Balai Pustaka pada 1940]

[Dinukil dari: Hamka, Di Dalam Lembah Kehidupan, (Depok: Gema Insani), 2017, hal. 1-7]

Tags:

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Latest from Nukilan

Demokrasi Kita (2)

Oleh Mohammad Hatta Setelah mengkritik perilaku partai dan politikus, Hatta mengungkap tiga

Demokrasi Kita (1)

Oleh Mohammad Hatta Demokrasi Kita tulisan Mohammad Hatta yang dimuat dalam Pandji

Surabaya

Cerpen Idrus Surabaya (1947) adalah cerpen panjang kontroversial dari Idrus, pelopor prosa
Go to Top