JELAJAH LITERASI

Pada Suatu Hari

in Nukilan by

Cerpen Gabriel Garcia Marquez

Catatan Redaksi: Cerpen ini karya Gabriel Garcia Marquez. Dengan memanfaatkan simbol, peraih Nobel Kesusastraan 1982 itu mengisahkan relasi antara penguasa depostik dengan rakyatnya.

SENIN dimulai dengan hangat dan tanpa hujan. Aurelio Escover, dokter gigi tanpa gelar, dan yang terbiasa bangun pagi, membuka kantornya pada pukul enam. Dia mengambil beberapa gigi palsu, yang terpasang dalam cetakan plester, dari wadah kaca dan meletakkan di atas meja beberapa peralatan yang dia susun dari yang paling besar hingga paling kecil, seakan semua itu tengah dipamerkan. Dia mengenakan kemeja bergaris tanpa kerah, dirapatkan pada lehernya dengan sebuah kancing keemasan, dan celana yang ditarik dengan tali sandang elastis. Dia kaku dan kurus, dengan pandangan mata yang tak sesuai dengan situasi, seperti tatapan orang tuli.

Ketika selesai mengatur segalanya di atas meja, dia mengambil bor gigi ke arah kursi praktiknya dan duduk untuk memoles gigi palsu. Dia tampak tidak memikirkan apa pun yang tengah dia lakukan, hanya terus bekerja, memompa pedal bor dengan kakinya, bahkan meskipun dia tak memerlukan itu.

Setelah pukul delapan, dia berhenti sebentar untuk melihat ke arah langit dari jendela, dan dia melihat dua elang terpekur tengah mengeringkan tubuh mereka pada matahari di atas bubungan rumah tetangga. Dia lanjut bekerja dengan pikiran bahwa sebelum makan siang, hujan akan turun lagi. Suara melengking anak laki-lakinya tiba-tiba memecah konsentrasinya.

“Papa.”

“Apa?”

“Walikota ingin tahu apa kamu mau mencabut giginya.”

“Bilang aku tidak di sini.”

Dia sedang membersihkan sebuah gigi emas. Digenggamnya gigi itu dari jarak sehasta, dan diperhatikannya lekat-lekat dengan matanya yang separuh tertutup. Dari ruang tunggu yang kecil, anak laki-lakinya berteriak lagi.

“Dia bilang dia tahu kamu di sini, karena dia bisa mendengarmu.”

Si dokter gigi terus saja mengamati gigi itu. Hanya saat pekerjaannya selesai dan gigi itu diletakkannya di atas meja, dia berkata:

“Lebih baik.”

Dia kembali kepada bor. Dia mengambil beberapa potong pegangan gigi palsu dari kotak kardus, tempat dia menyimpan segala sesuatu yang belum selesai dan mulai memoles lagi gigi emas.

“Papa.”

“Apa?” Ekspresinya belum berubah.

“Dia bilang, kalau kamu tidak mencabut giginya, dia akan menembakmu.”

Tanpa tergesa-gesa, dengan gerakan yang teramat tenang, dia berhenti menginjak pedal bor, mendorongnya menjauh dari kursi, dan menarik penuh laci terbawah meja. Di sana ada revolver.

“Baiklah,” katanya. Katakan kepadanya untuk datang dan menembakku.”

Dia memutar kursi ke arah pintu, tangannya memegang tepi laci. Walikota muncul dari balik pintu. Dia mencukur sisi kiri wajahnya, tetapi sisi lain, yang bengkak dan sakit, ditumbuhi janggut berusia lima hari. Dokter gigi bisa membayangkan malam-malam keputusasaan pada mata Walikota yang lesu. Dia menutup laci dengan ujung jarinya dan berkata lembut:

“Duduk.”

“Selamat pagi,” kata Walikota.

“Pagi,” kata dokter gigi.

Sementara alat-alat dipanaskan, Walikota menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi dan merasa lebih baik. Napasnya dingin. Ini ruangan sederhana: sebuah kursi kayu tua, bor pedal, wadah kaca dengan botol-botol keramik. Di seberang kursi ada jendela dengan tirai kain setinggi bahu. Ketika merasakan dokter gigi mendekat, Walikota menguatkan tumit dan membuka mulutnya.

Aurelio Escovar menoleh ke arah lampu. Setelah memeriksa gigi yang terinfeksi, ia menutup rahang Walikota dengan tekanan hati-hati.

“Ini harus tanpa bius,” katanya.

“Kenapa?”

“Kamu punya bisul.”

Walikota menatap mata si dokter gigi. “Baiklah,” katanya, dan mencoba tersenyum.

Dokter gigi itu tak balas tersenyum. Dia membawa sebaskom peralatan yang sudah disterilkan ke atas meja kerja dan mengeluarkannya dari air dengan forsep dingin, masih tanpa tergesa-gesa. Lalu dia mendorong tempolong dengan ujung sepatunya, dan bergerak untuk mencuci tangannya di wastafel. Dia melakukan semua itu tanpa memandang Walikota. Tapi Walikota tidak mengalihkan pandangan darinya. Masalahnya ada pada sebuah gigi bungsu paling bawah.

Dokter gigi merentangkan kakinya dan menggenggam gigi itu dengan forcep panas. Walikota mencengkeram lengan kursi, menjejakkan kakinya dengan segenap kekuatan, dan merasakan kekosongan sedingin es di ginjalnya, tetapi tidak bersuara. Dokter gigi hanya menggerakkan pergelangan tangannya. Tanpa dendam, dengan sedikit kelembutan pahit, katanya:

“Kini kamu akan membayar dua puluh orang kami yang mati.”

Walikota merasakan gemeretak tulang di rahangnya, dan matanya berkaca-kaca. Tapi dia tidak bernapas sampai dia merasakan gigi itu tanggal. Kemudian dia melihat gigi itu melalui matanya yang berkaca-kaca. Rasanya, rasa sakit itu begitu asing baginya, sehingga dia gagal memahami penyiksaan yang dia lakukan lima malam sebelumnya. Membungkuk di atas tempolong, berkeringat, terengah-engah, ia membuka kancing tuniknya dan meraih saputangan dari dalam saku celananya. Dokter gigi memberinya kain bersih.

“Keringkan air matamu,” katanya.

Walikota melakukannya. Dia gemetar. Saat dokter gigi mencuci tangannya, dia melihat langit-langit yang nyaris runtuh, jaring laba-laba berdebu dengan telur laba-laba, dan serangga mati. Dokter gigi itu berbalik, mengeringkan tangannya.

“Tidurlah,” katanya, “dan berkumurlah dengan air garam.”

Walikota berdiri, mengucapkan selamat tinggal dengan hormat militer yang menghinakan, dan berjalan menuju pintu, meregangkan kakinya, tanpa mengancingkan tuniknya.

“Kirim tagihannya,” katanya.

“Kepada kamu atau kota?”

Walikota tidak memandangnya. Dia menutup pintu dan, melalui kasa, berkata:

“Itu sama saja.”[]

(Diterjemahkan dari “One of These Days”, karya Gabriel Garcia Marquez yang diterjemahkan dari judul aslinya “Un dia de estos” oleh Sheena Chakeres untuk The Latin American and Iberian Institute pada University of New Mexico)


Ulasan Singkat

Berbeda dari sebagian besar cerpen Gabriel Garcia Marquez yang bisa menghabiskan berpuluh halaman, cerpen yang terbit pada 1962 ini pendek (kurang dari 1.000 kata). Tapi di sini, Marquez mampu menampilkan tema penyalahgunaan kekuasaan dengan memanfaatkan sejumlah simbol.

Ketika si dokter gigi (tanpa gelar) menunjukkan keengganan mencabut gigi Walikota, Walikota mengancamnya dengan kekerasan: “dia akan menembakmu”. Saat Walikota telah memasuki ruangan, si dokter gigi tahu dia tak bisa lagi menolaknya.

Tapi, situasi kemudian sedikit berbalik. Si dokter gigi untuk sementara berkuasa atas nasib Walikota. Dia menolak menggunakan bius karena Walikota memiliki bisul. Ini dalih yang tak masuk akal, tapi Walikota yang tak mengetahui itu akhirnya pasrah.

Si dokter gigi jelas ingin Walikota merasakan sakit. Seolah si dokter gigi ingin membalas dendam atas kekuasaannya yang kejam di kota itu.

Kata-kata si dokter gigi, yang disampaikan dengan kelembutan pahit, “Kini kamu akan membayar dua puluh orang kami yang mati”, menunjukkan keputusasaan mereka yang tertindas pada umumnya. Si dokter gigi tahu rasa sakit yang dia timpakan kepada Walikota itu tak berarti apa-apa terhadap keseluruhan sistem korup. Ini hanya penghiburan sesaat bagi mereka yang tertindas.

Penyalahgunaan kekuasaan tampak jelas pada kalimat terakhir, “Itu sama saja”. Di sini, Marquez menunjukkan bahwa kota adalah si Wailkota dan demikian pula sebaliknya. Tak ada pemisahan antara diri Walikota dengan kota dalam hal keuangan atau pengelolaan sumber daya. Kota adalah milik penguasanya, bukan milik warganya.

Cerpen ini mengisahkan keseharian praktik dokter gigi atau ahli gigi. Tapi di tangan Marquez, kisah ini sangat kuat menyajikan relasi antara penguasa despotik dengan rakyatnya.


Profil Pengarang

Gabriel Garcia Marquez (1927-2014) lahir di Aracataca, Kolombia. Dia memutuskan berhenti kuliah hukum untuk menjadi jurnalis dan kemudian pengarang. Di dunia kepengarangan, dia dikenal sebagai salah satu perintis genre realisme magis—memasukkan elemen-elemen surrealis ke dalam situasi realistik. Sejumlah karyanya yang termasyhur antara lain One Hundred Years of Solitude (1967), Autumn of the Patriarch (1975) dan Love in the Time of Cholera (1985).

Pada 1982, dia memperoleh penghargaan Nobel Kesusastraan. Dia kini dianggap sebagai salah satu pengarang paling berpengaruh di Abad ke-20, terutama dalam lingkungan berbahasa Spanyol. Marquez juga dikenal dengan pandangan “kirinya”, sosialis dan anti-imperialis. Dia kerap mengkritik pemerintahan Kolombia dan kebijakan luar negeri Amerika Serikat.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Latest from Nukilan

“Mantel Bulu”

Cerpen Bondan Winarno Catatan redaksi: Bondan Winarno lebih dikenal sebagai pakar kuliner

Kartu Pos dari Surga

Cerpen Agus Noor “Kartu Pos dari Surga” karya Agus Noor adalah satu

Kuli Kontrak

Cerpen Mochtar Lubis Satyagraha Hoerip menilai cerpen “Kuli Kontrak” sebagai salah satu

Anak Revolusi

Cerpen M Balfas M Balfas (1922-1975) adalah pengarang kelahiran Krukut, Jakarta. A
Go to Top