JELAJAH LITERASI

Transaksi

in Nukilan by

Cerpen Umar Nur Zain

Umar Nur Zain, seorang wartawan-sastrawan. Meski namanya tak begitu dikenal, dia pernah menghasilkan karya populer Nyonya Cemplon (1981). Dia kerap mengangkat kritik sosial dengan memadukan ironi, satir, dan humor gelap.

AKU duduk di sini, di sebuah ruangan yang mewah dengan hiasan tradisional dan ber-aircondition. Ruangan ini tak penuh sesak. Tidak juga nampak kepulan-kepulan asap rokok seperti di klub-klub kecil yang bertebaran di Jakarta. Yang duduk di belakang meja hanya orang-orang asing atau orang-orang kaya semacamku.

Wanita yang cantik-cantik yang melayani ruangan ini, semua berpakaian batik dengan warna kain yang merah indah. Mereka sebenarnya sudah mengenalku, karena aku sudah sering datang ke sini untuk makan malam, menghilangkan rasa bosan di rumah dengan masakan yang itu-itu juga. Di sini, dengan hanya membayar Rp7.500,00 ditambah dengan minuman sehabis makan dan rokok hanya menghabiskan sekitar Rp10.000,00-an, suatu jumlah yang kecil dibanding pengeluaran rumah tanggaku sehari-hari.

Klub ini yang masuk bagian sebuah hotel mewah di ibu kota, Jakarta, memang menyenangkan. Tak akan ada anak-anak muda yang ugal-ugalan, yang biasanya mengganggu atau melihat dengan mata curiga kepada Oom-oom seperti diriku. Aku menghirup dari pipa plastik, minuman yang oleh orang hotel diberi nama Irian Mocca. Sementara wanita-wanita cantik yang melayani tamu di sini sibuk mondar-mondir dengan ramahnya. Kalau berjalan, mereka sangat mendebarkan. Dengan kainnya yang ketat itu tampak bagian belakangnya yang menonjol bergerak-gerak seperti menuruti irama.

Kuisap pipa cangklongku dalam-dalam. Aku berpikir, alangkah indah hidup di Indonesia sekarang. Karena pembangunan, kami bisa menikmati hidup mewah seperti ini. Mana bisa kita duduk-duduk di sini dengan pakaian bersih dan kenikmatan yang tinggi, kalau tidak ada pembangunan.

Hidupku kini lain dibandingkan ketika orang tuaku masih hidup, yang penuh penderitaan dan perang. Untunglah jalur hidupku begitu diberkahi Tuhan, hingga menjadi pejabat yang menduduki posisi kunci. Uang mengalir ke dalam kantongku seperti air. Dan bukan pula hasil korupsi. Uang itu datang sendiri, aku hanya membantu teman-teman dan relasi. Lalu mereka mengucapkan terima kasih dengan uang. Itu adalah lumrah dalam kehidupan modern seperti sekarang ini.

Kalau dibanding-banding relasi-relasi orang Melayu memanglah bodoh-bodoh. Mereka tidak memperhitungkan dalam bisnisnya soal-soal kecil semacam ini, hingga aku hanya menarik napas panjang kalau mereka selesai kubantu, karena hanya mengucapkan terima kasih saja. Sebaliknya para pedagang Cina itu, mereka memang tahu diri betul. Tanpa kupinta, mereka datang ke rumah, menaruhkan barang-barang yang kuperlukan, atau uang di dalam amplop besar.

Bodoh benar pejuang-pejuang yang mau jadi guru, dosen, atau pegawai negeri yang tidak mempergunakan kesempatan. Mereka menyia-nyiakan sisa hidup dengan menekuni buku atau takut-takut menggunakan kesempatan di zaman pembangunan. Risiko yang wajar untuk mereka, kalau mereka hidup tetap miskin itu. Tinggal di gubug atau di kampung!

Floor-show pertama muncul. Malam ini gadis-gadis yang didatangkan dari Perancis akan menghibur kami para tamu di sini dalam acara “Semalam di Paris”. Muncul seorang pria dengan pakaian khas Perancis dalam sebuah joglo yang dibangun di tengah-tengah pentas. Ada lampu bertiangnya seperti di Paris. Dan pria Perancis itu pun memainkan akordeonnya dengan lagu “Saya cinta Paris”.

Muncul kemudian beberapa orang gadis Perancis yang seksi, menari-nari dengan riang sambil kadang-kadang mengeluarkan dengusan yang bergairah. Paha mulus putih keluar dari rok-rok pendek yang dibelah dari arah perut sampai ke bawah. Tidak puas dengan itu dibukanya rok itu hingga suatu pemandangan yang indah pun muncullah.

Tidak seperti di klub-klub yang jorok, tari-tarian ini meski tetap seksi tapi tidak menunjukkan selera kampungan. Mereka memang mengenakan celana dalam yang sempit, hingga kalau kaki itu diangkat tinggi-tinggi sambil berteriak seperti orang Perancis histeris, menampilkan suatu pemandangan erotis. Juga tarian muda-mudi yang mengisahkan suasana percintaan yang dipertunjukkan secara erotis sampai ke adegan ranjang, tidak keterlaluan.

Aku sebenarnya menunggu-nunggu kedatangan seorang wanita bernama Puspa. Aku belum banyak mengenalnya, tetapi ia berjanji malam ini akan bertemu. Kuteliti wanita-wanita yang muncul di klub tetapi wanita yang kunanti-nantikan belum juga muncul. Sudah beberapa kali kutolak tawaran wanita-wanita penjaga klub ini, apakah aku akan mulai makan malam.

Pertemuan dengan Puspa sebenarnya suatu pertemuan yang erotis tetapi mirip-mirip bisnis. Suatu transaksi yang unik. Aku mengisap pipa cangklongku yang hampir mati apinya. Orang setua aku, 50 tahun, rupanya selalu dihinggapi oleh godaan-godaan fisik. Suatu gejolak yang aneh selalu muncul di dalam, hingga menampilkan suatu perbuatan tak terkendali dalam masalah seks. Aku selalu tertarik pada wanita!

Dengan keuanganku yang berlimpah-limpah, aku selalu mencari-cari kesempatan untuk berkencan dengan wanita-wanita cantik. Tetapi aku tidak bersikap seperti teman-temanku, pejabat-pejabat yang lain, yang menyembunyikan seorang atau beberapa orang sebagai isteri. Aku lebih suka mencari wanita biasa, lalu membawanya ke hotel dan setelah itu meninggalkannya tanpa membuat affair.

Banyak relasi pedagang terutama orang-orang Cina yang tahu kegemaranku, selalu mengirim wanita-wanita cantik ke kantor. Semuanya itu ditanggung oleh relasiku itu. Tetapi lama kelamaan bosan juga aku menjalani kencan-kencan demikian. Kini aku memerlukan jenis permainan baru!

Di kantorku, ada beberapa pegawai bawahanku yang tergabung dalam staf task-force. Sebenarnya aku tahu mereka itu adalah penjilat-penjilat. Tetapi memang aku memerlukan pegawai-pegawai yang demikian. Karena mereka dengan tanpa pikir dan tergesa-gesa akan melakukan segala apa yang kuinginkan. Kadang-kadang isteriku membutuhkan AC di mobil barunya, yang juga pemberian seorang cukong, maka dalam sekejap staf task-force bergerak. Entah dari mana, tiba-tiba saja sehari kemudian mobil isteriku itu sudahlah ber-AC. Mereka jugalah yang mengatur wanita-wanita bayaran untuk menghormat tamu-tamuku, para pejabat dari daerah atau mana saja.

Anggota task-force ini pulalah yang memperkenalkan aku dengan Puspa, yang akhirnya mempertemukan kami di sini.

Wanita yang kutunggu-tunggu itu akhirnya muncul di ruangan depan, diantar oleh seorang pramuria menuju mejaku. Ia adalah wanita cantik dengan rambut yang terurai rapi ke belakang. Malam itu ia memakai gaun berwarna hitam hingga tubuhnya yang putih mulus itu sangatlah kontrasnya.

“Sudah lama menunggu, Pak Surya Kencana?” tanyanya menegur. Suaranya halus dan merdu.

Aku berdiri dan mempersilahkannya duduk. “Tidak, selama menunggu Anda,” jawabku.

Pelayan menarik kursi dan menyilahkan wanita itu duduk. Lalu membuka sapu tangan meja dan menaruhkan kain itu di atas pangkuan Puspa. “Tuan dan nyonya akan mulai makan sekarang?” tanyanya.

Aku memesan dua sop siput, khas makanan Perancis. Sambil makan sop pikiranku melayang-layang. Aneh juga, pikirku. Suatu hari anggota staf task-force datang ke hadapanku di kantor dan mengajukan permainan baru. Seorang wanita cantik butuh uang, hanya Rp500.000,00. Katanya uang itu merupakan penambah dana pengobatan bagi anaknya yang sakit mata dan akan dioperasi di Manila. Karena putus asa anaknya sudah hampir mendekati masa krisis, maka jalan satu-satunya yang ditempuh adalah menjualnya kepadaku.

Aku pikir, apa salahnya sambil berbuat amal, aku pun mendapatkan suatu permainan baru yang bisa kubeli dari uangku yang berlimpahan itu. Tapi aku tak begitu saja mau diakali oleh anak buahku ini. Karena banyak pelacur kelas tinggi berdalih ini itu untuk melakukan aksi mereka. Untuk ini, tak segan-segan mereka memperalat anaknya sendiri.

“Yang ini benar-benar, Pak,” ujar bawahanku yang kupercayai dan baru saja kunaikkan golongannya. “Ia memang gadis masa kini. Tapi kawin terlalu muda. Suaminya masih ada dan ia tidak pernah melacurkan diri atau membuat affair seperti yang lain.”

Karena ini permainan baru maka aku harus menyelidikinya benar-benar, apakah yang dikatakan bawahanku itu memang betul. Siapa pun tentu takkan mau membuang uang begitu banyak hanya untuk berkencan dengan pelacur kelas tinggi biasa. Untuk call-girl kelas tinggi yang namanya sudah melangit, tidak akan mencapai tarip sampai Rp300.000,00-an.

Ketika dipertemukan beberapa hari sesudahnya di kantor, aku sangat terkesan pada Puspa. Ia cantik. Sungguh cantik. Ada kesan di wajahnya ia memang seorang wanita masa kini, yang bertingkah laku manja, make up dan dandanan wanita modern. Tetapi ada kesan bahwa ia berusaha untuk menjadi seorang ibu rumah tangga yang baik, tapi kemudian gagal karena menghadapi suatu rintangan yang sangat dalam. Lalu usaha terakhir yang gampang dalam dunia modern dan materialistis seperti sekarang ini, adalah menyerahkan kehormatannya. Namun, naluriku yang penuh ketelitian membuat aku ingin menyelidikinya, apakah semua ceritanya sandiwara belaka atau tidak.

Dengan malu-malu dan penuh keyakinan, Puspa mengajak ke rumahnya untuk kulihat sendiri fakta yang sebenarnya. “Tetapi Bapak harus bersikap seperti seorang tua yang tidak berdosa,” ujarnya. “Karena saya berkata pada suami saya bahwa akan meminjam uang kantor dengan prosedur formal.”

Sore itu kami pergi ke rumah Puspa. Mobil kusuruh parkir baik-baik dan kami memasuki sebuah gang kecil. Beberapa meter kemudian sampailah ke sebuah rumah yang sederhana. Tidak sesederhana seperti rumah-rumah di sekitarnya, tetapi tidak mewah seperti rumah-rumah gedung yang terletak di pinggir jalan besar.

Kebetulan anak dan suaminya ada di rumah. Sebagai seorang pejabat aku memang sudah demikian terlatih bermain sandiwara. Kapan aku bisa marah, kapan aku bisa halus-sopan, patuh kepada pejabat yang lebih tinggi dan aku bisa memerankan sebagai seorang tokoh berwibawa, yang tak berdosa serta bersikap seperti pejabat teladan. Aku bisa saja mengatur semua itu sedemikian rupa.

Suami Puspa rupanya seorang anggota band yang tidak begitu terkenal. Karena kontrak di sebuah night-club kecil yang kini menurun para pengunjungnya, maka ia tidak begitu banyak menghasilkan uang lagi. Melihat potret bersama suami isteri dan seorang anak yang terpampang di atas meja, memang melambangkan suatu pasangan keluarga yang baik. Suatu generasi yang menghadapi masa cerah. Tetapi kenapa tiba-tiba nasib mengubah Puspa hingga ia mengambil keputusan ini, amatlah sulit kutelusuri. Mungkin cintanya yang mendalam kepada anaknyalah, yang menyebabkan usaha gampang itu dia lakukan. Bayangkan, bagaimana mencari uang Rp500.000,00 dalam waktu sesingkat ini, kalau tidak dengan melakukan yang aneh-aneh?

Kulihat anaknya duduk dengan kaca mata tebal di kursi. Anak itu sangat lemah, kurus dan memang memerlukan pertolongan. Seperti seorang dokter aku mendekati anak itu yang mungkin mengira aku memang dokter. Kusuruh dia membuka kaca matanya dan kupegangi pelupuk matanya. Aku tarik ke atas dan kulihat memang mata ini sudah demikian parah. “Betul. Anak kalian memerlukan pengobatan yang cepat,” ujarku sambil mengenakan kembali kaca mata tebal itu kepada anak Puspa. Aku mengelus-elus rambutnya yang panjang. Setengah jam lamanya aku bersandiwara di rumah itu, tanpa suami Puspa tahu apa yang akan kulakukan sebagai pembayaran uang yang bakal kukeluarkan… Demikian pikiranku melayang-layang sejenak.

Sementara itu pertunjukan penari-penari Perancis makin panas saja. Aku lihat bagaimana seorang wanita dengan erotisnya menari di bawah remang-remangnya lampu kota Paris dan menggeliat-liat bernafsu seperti seekor kucing. Tanganku meraba-raba tangan Puspa dan ketika sampai ke jari-jarinya yang halus aku meremas-remasnya. Mungkin baru pertama kalinya ia lakukan ini dengan lelaki yang bukan suaminya, tapi apalah peduliku.

Kami makan malam dengan santai, menghabiskan dua porsi steak dan setelah itu menikmati anggur yang keras dan manis. Kini, kepala mulai pusing dan rasa panas mulai menjalar ke seluruh tubuhku.

Setelah usai aku mengajak Puspa meninggalkan klub ini. Puspa berdiri mengemas-emas tasnya dan beranjak setelah aku menandatangani bon makan malam serta meninggalkan uang tip kepada pelayan.

Mungkin orang-orang merasa masygul melihat aku yang sudah seusia ini, menggandeng tangan Puspa, seorang wanita usia 20 tahunan, melalui koridor, berjalan ke lift dan menghilang menuju tingkat enam.

Aku membuka kamar dan menyilahkan Puspa, yang masuk dengan badan lunglai. “Di sini kita?” tanyanya berbisik, melihat ke seluruh kamar. Suaranya hampir tak terdengar. Ia masuk kamar dengan ragu-ragu. Aku bersiul-siul membuka pakaian dan mengambil kopor untuk berganti dengan jas kamar. Kulihat wajahku di depan cermin, rambut memutih, kulit yang sudah mulai keriput. Tetapi mataku masih bersinar. Aku merasa belum setua usiaku!

Kulihat Puspa duduk di pinggir ranjang dengan gaun hitamnya. Tampak ia seperti seorang dewi, anggun dan mulus tubuhnya sangat indahnya. Aku mencuci muka dan menyisir rambut dengan rapi. Lalu Puspa kudekati dan duduk di sampingnya. Kupegang bahunya dan kucium pelipisnya. Aku mendengar napasku sendiri yang menggelora.

“Apa yang musti kuperbuat?” tanya Puspa. Kulihat lehernya bergerak menahan suara.

“Buka,” bisikku. Puspa membuka ritsluiting di bagian belakang dengan lamban. Setumpukan gaun berwarna hitam teronggok di bawah.

Kulihat televisi di kamar hotel menampilkan penyanyi Henny Pusponegoro dalam acara selingan “Siaran Niaga”. Henny menyanyi dengan lincah, memakai slack ketat dengan kaos stretch. Ia sangat cantik dengan mukanya yang lonjong itu.

“Apa yang harus kulakukan lagi?” tanya Puspa, lebih halus, hampir tak bertenaga.

“Seluruhnya,” ujarku. Puspa menggerakkan kedua tangannya ke belakang. Kudengar kini suara Kris Biantoro mewawancarai ibu-ibu yang memuji sabun yang dipakainya.

“Apa lagi?” suaranya hampir menangis. Aku tidak menjawab. Ranjang hotel ini begitu indah, berwarna merah jingga dilapisi sprei putih yang halus. Pandai sekali orang hotel membuat suasana romantis seperti ini.

Aku mendekati Puspa yang tergolek. Rambutnya terurai selagi matanya sayu memandangku. Ada kaca-kaca di mata itu. Bibirnya merekah.

Lagi-lagi kudengar di televisi penyanyi melagukan sebuah lagu yang lincah dan bergairah. Pastilah suara Ervina yang menyanyi dengan mengenakan celana coklat dan melenggak-lenggok menyanyikan lagu-lagu Indonesia populer yang diterjemahkan ke bahasa Jawa.

Esok paginya aku terbangun dari tidur. Aku bersiul-siul dan masuk ke kamar mandi. Mandi dengan air hangat kuku di bawah deuce sangat menyegarkan. Aku seperti anak muda kembali. Aku lalu mematikan deuce dan menggosoki tubuhku dengan handuk. Mengenakan jas kamar aku beranjak ke jendela hotel tingkat enam.

Kubuka jendela itu. Udara cerah. Mobil-mobil mewah sudah berseliwaran di atas jalan aspal licin kota Jakarta. Aku menikmati suasana modern kota Jakarta, yang membentang di bawahku luas-luas.

Kulihat di ujung sana, di seberang kali yang kotor penuh sampah berwarna hitam, gubug-gubug kecil seperti rumah-rumah siput. Dari jauh terlihat penghuni-penghuninya mulai keluar, dengan pakaian serba kumal. Aku sungguh tidak tahu, apakah yang dilakukan oleh orang-orang miskin itu. Biarlah mereka bekerja siang malam membanting tulang dan harus menyisakan uang yang sedikit itu buat makan. Mereka memang belum berhak menikmati kehidupan di hotel-hotel mewah ini seperti aku. Apalagi meniduri seorang wanita yang secantik Puspa!

Aku menarik napas panjang sebentar lalu beranjak ke depan cermin. Kuamat-amati mukaku yang keriput-keriput dan uban yang hampir menyita sebagian besar rambutku. Aku menarik napas bahagia dan penuh kemenangan. Aku bangga pada diriku, seorang pejabat yang dermawan . Hari ini aku telah menolong seorang anak yang hampir buta.

Sinar Harapan, Minggu 24 September 1978

[Dikutip dari: Hoerip, Satyagraha (Editor). 1979. Cerita Pendek Indonesia 3. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Hlm. 174-181.]


Umar Nur Zain

Lahir di Cirebon, Umar Nur Zain (1939-1996) menempuh studi di Sekolah Tinggi Publisistik (1962), Jakarta, dan kemudian melanjutkannya di FISIP Universitas Indonesia (1966), Jakarta, hingga memperoleh gelar sarjana. Pada 1969, dia berkesempatan mengikuti Advance Editorial Course dari Thomson Foundation di Cardiff.

Umar memang lebih dikenal sebagai wartawan ketimbang pengarang. Ia berturut-turut meliput untuk koran Berita Indonesia, Moderna, Berita Yudha, Berita Buana, dan Proklamasi. Pelabuhan terakhirnya sebagai wartawan adalah koran Sinar Harapan dan Suara Pembaruan.

Sebagai wartawan, Umar pernah mewawancarai ekonom Jerman dan penulis buku terkenal Small is Beautiful, E. F. Schumacher. Dia juga meliput tragedi jatuhnya pesawat carter Garuda Indonesia, yang mengangkut jemaah haji, di Colombo, Srilanka, pada 1974 dan 1978. Ratusan jemaah haji Indonesia tewas dalam dua insiden tersebut.

Sebagai sastrawan, Umar telah menghasilkan sejumlah karya. Antara lain novel Picadilly (1979) yang awalnya adalah cerita bersambung di Sinar Harapan; Dokter Anastasia (1981) yang juga awalnya cerita bersambung; kumpulan esai Nyonya Cemplon (1981); novel Belantara Ibukota (1982); dan novel Namaku Wage (1983).

Nyonya Cemplon adalah karya terpopuler Umar karena pernah diangkat ke layar lebar dengan pemeran utama Krisdayanti. Nyonya Cemplon sebenarnya esai mingguan Umar yang terbit di Sinar Harapan dan kemudian Suara Pembaruan. Tapi, dalam menulis esai, Umar menggunakan cerpen dengan tokoh utama “Nyonya Cemplon”. Tokoh ini bagi Sinar Harapan pernah menjadi ikon sebagaimana tokoh kartun “Oom Pasikom” (juga difilmkan dengan pemeran utama Didi Petet) bagi Kompas.[]

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Latest from Nukilan

“Hotel Tua”

Cerpen Budi Darma Cerpen “Hotel Tua” dinukil dari kumpulan cerpen berjudul sama
Go to Top