JELAJAH LITERASI

“Laut Bercerita”: Akhir Perjalanan Bukanlah Akhir dari Kisah

in Fiksi by

Catatan Redaksi: Laut Bercerita karya Leila S Chudori mengisahkan bagaimana penghilangan paksa para aktivis dan mahasiswa pada 1998 berdampak panjang bagi keluarga korban. Berikut ini apresiasi yang ditulis oleh seorang siswi sekolah menengah.

NOVEL Laut Bercerita yang ditulis oleh Leila S Chudori, pengarang dan juga wartawan, merupakan fiksi sejarah yang menjadikan tragedi 1998 sebagai latar. Novel ini berhasil meraih SEA Write Awards 2020, yaitu penghargaan bagi penulis dan penyair di Asia Tenggara.

Laut Bercerita mengisahkan para mahasiswa dan aktivis yang memperjuangkan hak-hak kemanusiaan pada masa pemerintahan Orde Baru. Novel ini berfokus pada perjalanan Biru Laut, seorang aktivis mahasiswa, dan teman-temannya di bawah tekanan, ancaman, bahaya, dan siksaan penguasa Orde Baru demi memperjuangkan Indonesia yang lebih baik. Inilah kisah tentang perjuangan, pengkhianatan, kekejian, kehilangan, cinta, dan harapan. Dari kisah Biru Laut, saya sebagai seorang pelajar bisa mengetahui apa yang diperjuangkan para mahasiswa dan aktivis pada masa tersebut.

  • Judul Buku: Laut Bercerita
  • Pengarang: Leila S Chudori
  • Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
  • Terbit: 2017
  • Tebal: 389 halaman

Laut Bercerita menampilkan sudut pandang tokoh utamanya, yaitu Biru Laut. Ia menceritakan perjalanan dan perjuangannya bersama para mahasiswa dan aktivis lain pada 1998. Kisahnya dibuka dengan Laut yang berada di momen terakhir hidupnya, momen terakhir perjalanannya, ketika tubuhnya terus tenggelam ke dasar lautan yang gelap. Laut pun bercerita sembari memeluk lautan yang membungkusnya menuju kematian.

Novel ini mengambil alur maju-mundur. Satu bagian menceritakan perjuangan Biru Laut bersama teman-temannya. Satu bagian lain menceritakan penangkapan, penyiksaan, dan penghilangan paksa mereka. Lalu, ada bagian yang menceritakan keluarga Laut.

Pada bagian akhir, sudut pandang diambil alih oleh Asmara Jati, adik Biru Laut. Asmara menceritakan kejadian yang waktunya sesudah seluruh kisah Biru Laut selesai. Dari sini, alur pun berubah maju.

Di bagian Asmara Jati, kita akan menemukan bagaimana luka dan trauma para mahasiswa yang kembali, keluarga yang terus berjuang mencari tahu kejelasan nasib anak-anak mereka, serta jiwa-jiwa yang terus berusaha meminta pertanggungjawaban pemerintah Indonesia terkait desaparecidos.

Saya tertarik dengan istilah desaparecidos, yang berasal dari bahasa Spanyol dan berarti “yang menghilang”. Istilah ini dalam hukum disebut juga “penghilangan paksa”. Istilah ini merujuk kepada orang-orang yang ditahan, disiksa, dan kemudian kemungkinan besar dibunuh tanpa jejak. Semua itu tentu saja tidak terjadi dalam proses hukum dan biasanya dilakukan oleh pemerintah yang berkuasa.

Setelah membaca berbagai sumber, saya mengetahui bahwa “penghilangan paksa” berdampak sangat besar terhadap keluarga-keluarga para korban. Para keluarga mengalami penderitaan mental yang sangat panjang karena tidak mengetahui bagaimana nasib anggota keluarga mereka, apakah masih hidup atau sudah meninggal. Tidak mengetahui apakah orang yang kita cintai akan kembali atau tidak membuat hidup para keluarga korban terus dihantui kepedihan. Ketidakpastian nasib anak-anak mereka mungkin akhir dari sebuah perjalanan tapi yang pasti bukanlah akhir dari suatu kisah.

Kepada mereka yang dihilangkan dan tetap hidup selamanya,” merupakan kata-kata pembuka ini yang menurut saya sangat cocok dengan tema novel ini. Saat membaca Laut Bercerita, saya merasakan banyak emosi: sedih, kecewa, dan marah. Pengarang juga berhasil membuat para tokoh dalam novel ini terasa begitu nyata. Saya bisa merasakan tekad dan harapan mereka tentang Indonesia yang lebih baik di masa depan, persahabatan mereka yang begitu kuat, serta rasa sakit dan kekosongan mereka saat ditangkap dan disiksa. Penulisannya menyayat hati, terutama ketika menceritakan proses penyangkalan para keluarga korban yang pada akhirnya terpaksa menerima kenyataan bahwa anak-anak mereka tidak akan pernah kembali.

Laut Bercerita, bagi saya, benar-benar sebuah novel yang menarik dari sisi sejarah dan mengharukan dari sisi kisah keluarga korban. Sebagai pelajar, saya tidak akan mendapatkan kisah seperti ini dari buku-buku pelajaran sejarah.

Walaupun kisah ini adalah fiksi yang digabungkan dengan sejarah, saya bisa merasakan kejadian di dalamnya dan emosi yang saya rasakan adalah nyata. Sebagai pembaca yang tidak mengetahui secara jelas kejadian pada 1998, saya merasa bersyukur karena dapat membaca novel ini serta mempelajari masa kelam Indonesia yang perlu kita ketahui sebagai bangsa.

Namun, bagi saya, novel ini awalnya terasa sulit dipahami jika tidak dibaca berulang-ulang. Mungkin itu karena alurnya yang maju-mundur sehingga saya awalnya sulit mengerti satu-dua kejadian dalam novel tanpa membaca ulang. Adegan kekerasan yang sangat deskriptif dalam novel ini juga terasa berat bagi pelajar seperti saya.

Pada akhirnya, bagi saya, karya Leila S Chudori ini sangatlah penting untuk dibaca karena dapat menjadi pembelajaran bagi generasi muda. Dari novel ini, kita bisa merasakan arti perjuangan, pengkhianatan, kehilangan, kekejian, keluarga, cinta, dan harapan.[]

Dhiya MF Puspadina adalah siswa kelas XI SMAN 2 Cibinong, Kabupaten Bogor.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Latest from Fiksi

Go to Top