JELAJAH LITERASI

“Inilah Mazhabku”: Renungan dan Pemikiran Haidar Bagir tentang Sunnah dan Syi’ah

in Wacana by

Berawal dari orasi budaya yang kemudian diturunkan menjadi rangkaian tulisan, Haidar Bagir menulis buku renungan tentang Sunnah dan Syi’ah, isu yang jarang dia tulis tapi seakan selalu melekat dalam perjalanan hidupnya.

Sebelum terjadi Revolusi Islam Iran pada 1979, meskipun mayoritas penduduknya bermazhab Syi’ah, Iran bersahabat baik dengan negara-negara tetangganya yang mayoritas penduduknya bermazhab Ahlus Sunnah. Tengoklah salah satu contohnya, yakni ketika Shah Iran Mohammad Reza Pahlavi berkunjung ke Arab Saudi pada 1970-an.

Di bandara, Reza Pahlavi disambut dengan rebana dan tarian. Raja Salman, yang waktu itu masih berstatus pangeran, turut menari-menari dalam kegembiraan.

Tidak sampai di sana. Ketika Reza Pahlavi melewati jalanan Arab Saudi, rakyat melimpah ruah meneriakkan yel-yel penyambutan sambil mengibar-kibarkan bendera Iran dan Arab Saudi.

Demikianlah. Pada masa-masa itu, perbedaan mazhab di antara sesama Muslim bukanlah suatu persoalan.

Hingga terjadilah Revolusi Islam Iran yang dipimpin oleh Ayatullah Khomeini. Reza Pahlavi yang dikenal sebagai diktator ditumbangkan oleh rakyat Iran. Tidak lama, melalui referendum, rakyat Iran memilih untuk mengubah negara mereka menjadi negara demokrasi yang berdasarkan asas Islam.

Semenjak itulah Iran menjadi negara yang dikucilkan oleh negara-negara tetangganya yang kebanyakan masih menganut sistem kerajaan. Para raja ini ketakutan jika revolusi Iran menular ke negara mereka.

Tidak berhenti sampai di sana. Syi’ah sebagai salah satu mazhab di dalam Islam juga terkena dampaknya. Ia disesat-sesatkan dan dipropagandakan sebagai mazhab yang telah menyimpang dari ajaran Islam.

Berdasarkan latar belakang di atas, menjadi jelas bahwa perpecahan antarmazhab di dalam Islam lebih didorong oleh persoalan politik, bukan mazhabnya itu sendiri. Peristiwa politik internasional tersebut nyatanya juga berdampak terhadap pemahaman keagamaan di Indonesia.

Jauh sebelum masa kemerdekaan, para sejarawan sudah mencatat bahwa penganut Syi’ah sudah ada di Nusantara. Bukti paling nyata dari hal ini adalah begitu banyaknya budaya Indonesia yang terpengaruh unsur-unsur Syi’ah. Sebut saja Tabuik di Pariaman dan Bengkulu, Gerebeg Suro di Jawa, Bubur Beureum Bodas di masyarakat Sunda, dan masih banyak lagi.

Haidar Bagir, seorang penulis buku tentang tasawuf, juga menyadari hal ini. Perseteruan antarmazhab sesungguhnya lebih banyak didorong persoalan politik.

Dia sendiri bahkan juga terkena imbasnya. Sejak era 1980-an, nama Haidar Bagir sudah mencuat sebagai tokoh intelektual Muslim yang dikabarkan bermazhab Syi’ah dan dituduh sesat.

Adalah benar bahwa Penerbit Mizan—perusahaan yang dipimpin oleh Haidar Bagir—pernah menerbitkan buku-buku pembahasan umum yang ditulis oleh ulama-ulama Syi’ah, sebagaimana diakuinya sendiri. Tetapi menurutnya buku-buku itu sama sekali tidak mendakwahkan Syi’ah, dan selain itu jumlahnya hanya sekitar 50 judul dari ribuan judul lainnya, yang bisa dikatakan mayoritas ditulis oleh ulama Ahlus Sunnah.

Haidar selama puluhan tahun selalu konsisten menyerukan perdamaian dan kerukunan di antara kedua mazhab besar ini. Dia berbicara di koran-koran dan ceramah-ceramah; dan kini masuk ke era internet, di YouTube, Facebook, Twitter, website, dan di berbagai medium lain. Tapi, sepanjang kurun waktu tersebut, Haidar—yang dikenal produktif menulis banyak buku—belum pernah menulis tentang isu ini secara khusus di dalam sebuah buku.

Hingga akhirnya, suatu hari dia diundang oleh Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia (IJABI)—organisasi yang didirikan oleh Almarhum Jalaluddin Rakhmat—untuk menyampaikan orasi budaya. Untuk acara tersebut, Haidar menulis makalah yang berjudul “Tasannun dan Tasyayyu‘, Bertemu Lagi dalam Tasawuf”. ‘Alâ kullî hâl, setelah mendapat respon positif karena ada banyak pihak—baik dari sisi Sunni maupun Syi’ah—yang merasa tercerahkan dengan kandungan pengetahuan yang disampaikan di dalam makalah tersebut—dan mereka juga meminta Haidar mengurainya lebih jauh—Haidar mulai mengurai isi makalah tersebut ke dalam tulisan-tulisan lain.

Rupanya tulisan-tulisan tambahan itu juga mendapat respon yang positif dan ada yang mengumpulkannya untuk diserahkan kembali ke Haidar dalam suatu naskah utuh. Inilah yang menjadi cikal bakal lahirnya buku baru yang oleh Haidar diberi judul Inilah Mazhabku: Mazhab di Atas Mazhab—Risalah Sederhana untuk Kaum Muslim Ahlus-Sunnah dan Syi’ah.

  • Judul Buku: Inilah Mazhabku: Mazhab di Atas Mazhab
  • Penulis: Haidar Bagir
  • Penerbit: Mizan Publishing House
  • Terbit: Oktober 2022
  • Tebal: 204 halaman

Buku ini tiada lain membahas tema-tema tentang Ahlus Sunnah dan Syi’ah mulai dari definisi, sejarah pembentukan, titik temu di antara keduanya, hingga pandangan Haidar sendiri tentang keabsahan dua mazhab besar ini. Bagian tertentu buku ini juga menyertakan beberapa wawancara terhadap Haidar yang memunculkan pertanyaan-pertanyaan yang gamblang seperti, “Apakah Anda Syi’ah?” Sehingga hal ini bisa menjawab penasaran orang-orang tentang kecenderungan mazhab Haidar Bagir yang selama ini oleh sebagian kalangan dianggap kontroversial.

Hal lainnya yang hendak disampaikan Haidar, bahwa Islam—apa pun mazhabnya—pada dasarnya adalah agama cinta. Sehingga dalam hal apa pun, segala dinamika yang terkandung di dalamnya hendaknya dipandang melalui paradigma Islam sebagai agama cinta. Sebagaimana dikutip oleh Haidar di dalam bukunya:

Agama adalah cinta dan cinta adalah agama.” Imam Ja‘far al-Shadiq

Pada puncaknya, selain membahas seluk-beluk kedua mazhab ini, Haidar memiliki pesan utama tentang persatuan dan kerukunan. Segala pertikaian antara kedua mazhab ini lebih didorong karena permainan politik para elite. Sejatinya, menurut Haidar, dulunya perbedaan di antara kedua pengikut mazhab ini merupakan hal yang biasa-biasa saja.

Di awal-awal sejarahnya, batas-batas perbedaan antara kedua mazhab ini sangatlah baur. Yang Ahlus-Sunnah menerima Syi‘ah sebagai mazhab yang ‘biasa-biasa’ saja, sehingga tak ada permusuhan di antara keduanya, demikian pula sebaliknya. Bahkan, seorang Sunni bisa ke-“Syi‘ah-Syi‘ah”-an (mutasyayyi‘), dan sebaliknya seorang Syi‘i bisa ke-“Sunni-Sunni”- an (mutasannin). Mereka saling mengambil dan belajar bahwa menjadi Sunni dan Syi‘i tak harus berarti saling bertikai, apalagi saling membenci.”

Bagian penting lainnya dari buku ini adalah klarifikasi Haidar terhadap tiap-tiap mazhab. Selama ini, misalnya, penganut Syi’ah sering digambarkan sebagai orang-orang yang menuhankan Imam Ali bin Abi Thalib; bahwa Ali lebih berhak menerima wahyu; gemar menghujat istri dan sahabat Nabi; dan sederetan tuduhan negatif lain. Sebaliknya, dari sisi Syi’ah terhadap Sunni pun bukannya tidak ada tuduhan negatif juga, misalnya Sunni membenci Ahlul Bait; gemar mengafirkan orang-orang Syi’ah; atau yang paling ekstrem, membantai keluarga Nabi dalam berbagai peristiwa.

Haidar tidak menampik bahwa tuduhan-tuduhan tersebut sebagian memang benar adanya, tapi menurutnya hal itu sama sekali tidak menggambarkan mazhab Ahlus Sunnah dan Syi’ah yang sebenarnya. Ketimbang secara keseluruhan, perilaku-perilaku buruk semacam itu nyatanya hanya dilakukan oleh segelintir orang atau kelompok yang terlanjur dinarasikan sebagai sikap umum seluruh penganut tiap-tiap mazhab.

Haidar mengurai itu semua dan membalikkannya dengan fakta-fakta bahwa ketimbang permusuhan, sesungguhnya kerukunan di antara kedua pemeluk mazhab jauh lebih banyak. Bahwa Ahlus Sunnah dan Syi’ah memang berbeda tidak bisa dipungkiri, tapi bukan berarti mereka tidak bisa bersatu.

Akhir kata, untuk menggambarkan keunggulan isi buku ini, ada beberapa poin yang hendak disampaikan.

Pertama, meskipun sudah banyak penulis yang menulis dengan tema serupa, buku ini menawarkan pembahasan yang berbeda; yang lebih ringkas, padat, populer, mudah dipahami, dan mengalir.

Kedua, pembahasan tentang pemikiran atau aliran yang disajikan buku ini lengkap dan adil (cover both sides).

Ketiga, buku ini menjunjung tinggi persatuan, keharmonisan, kesalingpahaman, dan prinsip Islam sebagai agama cinta.

Keempat, buku ini cocok dibaca bagi pemeluk Islam di Indonesia yang jumlahnya banyak dan memiliki denominasi mazhab yang beragam.

Kelima, buku ini juga cocok bagi awam yang masih belum terlalu paham tentang perbedaan—atau kekhasan—antara Ahlus Sunnah dan Syi’ah.

Sebagai penutup, dalam sebuah wawancara ketika proses pengerjaan buku ini, Haidar Bagir berkata, “Apa yang saya tulis (di dalam naskah ini) betul-betul yang sesungguhnya (saya pikirkan). Bukan karena ingin menampilkan suatu citra tertentu ke publik.”

Haidar sudah sejak lama menyerukan bahwa perdamaian dan kerukunan di antara Sunni dan Syi’ah bisa dicapai. Haidar Bagir gencar menyuarakan pembelaan terhadap siapa pun yang disudutkan, baik dari Sunni maupun Syi’ah.

Oleh karenanya, oleh kelompok tertentu, dia malah digambarkan sebagai tokoh Syi’ah dan sesat. Haidar kadang didemo di beberapa tempat oleh kelompok-kelompok intoleran. Jika yang dilakukan Haidar itu sebatas untuk mencari sensasi, atau untuk tujuan-tujuan jangka pendek lain, niscaya dia sudah akan mundur duluan.

Orang yang setengah-setengah sudah pasti akan mundur jika menghadapi tekanan sebesar itu. Apa yang membuatnya maju terus, semata-mata karena apa yang dia serukan adalah sesuatu yang benar-benar prinsipiel, yang betul-betul dia yakini.[]

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Latest from Wacana

Hidup Mati Petani Kita

Sejarawan Eric Hobsbawm menulis bahwa paruh kedua abad ke-20 dunia menyaksikan perubahan
Go to Top