JELAJAH LITERASI

Sepuluh Buku Islam Pilihan Mizan 2021

in Bukupedia by

Grup penerbit Mizan memilih sepuluh buku tentang Islam yang layak dibaca sepanjang 2021. Buku apa sajakah?

Grup Mizan merilis daftar sepuluh buku Islam pilihan untuk tahun 2021. Menurut CEO Grup Mizan Haidar Bagir, perilisan ini merupakan upaya grup penerbitan itu memulai tradisi baru di dunia perbukuan Indonesia. Tidak seperti di Barat, di mana media-media seperti The New York Times, BBC, The Guardian, atau Publisher Weekly rutin merilis daftar buku pilihan mereka masing-masing, di Indonesia tradisi daftar buku pilihan seperti itu belum lazim.

Kata “pilihan” digunakan Mizan karena mereka menyadari kemungkinan masih adanya buku-buku bagus lain yang tak terpantau radar. Daftar itu juga disusun dalam nomor urutan yang tak menunjukkan peringkat.

Dengan merilis daftar ini, Haidar bilang, Mizan ingin menggalakkan penerbitan buku-buku serius tentang Islam. Jenis buku seperti ini, menurutnya, kurang diminati masyarakat sehingga penerbit malas menerbitkannya. Padahal, meskipun bertema serius, buku-buku itu ditulis dengan narasi yang tidak membosankan.

Buku-buku seperti itu juga berisi pemikiran-pemikiran baru atau terobosan tentang Islam dan dunia Muslim. Alhasil, buku-buku itu dapat dikatakan sebagian bagian yang tak terpisahkan dari perkembangan peradaban Islam yang layak untuk dirayakan dengan menerbitkannya.

Mizan menurut Haidar memiliki sejumlah kriteria dalam memilih sepuluh buku dalam daftar tersebut. Pertama, ia harus merupakan hasil penelitian dan pemikiran scholarly yang disajikan dengan menarik. Kedua, ia bertema aktual dan orisinal. Ketiga, pembahasannya mendalam atau mengandung pemikiran filosofis.

Selain itu, menurut Haidar, Mizan juga secara khusus menekankan pada karya-karya penulis Indonesia atau karya-karya tentang Islam di Indonesia. Lalu, karya-karya itu mempromosikan Islam yang terbuka, rasional, moderat, dan sejuk.

“Dengan merilis daftar ini, kami ingin mendorong kemunculan pemikir-pemikir dan penulis-penulis baru yang sesuai dengan kriteria kriteria tersebut,” ujar Haidar.

Dari 10 buku dalam daftar itu, beberapa di antaranya merupakan karya berbahasa asing yang belum diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Satu di antaranya bahkan ditulis oleh penulis Indonesia. Sebagian lainnya karya terjemahan, dan bahkan di antaranya terjemahan karya-karya klasik seperti karya Muhammad Iqbal, karya Ibn Arabi, atau karya Jalaluddin Rumi. Lalu tentu saja ada karya berbahasa Indonesia penulis lokal.

Tema-temanya pun merentang dari persoalan politik seperti ketertinggalan dunia Islam, hak asasi manusia, dan feminisme, tema budaya, hingga tema tasawuf.

Berikut ini sepuluh buku Islam 2021 pilihan Mizan, plus dua buku yang masuk kategori “special mention”.

1. Reopening Muslim Minds: A Return to Reason, Freedom, and Tolerance (Mustafa Akyol)

Dalam buku ini, Akyol mendiagnosis bahwa krisis Islam di dunia modern terjadi karena umat Islam kehilangan spirit universalisme yang pernah membuat mereka menjulang sebagai peradaban besar pada abad-abad sebelumnya. Penulis asal Turki ini menunjukkan bahwa nilai-nilai abad pencerahan Barat, seperti kebebasan, penalaran, toleransi, dan apresiasi terhadap sains memiliki padanannya di dalam sejarah dan ajaran Islam.

Dengan meminjam pandangan para pemikir Islam terkemuka abad pertengahan, seperti Ibn Rusyd, Akyol menawarkan padangan dunia Islam yang baru dalam sejumlah isu kontemporer, seperti hak asasi manusia, kesetaraan gender, dan kebebasan beragama.

2. Decolonizing Human Rights (Abdullahi Ahmed An-Naim)

Abdullahi Ahmed An-Naim menantang dua interpretasi sekaligus, yakni interpretasi historis muslim atas syariah dan interpretasi neokolonial atas hak asasi manusia. An-Naim menawarkan gagasan universalitas umat manusia melalui diskursus internal di dalam umat Islam dan masyarakat Afrika serta dialog antarbudaya di antara budaya-budaya umat manusia.

Buku ini mengajukan transformasi dari hak asasi manusia yang berpusat pada negara kepada hak asasi manusia yang berpusat kepada individu individu. Ini dilakukan untuk memutuskan bagaimana hak asasi manusia mesti dipahami dan diintegrasikan ke dalam masyarakat.

3. What is Religious Authority? Cultivating Islamic Communities in Indonesia (Ismail Fajrie Alatas)

Dalam What is Religious Authority, Ismail Fajrie Alatas menunjukkan bagaimana para ulama menghimpun pelbagai aspek kehidupan untuk membentuk komunitas-komunitas muslim yang unik. Dia menelusuri masa sejak Abad ke-18 hingga kini.

Alatas melacak bagaimana gerakan-gerakan ulama dari Yaman ke Indonesia dan memperlihatkan bagaimana mereka merespons kondisi kultural lokal yang kompleks sembari membuka kanal-kanal baru bagi transmisi ajaran Islam. Dia menampilkan sosok Habib Lutfi, guru Sufi terkemuka di Indonesia yang mampu menggunakan infrastruktur yang ada di dalam tarekat dan negara Indonesia guna membentuk komunitas religius yang sanggup bertahan lama.

4. Feminisme Islam: Genealogi, Tantangan, dan Prospek(Etin Anwar)

Dalam karya ini, Etin Anwar menawarkan perspektif baru tentang perubahan hubungan antara Islam dan feminisme sejak era kolonial pada 1900-an hingga awal 1990-an di Indonesia. Hubungan tersebut dipetakan ke dalam lima zaman: emansipasi, asosiasi, pembangunan, integrasi, dan penyebaran.

Dengan menggunakan pendekatan genealogis, Etin berusaha mengangkat kembali prinsip egalitarianisme dalam tradisi Islam, sebuah konsep yang telah ditundukkan oleh struktur kekuasaan, struktur budaya, dan struktur penafsiran teks keagamaan yang hirarkis dan patriarkis.

5. Islam, Otoritarianisme, dan Ketertinggalan (Ahmed T Kuru)

Mengapa negara-negara berpenduduk mayoritas muslim tertinggal dari rata-rata negara-negara lain di dunia dewasa ini?

Ahmed T Kuru menampik penjelasan klasik bahwa penyebabnya adalah faktor intrinsik ajaran dan doktrin Islam yang menghambat kemajuan dan kebebasan. Ia juga menolak penjelasan faktor ekstrinsik berupa kolonialisme Barat.

Kuru menunjukkan bahwa penyebabnya terutama terletak pada aliansi ulama-negara yang bersifat otoritarian, sehingga menghambat kreativitas, kebebasan berpikir, dan perbedaan pendapat. Hal itu pada gilirannya membuat umat Islam mengalami stagnasi, dan bahkan ketertinggalan sejak Abad ke-12 hingga sekarang.

6. Javid Namah (Muhammad Iqbal)

Javid Namah merupakan imajinasi sang pengarang, Muhammad Iqbal, dalam melakukan perjalanan spiritual-intelektual yang terinspirasi dari pengalaman Mikraj Nabi, dari langit ke langit hingga menjumpai Tuhan. Lewat Javid Namah, Iqbal didampingi sang pemandu, Jalaluddin Rumi, di sepanjang mikrajnya menemukan ruang yang luas untuk mengeksplorasi berbagai ide besar yang selama ini menjadi isu-isu penting di ranah spiritualitas dan intelektualitas manusia sepanjang sejarah.

7. Wali Berandal Tanah Jawa (George Quinn)

Budaya ziarah di Jawa dan Madura menunjukkan semacam antitesis terhadap keberislaman yang makin ortodoks di lanskap keberagamaan di Indonesia sejak akhir 1980-an hingga sekarang. Lewat Wali Berandal Tanah Jawa, Quinn menyelami jauh fenomena-fenomena di bawah permukaan Indonesia modern. Ia menjelajahi pribadi-pribadi dan cerita-cerita di dunia ziarah lokal yang aneh bin ajaib dimana Islam Timur Tengah berbaur dengan peradaban Jawa.

8. Islam di Jawa Abad XIII-XVI: Para Wali, Pribumisasi Islam, dan Pergulatan Jati Diri Manusia Jawa (Nur Khalik Ridwan)

Karya Nur Khalik Ridwan ini berusaha menelusuri sejarah Islam di era transisi dan formasi identitas manusia Jawa dari Hindu-Buddha kepada Islam. Buku ini juga menunjukkan bahwa kejatuhan Majapahit lebih disebabkan oleh krisis dan konflik internal daripada oleh serangan kerajaan-kerajaan Islam yang baru terbentuk. Buku ini mencoba memberi argumentasi tentang proses pembentukan jati diri muslim Jawa dan bagaimana peran para wali dalam transformasi sosial-politik dan keagamaan di Jawa.

9. Allah dan Alam Semesta: Perspektif Tasawuf Falsafi (Said Aqil Siroj)

Dalam buku ini, Said Aqil Siroj menunjukkan bahwa tasawuf falsafi merupakan sebuah tradisi Agung dengan kekayaan literatur yang panjang dan mengandung sekian banyak ide, ajaran, dan pemikiran yang beragam, saling berbeda, dan bahkan bertubrukan. Lewat buku ini, Said Aqil secara ekstensif mengulas perkembangan dan konsep-konsep tasawuf falsafi yang hingga kini masih banyak ditafsirkan secara keliru oleh khalayak.

10. Matsnawi Maknawi (Maulana Rumi, penerjemah Muhammad Nur Jabir)

Matsnawi menghimpun sajak-sajak Maulana Rumi yang membeberkan dimensi batin ajaran Islam. Meskipun telah berusia ratusan tahun, syair-syair Rumi tetap menjadi sumber inspirasi mencerahkan bagi masyarakat kontemporer dewasa ini. Bahkan karena sifatnya yang spiritual dan sepenuhnya diilhami oleh cinta, Rumi melampaui sekat-sekat mazhab dan tradisi agama-agama.

Edisi Indonesia yang diterjemahkan oleh Muhammad Nur Jabir langsung dari bahasa Persia ini baru terbit dua jilid dan ditekadkan untuk diselesaikan hingga jilid terakhir. Sungguh sebuah kerja peradaban yang sangat layak diapresiasi.

Special Mention”

1. Al-Futuhat Al-Makkiyyah (Muhyiddin Ibn Al-’Arabi, penerjemah Harun Nur Rasyid)

Karya klasik Ibn Arabi terjemahan Harun Nur Rasyid ini adalah sebuah sintesis impresif yang mencakup keluasan pengetahuan spiritual yang luar biasa. Kitab ini terdiri dari 560 bab yang disusun oleh Ibn Arabi dalam 37 jilid hingga setebal 10.860 halaman tulisan tangan. Berbagai suntingan kritis telah dilakukan. Demikian juga penerjemahannya ke dalam berbagai bahasa di dunia. Edisi Indonesianya yang diterjemahkan dan diterbitkan sendiri oleh Harun Nur Rasyid telah terbit sebanyak lima jilid dan menyisakan 32 jilid untuk lanjutannya. Sebuah kerja peradaban yang luar biasa.

2. Spirit Islam pada Masa Revolusi Indonesia (Kevin W Fogg)

Sejarah dipenuhi penggambaran perang revolusi Indonesia sebagai perang nasionalistis. Tapi, dalam buku ini, Kevin Fogg meninjau ulang Revolusi Indonesia kurun waktu 1945-1949 sebagai perjuangan umat Islam. Dalam spirit keagamaan, kaum muslim melakukan Perang Sabil melawan upaya rekolonisasi Belanda di Indonesia.

Dengan mengangkat pendekatan tradisi lisan, termasuk ratusan wawancara dengan para pelaku dan keluarganya, Fogg menunjukkan bagaimana Islam berfungsi sebagai ideologi revolusi pada era modern.[]

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Latest from Bukupedia

Mengapa Orang Menulis?

Esai Alice Adams Menulis itu melelahkan, dan hasilnya tak memberi jaminan kekayaan
Go to Top