Ensiklopedia dari Dunia Islam

in Bukupedia by

Peradaban Islam pernah menghasilkan banyak karya ensiklopedis. Ini menjadi bukti era keemasannya. Tapi, semua itu cuma album yang tak akan berarti apa-apa kecuali kita menyerap pelajaran darinya.

Ilmu, kata Sayidina Ali bin Abi Thalib, lebih utama ketimbang harta. “Ilmu menjagamu, sedangkan harta engkaulah yang harus menjaganya. Harta berkurang jika dibelanjakan, sedangkan ilmu malah tumbuh subur jika ‘dibelanjakan’ — yakni, diajarkan kepada orang lain,” demikian nasihatnya kepada Kumail. Begitulah, Islam memang menjunjung tinggi ilmu — semua itu terungkap dalam Kitab Suci dan Hadis Nabi. Sayangnya, ungkapan ini sekarang menjadi semakin klise: lebih sering diungkapkan ketimbang dijalankan.

Akan tetapi, setidaknya gelegak dahaga ilmu pernah begitu merasuk dalam peradaban Islam. Karenanya, sebagaimana peradaban-peradaban besar lain seperti Yunani, Romawi, dan Cina, peradaban Islam pun banyak menghasilkan ensiklopedia. Bahkan ilmuwan-ilmuwan Islam pada Zaman Keemasan Islam sering disebut ilmuwan ensiklopedis, karena menguasai beberapa bidang pengetahuan sekaligus.

Secara kasar, tulis Macropaedia Britannica, ensiklopedia-ensiklopedia awal dalam bahasa Arab dapat dibagi dalam dua kategori. Pertama, ensiklopedia yang memang ditujukan kepada orang yang ingin memperoleh informasi yang lengkap dan memanfaatkan pengetahuan di dalamnya. Kedua, ensiklopedia yang ditujukan kepada para administrator negara. Maklum, wilayah Istam yang makin meluas sampai ke Mediterania tentunya memerlukan administrator yang cakap — dan ensiklopedia adalah salah satu sarananya.

Ensiklopedia pertama yang betul-betul ensiklopedia dari Dunia Islam adalah karya lbn Qutaybah (828-889), seorang pengajar dan ahli filologi, berjudul Kitab ‘Uyun Al-Akhbar. Tidak sekadar membahas topik-topik, lbn Qutaybah menghiasinya dengan kata-kata mutiara dan puisi-puisi Arab lama. Para penyusun ensiklopedia yang belakangan kemudian mengikuti pola penyajian dan cakupan kitab ini. Sepuluh jilid karya ini secara tematis disusun ke dalam urutan sebagai berikut: kekuasaan, perang, kemuliaan, karakter, belajar dan kefasihan, asketisme, persaudaraan, doa, makanan, dan wanita. Memang, selain entri diurutkan berdasar alfabet, urutan berdasar tema pun lazim dilakukan. Seorang peneliti Barat mengatakan urutan tematik harus berdasar pentingnya. Alhasil, ia menyindir Ibn Qutaybah karena kekuasaan dan perang diletakkan pada urutan awal, makanan dan wanita pada urutan belakang.

Akan tetapi, karya Al-Khwarizmi, Mafatih Al-’Ulum yang dikompilasi pada 975-977 malah lebih sering dianggap sebagai ensiklopedia pertama dari Dunia islam. Dia membagi karyanya ke dalam dua bagian: pengetahuan asli (fiqih, filsafat skolastik, tata bahasa, seni puisi, sejarah) dan pengetahuan asing (filsafat, kedokteran, aritmetika, geometri, astronomi, musik, mekanika, alkimia). Kelompok “misterius” Ikhwan Al-Shafa yang didirikan di Basrah pada Abad ke-10 menerbitkan Rasa’il Ikhwan Al-Shafa, sebuah karya mengagumkan yang terdiri atas 52 tulisan dari lima pengarang, yang mencakup semua pengetahuan yang ada pada pemikiran kelompok itu.

Al-Nuwairi (1272-1332), sejarawan asal Mesir, mengompilasi ensiklopedia terbaik dari zaman Mamluk, Nihayah Al-’Arab fi Funun Al-Adab, dalam 9.000 halaman. Sementara itu, Masalik Al-Abshar karya Al-’Umari (1301-1348) sangat menekankan pada sejarah, geografi, dan puisi. Lalu lbsyihi (1440) menyusun Mustatraf yang mencakup agama Islam, perilaku, hukum, kualitas spiritual, kerja, sejarah alam, musik, makanan, dan kedokteran.

Dari Persia, seorang ahli hukum bernama Al-Dauwani (1427-1501) menerbitkan semacam ensiklopedia berjudut ‘Umdah Al-’Ulum yang berisi tanya jawab serta penemuan-penemuan teknik dari banyak bidang. Lalu Al-Hanafi pada 1524 menerbitkan survei ensiklopedis dan penjelasan mengenai pelbagai cabang pengetahuan. Bukunya bahkan ditambah pula dengan lampiran berisi nama-nama Tuhan yang disusun secara alfabetis.

Begitutah: kekayaan khazanah pustaka, sebagai contoh beberapa ensiklopedia di atas, adalah salah satu bukti sejarah gemilang Islam. Akan tetapi, kata orang, sejarah hanyalah album — kecuali kita dapat menyerap pelajaran darinya. Dan kini, kita tahu, kita seakan kehilangan pelajaran itu.[]

(Dinukil dari: Putut Widjanarko, Elegi Gunnterberg: Memposisikan Buku di Era Cyberspace, [Mizan: Bandung, 2000].)

Foto utama: sampul kitab Mafatih Al-‘Ulum karya Al-Khwarizmi. Sumber: Foliosltd.com.

Putut Widjanarko adalah Vice President Mizan Publika. Ia meraih gelar doktor di bidang ilmu komunikasi massa di Scripps College of Communication, Ohio University, pada 2007 dengan disertasi berjudul “Homeland, Identity, and Media: A Study of Indonesian Transnational Muslims in New York City.”

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*