100 Buku Terbaik Abad ke-21

in Bukupedia by

The Guardian merilis daftar 100 buku terbaik di seperlima pertama abad ini. Di antaranya ada novel, polemik, sejarah, dan memoar. Kami membuat profil lima buku di urutan teratas.

ABAD ke-21 baru saja memasuki tahun ke-21. Tapi, The Guardian, media ternama Inggris, sudah merilis daftar buku terbaik di seperlima pertama abad ini. Di antaranya ada novel, polemik, sejarah, dan memoar.

Kami membuat profil singkat lima buku teratas.

1. Wolf Hall (2009) karya Hilary Mantel

Pilihan The Guardian untuk buku terbaik sejak 2000 hingga kini jatuh kepada Wolf Hall. Ini karya Hilary Mantel, penulis Inggris. Wolf Hall adalah bagian dari trilogi novel sejarah Mantel tentang Thomas Cromwell. Dua novel lainnya Bring Up the Bodies terbit pada 2012 dan The Mirror and The Light akan terbit pada tahun ini.

Cromwell adalah tokoh sejarah kontroversial di Inggris. Dia perdana menteri Raja Henry VIII (1509-1547), penguasa Inggris dari Dinasti Tudor. Dilahirkan dari keluarga kelas pekerja, Cromwell terus menapaki karir hingga mencapai posisi penasehat utama Sang Raja. Di titik ini, dia berperan dalam salah satu momen krusial sejarah: Reformasi Inggris.

Atas keputusan Henry VIII, Inggris memisahkan diri dari otoritas keagamaan Katolik Roma dan menetapkan dirinya sendiri sebagai penguasa Gereja Inggris. Uniknya, peristiwa ini salah satunya dipicu persoalan pernikahan.

Henry VIII menerima saran Cromwell untuk membatalkan pernikahannya dengan Catherine of Aragon – yang gagal memberinya keturunan – dan kemudian menikahi Anne Boleyn, sekutu politik Cromwell yang belakangan menjadi seteru. Tapi, Paus Klemens VII tak merestui pembatalan pernikahan itu, dan karena itulah Henry VIII menyatakan Inggris berpisah dari Katolik Roma dan mengesahkan pembatalan pernikahannya sendiri.

Wolf Hall menyajikan kisah berbeda tentang Cromwell; lebih simpatik. Dalam sejarah arus utama, Cromwell kerap digambarkan sebagai pejabat yang penuh kelicikan dan jauh dari kehormatan jika dibandingkan dengan seteru politiknya Lord Chancellor Sir Thomas Moore, seorang Katolik taat.

“Detail-detail permukaannya sangat sensual, segera menciptakan perasaan dan pecitraan kuat dalam pikiran. Bahasanya sesegar cat baru. Dan eksplorasinya tentang kekuasaan, nasib, dan peruntungan sangat dalam dipertimbangkan dan selalu dalam dialog dengan era kita, karena kita dibentuk dan diciptakan oleh masa lalu. Dalam buku ini, kita mendapati, seperti yang Mantel maksudkan, ‘sebuah sensasi mendengarkan sejarah dan berbicara kepada diri kita sendiri’,” tulis The Guardian.

Mantel, 67 tahun, menghabiskan seperempat abad karirnya menulis cerpen, biografi, dan fiksi sejarah. Pilihannya untuk merevisi sejarah Cromwell dalam bentuk novel mencuatkan namanya. Dua novel dari trilogi ini, Wolf Hall dan Bring Up the Bodies, memberinya penghargaan prestisius The Booker Prize for Fiction, masing-masing pada 2009 dan 2012. BBC Two telah mengangkat dua novel tersebut menjadi sebuah miniseri berjudul “Wolf Hall” pada 2015.

2. Gilead (2004) karya Marilynne Robinson

Gilead bercerita tentang seorang pastor tua John Ames di Gilead, desa rekaan di Iowa, Amerika Serikat. Di usia 76 tahun, Ames menulis serangkaian surat untuk putranya yang berusia tujuh tahun. Ames menulis itu karena yakin sang putra hanya akan memiliki memori singkat tentang dirinya dan di masa dewasa nanti tak akan pernah berjumpa dengannya.

Dengan cara bercerita seperti itu, Gilead bisa dikatakan sebagai sastra epistolary, genre yang ditulis sebagai serangkaian dokumen.

Menurut The Guardian, novel ini sangat filosofis dan medidatif. “Buku ini tentang legasi … pengingat akan kesedihan, keindahan sesaat yang dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Seperti yang Ames simpulkan untuk putranya dan dirinya sendiri, ‘Ada seribu alasan untuk menjalani kehidupan ini, dan satu saja dari seribu itu sudah cukup.’”

Robinson salah satu penulis paling berpengaruh di Amerika. Sepanjang karir, perempuan 76 tahun itu telah menerima sejumlah penghargaan literasi. Gilead merupakan novel keduanya setelah Housekeeping (1980). Lewat Gilead, Robinson memperoleh Pulitzer Prize for Fiction pada 2005. Selain menulis, Robinson mengajar penulisan kreatif di University of Iowa sejak 1991 hingga 2016.

3. Seconhand Time (2013) karya Svetlana Alexievich

Ini buku sejarah unik: sejarah lisan – model dokumentasi sejarah yang mencoba memberi alternatif bagi historiografi arus utama. Penulisnya mewawancarai kesaksian orang-orang biasa tentang pengalaman mereka selama kekuasaan rezim komunis di Uni Soviet hingga keruntuhannya. Penulis, pramusaji, dokter, serdadu, eks aparat, dan penyintas gulag diberi ruang oleh Alexievich untuk menceritakan kemarahan, pengkhianatan, dan kecemasan tentang transisi ke kapitalisme.

Alexievich kemudian menjahit hasil wawancara itu menjadi sebuah pengisahan sejarah yang koheren. Diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Bela Shayevich pada 2016, Seconhand Time menjadi karya non-fiksi berisikan beragam kisah yang biasanya disisihkan oleh penulisan sejarah arus utama. “Buku yang tak terlupakan, sebuah tindakan katarsis sekaligus pengungkapan empati yang mendalam,” tulis The Guardian.

Alexievich sendiri merupakan seorang jurnalis investigasi, penulis esai, dan sejarawan lisan asal Belarusia. Buku-buku sejarah lisan yang dia tulis biasanya bercerita tentang peristiwa-peristiwa dramatis dalam sejarah Soviet: Perang Dunia II, Perang Afghanistan, keruntuhan Soviet, dan bencana nuklir Chernobyl. Berkat karya-karyanya, Alexievich menerima Nobel Kesusasteraan pada 2015, padahal hadiah Nobel kategori ini jarang diberikan kepada karya non-fiksi.

4. Never Let Me Go (2005) karya Kazuo Ishiguro

Ini novel tentang cinta segitiga yang terjadi di antara klon manusia. Setting-nya adalah realitas distopia di Inggris era-1990-an. “(Buku ini) membawa pernyataan sangat indah dalam eksplorasinya tentang kebinasaan, kehilangan, dan apa artinya menjadi manusia,” komentar The Guardian.

Dilahirkan di Nagasaki Jepang, Ishiguro (65 tahun) menjadi penulis fiksi Inggris paling dihargai. Dia pernah menerima empat nominasi The Booker Prize for Fiction, dan memenangi salah satunya lewat The Remains of the Day pada 1989.

Never Let Me Go sendiri masuk nominasi Booker Prize dan disebut majalah TIME sebagai satu dari 100 novel berbahasa Inggris terbaik sejak 1923. Pada 2010, sutradara Mark Romanek mengangkat novel ini ke layar lebar dengan bintang utama Carey Mulligan, Keira Knightley, dan Andrew Garfield.

5. Austerlitz (2001) karya WG Sebald

Ini karya terakhir pengarang Jerman, Winfried Georg Sebald, sebelum dia meninggal karena kecelakaan mobil pada 2001. Novel ini berkisah tentang Jacques Austerlitz, seorang diaspora Yahudi yang hidup di Antwerp pada era 1960-an. “Karya terakhirnya, sebuah kisah kiasan tipikal tentang seorang pria, memetakan diaspora Yahudi dan kehilangan Abad ke-20 dengan kekuatan yang memilukan,” tulis The Guardian.

Sepanjang karir penulisannya, Sebald dikenal karena kemampuannya mengaduk-aduk antara fakta dan fiksi. Dia banyak berbicara tentang beban moral sejarah dan pertemuan antara pengalaman lahir dan batin. Pada 2007, Akademi Swedia menyebut Sebald, Ryszard Kapuscinski (penulis-jurnalis Polandia), dan Jacques Derrida (penulis-filsuf Perancis) sebagai penulis-penulis yang sebenarnya layak memperoleh Nobel untuk Kesusasteraan.[]

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*