Menjadikan Anak “Kutu Buku” di Era Digital

in Bukupedia by

Di era digital, anak-anak dilaporkan menghabiskan lebih banyak waktu di hadapan layar gawai daripada membaca buku. Jurnalis Donna Ferguson dan pengarang Michael Rosen menyarankan aktivitas membaca dengan suara keras untuk menjembatani anak ke budaya literasi. Mengapa bisa begitu?

SASTRAWAN Seno Gumira Ajidarma dalam pidatonya saat menerima SEA Writer Award di Bangkok, Thailand, pada 1997 pernah mempertanyakan posisi pengarang dalam “masyarakat tidak membaca”. Dia tidak merasa apa yang dia tulis dibaca orang, apalagi sampai dianggap berpengaruh.

“Saya berasal dari sebuah negeri yang resminya sudah bebas buta huruf, tapi yang bisa dipastikan masyarakatnya sebagian besar belum membaca untuk memberi makna dan meningkatkan nilai kehidupannya,” kata Seno. “Masyarakat kami adalah masyarakat yang membaca hanya untuk mencari alamat, membaca untuk mengetahui harga-harga, membaca untuk melihat lowongan pekerjaan, membaca untuk menengok hasil pertandingan sepakbola, membaca karena ingin tahu discount obral di pusat perbelanjaan, dan akhirnya mencari subtitle opera sabun di televisi untuk mendapatkan sekadar hiburan.”

Lebih daripada tiga dasawarsa telah berlalu sejak pidato tersebut. Lalu, apakah ada perubahan?

Memang ada laporan tentang peningkatan penerbitan buku dari tahun ke tahun. Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) mencatat pada 2014 sekitar 25.000 judul buku diterbitkan. Pada 2015, jumlahnya meningkat menjadi 43.000 judul buku dan pada 2016 63.000 judul buku.

Angka itu sebenarnya bukan apa-apa jika dibandingkan dengan negara-negara yang memiliki tradisi literasi tinggi. Di Amerika Serikat, Inggris, Korea Selatan, Jepang, dan Cina, rata-rata 200.000 hingga 400.000 judul buku terbit setiap tahunnya.

Minat baca tetaplah persoalan klasik di Indonesia, apalagi di tengah gempuran gawai digital yang kian memanjakan visual. Penelitian Central Connecticut State University di New Britain, AS, pada 2016 menempatkan budaya literasi Indonesia di urutan nyaris juru kunci—hanya lebih baik daripada Bostwana, negara di selatan Afrika.

Namun, problem minat baca di era digital tak hanya dihadapi negeri seperti Indonesia. Di Inggris, di mana tradisi literasi sudah mengakar, misalnya, terjadi penurunan minat baca, demikian menurut survei yang dilakukan oleh National Literacy Trust. Sigi itu menunjukkan 26 persen anak berusia di bawah 18 tahun menyediakan waktu khusus setiap hari untuk membaca, dan 56 persen di antaranya mengatakan melakukan aktivitas tersebut demi kesenangan. Angka-angka itu dilaporkan yang terendah, masing-masing sejak 2005 dan 2013.1Lihat Donna Ferguson. “Children are reading less than ever before, research reveals”. 29 Februari 2020. www.theguardian.com. Survei sebelumnya dari National Literacy Trust menunjukkan anak-anak di segala usia saat ini lebih menyukai layar gawai ketimbang buku.

Jurnalis Donna Ferguson menyatakan anak kutu buku saat ini dipandang langka di Inggris. Padahal, pada era 1970-an hingga akhir 1990-an, kegemaran membaca di usia anak-anak bukanlah sesuatu yang istimewa. Pada 1977, 75 persen anak berusia antara 10-14 tahun rutin membaca untuk kesenangan. Angka tersebut meningkat menjadi 79 persen pada 1999.2Lihat Donna Ferguson. “How I managed to raise a little bookworm in the age of smartphones and tablets”. 1 Maret 2020. www.theguardian.com.

Masyarakat saat ini, menurut Donna, justru mengagumi anak yang doyan membaca. Fenomena ini terjadi pada anaknya sendiri; Flora. Saat Flora membaca di restoran, para pelayan mengatakan kepada Donna betapa langkanya mereka melihat seorang anak begitu tenggelam dalam buku, alih-alih telepon genggam.

Ketika Flora duduk di taman sambil membaca buku hampir satu setengah jam, seorang nenek mendekati Donna. “Ini bukan sesuatu yang biasa anda lihat sehari-hari,” katanya dengan mimik bahagia. “Saya tak pernah melihat anak membaca seperti itu lagi sekarang.”

Bagi Donna, fenomena ini aneh karena dia memang sejak kecil kutu buku, dan kebiasaan ini ia tularkan kepada Flora.

Lalu, bagaimana Donna menularkan kegemaran membaca kepada anaknya? Bagaimana Donna bisa membesarkan anak kutu buku di era digital seperti saat ini?

Sejak Flora masih berusia di bawah tiga tahun, Donna sudah rajin membelikan anak itu buku-buku bergambar. Ketika Flora mendekati usia tiga tahun, Donna memintanya mulai membaca teks dalam buku bergambar itu untuk dirinya. Flora belum benar-benar bisa membaca tapi mulai tampak keinginan kuat untuk memahami teks dan menyatukan cerita-cerita dari buku-buku bergambar tersebut.

Untuk memperkuat keinginan Flora, Donna memberinya sebuah telepon genggam model lama, lalu mengisi telepon genggam itu dengan beragam buku audio cerita anak-anak klasik. Di rumah dan saat perjalanan jauh dengan mobil, Flora menikmati buku-buku audio tersebut. Bahkan, dia terkadang mendengarkan satu buku hingga sepuluh kali. Donna juga rutin membacakan buku untuk Flora setiap malam.

Saat duduk di bangku sekolah, menurut Donna, Flora telah memiliki banyak kosakata dan pemahaman kuat tentang plot cerita. Flora bahkan kemudian membacakan buku dengan suara keras untuk Donna dan merekamnya menjadi buku audionya sendiri. Kegiatan membaca pun semakin menyenangkan bagi Flora.

Donna juga menerapkan disiplin dalam rumah. Dia mematikan televisi, kecuali untuk berita dan film. Dia juga melarang penggunaan ponsel pintar dan tablet, kecuali untuk mendengarkan buku audio. Setiap pergi ke mana pun, dia selalu membawa satu atau dua buku untuk Flora. Donna juga rutin mengajak Flora mengunjungi perpustakaan.

Hasilnya, Flora saat ini selalu menyempatkan membaca buku kapan pun dan di mana pun. Bahkan, saking tersihir oleh buku, Flora tak jarang membaca sambil berjalan.

Dari sejumlah kebiasaan yang Donna terapkan untuk anaknya, penyair sekaligus pengarang buku anak-anak asal Inggris, Michael Rosen, menekankan pentingnya membaca dengan suara keras kepada anak-anak. Dia menilai aktivitas ini bisa menjembatani anak kepada budaya literasi, baik membaca maupun menulis.

Membacakan buku dengan keras di hadapan anak-anak bisa menumbuhkan kebiasaan membaca untuk kesenangan. Ini karena ketika berbicara, menurut Rosen, kita seringkali membuat jeda, dan ini bisa merangsang perhatian anak. Kita juga biasanya membuat gestur dan memberi nada pada kata atau kalimat tertentu, sehingga menjadikan pembacaan lebih berwarna.

Saat dewasa, menurut Rosen, aktivitas itu bisa berdampak positif. Untuk bisa menulis sebuah prosa, seseorang harus tenggelam di dalamnya. Nah, kebiasaan membaca dengan keras bisa membantu proses ini. Sejumlah pakar di Inggris pun menyarankan orang tua di rumah dan guru di sekolah menyediakan waktu khusus untuk membacakan buku dengan keras di hadapan anak-anak.3Lihat Michael Rosen. “Why reading aloud is a vital bridge to literacy”. 9 Maret 2019. www.theguardian.com.

Tip Membuat Anak Anda Tenggelam dalam Buku

1. Berbagi kesenangan membaca. Bacakan buku dengan suara keras kepada satu sama lain atau unduh buku audio lalu dengarkan bersama-sama.

2. Dorong anak untuk membaca apa saja yang menyenangkan bagi mereka.

3. Bawa mereka ke perpustakaan secara rutin, dan beri waktu yang lapang bagi mereka untuk membaca dan memilih buku yang mereka sukai.

4. Alokasikan waktu untuk membaca ketika tak ada kegiatan yang harus dilakukan.

5. Bawa satu atau dua buku saat bepergian ke mana saja.

(Sumber foto: Humas Kabupaten Majene)

3 Comments

  1. We absolutely love your blog and find nearly all of your post’s to
    be just what I’m looking for. Do you offer guest writers to
    write content available for you? I wouldn’t mind publishing a post or elaborating
    on a lot of the subjects you write concerning here. Again, awesome blog!

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*