JELAJAH LITERASI

Mawar Berduri: Kesusastraan Indonesia Menghindari Nafsu Berahi

in Nukilan by

Oleh Harry Aveling

Catatan Redaksi: Pada 1969, Majalah Horison menampilkan “percakapan” budaya tentang seks dalam kesusastraan Indonesia. Harry Aveling, guru besar Monash University, Australia, memulai “percakapan ini, dan disusul kemudian oleh tanggapan sastrawan Malaysia, Shahnon Ahmad, dan sastrawan Indonesia, Goenawan Mohamad. Dalam tulisannya, Aveling berpendapat kesusastraan Indonesia pada masa itu menghindari berbicara seks dalam hubungan lelaki-wanita, seolah hubungan badaniah tak penting bahkan dalam pernikahan sekalipun.

SALAH satu kekurangan dalam kesusastraan Indonesia modern ialah kegagalan para pengarangnya, yang pada umumnya masih muda, terdidik, dan datang dari lapisan atas dan dari golongan yang lebih modern masyarakatnya, dalam menyatakan secara meyakinkan nafsu berahi dalam hubungan lelaki-wanita dewasa. Persoalan ini meliputi dan sebagian datang dari ketidaksanggupan untuk melukiskan sifat-sifat wanita secara realistis yang cenderung, kadang-kadang untuk dianggap sebagai sesuatu yang kejam.

Di sini tersangkut bukan saja sekadar ketidaksanggupan untuk menyesuaikan diri dengan konsepsi orang-orang Barat tentang cinta yang romantis seperti misalnya yang disuarakan oleh CS Lewis dalam bukunya The Allegory of Love1. Kegagalan untuk menggambarkan nafsu berahi dalam hubungan lelaki-wanita yang terjadi pada pengarang-pengarang Indonesia modern justru berlawanan secara aneh dengan kenyataan bahwa pengarang-pengarang Indonesia dan pengarang-pengarang Melayu tradisional dari pelbagai aliran dapat menggambarkan persoalan ini dengan jujur dan berani secara terbuka. Dia juga berlawanan secara cukup meyakinkan dengan apa yang dilakukan oleh pengarang-pengarang Malaysia sekarang.

Di dalam kesusastraan Jawa, seperti yang dituliskan Pigeaud dalam bukunya The Literature of Java: “… Sajak-sajak dan cerita-cerita yang melukiskan keadaan erotis banyak ditemukan secara nyata…uraian tentang hal ini ditemukan pada hampir semua cerita mitos, epik, sejarah, dan cerita-cerita romantis yang penting di Jawa.”2 Di dalam kesusastraan Sunda, tidak saja diceritakan tentang keinginan Sangkuriang yang terlarang untuk memiliki ibunya (yang melahirkan dia karena hubungannya dengan seekor anjing) dan cerita-cerita lainnya yang bertemakan Oedipus Complex yang berat serta cerita-cerita tentang persoalan-persoalan kelamin secara terbuka, tapi juga cerita-cerita dari tokoh Si Kabayan melukiskan persoalan ini begitu terbuka, sehingga seorang penulis, Dr LM Coster-Wijsman, seorang sarjana wanita, merasa terpaksa untuk tidak menerjemahkan beberapa bagian dari kisah ini.3

Cerita-cerita pelipur lara yang diceritakan secara lisan oleh tukang-tukang cerita di Sumatera dan Malaya, yang oleh Sir Richard Winsted disebutkan sebagai “kisah percintaan rakyat”4, bukanlah sekadar cerita tentang kisah-kisah perjalanan5; tema utamanya adalah kemenarikan badaniah yang timbul antara tokoh laki-laki dan tokoh wanitanya, dan kesengsaraan yang diderita sebelum kemenarikan badaniah itu dapat dipuaskan. Di dalam cerita-cerita seperti ini, yang pendengar-pendengar wanitanya dipisahkan dari pendengar-pendengar prianya6, saling melihat, saling tertarik, dan saling bersatu merupakan bagian-bagian yang saling bersambungan dalam suatu proses yang menyeluruh. Cerita-cerita ini dimulai dengan datangnya seorang tokoh penjahat yang mengingini tokoh wanita, suatu hal yang tidak disukai oleh tokoh wanita maupun oleh tokoh laki-lakinya. Terhadap tokoh laki-laki, tokoh wanita di dalam cerita pelipur lara biasanya merupakan seorang pribadi yang kebutuhan seksualnya sangat kuat dan aktif—misalnya pada tokoh Tuan Putri Dayang Seri Jawa dalam Hikayat Awang Sulong Merah Muda7, atau pada tokoh Tuan Putri Bongsu Jagat Jaga Dibulan dan Intan Baiduri dalam Cherita Selampit8.

Di dalam kesusastraan Indonesia modern, kita kehilangan tema-tema tersebut yang sudah menjadi sesuatu hal yang biasa di dalam kesusastraan klasik dan kesusastraan modern lainnya, yakni tema percumbuan, pemikatan, persetubuhan, perkosaan, dan persatuan penuh dari badan, jiwa, dan perasaan antara dua kekasih (sudah atau belum menikah) sebagai dua manusia yang setaraf. Sebaliknya, ada perasaan malu terhadap tubuh dan fungsinya dan suatu sikap berpura-pura yang mencolok seakan-akan perkawinan—bahkan menjadi ayah-ibu dapat dicapai tanpa ada persetubuhan. Tokoh wanita biasanya dipegang oleh seorang “gadis remaja yang masih suci”, yang dibesarkan di bawah perlindungan salah seorang dari orang tuanya yang masih hidup, sang ayah. Tokoh wanita ini seringkali merupakan tokoh yang membosankan dan bodoh (sampai akhirnya segalanya sudah terlambat), yang dengan tenang menyerah kepada nasib yang menimpanya, dan akhirnya dia mati dalam keremajaannya dan semua ini sekaligus menimbulkan perasaan terharu di samping perasaan yang membuat kita tertawa9. Tokoh laki-laki kadang-kadang juga sama membosankannya, meskipun ada lebih banyak variasi: dia mungkin merupakan seorang yang lincah dalam tindakan-tindakannya tapi tanpa punya perasaan, seorang cendekiawan tanpa perasaan, atau seorang introvert yang tersiksa, tidak tahu apa-apa tentang dunia di luarnya. Seperti tokoh wanitanya, dia juga menderita karena dilindungi dari kekerasan hidup oleh salah seorang dari orang tuannya, yakni sang ibu.

Cerita pendek WS Rendra, “Ia Masih Kecil”10, dianggap sebagai wakil dari kesusastraan jenis ini. Pada cerita ini, seorang adik laki-laki dari seorang wanita ingin menjadi seorang jenderal bila dia nanti besar, supaya bisa membunuh orang-orang yang mau menodai kakaknya, yang pada saat itu sedang berpelukan dengan seorang teman laki-lakinya di kamar sebelah. Di mata si pengarang cerita bersetubuh adalah sama dengan berdosa. Menaklukkan seorang wanita yang tidak mau dan selalu suci merupakan suatu kekejaman yang dilakukan oleh seorang yang sudah rusak jiwanya dan sangat tidak simpatik.11

Nafsu berahi dihindarkan di dalam kesusastraan Indonesia modern, terutama di dalam karya prosanya, mempunyai tiga ciri utama12. Ketiga ciri itu menyangkut penolakan untuk memperlakukan wanita sebagai yang setaraf dengan laki-laki. Selanjutnya, dibangun peran-peran yang disentimentilkan, sehingga jenis-jenis lain dari hubungan lelaki-wanita menjadi pengganti bagi hubungan kekasih.

Dua ciri pertama menyangkut pada penempatan kedua kekasih dalam semacam hubungan kekeluargaan—saudara laki-laki terhadap saudara wanita atau ibu terhadap anak laki-lakinya—di mana seks biasanya tidak dianggap ada atau sebuah faktor yang tidak penting.

Ciri ketiga, yang merupakan akibat dari suatu keadaan di mana seksualitas wanita dianggap sebagai tantangan yang keterlaluan bagi superioritas laki-laki, menyangkut hal-hal pengucilan wanita dari lingkungan orang-orang di mana laki-laki dianggap mempunyai tanggung jawab moral dan sosial. Wanita itu misalnya dijadikan datang dari lapisan masyarakat yang derajatnya lebih rendah daripada si laki-laki, atau dia dapat juga diturunkan derajatnya sampai menjadi pelacur atau wanita-wanita nakal (akan kita lihat nanti, hubungan yang terakhir ini pun dapat disentimentilkan).

Dengan menerima peran sebagai saudara, tepatnya, kakak laki-laki dan adik wanita, tokoh-tokoh dari roman-roman atau cerita-cerita pendek jadi didorong ke belakang ke dalam suatu dunia kekanak-kanakan di mana seks, meskipun barangkali laten, menjadi tidak berarti. Di dalam dunia yang serba kekanak-kanakan ini, adalah tugas sang abang untuk melindungi adik perempuannya dan melayani segala kebutuhannya. Si adik perempuan, sebaliknya, tergantung kepada si abang dan memujanya sebagai orang yang kuat dan berani; dia juga tahu, bahwa si abang tidak akan menyakitinya dengan cara apa pun, juga secara seksual. Harus pula ditekankan bahwa kedua pasangan tersebut secara sederhana memanggil masing-masing dengan kata abang dan adik, seperti yang lazim dipakai oleh bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa daerah yang sopan sebagai panggilan antara dua kekasih. Mereka dibesarkan dalam keadaan yang sangat mendekati abang dan adik perempuannya dan dalam kehidupan sehari-hari mereka memang bersikap seperti itu.

Dunia Miriamin dan Aminuddin, tokoh-tokoh dari roman Merari Siregar, Azab dan Sengsara, dan tokoh Sitti Nurbaya dan Samsulbahri dalam buku Marah Rusli, Sitti Nurbaya, merupakan jenis tokoh seperti yang diuraikan di atas. Pada kedua contoh di atas, dunia kekanak-kanakan mereka dihancurkan sama sekali dengan datangnya seorang laki-laki dewasa yang matang, ditikamkan kepada gadis muda yang naif itu oleh masyarakat orang-orang dewasa yang tidak berperasaan. Kasibun, suami Miriamin, dalam buku Merari Siregar, begitu buruknya hingga dia kena penjakit kelamin. Di bawah hukum Islam, dalam keadaan seperti ini, seorang wanita dapat minta bercerai13 meskipun Miriamin tampaknya tidak tahu tentang adanya kemungkinan ini.

Datuk Meringgih, tokoh orang jahat yang melodramatis pada roman Marah Rusli, mempunyai dua sifat buruk yang secara terus menerus ditonjolkan dalam buku ini. Yang pertama ialah dia merupakan seorang pedagang yang jahat dan kikir yang menjadikan dirinya semacam orang bangsawan di dalam suatu masyarakat bangsawan yang tadinya tertutup; yang kedua ialah karena dia mempunyai begitu banyak istri hingga tak ada orang yang dapat menghitungnya lagi. Menurut James Peacock, di Jawa Timur, “Sifat agresif dalam perdagangan (sesuai dengan kepercayaan umum) mempunyai hubungan dengan panjangnya kelamin laki-laki dari si pedagang”14. Jika kepercayaan ini juga hidup di kalangan orang Minangkabau yang merupakan tempat asal Marah Rusli (Idrus, salah seorang tokoh Angkatan 45, mengatakan kepada saya bahwa di kalangan orang-orang Minangkabau, para pedagang dianggap mempunyai tenaga seksual yang lebih besar dibandingkan dengan orang-orang lain yang lebih sibuk dengan pekerjaannya15), maka dua sifat dari Datuk Meringgih ini merupakan dua muka dari satu mata uang.

Tokoh yang penuh sifat kelaki-lakian inilah yang merenggutkan Sitti Nurbaya dari teman-teman sekolahnya dan menghalanginya secara paksa untuk berkumpul kembali dengan mereka kecuali dalam mati. Pada bagian terakhir dari buku ini, pada sebuah kuburan, teman-teman sekolah ini dan Samsulbahri yang tidur di sebelah Sitti Nurbaya dalam kesucian abadi, masih tetap murni di dalam dunia kekanak-kanakan mereka. (Tanpa memandang kritik-kritik, bahkan pernyataan Marah Rusli sendiri dalam romannya yang terakhir, Anak dan Kemenakan16), tema pokok dari Sitti Nurbaya tidak ada hubungannya sama sekali dengan adat atau keruntuhannya. Perkawinan Sitti Nurbaya dengan Datuk Meringgih dipaksakan kepadanya oleh keadaan ayahnya dan bukan oleh ketentuan-ketentuan adat; dan adalah keputusan Sitti Nurbaya sendiri yang menjadikan perkawinan itu terlaksana).

Maria dan Jusuf juga, dalam roman Takdir Alisjahbana, Layar Terkembang, tidak lebih dari anak-anak sekolah, yang hidup di dalam mimpi tentang percintaan tanpa seks, yang membuat ketegangan semua. Setelah ciuman dewasa mereka yang pertama, mereka dilukiskan seperti berjalan di atas sebuah sungai yang deras alirannya, “dua kanak-kanak, teman main yang akrab, yang seorang lebih besar daripada yang lainnya.”17 Sebelum cerita berakhir, Alisjahbana membunuh Maria dengan penyakit paru-paru. Dia terlalu periang, terlalu suci, terlalu mudah menyerah untuk menerima suatu tanggung jawab perkawinan dan kekasaran untuk menjadi seorang ibu. Jika, pada bagian pertama dari buku ini, Alisjahbana tidak memperlakukan Tuti, kakak Maria yang lebih intelektual, secara simpatik, ini disebabkan karena Tuti selalu tampak lebih dapat menjaga dirinya terhadap laki-laki, sehingga pertunangannya menjadi putus. Dalam hal ini, seperti juga di dalam segi lain, kedua tokoh kakak-beradik ini digambarkan secara kontras yang satu terang, yang lain gelap, yang satu tidak tahu apa-apa, yang lain tahu segalanya. Kontras ini dapat ditemukan pula pada pasangan-pasangan wanita lainnya di dalam kesusastraan Indonesia: Corrie dan Rapiah, istri orang Eropa dan orang Indonesia dari tokoh Hanafi yang bersikap kebelanda-belandaan di dalam roman Salah Asuhan; Sumartini dan Jah, istri dan kekasih Dr Sukartono dalam roman Belenggu; dan istri dan kekasih Sitor Situmorang pada sajak “Chatedrale de Chartres”, dalam buku Surat Kertas Hijau.

Ciri kedua dalam menghindari nafsu berahi ialah dengan melebur kembali hubungan antara dua kekasih menjadi hubungan antara ibu dan putranya. Di dalam keadaan ini, peranan wanita yang lebih lemah di dalam hubungan kakak beradik dibalik; kini laki-laki menjadi pasif menerima cinta dan perhatian, yang diberikan oleh wanita secara rela. Laki-laki itu tidak memberikan apa-apa, dia menerima segalanya; wanita itu dihormati justru dari banyaknya pemberiannya.

Di dalam buku Armijn Pane Belenggu, keretakan-keretakan yang paling merusak antara Dr Sukartono yang sensitif dan istrinya yang kebarat-baratan disebabkan karena sang istri menolak berperan sebagai ibu sang suami. Sang suami berkata: “Tugas seorang wanita adalah untuk merawat anak dan suaminya dan mengatur rumah tangga…Meskipun para wanita menyambut ketika pulang dari kerja, mereka lupa untuk menyilakan sang suami duduk, mereka biarkan para suami membuka sendiri sepatunya. Apakah wanita-wanita modern ini lupa bahwa bila mereka berlutut di muka suaminya untuk membukakan sepatunya, mereka sedang memperlihatkan cintanya dan kesetiaannya? Apalagi yang harus dilakukan oleh wanita selain memberikan perhatian penuh kepada suaminya?”18 Memang, apalagi, bila minat terhadap persoalan-persoalan di luar rumah tangga bagi wanita hanya akan memberikan kesan kurang manis dan kesan kelaki-lakian, seperti halnya yang terjadi pada Sumartini dan Tuti dan Rukayah, tokoh-tokoh ejekan yang berjuang untuk persamaan hak bagi kaum wanita dalam karja Utuy T Sontani, Bunga Rumah Makan. Jah, kekasih Sukartono, tahu benar bagaimana mengurus laki-laki itu: “Meladeninya”—katanya kepada Sumartini—“lakukan apa yang diingininya, perhatikan hal-hal kecil yang disukainya, ini penting sekali.”19 Sebab, seperti katanya selanjutnya, “Semua laki-laki adalah sama”, semua adalah anak-anak kecil yang minta dimanja dan ibu harus meladeni anak kecil ini bila dia tidak bisa meladeni dirinya sendiri.

Utuy Tatang Sontani, dalam dramanya yang terakhir, Tak Pernah Menjadi Tua, melalui tokohnya, Nyonja Isak, dalam suatu pertengkaran dengan suaminya berkata: “Ya, kau memang adalah anak yang sangat aku manjakan, tuan, anak yang datang kepadaku setelah Dudung, anak kita, dilahirkan. kau datang untuk minta diperhatikan, minta diladeni, minta dijaga siang dan malam, disediakan makanannya, disediakan pakaiannya, dipelihara kesehatannya. Dan aku lakukan itu semuanya dengan penuh kasih sayang, anak manis, aku lakukan semua itu dengan kesadaran penuh seorang wanita, bagaikan seorang ibu yang tahu bahwa kau membutuhkan semuanya itu.”20

Corrie, istri Belanda Hanafi—sebenarnya Indo Perancis dalam buku Abdul Muis, Salah Asuhan, menolak untuk memanjakan Hanafi seperti yang dilakukan ibunya, atau untuk berlaku bijaksana terhadap orang lain seperti yang dikehendaki ibunya. Idrus, dalam kritiknya terhadap buku ini, menyalahkan ibu Hanafi untuk segala hal dengan mengatakan bahwa Hanafi bukanlah korban kawin paksa, dia duga bukan pula korban penolakan terhadap tradisi Indonesia, tapi kesalahannya terletak pada, bahwa ibunya secara diam-diam menerima kebudayaan Barat. Pada sang ibu, hal ini menciptakan sikap yang snob, dan pada anaknya, sikap ini menciptakan suatu obsesi—yang kemudian menciptakan kekacauan di dalam masyarakat21. Maka, kesalahan terbesar bagi Hanafi di dalam buku ini, selain sikapnya yang terlalu kebelanda-belandaan yang sebenarnya ditanamkan oleh ibunya, adalah perlakuan Hanafi terhadap ibu dari anaknya sendiri dan rasa tidak berterima kasih terhadap ibunya sendiri.

Hasan, tokoh emosional dan religius di dalam buku Achdiat K Mihardja Atheis, mengalami kesulitan yang sama dengan istrinya, Kartini. Kartini adalah nama yang diambil dari Raden Ajeng Kartini, yang terkenal karena perjuangannya untuk memperjuangkan persamaan hak wanita dan wanita ini kemudian, secara ironis, menjadi tokoh ibu ideal bagi bangsa Indonesia dengan anak-anaknya yang banyak bermain di sekeliling kakinya. Selain perkawinan yang terjadi antara Hasan dan Kartini dan selain adanya bagian tentang tinggal bersamanya Kartini dengan Rusli, teman sekolah Hasan, maka roman Atheis dapat dianggap sebagai roman yang sopan. Dari limabelas bagian buku ini, hanya satu bagian (bagian XI) yang menceritakan tentang perkawinan itu dan mengambil tempat kurang dari setengah halaman22. Hubungan antara Kartini dan Rusli, barangkali karena kita melihatnya melalui mata tokoh Hasan, tidak pernah diuraikan secara jelas terbuka. Bagian yang menceritakan Anwar (diambil dari tokoh Chairil Anwar) yang berusaha memperkosa Kartini, diuraikan secara menggelikan.

Akhirnya, kita harus mencatat bagaimana Taufk Ismail, tokoh apa yang disebut Angkatan 6623, menumpahkan kemarahannya terhadap orang-orang yang sudah menghancurkan negaranya, yang secara terbuka sudah menodai kehormatan wanita, kaum dari ibu kita24, atau gambarannya tentang penjual rambutan yang bercerita kepada istrinya bagaimana para mahasiswa berterima kasih kepadanya ketika dia membantu mereka. Dia bertingkah laku sebagai seorang anak kecil yang sedang bercerita kepada ibunya tentang suatu perlakuan yang besar—“Mereka menyoraki saya. Betul bu, menyoraki saya”.25

Tapi tentunya ada beberapa tokoh wanita dalam kesusastraan Indonesia yang bereaksi secara gairah dan penuh kebahagiaan dalam sebuah persetubuhan? Para pembaca tentunya akan bertanya: tentu saja tanpa mengharapkan reaksi seperti seorang Anna Karenina atau Hester Prynne26, tapi seperti misalnya ada tokoh Jah.

Memang ada, dan, seperti Jah, mereka pada umumnya bukanlah wanita yang berharga di mata masyarakat (Jah adalah seorang pelacur). Meskipun roman Belenggu, sudah tidak syak lagi merupakan roman yang “matang”27, tapi masih terlalu berlebihan bagi Sukartono untuk mengadakan hubungan gelap dengan seorang istri kawannya atau dengan seorang pasiennya, dalam status sosial dan lingkungan yang ada di sekitarnya. Hanya dengan seorang wanita yang sudah nista, dalam hal ini seorang pelacur yang berpengalaman, ini baru mungkin. Seorang jatuh menjadi seorang pelacur selalu disebabkan karena keserakahannya atau karena kebinatangan dari seorang yang tidak bertanggung jawab. Inilah yang terjadi pada Jah, atau pada Midah, tokoh Pramoedya Ananta Toer dalam Midah Simanis Bergigi Emas, dan juga yang terjadi pada cerita-cerita WS Rendra tentang “orang-orang yang malang”28 (Midah, berlainan dengan tokoh-tokoh lainnya, menjadi kaya dan bahkan menjadi sukses dalam karirnya sebagai bintang film sejalan dengan bertambah berat dosa-dosanya, karena aktor dan aktris selalu dianggap sebagai seorang yang hidup kesusilaannya diragukan). Kesalahan kaum laki-laki, sebagai laki-laki, selalu dilunakkan dengan kata-kata—“Dia hanyalah seorang pelacur”—dan ditambah lagi dengan kata-kata—“Aku sedang berhubungan dengan seorang pelacur. Dengan cara-cara inilah dia mulai, kasihan”.

Tapi biasanya selalu ada cara untuk memperkecil kesalahan laki-laki karena menikmati persetubuhan dengan wanita. Dalam banyak hal kesulitan ekonomi membuat pelacuran sebagai satu-satunya cara bagi wanita untuk mencari nafkah untuk hidupnya: “Para kepala jawatan/akan membuka kesempatan/kalau kau membuka paha”, demikian kata Rendra dalam sajaknya, “Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta”.29

Jadi, Jah adalah seorang teman lama Sukartono yang jatuh karena kesulitan-kesulitan hidupnya. Benarkah begitu? Sukartono tidak pernah yakin betul akan hal itu. Pelacur dapat juga digambarkan sebagai seorang wanita yang berhati emas, yang lebih punya pengertian dan lebih banyak memaafkan daripada wanita-wanita lainnya, seperti tokoh Utuy Tatang Sontani dalam Selamat Jalan Anak Kufur atau pelacur lebih dekat kepada Tuhan daripada wanita-wanita pengunjung gereja yang hipokrit yang menista para pelacur seperti halnya yang digambarkan oleh Rendra dalam “Kami Pergi Malam-Malam”30. Sebuah sajak Rendra membalik secara liar nilai-nilai tradisional yang mistis-erotis dari mana Amir Hamzah berasal, ketika dia menceritakan seorang pelacur masuk surga melalui persetubuhan dengan seorang lelaki yang paling rupawan yang pernah dikenalnya, Yesus Kristus31.

Cara terakhir untuk meringankan kesalahan laki-laki ialah laki-laki dikeluarkan dari batas-batas status kelompoknya sendiri. Maka, bila si wanita bukan seorang pelacur, wanita itu “direndahkan” dengan membuat dia bukan milik dunia di mana laki-laki itu “benar-benar” hidup. Hubungan mereka bukanlah hubungan yang setaraf dan sang wanita masih tetap adalah “sampah”. Di dalam kesusastraan Indonesia modern, mahasiswa tidak tidur bersama dengan mahasiswi, atau seorang pegawai tinggi tidak tidur dengan istri seorang pegawai tinggi lainnya, tapi keduanya bisa tidur dengan istri-istri orang-orang yang lebih rendah derajatnya dari mereka, atau orang-orang yang lebih miskin atau dengan wanita tidak berharga di dalam masyarakat.

Kesombongan kaum lelaki adalah begitu besar hingga hampir tiada wanita yang menjadi kekasih si laki-laki mengetahui tentang status sosial laki-laki tersebut. Kadang-kadang, sang lelaki berpura-pura seakan-akan dia adalah setaraf dengan wanita itu. Laki-laki itu muncul, misalnya, sebagai seorang kelasi, seperti yang kita jumpai di dalam salah satu sajak Chairil Anwar, yang tidak mampu memberikan dirinya kepada wanita “baik-baik” karena takut akan menyakiti dirinya sendiri32.

Pada umumnya, lebih sering perbedaan ini ditonjolkan secara nyata. Ada “bibi” dari kampung dalam buku Mochtar Lubis Tanah Gersang yang tidur bersama dengan seorang anak laki-laki kaya yang berandalan; ada perempuan kampung Marlina yang bercintaan dengan seorang kaya baru yang tidak jujur di dalam karja Utuy Tatang Sontani Di langit Ada Bintang; atau dalam roman Mochtar Lubis yang lainnya, Senja Di Jakarta dan Jalan Tak Ada Ujung, ada seorang ibu tiri yang “mata duitan” yang tak jelas latar belakang kehidupannya, yang mempunyai hubungan gelap dengan “anaknya” ketika sang ayah sedang pergi. Dalam karya-karya Utuy Tatang Sontani, terutama drama-drama yang ditulisnya antara 1953-1957, Manusia Iseng, Saat Yang Genting dan barangkali juga Di Muka Kaca, dapat kita jumpai saudara perempuan dari istri yang masih muda dan pantas menjadi putrinya, berasaha membujuk si laki-laki untuk melakukan persetubuhan.

Akhirnya, ada seorang asing: Mrs Fritz misalnya, dalam cerita pendek Sori Siregar “Dosa Atas Manusia”, yang mula-mula menggoda seorang pemuda Indonesia dan kemudian ditegur dan diyakini oleh pemuda ini: “Aku masih sangat muda, Nyonya Fritz. Kau seharusnya memperkuat imanku. Kau tahu kelemahanku dan cara menekan orang-orang yang lemah. Kau menggunakan dengan baik kepandaianmu itu… (Tapi) kau masih punya waktu untuk memperbaiki diri. Pintu masih terbuka. Aku bersedia untuk membantumu dan berjalan di mukamu sebagai seorang penunjuk jalan.”33 Bagi seorang pemuda yang begitu mudah dan begitu ingin untuk jatuh tergoda, hipokrisi ini jadi memuakkan, kesulitannya jadi tidak masuk di akal.34

Sejauh yang saya ketahui, hanya dua pasang suami-istri di dalam kesusastraan Indonesia modern yang berpikir bahwa mereka dapat berhubungan secara setaraf, meskipun perasaan ini tidak diuraikan secara terbuka. Sukartono dan Sumartini, yang perkawinannya sudah dibicarakan tadi. Perkawinan mereka, yang steril dalam kehidupan emosi dan hubungan badaniahnya, merupakan sebuah kegagalan.

Perkawinan yang lain ialah antara Ratna dan Saleh dalam Layar Terkembang. Perkawinan ini, rupanya dimaksudkan untuk memberikan sebuah contoh tentang sebuah perkawinan, yang penuh pengabdian bagi bangsa Indonesia yang harus ditiru oleh Tuti dan Jusuf. Dalam kenyataannya, dia hanya menunjukkan bahwa bagi Alisjahbana, peran yang ideal bagi seorang wanita adalah berjuang di samping suaminya, mengerjakan pekerjaan yang sebagai wanita dapat dikerjakannya dengan baik. Bila yang satu diharuskan mengabdi kepada yang lainnya secara sepihak, hal ini adalah tidak mungkin, bahkan berbahaya bagi perkembangan kepribadian, seperti tampak pada kehidupan Tuti yang lama. Pikiran tentang cinta yang bebas di mana wanita mempunyai hak untuk menggunakan badannya, tidak jelas tampak dalam cerita ini.

Kesusastraan Indonesia jadinya mengelakkan persoalan yang menyangkut hubungan penuh nafsu berahi antara dua orang yang sederadjat yang timbul karena hubungan tersebut, dengan cara mengubah hubungan tersebut menjadi semacam hubungan kekeluargaan atau hubungan tersebut terjadi dengan wanita yang lebih rendah derajatnya. Sangat sulit untuk melihat atas dasar apa sebuah hubungan antara dua orang kekasih yang setaraf dapat dibangun di dalam kesusastraan Indonesia kalau nafsu berahi bukanlah untuk orang baik.[]

[Dinukil dari Majalah Horison, No. 10, Tahun IV, Oktober 1969.]

(Sumber foto: detik.com)


1(London: Oxford University, 1936)

2(The Hague: Nijhoff, 1967), I, hal. 274.

3Uilenspiegel – verhalen in Indonesia (Santpoort: Mees, 1929)

4History of Malay Literature, Monographs on Malay Subjects, No. 5 (Singapore: Royal Asiatic Society, 1958), hal. 26.

5Bandingkan dengan Aning Retnaningsih, Roman dalam Masa Pertumbuhan Kesusastraan Indonesia Modern (Djakarta, 1965): … Semua hikayat selalu mempunyai tema sama, yaitu pada pokok cerita tentang pahlawan-pahlawan yang gagah berani yang sanggup mempertahankan kebenaran-kebenaran”, hal. 17.

6WE Maxwell, “Penglipor Lara”, Journal of the Straits Branch, Royal Asiatic Society, bag. 1 (1886), hal. 86: … “(Penglipor lara) rupa-rupanya diceritakan di dekat pintu yang menuju ke kamar wanita, sedangkan tawa dan tepuk tangan hadirin di luar menggema dari balik tirai, di mana para wanita seisi rumah mendengar dengan penuh minat”.

7(Singapore: Malay Publishing House, 1960)

8(Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1959)

9Juga lihat Armijn Pane, “Mengapa Pengarang Modern Suka Mematikan?” (Pudjangga Baru 8, No. 9 (1941) 225-231)

10Dalam Ia Sudah Bertualang (Djakarta: Nusantara, 1963)

11Dapat diperdebatkan bahwa ini hanya pandangan kanak-kanak tentang aktivitas-aktivitas kakak perempuannya. Mungkin sekali benar, tapi masih tetap tidak membantah pandangan di atas. Bagaimanapun juga, saya tidak yakin bahwa pandangan orang tua si anak terhadap keadaan ini – “Mereka orang-orang dewasa yang ingin menjadi seorang ayah dan seorang ibu” – lebih baik.

12Ciri-ciri pengelakan ini, pertama-tama, bagaimanapun juga, tidak dapat diterima sebagai berasal dari realitas sosial apa pun yang sedang dicerminkan oleh kesusastraan. Saya juga dapat mengatakan di sini mengapa ciri-ciri semacam ini seringkali dipergunakan. Walaupun kedua pertanyaan itu sendiri sangat menarik, untuk menjawabnya orang perlu untuk merangkaikan dan memperbandingkan secara luas antara kesusastraan, sosiologi, etika, pendidikan, dan psikologi perkembangan. Bandingkan komentar Vincent Buckley bahwa, “…menaruh perhatian penuh pada objek adalah apa yang sebenarnya dibutuhkan dalam penelitian kesusastraan”. Pada saat itu, di dalam Poetry and Morality: Studies on the Criticism of Matthew Arnold TS Eliot dan FR Leavis (London: Chatto and Windus, 1959) hal. 16. Wartawan Australian Associated Press di Melbourne Herald (June 4, 1968) menyatakan bahwa faktor yang membuat Indonesia memiliki “wajah yang kaku” adalah “isolasi, sensor, keketatan Islam, pengaruh Barat yang menempel, dan pembatasan moral yang turun temurun”. Saya akan menyambut setiap komentar tentang artikel ini yang mungkin akan diberikan oleh para ahli sosiologi, psikologi, ataupun kritikus sastra.

13“Fasah” (atau fasakh atau pasah) adalah pembubaran perkawinan dengan keputusan pengadilan dan menurut mazhab Syafi’i seorang istri dapat menuntut keputusan semacam ini atas dasar-dasar impotensi, sakit jiwa, ataupun penyakit-penyakit menular seperti lepra ataupun penyakit kelamin. Judith Djamour, The Muslim Matrimonial Court in Singapore (London: Athlone, 1966) hal. 77.

14“Ritual, Entertainment and Modernizations: A Javanese Case”, Comparative Studies in Society and History (April, 1968), hal. 332. Buku Peacock The Rites of Modernization: Symbolic and Social aspects of Indonesian Proletarian Drama (Chicago: University Press, 1968), yang saya terima baru setelah artikel ini selesai, memberikan banyak peluang yang luas untuk memperbedakannya dengan praktik-praktik kesusastraan Indonesia modern.

15Ia kurang yakin apakah pedagang-pedagang Indonesia sama “king size”-nya dengan pedagang-pedagang Arab, seperti yang dikatakan orang.

16(Melaka: Abbas Bandong, 1966), hal. 173-174.

17(Kuala Lumpur: Bi-Karya, 1963), hal. 68.

18(Djakarta: Pustaka Rakjat, 1961), hal. 15.

19Pane, Belenggu, hal. 117.

20Dikutip dari Teruna Bhakti, 29 Juni 1963, hal. 23. Drama ini terbit dalam 5 bagian di dalam Teruna Bhakti, di antara 8 Juni dan 6 Juli 1963. Naskah saya berasal dari salinan yang ditik dari sandiwara yang dipentaskan di lembaga Bahasa dan Kesusastraan, Jakarta. Sandiwara ini merupakan kontras yang menakjubkan terhadap karya Utuy Tatang Sontani lainnya yang ditulisnya sebagai anggota eksekutif Lekra, yaitu Si Kampeng dan Si Sapar.

21“East West Conflict and Indonesian Novels”, Quadran (Sidney) (November-Desember 1966), hal. 41.

22(Melaka : Abbas Bandong. 1966) hal. 162.

23HB Jassin, “Angkatan 66, Bangkitnya Satu Generasi”, Horison, 1, No. 2, (l 966)

24“Kamis Pagi”, Benteng (Jakarta, tak ada halaman, 1966), hal. 21.

25“Seorang Tukang rambutan kepada istrinya”, Tirani (Jakarta: Birpen KAMI, 1966), hal. 24.

26Hester Prynne tentu saja adalah tokoh wanita utama dalam buku Nathaniel Hawthorne, The Scarlet Letter.

27A. Johns, “Genesis of a modern literature” dan tulisan Ruth McVey, Indonesia, (New Haven: HRAF, 1963) hal. 418.

28Balada Orang-Orang Tercinta (Jakarta: Pembangunan, 1957)

29Horison, 3, No. 1 (1968). Saya telah menerjemahkan sajak ini di Tenggara (Kuala Lumpur: University of Malaya), 2, No. 2 (1968).

30Empat Kumpulan Sajak (Jakarta: Pembangunan, 1961), hal. 113-115.

31“Nyanyian Angsa”, Horison, 3, No. 1, dan juga Tenggara, 2, No. 2.

32Lihat misalnya, “Tak Sepadan”, “Sia-Sia”, dan “Penerimaan” dalam Kerikil Tajam (Jakarta: Pustaka Rakyat, 1949).

33Horison, 1, No. 5, (1966), hal. 150.

34Lihat komentar-komentar Idrus “Angkatan 66 dan Cerpen-cerpen Horison”, Horison, 2, No. 7, (1967), hal. 198-199.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Latest from Nukilan

Suap

Cerpen karya Putu Wijaya Catatan Redaksi: Cerpen “Suap” karya Putu Wijaya pertama

Seks, Sastra, Kita

Oleh Goenawan Mohamad Catatan Redaksi: Dalam tulisan tanggapan terhadap artikel Harry Aveling

Pemurnian Hati

Artikel ini ditulis Hamza Yusuf sebagai pengantar untuk terjemahan dan penjelasan Kitab

Beragama dengan Nyaman

Mengapa ada sebagian orang beragama yang selalu saja merasa tidak nyaman dalam
Go to Top