JELAJAH LITERASI

20 Buku Sejarah Muslim Terbaik

in Bukupedia by

Situs Book Authority mendaftar 93 buku sejarah dan budaya Muslim terbaik dalam bahasa Inggris. Daftar ini disusun berdasarkan rekomendasi para ahli di media sosial. Kami hanya akan menampilkan 20 di antaranya.

PERTAMA, sebelum kita masuk ke dalam daftar, kami akan menjelaskan situs Book Authority (https://bookauthority.org). Situs ini membantu membaca menemukan buku-buku menarik dari banyak topik, mulai bisnis, pemasaran, komputer, hingga sejarah dan budaya. Para punggawa situs menampilkan daftar rekomendasi tersebut berdasarkan rekomendasi para pakar di media sosial (biasanya mention para pakar tentang buku), rating para pembaca (di Amazon), dan catatan penjualan. Situs ini mengklaim hanya berdasarkan itulah mereka merekomendasikan suatu buku, dan bukan atas pesanan penerbit atau penulis.

Kedua, 93 daftar buku sejarah Muslim terbaik yang dibuat situs tersebut semuanya berbahasa Inggris, baik itu karya orisinal maupun terjemahan. Beberapa pakar yang merekomendasikan buku-buku dalam daftar ini antara lain Joshua Landis (Direktur Center for Middle East Studies di University of Oklahoma), Peter Frankopan (Profesor sejarah global di Oxford University), Mohammed Dewji (CEO MeTL Group, perusahaan di Afrika), Bodour Al-Qasimi (Presiden The International Publishers Association), dan Aydogan Vatandas (Editor Kepala di situs Politurco.com).

Anda mungkin tak sepenuhnya sependapat dengan rekomendasi mereka, atau ada buku-buku yang terlewatkan dalam daftar tersebut. Tapi, daftar ini setidaknya memberi kita informasi tentang buku-buku apa saja yang layak kita pertimbangkan.

1. The Republic of Arabic Letters: Islam and the European Enlightenment (Alexander Bevilacqua, 2018)

Buku ini menapaktilasi kerja intelektual sekelompok sarjana Katolik dan Protestan di Eropa pada Era Pencerahan (sekitar Abad ke-18) dalam memahami peradaban Islam. Merekalah orang-orang pertama yang menerjemahkan secara akurat Al-Quran ke dalam bahasa-bahasa Eropa, memetakan cabang-cabang keilmuan dan kesenian Islam, serta menulis sejarah Islam dari sumber-sumber berbahasa Arab.

Alexander Bevilacqua, profesor sejarah di William College, Williamstown, Massachusetts, Amerika Serikat, menggunakan sumber-sumber berbahasa Arab, Inggris, Perancis, Jerman, Italia, dan Latin untuk melacak jejak kerja intelektual tersebut. Penerjemahan, kompilasi, dan historiografi yang dihasilkan dari kerja para sarjana Kristen itu menginspirasi pemikir-pemikir Pencerahan seperti Voltaire dan Edward Gibbon dalam memahami Islam. Buku ini juga mengungkap upaya Barat memahami Islam tidak niscaya berasal dari agenda sekuler, tapi juga dari komitmen intelektual sekelompok sarjana Kristen.

2. Lost Islamic History: Reclaiming Muslim Civilisation from the Past (Firas Alkhateeb, 2017)

Firas Alkhateeb, sejarawan jebolan University of Chicago, menyajikan narasi tentang sejarah Islam yang hilang. Buku ini mencoba menyelamatkan catatan tentang kontribusi yang terabaikan dari para pemikir, ilmuwan, teolog, negarawan, dan penguasa Muslim kepada peradaban. Periode waktu yang dibicarakan membentang sejak era Umayyah, Abbasiyah, Utsmaniyah, era Muslim di Spanyol, kerajaan-kerajaan sabana di Afrika, imperium Mughal, hingga penaklukkan Eropa atas wilayah-wilayah Muslim dan peran negara-bangsa modern di dunia Muslim.

3. Nahjul Balaghah (Imam Ali bin Abi Thalib, 1989)

Buku ini salah satu yang unik dalam daftar tersebut. Berbeda dengan buku-buku lain yang ditulis pemikir kontemporer, khotbah, surat, dan perkataan Imam Ali bin Abi Thalib ini dikumpulkan pada Abad ke-10 oleh seorang ulama bernama Sayyid Abul Hasan Muhammad bin Husain bin Musa, atau yang lebih dikenal dengan Asy-Syarif Ar-Radhi, di Baghdad. Sepanjang perjalanan kumpulan ini hingga kini, muncul beragam versi dengan jumlah khotbah, surat, dan perkataan yang sedikit berbeda-beda.

Sesuai dengan namanya, Nahjul Balaghah menunjukkan ketinggian bahasa Imam Ali. Karenanya, buku ini kerap dimasukkan ke dalam kategori kesusastraan—juga dipandang sebagai masterpiece dalam kesusastraan Islam. Meskipun begitu, khotbah, surat, dan perkataan Imam Ali dalam buku ini berisi pandangan menantu Nabi Muhammad itu tentang ideologi politik Islam, termasuk bagaimana dia menaruh perhatian besar kepada prinsip moralitas dalam politik.

Karena buku ini disusun 300 tahun setelah Ali wafat, tak sedikit ulama yang berupaya melacak orisinalitas isinya kepada Ali. Salah satu yang terkenal adalah upaya verifikasi oleh Ibn Abi Al-Hadid, seorang ulama Sunni pada Abad ke-13. Dalam karyanya, Syarh Nahjul Balaghah, Abi Al-Hadid sampai pada kesimpulan bahwa kumpulan ini benar berasal dari Ali bin Abi Thalib. Kesimpulan yang sama diperoleh Muhammad Abduh, pemikir Muslim pada Abad ke-20 yang juga seorang mufti di Mesir.

4. Letters to a Young Muslim (Omar Saif Ghobash, 2018)

Penulisnya, Omar Saif Ghobash, adalah seorang diplomat Uni Emirat Arab. Dia pernah menjadi duta besar di Rusia dan Perancis. Buku ini merupakan curahan berani dan intim Omar kepada anaknya tentang bagaimana menjadi Muslim di Abad ke-21. Pertanyaan utama Omar adalah bagaimana seorang pemuda Muslim dapat menemukan sebuah suara yang murni berasal dari Islam di tengah dunia modern, di tengah tarikan ekstremisme di satu sisi dan Islamofobia di sisi lain.

Buku ini dinilai berhasil memberi inspirasi bagi generasi muda Muslim untuk tetap setia kepada ajaran agama sementara pada saat yang sama menggauli kompleksitas dunia saat ini. Omar juga menyajikan pengalaman hidupnya yang tak banyak diketahui orang serta kisah kehidupan sehari-hari yang dihadapi Muslim di dunia yang dia saksikan.

Buku ini mendapatkan ulasan positif dari New York Times, Chicago Review, dan New Statesman. Ia juga direkomendasikan oleh Amazon dan Bustle sebagai salah satu non-fiksi terbaik pada 2017.

5. The Myth of the Andalusian Paradise: Muslims, Christians, and Jews under Islamic Rule in Medieval Spain

Dalam buku ini, sejarawan Northwestern University asal Kuba, Darío Fernández-Morera, mencoba melawan argumen arus utama bahwa era kekuasaan Islam di Spanyol merupakan wajah “multikulturalisme” dan “toleransi” Muslim pada Abad Pertengahan. Bagi Darío, riwayat bahwa Muslim, Kristen, dan Yahudi hidup dalam harmoni pada masa “Al-Andalus” hanyalah mitos.

Dengan memanfaatkan sumber-sumber yang diabaikan para sejarawan dan bukti arkeologis yang baru digali, buku ini menyimpulkan bahwa “Al-Andalus” sama sekali bukanlah negeri “toleransi”. Terjadi represi atas nama agama terhadap umat Kristen dan kelompok agama lain pada masa itu, dan represi ini melayani kontrol sosial penguasa dan kelas agamawan autokratis.

Sebagian sejarawan memuji buku ini terutama karena keberanian penulisnya menampilkan narasi berbeda. Tapi, sebagian lainnya mengkritik buku ini, antara lain karena risetnya yang masih awal, organisasi penulisannya, dan kesimpulannya yang berstandar ganda.

David Forte, profesor di Cleveland State University, menulis buku ini mencampuradukkan antara proses keilmuan dengan advokasi penulisnya (Darío juga dikenal sebagai politisi sayap kanan). SJ Pearce, profesor di New York University, menuding Darío jatuh ke dalam falasi “manusia jerami” dalam buku ini. Pearce menulis ulasan kritisnya dalam sebuah makalah 44 halaman berjudul “The Myth of the Myth of the Andalusian Paradise: The Extreme Right and the American Revision of the History and Historiography of Medieval Spain”.

6. Arabs: A 3,000-Year History of Peoples, Tribes and Empires ( Tim Mackintosh-Smith, 2019)

Buku 656 halaman ini berisi paparan kaleidoskopik yang mencakup 3.000 tahun sejarah Arab—suku dan masyarakatnya. Alih-alih mendasarkan paparannya dari konteks Islam sebagai agama mayoritas orang Arab, Tim memilih bahasa Arab sebagai pusat pembahasannya, dan karenanya memulai buku ini jauh sebelum kedatangan Islam. Bagi Tim, bahasa Arab adalah kekuatan penting yang menjadi sumber persatuan dan perpecahan bangsa Arab selama ribuan tahun, termasuk Arab setelah “Musim Semi Arab”.

Tim Mackintosh-Smith adalah peneliti pada Royal Asiatic Society of Great Britain and Ireland dan New York University Library of Arabic Literature. Dia penerjemah bahasa Arab dan mendapatkan gelar sarjana bahasa Arab dari Oxford. Dia juga seorang pengelana yang banyak menulis buku perjalanan ke negeri-negeri Arab.

Selama 35 tahun hingga 2019, Tim memilih Yaman sebagai tempat tinggalnya. Empat tahun terakhir dari sembilan tahun proses penulisan buku ini ia habiskan di tengah bombardir bom Arab Saudi atas Yaman. Karena listrik yang mati selama agresi itu, dia memanfaatkan panel listrik bertenaga surya untuk menyelesaikan buku ini.

Buku ini memperoleh banyak ulasan positif, dan pada 2020 masuk ke dalam daftar penerima Ondaatje Prize dari Royal Society of Literature di Inggris. Ulasan positif yang datang dari kalangan sarjana Arab memuji Tim karena buku ini tidak menampilkan pandangan arogan orientalis dan kedalaman pemahaman Tim terhadap pemikiran, jiwa, dan negeri-negeri Arab.

7. Prophet Muhammad: A Young Adult’s Guide to the Early History of Islam (Abu Moosa Reza, 2018)

Buku ini ringkas tapi lengkap. Abu Moosa Reza, penulis Muslim Amerika, mencoba merekam peristiwa-peristiwa menentukan dalam kehidupan Nabi Muhammad: peristiwa-peristiwa yang menginspirasi banyak gerakan intelektual, sosial, dan politik di Asia dan Eropa.

Keistimewaan lain dari buku ini jika dibandingkan dengan buku bertema serupa adalah Abu Moosa menyajikan perspektif mendalam atas sensitivitas, bias, dan aliansi-aliansi pra-Islam yang kemudian berpengaruh terhadap arah perkembangan Islam setelah wafatnya Nabi Muhammad. Bahkan, menurut penulis, sinergi dan konflik hari-hari ini bisa dipahami secara baik dengan melihatnya sebagai kelanjutan dari masa lalu dan bukan semata kejadian terpisah. Dalam buku ini, Abu Moosa mengeksplorasi 500 sumber yang sebagian besar adalah riwayat dari jalur keluarga Nabi.

8. Why Jihad?: Religious Violence in Islamic History, Theology, and Jurisprudence (Howard Shin, 2019)

Banyak orang melihat Islam sebagai paradoks. Kata Islam berakar dari salam, ‘damai’, tetapi lagi dan lagi Islam selalu dilihat sebagai agama yang doyan berkonflik dengan penganut fanatiknya yang bertekad berperang melawan kaum kafir dan bahkan sesama Muslim.

Persoalan tersebut dibahas dalam buku ini. Howard Shin berupaya menunjukkan hubungan antara kelompok militan jihadis dengan Islam melalui kacamata sejarah, teologi, dan fikih, dan bagaimana ideologi kelompok itu telah membentuk dunia Islam yang intoleran dan egaliter.

Howard Shin adalah ahli Islam yang mengajar Islam di Korea. Dia lahir dan dibesarkan di negeri Muslim, dimana dia mempelajari Islam hingga meraih gelar master dalam bidang kajian sejarah dan budaya Islam.

9. The Ideology Behind Islamic Terrorism (Brother Rachid, 2019)

Buku ini merupakan terjemahan dari bahasa Arab berjudul Dā’isy wal Islam min Manzhūr Muslim Sābiq. Penulisnya dikenal dengan nama “Brother Rachid” (Al-Akh Rasyīd), seorang Maroko peraih master di bidang kajian keamanan nasional (politik Timur Tengah) yang mengaku eks-Muslim.

Meskipun penulisnya eks-Muslim, buku ini dinilai tak bias dalam melacak jejak terorisme Islam dan ideologi yang melahirkannya. Dia berupaya menjelaskan kepada pembaca Barat soal jihad, latar belakang kebencian kepada Kristen dan Yahudi, serta aksi-aksi kekerasan yang menjadi trademark teroris Muslim, seperti pemenggalan.

Rachid memiliki pandangan bahwa ISIS sejatinya merepresentasikan ajaran klasik Islam. Sebaliknya, dia justru menolak pernyataan bahwa ISIS mewakili mayoritas Muslim. Seiring perjalanan sejarah, Muslim menghidupkan ajaran Islam secara beragam. Rachid ingin membedakan antara ajaran Islam dan Muslim, dimana dia lebih berpihak kepada Muslim daripada ajaran Islam.

10. Revolutionary Iran: A History of the Islamic Republic (Michael Axworth, 2013)

Buku ini membahas Iran sejak sesaat sebelum Revolusi 1979 hingga musim panas 2009, ketika ratusan ribu warga Iran turun ke jalan-jalan memprotes hasil pemilihan umum. Uniknya, menurut buku ini, gerakan pro-demokrasi di Iran pada 2009 meredup, padahal negara-negara lain di kawasan kemudian mengalami perubahan besar, seperti Tunisia dan Mesir.

Karena itu, Axworth, eks diplomat Inggris di Teheran (1998-2000) dan kemudian pengajar sejarah Timur Tengah di Exeter University, percaya bahwa Revolusi 1979 merupakan kekuatan penting dalam sejarah modern. Revolusi ini tak hanya memicu gelombang semangat kebangkitan Islam di kawasan tapi juga membuat daya tarik Barat meredup di negeri-negeri Muslim. Bagi Axworth, Revolusi Iran menghadirkan model tandingan bagi perubahan yang dipicu oleh ideologi sekuler Barat.

11. After the Prophet: The Epic Story of the Shia-Sunni Split in Islam (Lesley Hazleton, 2009)

Dengan menggabungkan penelitian cermat dan pengisahan menarik, Lesley Hazleton dalam buku ini menghadirkan sejarah tragis perpecahan umat Islam ke dalam dua kubu besar yang disebut Sunni dan Syiah. Perpecahan itu bahkan sudah terjadi menjelang Nabi Muhammad wafat, ketika para elite umat mulai berdebat tentang siapa penerus Sang Nabi. Cerita selanjutnya disesaki dengan intrik politik, perebutan kekuasaan, dan pembunuhan.

Hazleton adalah penulis Inggris-Amerika yang menekuni kajian agama dan politik, serta bagaimana pertemuan keduanya seringkali mendatangkan ketidakstabilan. Dia sendiri menggambarkan dirinya sebagai pribadi penuh paradoks: “seorang agnostik yang memendam keingintahuan kepada misteri agama tapi tidak tertarik dengan agama yang terinstitusikan”. Dia percaya keraguan justru hal terpenting dalam beriman.

12. Islam in Saudi Arabia (David Commins)

Secara umum, orang memandang Arab Saudi sebagai negara tempat aturan agama mendikte tiap detail kehidupan seseorang. Perempuan dan pria yang bukan muhrim tidak bisa berinteraksi. Perempuan harus menutupi wajah mereka. Restoran dan bank memiliki dua bagian: satu untuk keluarga dan yang lain untuk pria. Semua itu digambarkan David Commins dalam buku ini.

Tapi, Commins juga menunjukkan bahwa di bawah yang tampak, di balik ketaatan formal kepada otoritas ulama Wahhabi, mulai muncul kecenderungan-kecenderungan “pemberontakan”. Kecenderungan ini lahir dari determinasi kelompok Sufi dan Syiah dalam menghadapi diskriminasi di satu sisi dan perkembangan pendidikan, teknologi komunikasi, serta urbanisasi di sisi yang lain.

Meskipun penulisnya ditulis bernama “David Commins”, tak ada informasi tentang riwayat hidupnya. Buku ini juga tidak mencantumkan tahun penerbitannya.

13. Islamic Societies to the Nineteenth Century: A Global History (Ira M Lapidus, 2012)

Buku ini merupakan bagian pertama dan kedua dari masterpiece Ira M Lapidus, A History of Islamic Societies yang terbit pada 1988. Karya ini menjadi bacaan wajib bagi para pelajar Barat yang ingin mengetahui perabadan Islam. Buku ini—yang telah mengalami revisi dan perbaruan dari buku asalnya—menggambarkan transformasi masyarakat Islam sejak Abad ke-7 hingga Abad ke-19.

Ira, gurubesar sejarah di University of California, Berkeley, memfokuskan pembahasannya pada perkembangan suku, kelompok agama, dan negara. Dalam konteks yang berubah-ubah, semua itu mengalami perubahan setelah berinteraksi dengan komunitas politik dan agama lain. Di titik ini, apa yang disebut masyarakat Muslim sudah sangat terikat dengan komunitas global.

14. Fields of Blood: Religion and the History of Violence (Karen Armstrong, 2014)

Ketika banyak ahli menghubungkan kekerasan dengan penerapan ajaran tertentu suatu agama, Karen Armstrong melihatnya dengan cara yang sepenuhnya berbeda. Armstrong, seorang bekas biarawati, mengamati kekerasan yang muncul atas nama agama tak bisa dilepaskan dari konteks sosio-historis dan sosio-kultural.

Seperti yang dia jelaskan dalam buku ini, agama-agama besar lahir di tengah masyarakat agraris, dimana tuan-tuan tanah yang kuat menindas kaum tani seraya berperang di antara mereka dalam memperebutkan tanah—satu-satunya sumber kekayaan pada masa itu. Karenanya, menurut buku ini, agama-agama pada masa itu terkait erat dengan agresi agraria dan etos perlawanan yang muncul sebagai responsnya.

Di tengah-tengah para nabi dan orang-orang bijak, tumbuhlah komunitas yang memprotes ketidakadilan dan pertumpahan darah yang mewabah di masyarakat agraris. Dengan demikian, saat agama-agama besar itu beranjak dewasa, semua memahaminya sebagai seruan kepada perdamaian, kesetaraan, dan rekonsiliasi.

Pertanyaannya, ketika industrialisasi dan modernisasi melahirkan kekerasan spektakuler yang belum pernah disaksikan sebelumnya, apakah agama-agama itu mampu menyerap kekerasan modern tersebut? Dan harapan apa yang mungkin dilahirkan untuk perdamaian dari penganut agama-agama berbeda di zaman modern ini?

Dalam buku ini, Armstrong melihat bahaya dari aksi-aksi yang didasarkan atas kesalahpahaman dalam memandang agama-agama. Seraya mempromosikan kasih sayang, buku ini menyimpulkan bahwa sumber masalahnya bukanlah agama.

15. Islam: History, Religion, and Politics (Tamara Sonn, 2015)

Buku ini menyajikan pengantar komprehensif kepada ajaran-ajaran inti Islam, perkembangan historisnya, dan pergulatan masyarakat Muslim kontemporer. Edisi ketiga yang direvisi memasukkan bagian berisi analisis tentang Musim Semi Arab, perang sipil di Afghanistan, Suriah, Irak, dan Yaman, serta kemunculan kelompok teroris seperti Boko Haram dan ISIS.

Tamara Sonn adalah profesor studi agama-agama dan Islam di Georgetown University, Amerika Serikat. Dia merah gelar doktor dari University of Chicago di bawah bimbingan intelektual Muslim Fazlur Rahman.

16. The ISIS Apocalypse: The History, Strategy, and Doomsday Vision of the Islamic State (William McCants, 2015)

ISIS salah satu kelompok teror paling mematikan dan sukses dalam sejarah modern, bahkan melebihi “ibu kandungnya”, al-Qaeda. Ribuan pengikutnya merangsek ke Suriah dan Irak, menaklukkan jutaan orang, memperbudak wanita, memenggal kepala tawanan, dan menantang siapa pun. Ribuan lainnya menyebarkan teror ke luar Timur Tengah di bawah bendera hitam ISIS.

Bagaimana ISIS bisa memikat begitu banyak pengikut dan mengusai begitu banyak wilayah? Dalam buku ini, William McCants menjelaskan para pemimpin ISIS dengan cerdik menggabungkan dua ide paling kuat namun kontradiktif dalam Islam—pendirian imperium Islam dan akhir dari dunia—ke dalam misi, strategi, dan pesan mereka yang menginspirasi pengikut mereka. Mereka tak sungkan melabrak ajaran konvensional Islam tentang bagaimana berperang.

McCants dikenal sebagai pakar militan Muslim. Dia peneliti pada Center for Middle East Policy di Brookings Institution dan pernah menjadi penasehat senior tentang ekstremisme kekerasan pada Office of the Coordinator for Counterterrorism di Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat.

17. An Illustrated History of Islam: The story of Islamic religion, culture and civilization, from the time of the Prophet to the modern day, shown in over 180 photographs (Raana Bokhari, Mohammad Seddon, dan Charles Phillips, 2012)

Buku ini menawarkan gambaran sejarah Islam dari zaman Nabi Muhammad pada 570 hingga saat ini. Ia mengeksplorasi perkembangan Islam di berbagai belahan dunia, termasuk garis waktu budaya dari peristiwa-peristiwa utama yang telah membentuk agama ini.

18. Beyond Timbuktu: An Intellectual History of Muslim West Africa (Ousmane Oumar Kane, 2016)

Tak banyak orang tahu bahwa Timbuktu, kota di Mali, Afrika Barat, merupakan salah satu pusat pembelajaran dan penyebaran Islam di masa prakolonial. Di kota sebelah utara Sungai Niger ini, berdiri banyak madrasah dan perpustakaan yang menyimpan banyak manuskrip langka berbahasa Arab. Beyond Timbuktu memotret suasana pembelajaran di kota itu sejak awal Islam hingga saat ini.

Dalam buku ini, Ousmane Kane, profesor studi Islam di Harvard University, berupaya mengoreksi kesalahpahaman Barat dan juga Timur Tengah bahwa Muslim Afrika mewakili sebagian kecil dari peradaban Islam. Kenyataannya, menurut Ousmane, Muslim Afrika tak pernah terisolasi. Hubungan mereka dengan dunia Muslim di banyak wilayah kuat dan bertahan lama. Tradisi pembelajaran Islam di Timbuktu juga telah menjadikan bahasa Arab sebagai salah satu bahasa yang banyak digunakan di Afrika saat ini.

19. The Crusades: The Authoritative History of the War for the Holy Land (Thomas Asbridge, 2010)

Peneliti sejarah Abad Pertengahan di Queen Mary, University of London, Thomas Asbridge, menyajikan sebuah dokumentasi ambisius tentang sejarah Perang Salib, pertarungan brutal antara pasukan Islam dan Kristen dalam memperebutkan Tanah Suci. Buku ini mencakup periode waktu dari 1095 hingga 1291; dari Richard The Lionheart hingga Salahuddin yang perkasa; dari Kekaisaran Byzantium hingga Ksatria Templar.

20. Kingdoms of Faith: A New History of Islamic Spain (Brian Catlos, 2018)

Dalam buku ini, sejarawan University of Colorado, Brian Catlos, menulis ulang sejarah Islam di Spanyol dengan mengajukan interpretasi baru yang otoritatif. Dengan memanfaatkan sumber-sumber utama, Brian menunjukkan mozaik lebih kompleks daripada sekadar gambaran Spanyol “Al-Andalus” sebagai surga toleransi yang tercerahkan.

Masyarakat Muslim, Yahudi, dan Kristen memang hidup harmoni di satu sisi tapi di sisi lain mereka berkonflik satu sama lain. Bahkan, konflik terjadi antarsekte di internal mereka. Meskipun demikian, mereka bersama-sama telah membangun suatu peradaban canggih kala itu, yang menyumbang kepada perkembangan peradaban Barat.

Brian juga ingin menyampaikan bahwa agama kerap menjadi “bahasa” konflik. Tapi, agama sangat jarang menjadi “sumber” konflik—suatu pelajaran yang semestinya kita pertimbangkan saat ini.[]

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Latest from Bukupedia

Mengapa Orang Menulis?

Esai Alice Adams Menulis itu melelahkan, dan hasilnya tak memberi jaminan kekayaan
Go to Top