JELAJAH LITERASI

Sehabis Mimpi

in Nukilan by

Cerpen Ajip Rosidi

Cerpen “Sehabis Mimpi” berlatar kehidupan pada 1950-an. Dalam cerpen ini, Ajip Rosidi mengaburkan batas antara mimpi dengan kenyataan, seperti yang dia lakukan dalam cerpen lain berjudul “Mimpi Masa Silam”.

SEORANG perempuan yang bertubuh langsing tapi penuh berisi, bermata kecil namun tidak sipit dan berbibir merah tipis segar, ya, perempuan itulah yang sudah menawan aku. Angan-anganku tentang perempuan bertumpu padanya. Dialah perempuan impianku sebab padanya kutemukan keselarasan yang langsung menggenggam hatiku. Nampaknya aku telah dipertemukan Tuhan dengan jodohku, dengan perempuan yang sudah sejak sebelum turun ke dunia ditentukan akan jadi istriku. Kukira aku takkan menemukan perempuan lain yang lebih cocok, yang lebih laras denganku, kecuali perempuan ini. Dan apabila sudah begitu pasti dan yakin, menunggu apa pulakah aku jika tidak pergi melamarnya?

Dengan kata-kata yang manis dan penuh kemesraan yang menggetarkan pembuluh darah dalam tubuhku sendiri dengan suara yang gemetar lantaran degup jantung yang lebih keras daripada biasa dan dengan wajah yang terasa seperti terbakar, kukatakan kepadanya hasratku.

Dan perempuan kecil yang bermata kecil namun tak sipit itu, membikin senyuman dengan lingkaran bibir yang menghias wajahnya dan oleh senyuman itu aku makin yakin bahwa memang ialah jodohku, bahwa memang sebaik-baiknya ia kujadikan istri. Kemudian mulut kecil itu mengeluarkan suara yang artinya tak kurang empuk daripada suaranya: ia tak menolak lamaranku, malah ia terima! Dan sehabis menyatakan kandungan kalbunya sendiri, ia pun menambah kalimat-kalimat yang kukira akan dikatakan pula oleh perempuan-perempuan lain jika ia dilamar oleh lelaki yang dia cintai.

Tapi tidak kau nanti menyesal kawin dengan aku, perempuan melarat dan bercacat pula?

Pada sangkaanku, itulah kalimat paling mesra yang akan dikeluarkan oleh perempuan yang pendidikannya sederajat dengan perempuan bakal istriku ini, sesuai dengan watak bangsa kita sendiri.

Mengapa aku menyesal? Kataku. Telah kupilih kau sebagai teman hidupku dan dengan pilihan ini sedikit pun aku takkan menyesal.

Dan oleh satu gerak tangan yang penuh arti, ia merebahkan wajahnya ke dadaku dan aku menyambutnya dengan penuh mesra dan digelimangi harapan-harapan bahagia menghadapi hari depan.

Setelah aku tahu apa pendapatnya tentang aku dan aku tahu pula bahwa ia setuju jika jadi istriku, atas persetujuannya pula, kuputuskan agar keesokan harinya memintanya kepada orang tuanya. Dan lantaran bakal istriku tidak lagi mempunyai ayah dan ia sekarang hidup berdua saja dengan ibunya, aku pun mengatakan hasratku kepada ibunya. Dan jawaban yang kuterima dari ibunya—seperti sudah kubayangkan sebelumnya melihat penerimaan serta sikapknya padaku selama ini—tak banyak berbeda dengan ucapan bakal istriku. Si ibu memasrahkan hal ini kepada orangnya, kalau orang yang bakal menjadi istriku itu mau, apa lagi! Namun seperti juga bisa kukirakan bakal keluar dari mulut seorang tua yang mencintai anaknya, ibu pun bilang:

Kalau kau, Nak, bermaksud memperistrikan Siti, ibu sebagai orang tuanya yang masih hidup tidaklah keberatan jika orangnya sendiri sudi menjadi istrimu. Tapi kuharap maksudmu ini lahir bukan karena terburu nafsu saja, atau bukan karena cuma ingin mempermainkan Siti saja seperti biasanya lelaki mempermainkan perempuan. Kuharap kau tak ada pikiran seperti begitu.

Dan aku yang merasa seperti menjadi seorang terdakwa, merasa mesti menjawab mempertahankan diri:

Tentu saja, Bu, maksudku memperistrikan Siti adalah sungguh-sungguh dan bukan omong kosong atau pun karena mau mempermainkan Siti seperti mungkin dilakukan para lelaki hidung belang. Maksudku sungguh maksud yang suci, yang lahir dari kebeningan pikiran dan setelah kupertimbangkan sekian lama.

Terima kasih, Nak. Tapi seperti kau tahu, Siti hidup bersamaku selama ini. Dan ia bekerja sebagai jurutik adalah cuma lantaran paksaan keadaan saja. Sebagai penambah untuk mencukupi hidup, karena kalau cuma mau menyandarkan hidup kami pada pensiun ayahnya yang kudapat setiap bulan, barangkali sudah lama kami hanya tinggal nama saja, Nak. Maka dari itu kuharap jika kau betul-betul mau memperistrikan Siti, hendaklah betul-betul pula kau mengurusnya. Dan hendaknya kau berjanji pula dari sekarang, bahwa kau pun tak merasa keberatan jika aku menumpang hidup bersama kalian kalau nanti kalian sudah menjadi sepasang suami-istri.

Dan demi cintaku kepada perempuan yang menjadi anaknya, aku pun menjawab kepada ibu:

Tentu saja, Bu. Ibu memang semestinya turut dengan kami, jika kami sudah nikah, tapi tentu saja ibu jangan mengharapkan terlalu banyak pula, karena pendapatan saya pun setiap bulannya tidak seberapa. Ibu mesti menerima seadanya saja.

O, tentang itu jangan kaukuatirkan. Ibu pun tidak mengharap terlalu banyak. Asal ibu bisa hidup sederhana, cukuplah. Lagipula, bukankah ada juga pensiun ayah Siti, meski sedikit?

Minggu pertama dari perkawinan kami, kami lakukan suatu perjalanan. Walau berbulan madu bukan kebiasaan yang umum dilakukan di negeri kita ini, tapi kami melakukan sepuluh hari dalam suatu perjalanan mengunjungi keluarga serta kerabat yang tinggal jauh di kota-kota lain: para bibi dan nenek-nenek yang sudah hampir putus dari ingatanku dalam kehidupan sehari-hari saking jarangnya bersua.

Kami mendapat sebuah rumah kecil yang cukup untuk bertiga dengan halaman yang rimbun hijau oleh dedaunan yang segar serta tangkai kembang yang lagi berputik, menambah indah hidup yang berbunga.

Dan seperti sepasang suami-istri yang berbahagia, kami mengharapkan seorang anak cepat-cepat hadir di tengah-tengah kami, untuk membikin hidup ini makin indah dan bertuju, beragam dan makin riah.

Namun, tanda-tanda istriku akan cepat melahirkan anak masih sangat jauh. Namun demikian, toh hidup kami tak kurang manisnya.

Kemanisan ini berlangsung dengan amannya dan kukira akan terus berlangsung seperti sediakala, kalau tidak pada suatu kali datang seorang teman karibku kembali dari suatu perjalanan jauh dari luar negeri yang menyebabkan ia tak bisa menghadiri pernikahan kami. Ia datang pada suatu sore, ketika aku lagi duduk-duduk membaca di depan rumah. Betapa girangnya aku, melihat ia masuk ke pekarangan rumah kami. Ia tertawa sambil mengulurkan tangan saking gembira:

Ah, kau! Teriaknya masih dari jauh.

Aku berdiri dari kursiku dengan kegembiraan yang melimpah dan menyambut tangannya yang terulur.

Kapan kau datang? Tanyaku dalam tawa juga.

Baru beberapa hari ini. Aku mencari-cari rumahmu ini, untunglah bisa kutemukan juga. Bagaimana keadaanmu sekarang setelah berumah tangga menyandingkan, seorang istri?

Aku tersenyum penuh mengerti.

Ah, katanya lebih lanjut, sayang aku tidak bisa menghadiri perkawinan kau itu. Sayang sekali! Aku ketika itu tidak di sini.

Alangkah senangnya kau! Berapa negeri yang sudah kaujalani? Tanyaku. Aku ini lama kelamaan hanya akan jadi seorang picik yang tidak tahu lebih jauh dari kotanya sendiri saja.

Tapi kau sudah mendapat pegangan yang nyata, balasnya dengan penuh arti. Seorang istri adalah melebihi segala-galanya, jawabnya. Mana dia sekarang?

Dan dengan kegembiraan yang penuh aku pun memanggil istriku yang ketika itu lagi berada di dapur. Ia datang dengan kegopohan yang bakal dipunyai setiap istri yang setia dan mencintai suaminya kalau ia dipanggil oleh junjungannya.

Ini temanku dulu, teman yang paling karib, kataku. Inilah dia orang yang banyak kuceritakan kepadamu. Sayang, ia tak bisa datang waktu kita kawin, karena ia ketika itu berada di luar negeri. Ia sekarang baru datang beberapa hari saja.

Dan kepada kawanku, kuperkenalkan:

Inilah dia, teman hidupku!

Mereka bersalaman dan teman karibku itu menambah:

Kami sudah seperti dengan saudara sekandung saja. Tidur kami satu ranjang, makan kami satu piring, sering menderita lapar bersama-sama. Sungguhlah ia seorang kawanku paling karib. Karena itu, kukutuki diriku sebab tidak menghadiri perkawinan kalian. Tapi semuanya berjalan lancar, bukan?

Tentu, tentu, jawab istriku.

Syukurlah.

Kemudian sementara istriku pergi ke belakang menyediakan minuman, aku dan teman karibku itu bicara dengan keriangan yang paling mesra mengenang masa-masa lalu yang penuh kesengsaraan dan penderitaan namun kami anggap begitu indah, sehingga aku merasa sayang bahwa masa itu sekarang sudah lewat dan takkan kami alami lagi.

Hari sudah larut dalam malam. Temanku bangkit dan mengulurkan tangannya padaku:

Aku pergi dulu, katanya.

Ke mana? Bukankah kau mau menginap di sini? Cegahku.

Tidak. Aku tinggal di hotel. Barang-barangku semua di sana, jawabnya. Lain kesempatan sajalah aku menginap di sini.

Ah, sayang sekali, kataku. Memang rumahku kecil, tapi untukmu tidur tersedia.

Ya, tapi lain kali saja, jawabnya.

Aku mengantarkannya hingga ke jalan di depan rumah dan sementara ia menunggu beca yang lewat, ia memberikan pendapatnya tentang istriku (istriku ketika itu tidak turut ke jalan: ia mudah sekali masuk angin), sebagai layaknya seorang teman memberikan pendapat tentang pilihan hidup teman karibnya:

Sungguh kau pintar memilih, katanya dan oleh pujian ini aku jadi tersenyum. Tapi sayang…, ia tergagap dan tak melanjutkan kalimatnya.

Mengapa sayang? Kataku penasaran.

Aku tak habis pikir, mengapa kakinya pendek sebelah? Apakah ia pernah mendapat kecelakaan? Tanyanya lebih lanjut.

Melihat aku terkejut, ia kaget.

Maaf aku kalau melukai hatimu, katanya.

Tidak, tidak apa, kataku sementara pikiranku keras bertanya: Apakah benar istriku cacat?

Tapi sungguh suatu anugerah kau mendapatnya, kata temanku paling karib itu, ia sungguh seorang kawan hidup yang paling cocok buatmu.

Ya, kataku. Tapi aku sendiri tak tahu bahwa kakinya pendek sebelah?

Apa? Katanya. Kau sendiri tidak tahu?

Sungguh, kataku.

Kalau begitu barangkali aku salah mata, katanya penuh minta maaf. Pandangankulah yang tidak beres. Maafkan betul!

Sekali lagi dijabatnya tanganku. Dari jauh datang sebuah beca. Sambil memberhentikan beca itu, ia berjanji bahwa suatu kali ia akan datang lagi kalau keadaan mengizinkan. Aku masih berdiri melihat lampu beca yang berkelip-kelip itu menghilang di tikungan.

Aku sungguh tak bisa mengerti! Istriku pincang! Ah, tentu ia salah mata. Selama sekian lama kami bersama tak kulihat ia berjalan pincang. Tapi tak urung hal ini membikin aku jadi penasaran dan kepenasaran ini akhirnya menjadi demikian meluap-luap, sehingga aku dari jauh memperhatikan istriku yang menuju ke dapur membereskan cangkir-cangkir bekas kami tadi.

Istriku kulihat berjalan biasa dan tak nampak tanda-tanda bahwa ia berkaki pendek sebelah atau panjang sebelah. Tapi kepenasaran itu membikin aku berpikir panjang sebelum pulas tidur malam itu. Omong-omongan istriku yang biasanya kujawab dengan manis, kubiarkan saja lenyap dalam kesunyian malam dan akhirnya ia pun terdiam, barangkali mengerti bahwa aku lagi dipenuhi pikiran.

Paginya, ketika matahari akan menonjolkan dirinya dari celah jendela rumah dan siang akan menjejakkan kaki bumi ini, aku terbangun oleh kokok ayam tetangga yang nyaring sekali. Ayam jago ini selalu membangunkan aku tiap pagi karena tempatnya hampir di atas kepalaku benar. Istriku yang tidur di sampingku membukakan mata yang segera diarahkan kepadaku dengan diiringi sebuah senyuman. Aku hanya memandang, memandang saja. Ia menggeliat dan duduk di tepi ranjang dan setelah berdiri dibungkukkannya tubuhnya serta dengan hangat diciumnya mulutku panjang sekali. Lalu ia berjalan menuju pintu dan membukakannya, diikuti oleh mataku yang setia.

Ya, alah…! Pesona apa yang membutakan aku selama ini, yang menghalangi mataku untuk melihat bahwa istriku pincang ini? Kekuatan gaib apa yang telah mencekam aku hingga aku tidak mengetahui setelah sekian bulan bersama bahwa ia sesungguhnya bercacat?

Dan cinta yang bagaimana pula hingga bisa memukau aku hingga sekian lama?

September, 1995

[Dinukil dari: Ajip Rosidi. 2008. Sebuah Rumah Buat Hari Tua: Kumpulan Cerita Pendek. Bandung: Pustaka Jaya. Hlm. 28-34]

[Foto: TEMPO/Arnold Simanjuntak]


Ajip Rosidi (1938-2020)

Ajip Rosidi adalah salah satu—jika bukan satu-satunya—sastrawan paling lengkap. Dia mengarang, menyunting, menerjemahkan, dan mengarsip. Dia melintasi bentuk karangan: puisi, cerpen, novel, drama, dan bahkan cerita anak-anak. Dia bersastra dalam dua bahasa dengan sama bagusnya: Indonesia dan Sunda.

Dia juga produktif. Lampiran memoarnya mencatat sembilan kumpulan puisi, lima kumpulan cerita pendek, dua novel, dua drama, delapan adaptasi cerita rakyat, dua cerita wayang, lima cerita anak-anak, dua kumpulan humor, tiga memoar, tiga biografi, dan 52 kumpulan esai dan kritik sastra. Itu belum termasuk karya-karya ensiklopedia, terjemahan, dan hasil penelitian. Dia masih menyimpan banyak tulisan, arsip, dokumen, dan catatan harian yang belum diterbitkan.

Istimewanya, semua pencapaian itu dimulai sejak usia dini dan tanpa ijazah pendidikan tinggi. Pada usia 15 tahun, Ajip sudah mengasuh majalah Soeloeh Peladjar. Pada usia 17 tahun, dia menjadi redaktur majalah Prosa.

Cuma jebolan sekolah menengah Taman Siswa, Ajip justru mengajar dan menjadi guru besar di sejumlah universitas, baik di dalam maupun luar negeri. Saat mengajar di Jepang, Ajip-lah yang pertama kali memperkenalkan karya pengarang-peraih Nobel Jepang, Yasunari Kawabata, dengan menerjemahkan kumpulan cerpen Penari-Penari Jepang dan novel Negeri Salju.

Tak hanya bersastra, Ajip juga mendirikan dan mengelola penerbit serta lembaga kebudayaan. Dia membidani Yayasan Kebudayaan Rancage, yang antara lain memberikan hadiah sastra bagi karya-karya berbahasa ibu (Ajip tak suka menggunakan istilah “bahasa daerah”), antara lain bahasa Sunda, Jawa, Bali, Lampung, Batak, Banjar, dan Madura. Perannya juga cukup besar dalam mengembangkan Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Dewan Kesenian Jakarta, Akademi Jakarta, dan Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi).[]

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Latest from Nukilan

Terbang

Cerpen Ayu Utami Dengan berlatarkan kecemasan terkait keamanan transportasi udara, Ayu Utami

Pemintal Kegelapan

Cerpen Intan Paramaditha Dalam cerpen ini, Intan Paramaditha meramu horor dan misteri

Cinta Sejati

Cerpen Isaac Asimov Anda yang pernah mencoba aplikasi atau situs web kencan

Saya Seorang Fanatik!

Dalam artikel ini, Habib Ali Al-Jufri menyatakan kefanatikan bisa terjadi pada siapa
Go to Top