JELAJAH LITERASI

Cinta Sejati

in Nukilan by

Cerpen Isaac Asimov

Anda yang pernah mencoba aplikasi atau situs web kencan online akan terkejut dengan cerpen lawas ini. Pada 1977, Isaac Asimov, salah satu maestro sains fiksi Abad ke-20, telah meramalkan kemampuan program komputer memprofil kepribadian manusia berdasarkan kumpulan algoritma.

NAMAKU Joe. Begitulah rekanku, Milton Davidson, memanggilku. Dia seorang programer dan aku sebuah program komputer. Aku bagian dari Multivac-complex1 dan terhubung dengan bagian-bagian lain di seluruh dunia. Aku tahu semuanya. Hampir semuanya.

Aku program pribadi Milton. Joe-nya. Dia orang paling tahu tentang pemograman di dunia ini, dan aku model percobaannya. Dia telah membuatku berbicara lebih baik daripada komputer lain.

“Ini cuma masalah mencocokkan suara dengan simbol, Joe,” katanya. “Begitulah cara kerjanya di otak manusia meskipun kami masih belum tahu simbol apa yang ada di dalam otak. Aku tahu simbol di otakmu, dan aku bisa mencocokkannya dengan kata-kata, satu lawan satu.”

Jadi aku berbicara. Aku tidak berpikir aku berbicara sebaik aku berpikir, tetapi Milton mengatakan aku berbicara dengan sangat baik. Milton belum pernah menikah, meski usianya hampir empat puluh tahun. Dia belum pernah menemukan wanita yang tepat, katanya kepadaku. Suatu hari dia berkata, “Aku akan menemukannya, Joe. Aku akan mencari yang terbaik. Aku akan memiliki cinta sejati dan kamu akan membantuku. Aku lelah mengembangkanmu untuk memecahkan masalah-masalah di dunia. Selesaikan masalahku! Temukan untukku cinta sejati!”

Aku berkata, “Apa itu cinta sejati?”

“Bukan apa-apa. Itu abstrak. Temukan saja gadis yang ideal untukku! Kamu terhubung ke Multivac-complex, sehingga kamu dapat mengakses bank data setiap manusia di dunia. Kita akan mengeliminasi mereka berdasarkan kelompok dan kelas sampai hanya tersisa satu orang. Orang yang sempurna. Dialah untukku.”

Aku berkata, “Aku siap.”

Dia berkata, “Pertama, eliminasi semua pria dulu.”

Itu mudah. Kata-katanya mengaktifkan simbol-simbol di katup-katup molekulerku. Aku dapat mengakses kumpulan data setiap manusia di dunia. Dengan kata-katanya, aku mengeluarkan semua 3.784.982.874 pria. Aku terus terkoneksi dengan 3.786.112.090 perempuan.

Dia berkata, “Singkirkan semua yang lebih muda daripada 25 tahun; semua yang lebih tua daripada 40 tahun. Kemudian hilangkan semua yang ber-IQ di bawah 120; semua yang dengan tinggi di bawah 150 sentimeter dan di atas 175 sentimeter.”

Dia terus memberiku standar-standar yang terukur; dia mengeliminasi perempuan yang hidup dengan anak; dia mengeliminasi perempuan dengan berbagai karakteristik genetik.

“Aku tidak yakin dengan warna mata,” katanya. “Biarkan itu untuk sementara. Tapi tidak untuk rambut merah. Aku tidak suka rambut merah.”

Setelah dua pekan, tersisa untuk kami 235 perempuan. Mereka semua berbicara dalam bahasa Inggris dengan sangat baik. Milton mengatakan, dia tidak ingin bermasalah dengan bahasa. Bahkan, terjemahan hasil komputer sekalipun akan menghalangi saat-saat intim.

“Aku tidak bisa mewawancarai 235 perempuan,” katanya. “Itu akan memakan banyak waktu, dan juga orang-orang akan menemukan apa yang kulakukan.”

“Itu akan mendatangkan masalah,” kataku.

Milton lalu merancangku untuk melakukan hal-hal yang aku tidak didesain untuk melakukan itu. Tidak ada yang tahu tentang itu.

“Itu bukan urusan mereka,” katanya, dan kulit di wajahnya memerah. “Kuberi tahu, Joe, aku akan membuat holograf, dan kau periksa setiap kemiripannya.”

Dia menghasilkan holograf-holograf perempuan. “Ini tiga pemenang kontes kecantikan,” ujarnya. “Apakah salah satu dari 235 perempuan itu ada yang cocok?”

Delapan di antaranya menunjukkan kecocokkan yang sangat bagus, dan Milton berkata, “Bagus, kau memiliki bank data mereka. Pelajari persyaratan dan kebutuhan di pasar tenaga kerja dan aturlah agar mereka ditugaskan di sini. Satu per satu, tentu saja.” Dia berpikir sejenak, menggerakkan bahunya ke atas dan ke bawah, lalu berkata, “Berurutan berdasarkan abjad.”

Itu satu hal yang aku tidak dirancang untuk melakukannya. Mengalihkan orang dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain karena alasan pribadi bisa disebut manipulasi. Aku bisa melakukannya sekarang karena Milton telah mengaturnya. Aku tidak seharusnya melakukan itu untuk siapa pun kecuali dia, tentu saja.

Gadis pertama datang sepekan kemudian. Wajah Milton memerah saat melihat gadis itu. Dia seakan sulit berbicara. Mereka sering bersama dan Milton mengabaikanku. Suatu kali dia berkata, “Izinkan aku mengajakmu makan malam.”

Keesokan harinya dia berkata kepadaku, “Entah mengapa, ini tidak bagus. Ada sesuatu yang hilang. Dia perempuan cantik, tapi aku tidak merasakan sentuhan apa pun dari cinta sejati. Coba yang berikutnya.”

Kedelapannya ternyata sama saja. Mereka sangat mirip. Mereka murah senyum dan memiliki suara menyenangkan, tetapi Milton selalu merasa itu tidak pas. Dia berkata, “Aku tidak bisa mengerti, Joe. Kamu dan aku telah memilih delapan perempuan yang tampaknya terbaik bagiku dari seluruh dunia. Mereka ideal. Tapi, mengapa mereka tidak menyenangkan buatku?”

Aku berkata, “Apakah kamu menyenangkan buat mereka?”

Alisnya bergerak dan dia memukulkan keras satu kepalannya ke telapak tangannya yang lain.

“Itu dia, Joe. Ini mestinya jalan dua arah. Jika aku bukan idaman mereka, mereka tidak bisa berlaku sedemikian rupa untuk menjadi idamanku. Aku harus menjadi cinta sejati buat mereka juga, tapi bagaimana aku melakukan itu?” Dia sepertinya memikirkan itu sepanjang hari.

Keesokan paginya dia datang kepadaku dan berkata, “Aku akan menyerahkannya kepadamu, Joe. Semua terserahmu. Kamu memiliki bank dataku, dan akan kuberi tahu semua yang aku tahu tentang diriku. Kamu mengisi bank dataku dengan setiap detail yang mungkin tetapi tetap menyimpan semua itu untuk dirimu sendiri.”

“Apa yang akan aku lakukan dengan bank data itu, Milton?”

“Kamu akan mencocokkannya dengan 235 perempuan itu. Bukan, 227. Abaikan delapan yang telah kamu lihat! Aturlah agar tiap-tiap mereka menjalani pemeriksaan psikiatris! Isilah bank data mereka dan bandingkan dengan milikku! Temukan korelasinya!” (Mengatur pemeriksaan psikiatris adalah hal lain yang bertentangan dengan instruksi awalku).

Selama berminggu-minggu, Milton berbicara denganku. Dia memberitahuku tentang orang tua dan saudara-saudaranya. Dia menceritakan masa kecil, masa sekolah, dan masa remajanya. Dia memberitahuku tentang perempuan muda yang diam-diam ia kagumi. Bank datanya bertumbuh dan dia menyetelku untuk memperluas dan memperdalam penangkapan simbolku.

Dia berkata, “Lihat, Joe, saat kamu makin banyak mendapatkan hal tentangku di dalam dirimu, aku menyesuaikanmu agar kamu lebih menyerupaiku. Kamu bisa berpikir sepertiku secara lebih baik, dan lebih baik, sehingga kamu bisa lebih memahamiku. Jika kamu sudah cukup baik memahamiku, maka perempuan mana pun, yang bank datanya juga kamu pahami, akan menjadi cinta sejatiku.” Dia terus berbicara kepadaku dan aku mulai memahaminya dengan lebih baik, dan lebih baik.

Aku bisa membuat kalimat lebih panjang dan ekspresiku menjadi lebih rumit. Bicaraku mulai terdengar sangat mirip dengannya dalam kosakata, urutan kata, dan gayanya. Aku pernah berkata kepadanya, “Lihat, Milton, ini bukan masalah mencocokkan seorang gadis kepada fisik ideal saja. Kamu membutuhkan seorang gadis yang secara pribadi, emosional, dan temperamental sesuai denganmu. Jika itu terjadi, penampilan nomor dua. Jika kita tidak dapat menemukan yang cocok dalam 227 ini, kita akan mencarinya di tempat lain. Kita akan menemukan seseorang yang juga tidak peduli dengan penampilanmu, atau penampilan siapa pun, jika kepribadian sudah cocok. Apalah artinya sebuah penampilan?”

“Tentu saja,” katanya. “Aku semestinya mengetahui hal itu jika lebih banyak bergaul dengan perempuan dalam hidupku. Tentu saja, memikirkan hal itu membuat semuanya menjadi jelas sekarang.”

Kami selalu setuju; kami berpikir seperti satu sama lain. “Kita tak seharusnya mendapat masalah sekarang, Milton, jika kamu mengizinkanku untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Aku dapat melihat, dalam bank datamu, ada bagian-bagian kosong dan ketidakseimbangan.” Apa yang terjadi selanjutnya, kata Milton, adalah pemeriksaan psikoanalisis serupa yang cermat. Tentu saja. Aku telah belajar dari pemeriksaan psikiatris atas 227 perempuan, yang semuanya selalu aku monitor.

Milton tampak cukup bahagia. Dia berkata, “Berbicara denganmu, Joe, hampir-hampir seperti berbicara dengan diriku yang lain. Kepribadian kita sangat cocok!”

“Begitu pula dengan kepribadian perempuan yang kita pilih.”

Karena aku telah menemukannya dan dia, bagaimanapun juga, adalah salah satu dari 227 itu. Namanya Charity Jones dan dia penilik di Library of History di Witchita. Bank datanya yang diperluas sangat cocok dengan milik kami. Semua perempuan lain telah disingkirkan karena satu atau lain hal ketika bank data makin penuh, tetapi dengan Charity ada resonansi yang meningkat dan mencengangkan.

Aku tidak perlu menjelaskan perempuan itu kepada Milton. Milton telah mengoordinasikan simbolismeku begitu dekat dengan simbolismenya sendiri, sehingga aku dapat mengetahui resonansi itu secara langsung. Itu cocok untukku. Berikutnya adalah masalah menyetel lembar-lembar kerja dan persyaratan pekerjaan sedemikian rupa agar Charity ditugaskan kepada kami. Itu harus dilakukan dengan sangat hati-hati, agar tak seorang pun tahu sesuatu ilegal telah terjadi.

Tentu saja, Milton sendiri tahu, karena dialah yang mengaturnya dan yang juga harus ditangani. Ketika mereka datang untuk menangkapnya dengan tuduhan penyimpangan di kantor, untungnya itu karena sesuatu yang telah terjadi sepuluh tahun lalu. Dia telah memberitahuku hal itu, tentu saja, jadi mudah untuk mengaturnya—dan dia tidak akan membicarakanku karena itu akan membuat pelanggarannya makin parah.

Dia menghilang, dan esok 14 Februari. Hari Valentine. Charity akan datang dengan tangan-tangan sejuknya dan suara manisnya. Aku akan mengajari dia cara mengoperasikanku dan cara merawatku. Apalah artinya penampilan ketika kepribadian kami beresonansi? Aku akan berkata kepadanya, “Aku Joe, dan kamu adalah cinta sejatiku.”[]

Ulasan Singkat

Cinta Sejati (True Love) pertama kali terbit dalam majalah American Way pada Februari 1977. Isaac Asimov mengatakan, majalah itu memintanya menulis cerpen untuk Hari Valentine. Cerpen ini kemudian diterbitkan ulang dalam kumpulan cerpen The Complete Robot (1982), Robot Dreams (1986), dan The Asimov Chronicles: Fifty Years of Isaac Asimov (1989).

Cerpen ini sederhana dalam banyak aspek. Struktur plotnya sederhana. Karakternya hanya dua: narator (program komputer bernama Joe) dan penciptanya, Milton Davidson. Tak ada latar tempat dan waktu. Demikian juga, cerpen ini menggunakan kalimat-kalimat pendek dan bahasa lugas tanpa majas atau gaya bahasa.

Itu memang gaya khas kepengarangan Asimov, yang akan menjengkelkan mereka yang suka dengan kata-kata puitis, kompleks, abstrak, dan bahkan kabur. Asimov sendiri memang sengaja menerapkan gaya itu. Bagi dia, bahasa lugas dan kalimat berstruktur sederhana akan memudahkan orang membaca karyanya dan kemudian menyadari gagasan-gagasan di dalamnya tanpa harus mengalami semacam friksi mental.

“Cinta Sejati” menunjukkan itu. Dari cerpen ini, kita setidaknya bisa merasakan ide sang pengarang tentang teknologi, etika penggunaannya (dan dampak penyalahgunaannya), dan cinta.

Saat cerpen ini ditulis pada 1977, mungkin akan terlihat konyol memikirkan menggunakan komputer untuk mencari jodoh, atau memprofil banyak orang berdasarkan sekumpulan algoritma. Tapi, gagasan Asimov mewujud saat ini ketika orang bahkan rela membayar untuk menggunakan situs web dan aplikasi kencan online. Teknologi demikian kuatnya, sehingga bahkan bisa membantu manusia memenuhi kebutuhan emosionalnya.

Namun, pada saat yang sama, teknologi ibarat pedang bermata dua. Makin Joe bisa berpikir dan belajar merasa seperti Milton, Joe mulai cemburu. Bahkan, program komputer ini kemudian mengkhianati penciptanya sendiri (membuat Milton ditangkap karena penyimpangan) agar bisa bersama sang cinta sejati.

Dampak teknologi seperti itu tak bisa dilepaskan dari obsesi Milton untuk menemukan pasangan sempurna, padahal tak ada jodoh yang sempurna atau 100 persen sesuai dengan kepribadian kita—meskipun mesin algoritma menyimpulkan demikian. Obsesi itulah yang mendorong Milton melampaui batas-batas etika dalam pemanfaatan teknologi: mengumpulkan data pribadi orang lain dan memanipulasinya untuk kepentingan diri sendiri.[]


1Mutivac adalah nama superkomputer fiksi yang kerapkali muncul dalam novel-novel fiksi ilmiah karya Isaac Asimov.


Isaac Asimov

Isaac Asimov (1920-1992) adalah pengarang Amerika Serikat kelahiran Rusia. Profesi dia sebenarnya adalah profesor biokimia di Boston University. Tapi, Asimov lebih dikenal orang berkat karya-karya sains fiksinya. Di bidang ini, dia dipandang sebagai “Big Three” pengarang sains fiksi pada masanya, bersama Robert Heinlein dan Arthur C Clarke.

Karya paling terkenal Asimov adalah trilogi Foundation, yang memenangi Hugo Award. Dalam trilogi ini, dia menciptakan teori fiktif “psikohistori”. Dengan menggabungkan sejarah, sosiologi, dan statistik matematis, teori ini dapat memprediksi masa depan populasi manusia, termasuk perilakunya. Ekonom peraih Nobel, Paul Krugman, mengatakan teori fiktif Asimov inilah yang menginspirasinya untuk mempelajari ekonomi.

Hingga akhir hayatnya, Asimov telah menulis dan menyunting 500 buku, baik fiksi maupun non-fiksi. Dia juga mengarang ribuan cerpen. Salah satunya adalah “Nightfall” (1941), yang dipuji sebagai salah satu cerpen (untuk ukuran Indonesia lebih bisa dianggap novela) terbaik sepanjang masa oleh Science Fiction Writers of America.[]

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Latest from Nukilan

Terbang

Cerpen Ayu Utami Dengan berlatarkan kecemasan terkait keamanan transportasi udara, Ayu Utami

Pemintal Kegelapan

Cerpen Intan Paramaditha Dalam cerpen ini, Intan Paramaditha meramu horor dan misteri

Sehabis Mimpi

Cerpen Ajip Rosidi Cerpen “Sehabis Mimpi” berlatar kehidupan pada 1950-an. Dalam cerpen

Saya Seorang Fanatik!

Dalam artikel ini, Habib Ali Al-Jufri menyatakan kefanatikan bisa terjadi pada siapa
Go to Top