JELAJAH LITERASI

Lain Bangsa, Lain Nasib Buku

in Bukupedia by

Ketika banyak penerbit di Indonesia mengalami penurunan penjualan di masa pagebluk, toko-toko buku di sejumlah negara Eropa dan Amerika masih bisa bernapas lega. Orang justru gila-gilaan membeli buku, bahkan buku yang mereka istilahkan “buku-buku gemuk” (fat books).

DI MASA pandemik Covid-19, orang kian selektif dalam konsumsi. Bukan hanya karena banyak toko dan pedagang tutup akibat kebijakan penjarakan fisik di sejumlah negara, tapi juga pendapatan banyak orang menukik tajam, sehingga mereka mengetatkan pengeluaran. Konsumsi lebih difokuskan kepada barang-barang penting untuk bertahan hidup: makanan, air, dan obat-obatan.

Akibatnya, banyak penjualan produk selain itu meluncur hingga titik ekstrem, termasuk buku. Di Indonesia, banyak penerbit mengeluhkan hal ini. Mizan Pustaka, salah satu grup penerbit ternama, mengatakan penjualan mereka turun hingga 40 persen pada Maret 2020 dan diperkirakan penurunan bakal mencapai 60 persen pada April 2020. Gramedia, grup penerbit dan penjual buku terbesar, juga mengalami hal serupa. Penjualan mereka tinggal sekitar 30 persen saja sejak 61 toko buku Gramedia tutup untuk sementara.1

Tapi, di sejumlah negara Eropa, seperti Jerman, Perancis, dan Belgia, serta di Amerika Serikat kondisinya sedikit berbeda. Penjualan buku fisik malah lumayan meningkat. Salah satu toko buku di Berlin mengatakan kepada Ephrat Livni, reporter senior Quartz, orang justru gila-gilaan membeli buku. Bahkan, buku yang diburu bukan yang biasa-biasa, melainkan yang mereka istilahkan dengan “buku-buku gemuk” (fat books); buku-buku tebal.2

“Orang-orang benar-benar membeli tumpukan buku,” kata John Owen, salah satu pemilik toko buku yang diwawancarai Livni. “Bahkan semakin banyak orang membeli apa yang disebut buku-buku besar dan gemuk.”

Livni menyebut buku anak-anak paling diminati. Buku-buku tentang pandemi flu pada awal Abad ke-20 pun habis terjual. Salah satu buku yang laris manis di Eropa pada masa pagebluk adalah novel Station Eleven karya Emily St John Mandel, kisah tentang keruntuhan peradaban manusia.

The Independent juga melaporkan buku anak-anak menempati peringkat pertama buku laris dalam daftar “Penjualan Terbaik Amazon”. Pemuncak peringkat adalah The Big Book of Silly Jokes for Kids, buku berisi lebih daripada 800 humor untuk anak-anak. Menyusul di peringkat berikutnya, sebuah buku pra-TK dan It’s Not Easy Being a Bunny, sebuah buku bergambar. Tampak para orang tua berupaya membuat anak-anak mereka tetap terhibur dan menambah ilmu selama sekolah tutup dan mereka tak bisa ke mana-mana.3

Beberapa toko buku di negara-negara tadi memilih tetap buka di tengah kebijakan penjarakan fisik. Tapi, mereka tetap menerapkan langkah pencegahan penyebaran virus Corona. Toko buku milik Owen, misalnya, memisahkan antara pelanggan dan pegawai toko dengan tirai plastik. Sementara, Capitol Hill Books di Washington, DC, punya cara unik melayani pelanggannya. Toko buku ini hanya buka dengan janji temu. Tiap slot janji temu hanya akan didatangi maksimal empat pelanggan selama satu jam masa pembelian. Luar biasanya, menurut pemiliknya Kyle Burk, tiap slot sudah dipesan habis selama sepekan. Lalu, setiap pelanggan yang datang harus mencuci tangan sebelum masuk, mengenakan sarung tangan, dan menjaga jarak minimal satu meter dari satu sama lain.

Selain penjualan daring yang justru mengalami kenaikan, toko-toko buku fisik di Eropa dan Amerika tampaknya masih bisa bernapas lega. Ini menunjukkan budaya literasi mengakar kuat pada bangsa-bangsa tersebut.

Tentu saja buku tak ‘sepenting’ makanan, air, dan obat-obatan dalam bertahan hidup secara teknis, terutama di masa pagebluk. Namun, menurut Livni, buku tetaplah ‘makanan’ bagi pikiran. Di masa-masa seperti ini, saat pikiran didera kenyataan tak seusia harapan (penghasilan berkurang, terkurung di rumah), membaca justru menyediakan pengalaman lain yang lebih menyenangkan, memberi makna pada peristiwa saat ini, dan bahkan bisa mengeluarkan pikiran kita dari ‘penjara’ penjarakan fisik di masa wabah. Di titik ini, buku bisa meningkatkan sistem kekebalan tubuh dalam menghadapi ancaman virus.

Livni mengutip kalimat Ray Bradbury dalam Fahrenheit 451, novel distopia tentang masyarakat yang doyan melarang dan membakar buku. “Buku hanyalah satu jenis wadah tempat kita menyimpan banyak hal yang kita khawatir akan kita lupakan. Sama sekali tidak ada yang ajaib di dalamnya. Keajaibannya hanya ada dalam apa yang dikatakan dalam buku-buku itu, bagaimana ia menjahit potongan-potongan alam semesta ini menjadi satu sulaman bagi kita.”

Namun demikian, Owen dan Burk bukan tak merasakan kecemasan. Jika kondisi tak segera membaik dalam tiga bulan ke depan, keduanya memerkirakan toko buku mereka pada akhirnya bisa kolaps juga. Owen lalu mencoba berkreasi. Dia mengemas paket-paket buku dalam tema-tema tertentu dengan tawaran menarik. Satu paket, misalnya, berisikan buku-buku bertema distopia dan kehancuran. Paket lainnya terdiri dari buku-buku menyenangkan, yang sama sekali jauh dari tema-tema bencana. Sementara, Burk meminta pemerintah Amerika membantu dengan memberi sejumlah insentif. Bagi Burk, kematian toko buku (dan tentu saja penerbit dalam konteks ini) selevel dengan kehilangan tak ternilai dari peradaban suatu bangsa.

Pada akhirnya, menurut Livni, jika budaya literasi sekarat gara-gara pagebluk ini, maka generasi di masa depan tak akan bisa menjadi saksi dari kisah generasi kita. “Kisah yang kita tulis tentang apa yang kita jalani hari ini adalah cara orang (hari ini) membaca (novel) The Plague karya Albert Camus.”

“Segala sesuatunya berawal dan berakhir sebagai kisah,” kata Ragnar Lothbrok, pemimpin legendaris kaum Viking dalam serial epik sejarah Vikings.[]

[Foto: Toko buku fisik Amazon; Sumber: www.dallasnews.com]


1Dewi Ria Utari, “Ke Mana Masa Depan Perbukuan Indonesia Pasca Pandemi”, www.pulauimaji.org, 1 Mei 2020.

2Ephrat Livni, “The importance of books as we struggle with COVID-19 “, www.weforum.org, 7 April 2020.

3Clemence Michallon, “Coronavirus: People are stocking up on children’s books during pandemic, Amazon ranking shows”, www.independent.co.uk. 25 Maret 2020.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Latest from Bukupedia

Buku Panduan Membunuh

Kebebasan datang dengan tanggung jawab. Di alam kebebasan, penulis dan penerbit harus

Menulis di Masa Corona

Menulis bisa menjadi katarsis di masa-masa sulit. Menulis punya keistimewaan. Tak hanya

Geliat Buku Audio

Buku audio semakin menunjukkan eksistensi. Format ini mulai digarap serius, bahkan menjelma
Go to Top