JELAJAH LITERASI

Seorang Serdadu Bermimpi Lili Putih

in Nukilan by

Puisi Mahmoud Darwish

Puisi ini gubahan Mahmoud Darwish, penyair terkenal Palestina. Diterbitkan pertama kali pada 1973 dengan judul asli Jundiyyun Yahlumu bi al-Zanabiq al-Baydho’a, puisi ini dipandang paling menonjol dari karya-karya lain Darwish. Ini karena ia berbicara tentang seorang serdadu Israel.

Dia bermimpi tentang lili putih
tentang ranting zaitun
tentang buahnya yang mekar kala senja
dia berkata, aku bermimpi tentang burung-burung
tentang bunga lemon
tak pernah dia menganalisis mimpi,
sebab dia memahami sesuatu seperti apa yang dia rasa… seperti apa yang dia ciumi.

Dia memahami, katanya,
“Tanah air itu seperti aku menghirup kopi ibuku,
seperti aku pulang saat malam menjelang.”

Kutanya: Dan negeri itu?

“Aku tak tahu itu,” jawabnya.
“Tak pernah kurasa itu bagian dari tubuh dan darahku,
seperti yang disenandungkan dalam puisi-puisi
Kulihat negeri seperti aku memandangi toko-toko… jalan-jalan… dan koran-koran.”

Kutanya: kau mencintai negeri itu?

“Kecintaanku hanya pada tamasya singkat,” jawabnya.
“Atau pada segelas anggur… atau pada petualangan cinta.”

Maukah kau mati untuk negeri itu?

“Tentu tidak,
apa yang mengikatku dengan negeri itu hanyalah tulisan dan pidato berapi-api,
yang mengajariku mencintai negeri itu
tapi tak pernah kurasakan itu dalam hatiku
tak pernah kuhirup aroma rerumputan, akar, dan dahan-dahannya.”

Dan bagaimana kau mencintainya? Apakah cinta itu menyengat seperti matahari atau sang kekasih?

Dia menatapku dan menjawab:
“Kucintai negeri itu dengan senjata
dengan hari-hari raya reruntuhan masa lalu
dengan diamnya berhala-berhala kuno
dari masa dan identitas yang telah hilang.”

Dia mengisahkan kepadaku tentang momen perpisahan
tentang ibunya yang menangis dalam diam
saat mereka mengutusnya ke garis depan
dan suara derita ibunya menggali dari bawah kulitnya
sebuah harapan baru:

“O, seandainya merpati hinggap di Kementerian Pertahanan.”
“O, seandainya ia hinggap…”

Dia menghisap rokoknya, dan berkata kepadaku, seakan baru keluar dari rawa-rawa darah.

“Aku telah bermimpi tentang lili putih
tentang ranting-ranting zaitun
tentang burung-burung yang memeluk pagi
di atas dahan-dahan lemon.”

Lalu apa yang kaulihat?

“Kulihat apa yang kulakukan:
duri-duri memerah darah
yang kuledakkan ke pasir… ke dada-dada (mereka)… ke perut-perut (mereka).”

Dan berapa yang kaubunuh?

“Sulit untuk kuhitung, tapi kudapat satu medali.”

Pedih kurasa, dan kutanya: ceritakan kepadaku satu saja.
Dia memerbaiki duduknya sambil memainkan koran terlipat.
Dia lalu berkata seakan menyenandungkan lagu:

“Bagaikan tenda, dia tumbang di atas kerikil,
memeluk bintang-bintang yang hancur berkeping
di atas dahinya ada mahkota darah
dadanya tanpa medali karena dia bukan serdadu
tampak dia hanya seorang petani, buruh, atau pedagang.
Seperti tenda, dia tumbang ke atas kerikil… dan mati
tangannya membujur kaku bak dua anak sungai kering kerontang
ketika kurogoh sakunya untuk mencari namanya,
kutemukan dua foto, satu istrinya, satu anak perempuannya.”

Apa kau bersedih? Tanyaku.

Dia memotong dan berkata, “Sahabatku Mahmoud,
kesedihan adalah burung putih,
yang takkan mendekati palagan.
Dan serdadu akan berdosa saat bersedih
di sana aku hanya mesin, menyemburkan api dan kematian
mengubah langit jadi burung hitam.”

Lalu dia berkisah tentang cinta pertama,
tentang jalan-jalan nun jauh di sana
tentang reaksi terhadap perang
tentang media dan radio yang heroik
dan saat dia sembunyikan batuknya dalam sapu tangan,
kutanya: akankah kita bertemu lagi?

“Ya, di sebuah kota yang jauh.”

Dan ketika kuisi gelas keempatnya, aku bertanya seraya bergurau: apa kau akan pergi? Bagaimana dengan tanah air ini?

“Biarkan,” jawabnya
“Sungguh aku bermimpi tentang lili putih
tentang jalan-jalan yang bernyanyi
tentang rumah yang bercahaya
sungguh kurindu jiwa pemurah, bukan senjata yang terkokang
kurindu hari yang bersinar, bukan hari-hari gila penaklukan para fasis
kurindu seorang anak yang tersenyum, yang menjumpai hari dengan tawa, bukan serpihan mesin pertempuran
kuhidup untuk matahari yang terbit, bukan yang tenggelam.”

Kemudian dia meninggalkanku, hendak mencari lili putih,
burung-burung yang menyambut pagi,
di atas dahan-dahan zaitun,
karena dia memahami sesuatu hanya dari apa yang dia rasa… yang dia ciumi.
Baginya, katanya kepadaku, tanah air adalah

“Tempat kuhirup kopi ibuku, dan pulang dengan selamat
saat malam datang.”[]

[Puisi ini diterjemahkan dari teks Arab-nya dan kemudian dibandingkan dengan terjemahan dalam bahasa Inggris oleh Munir Akash dan Carolyn Forche dalam Unfortunately, It Was Paradise, kumpulan puisi Mahmoud Darwish yang diterbitkan University of California Press pada 2003]

[Puisi ini (dalam bahasa Inggris berjudul A Soldier Dreams of White Lilies) digubah Mahmoud Darwish pada 1967. Seorang sejarawan Israel, Shlomo Sand (penulis buku kontroversial The Invention of the Jewish People), yang bersahabat baik dengan Darwish, mengaku puisi itu tentang dirinya saat dia bertugas sebagai serdadu dalam Perang Enam Hari pada 1967]

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Latest from Nukilan

Pada Suatu Hari

Cerpen Gabriel Garcia Marquez Catatan Redaksi: Cerpen ini karya Gabriel Garcia Marquez.

Apa Itu Filsafat Islam?

Haidar Bagir Catatan Redaksi: Belakangan ini viral “meme” tentang keharaman filsafat dalam

Permainan Makna

Sapardi Djoko Damono Dinukil dari Proses Kreatif: Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang
Go to Top