JELAJAH LITERASI

Louise Gluck: Sekilas Karya dan Proses Kreatif Peraih Nobel Sastra 2020

in Bukupedia by

Setelah 52 tahun menjadi penyair dan memengaruhi banyak penyair muda pada masanya, Louise Elisabeth Gluck akhirnya dianugerahi Nobel Sastra 2020. Siapakah Gluck? Bagaimana karyanya? Bagaimana ia menggubah sebuah puisi?

SVENSKA Akademien atau Akademi Swedia, institusi yang ditugasi untuk memilih peraih Hadiah Nobel di bidang Kesusastraan, telah memutuskan untuk menganugerahkan hadiah tersebut pada 2020 kepada penyair Amerika Serikat, Louise Elisabeth Gluck (77 Tahun). Akademi menyatakan, puisi-puisi Gluck bersuara jernih dan indah sehingga membuat eksistensi individual menjadi universal.

Penganugerahan Nobel Sastra tahun ini tampaknya tak akan memicu kontroversi seperti tahun sebelumnya. Ini bukan semata karena pandemi, tapi figur kepenyairan Gluck memang nyaris tak bisa diberi label politis atau ideologis. Pemenang 2019, pengarang-penyair Austria Peter Handke, memicu keributan dan protes karena Handke pernah terang-terangan mendukung Serbia dalam Perang Balkan 1990.

Selama 52 tahun karirnya sebagai penyair dan kritikus sastra, Gluck lebih berfokus kepada nilai intrinsik sastra. Puisi-puisinya juga bertema persoalan-persoalan pribadi manusia: trauma, kesendirian, ketakutan, kehilangan, kegagalan, dan kematian.

Namun, pada saat yang sama, kita bisa keliru jika menggolongkan Gluck hanya sebagai penyair confessional, atau yang berfokus kepada pengungkapan perasaan “aku”. Dalam perkembangan kepenyairannya, suara Gluck mulai menempati persona-persona lain, terutama ketika dia mengeksplorasi filsafat dan mitologi, seperti dalam kumpulan puisi The Triumph of Archilles (1985), Ararat (1990), dan Averno (2006).

Tak heran jika banyak kritikus berdebat saat mencoba memberi label pada perempuan penyair kelahiran New York 1943 itu. Dan Gluck tampaknya nyaman-nyaman saja berada dalam keserbaantaraan.

Keserbaantaraan itulah justru yang menjadi keunikan Gluck. Dia bermain-main dengan ambivalensi emosi dan diksi yang jelas-jernih. Hasilnya, puisi-puisinya mudah diakses oleh penikmat awam tapi pada saat yang sama memiliki lapisan makna dalam.

A child draws the outline of a body.
She draws what she can, but it is white all through,
she cannot fill in what she knows is there.
Within the unsupported line, she knows
that life is missing…

Kutipan dari “Descending Figure” (1980) di atas menunjukkan ciri khas Gluck. Bentuk bait di atas liris tapi tak menggunakan rima. Ia lebih mengandalkan enjembemen untuk menimbulkan irama bagi pembacanya.

Pembaca juga bisa menafsir bait di atas sebagai ekspresi seorang perempuan yang merasa selalu dikecualikan dalam dunia yang didominasi pria kulit putih. Gluck berbicara tentang hal itu tanpa harus berpolemik dan dilabeli “penyair-feminis”. Puisinya memperlihatkan kedalaman di balik kemudahan yang tampak.

Tema seperti itu—yang dibungkus dalam kejernihan diksi—juga terdapat dalam puisi-puisinya yang lain. Dia memilih kata dengan sangat hati-hati. Ia tampak menginginkan kata yang terpilih bisa mengungkap sesuatu yang tak tampak tapi tetap dalam kesederhanaan. Puisi “Mock Orange” dari kumpulan The Triumph of Archilles di bawah ini juga menunjukkan hal itu.

It is not the moon, I tell you.
It is these flowers
lighting the yard.

I hate them.
I hate them as I hate sex,
the man’s mouth
sealing my mouth, the man’s
paralyzing body—

and the cry that always escapes,
the low, humiliating
premise of union—

In my mind tonight
I hear the question and pursuing answer
fused in one sound
that mounts and mounts and then
is split into the old selves,
the tired antagonisms. Do you see?
We were made fools of.
And the scent of mock orange
drifts through the window.

How can I rest?
How can I be content
when there is still
that odor in the world?

Dalam sebuah wawancara, Gluck mengakui dia terobsesi dengan kata. Dia tak pernah bisa tenang sampai menemukan kata-kata yang pas. Dia bilang, kalau menulis sangat cepat, dia seakan merasa puisi itu bukan berasal darinya.

Dia bercerita, suatu ketika dia sampai memikirkan sebuah draf puisi di tempat tidur. Lalu, dia merasa bahwa satu larik akan lebih pas jika disampaikan dalam bahasa Jerman, padahal dia tak berbicara dalam bahasa tersebut. Setelah menelepon kawannya untuk menanyakan apa bahasa Jerman yang tepat untuk menggambarkan larik tersebut, dia pun menuliskan bait itu sebagai berikut.

In the silence of consciousness I asked myself:
why did I reject my life? And I answer
Die Erde überwältigt mich:
the earth defeats me.

(“Landscape” dalam Averno)

Meskipun tentu saja Nobel sangat prestisius, Gluck sebenarnya sudah kenyang dengan penghargaan sastra. Dia menjadi langganan penghargaan bergengsi lain, seperti National Book Award in Poetry, Bingham Poetry Prize (dari Boston Book Review), Book Award in Poetry (dari The New Yorker), Pulitzer Prize, William Carlos Williams Award (dari Poetry Society of America); Rebekah Johnson Bobbitt National Prize for Poetry (dari Library of Congress); National Book Critics Circle Award, Literary Press Award (dari The Boston Globe), dan Melville Kane Award (dari Poetry Society of America).

Gluck pernah mengatakan, menjadi penyair adalah suatu keajaiban. Sebab, tak banyak orang bercita-cita menjadi penyair, dan bahkan cita-cita seperti itu tak akan pernah dibayangkan orang. Tapi, inilah pilihan hidupnya, sesuatu yang memang ingin dia lakukan.

Pilihan itu justru kini menempatkannya dalam posisi terhormat dalam kesusastraan Amerika dan dunia. Dia salah satu penasehat pada Academy of American Poets sejak 1999. Pada 2003 hingga 2004, dia menjadi “Poet Laureate of the United States”, semacam duta yang bertugas selama satu tahun untuk meningkatkan kesadaran bangsa Amerika kepada membaca dan menulis puisi.

Selain menggubah puisi, Gluck mengajar di Yale University sebagai guru besar lepas atau adjunct professor. Padahal, Gluck tidak memiliki gelar akademik apa pun.

Dia menderita anokresia (gangguan makan) sejak remaja hingga usia awal dewasa. Kondisi kesehatan inilah yang membuatnya tak bisa menempuh pendidikan tinggi hingga tuntas meskipun sempat mengikuti kelas menulis puisi di bawah bimbingan penyair besar Amerika Leonie Adams dan Stanley Kunitz di Columbia University.[]

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Latest from Bukupedia

Mengapa Membaca Buku?

Oleh Bambang Sugiharto Menurut Guru Besar Filsafat Unpar Bandung, Bambang Sugiharto, lemahnya
Go to Top