JELAJAH LITERASI

Donald Trump: Si Pelaris Buku

in Bukupedia by

Buku-buku tentang Donald Trump, yang seluruhnya bercerita negatif tentang Sang Presiden, laris manis. Semuanya menembus jutaan kopi dalam waktu singkat.

BELUM habis keterkejutan publik Amerika Serikat dengan penerbitan The Room Where It Happened karya John Bolton, bekas Penasehat Keamanan Presiden Donald Trump, pada 23 Juni 2020, buku lain tentang Sang Presiden kini muncul lagi. Too Much and Never Enough: How My Family Created the World’s Most Dangerous Man dirilis pada 14 Juli 2020. Ia ditulis oleh Mary Lea Trump, kemenakan Donald Trump, yang bekerja sebagai psikolog klinis.

Jika The Room terjual lebih daripada 800 ribu kopi dalam sepekan penerbitannya, Too Much and Never Enough menembus satu juta kopi pada hari pertamanya. Angka itu disebut dalam program televisi MSNBC, “The Rachel Maddow Show”, yang mewawancarai Mary. Situs berita The Hill menyatakan Too Much and Never Enough sudah laku 950 ribu kopi sebelum hari penerbitannya berakhir dalam berbagai bentuk, baik itu cetak, digital, maupun audio.

Jika diurut ke belakang, Donald Trump bisa dikatakan sebagai pelaris buku. Sejak sang taipan properti asal New York itu menjadi orang pertama di Gedung Putih, buku-buku tentang dirinya, terutama yang bernuansa negatif, laris manis.

Fire and Fury (Januari, 2018) karya jurnalis Michael Wolff, menurut The Hill, kini sudah terjual jutaan kopi. Buku ini bahkan bertengger di daftar puncak “The New York Times Best Seller” selama tujuh pekan berturut-turut sejak 21 Januari hingga 4 Maret 2018, mengalahkan Becoming karya Michelle Obama. Untuk masuk jajaran buku terlaris versi harian itu, sebuah buku mesti terjual 10.000 kopi dalam sepekan.

Nasib baik juga dialami A Higher Loyalty: Truth, Lies, and Leadership (April, 2018) karya eks Direktur FBI, James Comey, yang dipecat Trump pada Mei 2017. Hanya sepekan sejak diterbitkan, penjualan buku ini dalam berbagai bentuk menembus 600 ribu kopi.

Fear: Trump in the White House karya jurnalis investigatif pembongkar skandal Watergate, Bob Woodward, lebih hebat lagi. Hanya dalam waktu sepekan, buku ini sudah terjual 1,1 juta kopi.

Bagi penerbitnya, Simon & Schuster, Fear adalah buku terlaris sepanjang 96 tahun sejarah mereka. Too Much and Never Enough yang juga diterbitkan oleh Simon & Schuster berpotensi memecahkan rekor Fear.

Berikut ini profil singkat buku-buku tentang Trump sejak ia menjadi Presiden Amerika Serikat.

Fire and Fury (Januari 2018; Henry Holt and Company)

Buku ini memuat kisah dan penyataan tentang Donald Trump dari para staf tim kampanye dan pembantunya di Gedung Putih, termasuk penasehat senior. Michael Wolff, seorang jurnalis kontributor USA Today dan The Hollywood Reporter, mengklaim mewawancarai lebih daripada 200 staf dan penasehat Trump.

Wolff mengaku mendapatkan akses ke sejumlah peristiwa penting di pusat kekuasaan Amerika itu. Ini membuatnya bisa merekam sejumlah percakapan untuk kemudian menyampaikan pandangannya atas peristiwa tersebut. Trump membantah pernah mengizinkan akses kepada Wolff ke Gedung Putih.

Dalam buku ini, Wolff menyimpulkan “100 persen” orang di sekitar Trump, termasuk penasehat seniornya, menganggap Trump tak layak jadi presiden. Selain tak memahami konstitusi, Trump kerap membuat kebijakan yang membingungkan para staf dan penasehat.

A Higher Loyalty: Truth, Lies, and Leadership (April 2018; Macmillan)

Buku ini sebenarnya lebih merupakan autobiografi James Comey dalam menjalani karir di bidang hukum dan pemerintahan. Karena Comey masih menjabat Direktur FBI (masa jabatan 10 tahun) pada masa pemerintahan Trump, buku ini juga berisi pengalaman Comey berinteraksi dengan Trump, terutama dalam konteks penyelidikan skandal “intervensi Rusia” dalam tim kampanye Trump.

Dalam hubungannya dengan Trump, Comey mengatakan Sang Presiden memintanya untuk “setia”. Tapi, Comey lebih memilih kesetiaan yang lebih tinggi, kepada hukum dan kebenaran. Buku ini berisi pembelaan Comey atas tindakannya menyelidiki skandal “intervensi Rusia” dalam pemilihan Presiden 2016 (termasuk juga pembelaannya dalam investigasi skandal email Hillary Clinton).

Fear: Trump in the White House (September 2018; Simon & Schuster)

Seperti Fire and Fury, buku ini berisi kisah yang didasarkan pada wawancara staf pemerintahan Trump. Bob Woodward bersama Carl Bernstein pernah memperoleh Pulitzer dalam liputannya tentang skandal Watergate pada masa pemerintahan Richard Nixon. Dia mengatakan judul buku ini diambil dari wawancaranya dengan Trump pada 2016. Trump saat itu mengatakan, “Kekuasaan sejati adalah, saya bahkan tak mau menggunakan kata ini: ketakutan (fear).”

Selain wawancara, Woodward melengkapi bukunya dengan catatan pertemuan, sejumlah berkas dokumen, dan catatan harian beberapa sumber. Hasilnya, buku ini menggambarkan pemerintahan Trump kacau balau, tak berjalan sesuai fungsi, dan tak siap menghadapi berbagai situasi.

Para staf tak menaruh kepercayaan kepada Trump. Mereka bahkan kerap harus “mencuri” dokumen dari meja Trump untuk mencegah Sang Presiden menekennya.

Sejumlah kutipan negatif atas Trump juga ditulis Woodward. Bekas Kepala Staf Gedung Putih, John Kelly menyebut Trump idiot dan mentalnya tak stabil. Bekas Menteri Pertahanan James Mattis mengatakan pemahaman bosnya tentang pemerintahan setara dengan anak kelas lima dan enam sekolah dasar.

The Room Where It Happened: A White House Memoir (Juni 2020; Simon & Schuster)

Penerbitan buku ini—dan sebelumnya pengunduran diri John Bolton (setelah ditekan Trump)—sama-sama mengejutkan. Bolton dan Trump bisa dikatakan dua sejoli karena sama-sama “gila”. Trump ambisius karena kepentingan pribadi sementara Bolton lebih ideologis.

The Room berisi pengalaman Bolton mendampingi Trump dalam memberi saran kebijakan, terutama terkait politik luar negeri Amerika. Bolton, dalam buku ini, menyimpulkan Trump bisa melakukan apa pun demi kepentingan pribadinya.

Misalnya, Trump meminta Presiden Cina, Xi Jinping, membantunya agar menang dalam pemilihan presiden 2020. Sebagai imbalan, Trump bersedia menurunkan tarif atas barang-barang impor dari Cina. Trump juga berjanji akan menyuarakan persetujuan atas kebijakan Beijing di Xinjiang.

Di Timur Tengah, Trump menelepon Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, dan berjanji akan “menangani” investigasi Amerika atas bank milik Turki, Halkbank, yang terseret kasus penipuan senilai 20 miliar dolar AS. Trump juga membela Putra Mahkota Arab Saudi, Muhammad bin Salman, dalam kasus pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi (meskipun investigasi AS sendiri mengindikasi keterlibatan Sang Pangeran).

Gedung Putih berupaya menghalangi penerbitan buku ini karena alasan keamanan nasional. Bolton, menurut mereka, terikat dengan kesepakatan “non-disclosure” saat menerima jabatan Penasehat Keamanan Nasional. Tapi, upaya ini gagal karena pengadilan akhirnya memutuskan Bolton bisa tetap menerbitkan buku ini.

Sejumlah kritikus independen menilai buku ini hanya memuat kisah dari sisi Bolton, yang sangat mungkin tidak benar dan dipalsukan. Apalagi kemudian diketahui Bolton menerima bayaran 2 juta dolar di muka.

Too Much and Never Enough: How My Family Created the World’s Most Dangerous Man(Juli 2020, Simon & Schuster)

Buku ini menyajikan pandangan dari dalam keluarga besar Trump. Mary Lea Trump, penulisnya, adalah kemenakan Trump dari Frederick Trump Jr, kakak tertua Sang Presiden. Mary dan saudaranya pernah berseteru dengan keluarga besar Trump dalam memperebutkan warisan kakek mereka, Frederick Christ Trump atau Fred Trump Sr.

Dalam pemilihan presiden 2016, Mary mendukung rival pamannya, Hillary Clinton. Dalam buku ini, juga diungkap bahwa Mary adalah sumber anonim dari laporan The New York Times yang mengungkap skandal pajak keluarga Trump. Laporan yang terbit pada 2018 ini kemudian mendapatkan Pulitzer atas nama jurnalis David Barstow, Susanne Craig, dan Russ Buettner.

Too Much adalah biografi keluarga besar Trump yang ditulis kronologis. Dengan latar belakangnya sebagai psikolog, Mary menilai kakek mereka, Fred Trump Sr, sebagai sosiopat yang sangat berpengaruh terhadap pribadi Donald Trump. Keduanya memiliki kesamaan karakter: memanfaatkan orang-orang di sekitarnya demi kepentingan pribadi. Mary juga membahas rinci persoalan bisnis dan keuangan keluarga tersebut.

Keluarga besar Trump, termasuk Donald sendiri, dilaporkan tengah mengajukan gugatan hukum atas Mary. Sebagai anggota keluarga besar, Trump mengatakan Mary memiliki kesepakatan “non-disclosure” untuk tidak menulis buku tentang mereka.

Buku ini mendapatkan sambutan positif dari sejumlah kritikus. Pendekatan psikologis yang ditempuh Mary berbeda dari buku-buku sebelumnya.

Selain empat buku tersebut, The Hill melaporkan buku lain akan terbit. Andrew Weissman, salah seorang bekas penyidik Jaksa Khusus Robert Mueller, bakal menulis pengalamannya selama dua tahun mendampingi Mueller dalam penyelidikan skandal “intervensi Rusia” pada pemilihan 2016.

Buku tersebut akan diberi judul “Where Law Ends: Inside the Mueller Investigation”. Penerbit Random House yang dikabarkan mendapatkan hak penerbitannya mengatakan buku ini akan meluncur pada akhir September tahun ini, atau sebelum pemilihan presiden 2020 pada 3 November.[]

[Sumber foto: The Guardian]

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Latest from Bukupedia

Mengapa Membaca Buku?

Oleh Bambang Sugiharto Menurut Guru Besar Filsafat Unpar Bandung, Bambang Sugiharto, lemahnya

Buku Panduan Membunuh

Kebebasan datang dengan tanggung jawab. Di alam kebebasan, penulis dan penerbit harus
Go to Top