“Love & Happiness”: Mencari Cinta dan Kebahagiaan dengan Mengenali Diri

in Suluk by

Love & Happiness berisi pesan-pesan singkat menyentuh tentang apa yang kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Dalam buku ini, kita bisa menemukan spirit Yasmin Mogahed untuk menemukan cinta dan kebahagiaan dengan mengenali diri sendiri, dan pada ujungnya mengenali kesempurnaan Tuhan.

LOVE & Happiness karya Yasmin Mogahed bacaan singkat. Anda bisa membaca dalam satu kesempatan. Buku ini memang kumpulan kutipan. Ia tampaknya disarikan dari buku lain Yasmin, Reclaim Your Heart (juga sudah diterjemahkan dan diterbitkan Mizan). Reclaim Your Heart menjadi karya Yasmin paling terkenal dan sempat masuk dalam daftar 100 buku terlaris di Amazon sejak 2012.

Kutipan-kutipan dalam Love & Happiness berisi pesan-pesan singkat menyentuh tentang apa yang kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun buku ini bertajuk “cinta dan kebahagian”, Anda tentu saja akan menemukan petitih tentang hal-hal yang menjadi teman keduanya: kepedihan, kesendirian, kegagalan, dan ketakutan.

  • Judul Buku: Love & Happiness: Renungan tentang Cinta dan Kebahagiaan
  • Penulis: Yasmin Mogahed
  • Penerbit: Mizan
  • Terbit: Agustus, 2018
  • Tebal: 144 halaman

Dari semua kutipan bak-puisi dalam buku ini, kita bisa menemukan satu spirit Yasmin, yakni bagaimana menemukan cinta dan kebahagiaan dalam mengenali diri sendiri, dan pada ujungnya mengenali kesempurnaan Tuhan. Yasmin misalnya memahami apa yang kita alami, termasuk misteri dari segenap penderitaan kita, sebagai bagian dari kesempurnaan desain penciptaan Tuhan.

Banyak kepingan yang membentuk
hidup kita. Momen-momen yang
menghancurkan kita. Momen yang
mengangkat dan membentuk kita.
Keputusan yang membuat kita
bertahan. Atau melepaskan. Orang-orang
yang singgah di kehidupan kita
dan mengubah kita selamanya. Mereka
yang kita cintai, mereka yang melukai,
menyembuhkan, atau meninggalkan
kita.

Terkadang, kita tidak mengerti makna
kepingan-kepingan ini, bahkan kita
berputus asa karenanya. Hanya ketika
waktu berlalu dan kita bisa menengok
ke belakang, tiba-tiba kita memandang
hidup bagaikan sebuah teka-teki
yang didesain nan sempurna.

Jangan takut dengan kepingan-kepingan
teka-teki yang kau hadapi sekarang.
Kepingan itu akan pas sempurna
dengan hidupmu… seperti kepingan-kepingan
lainnya. Bagaimana tidak?
Sang Perancang adalah Mahasempurna.

Tapi, Yasmin tak hendak menyarankan kita bersikap apatis, pasif, dan apalagi fatalistik. Dia tetap menekankan pentingnya kita bergerak dan berusaha karena gerak dan usaha kita adalah bagian dari rancangan Mahasempurna tadi. Mungkin ini bisa dibilang sebagai “keistimewaan” dari upaya mengenali kesempurnaan Tuhan dengan mengenali diri sendiri. Kita terhindar dari lompatan simpulan bahwa segalanya “takdir Ilahi” semata.

Tragedi terbesarmu adalah saat kau menemukan
kenyamanan dalam tragedimu. Karena, itu terasa
akrab. Rasa sakit adalah keamanan.

Cinta, kegembiraan, dan membuka diri kepada
dunia tidaklah aman. Karena, semua itu bisa hilang.

Jadi, kau lebih memilih “keamanan” penjaramu,
daripada risiko untuk mengejar kebahagiaan.
Kau memilihnya karena inilah yang kau kenal selama
ini. Bagimu, rasa sakit lebih baik daripada mati rasa.
Jadi, kau pun menemukan keamanan di dalamnya.
Ini bagaikan kau menyakiti dirimu sendiri.
Menyayat diri sendiri demi bisa merasa. Karena,
bagimu, merasakan sesuatu lebih baik daripada
tak merasakan apa pun sama sekali.

Hentikan menyakiti diri. Jika Allah memberimu
karunia dan kau menerimanya, tapi tak bersyukur,
itu artinya kau tak tahu terima kasih. Namun,
jika Allah memberimu karunia dan kau menolak
menerimanya, itu namanya tak tahu diri.

Mengetahui diri, apa yang kita lakukan, dan apa yang menimpa kita sebagai bagian dari desain Sang Pencipta menjadi penting. Sebab, tak sedikit orang sekonyong-konyong menisbatkan kemalangan sebagai semata “hukuman” Tuhan.

Bagi mereka yang menderita karena
kesedihan atau depresi, ketahuilah
bahwa itu bukan karena kau lemah.
Bukan karena kau kurang bersyukur.
Bukan karena kau tidak cukup religius.
Bukan karena imanmu lemah.
Dan, bukan karena Allah murka kepadamu.

Dalam buku ini, Yasmin menggambarkan kasih sayang Tuhan bak kasih sayang seorang ibu—dan bahkan lebih. Jadi, semurka apa pun Tuhan kepada kita, Dia tak akan pernah meninggalkan hamba-hamba-Nya dalam penderitaan dan kemalangan tak tertanggungkan sepanjang mereka tetap berharap, berdoa, dan berupaya.

Jangan anggap kemalangan dalam hidupmu
hanya sebagai sebuah “ujian” dalam mata manusia.
Allah tak seperti guru yang memberimu ujian lalu
pergi dan mengamati dari jauh, sampai mana kau
bisa mengerjakannya. Allah adalah murabbi kita—Dialah
yang memberi kita lebih banyak kasih sayang, lebih
banyak daripada kasih seorang ibu kepada anaknya…

…bayangkan seorang anak yang
telah membuat ibunya marah. Tak lama
kemudian, anak tersebut tersandung
dan jatuh di tangga. Bahkan, meskipun
sang ibu baru saja berurai air mata
karenanya, begitu si anak jatuh dan
menangis meminta tolong, sang ibu
segera berlari kepadanya. Ini adalah
kasih sayang manusia. Dan, kasih
sayang Allah jelas jauh lebih besar
daripada kasih sayang seorang ibu
kepada anaknya.

Dengan menengok lebih ke dalam, seseorang bisa melihat sisi berbeda dari penderitaan dan kemalangan. Bahwa persepsi atas berbagai hal bergantung kepada cara pandang. Kesedihan bisa dipandang sebagai gerbang menuju kebahagiaan. Demikian pula kegagalan bisa dilihat sebagai awal dari kesuksesan.

Filosofi seperti ini menjadi arus utama pemikiran para stois Yunani dan Romawi Kuno. Dan Yasmin mendasarkan filosofi ini kepada prinsip ajaran Islam bahwa welas asih Tuhan meliputi segalanya.

Ketika kau mendapat karunia Allah,
jangan simpan dalam hatimu. Simpan
di tanganmu sehingga kau tidak akan
lebih mencintai karunia dibanding
Sang Pemberi karunia. Dan juga saat
karunia itu diambil darimu, kau bisa
dengan ikhlas mengucapkan, “Inna
lillahi wa inna ilaihi raji’un;
Sesungguhnya, kami adalah
kepunyaan Allah dan kepada Allah
jugalah kami kembali.”

kala melakukan dosa, kita
cenderung berkutat pada rasa bersalah
akibat dosa dan tidak mengingat Sang Maha
Pengampun. Kala hancur, kita malah berfokus
pada kehancurannya dan bukan pada
Al-Jabbar, Sang Maha Pembentuk. Kala
kesakitan, kita berfokus pada rasa sakitnya,
bukan pada Dia yang menghilangkan semua
sakit. Kala terluka, kita berfokus pada lukanya,
dan bukan pada Dia Sang Maha Penyembuh
segala luka. Kala takut, kita berfokus pada
rasa takutnya, dan bukan pada Sang Maha
Pelindung… Semua rasa
sakit, keputusasaan, ketiadaan harapan,
berasal dari pandangan yang hanya berfokus
pada makhluk, dan bukan pada Sang Pencipta.

Meskipun bisa dilahap dalam sekali duduk, Love & Happiness bisa menjadi teman pengingat di masa-masa sulit. Kita bisa membacanya ulang dengan perlahan. Karenanya, jika Anda belum pernah membaca Reclaim Your Heart, buku ini tetaplah layak untuk dimiliki dan bahkan dijadikan hadiah untuk sahabat atau keluarga.[]

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*