Pulau Komodo: Yang Terancam Bukan Hanya Kadal Purba, Tapi Manusia dan Budayanya

in Nukilan by

Dalam pendahuluan dan renungan buku Pulau Komodo: Tanah, Rakyat, dan Bahasanya, pastor-linguis Belanda, J.A.J Verheijen, mengungkap kecemasan akan hilangnya budaya dan bahasa asli penduduk Pulau Komodo (Ata Modo) akibat industri pariwisata menjelang penetapan pulau sebagai taman nasional pada 1980.

KOMODO adalah sebuah pulau yang bentuknya berlekuk-liku; bagian yang terpanjang adalah empat puluh kilometer dan bagian yang terlebar dua puluh lima kilometer. Letaknya di antara Sumbawa dan Flores dalam rangkaian Kepulauan Sunda Kecil (Nusa Tenggara), Indonesia. Pulau-pulau lain di dekatnya ialah Rinca dan Padar.

Komodo makin lama makin menjadi terkenal karena di situ terdapat kadal raksasa (Varanus Komodoensis).

Sejak penemuannya pada tahun 1912, kadal ini telah menarik sejumlah besar sarjana ke pulau itu dan akhir-akhir ini menarik beberapa ratus wisatawan setiap tahunnya. Banyak sekali publikasi diterbitkan, tetapi di dalamnya hampir tidak ada perhatian yang diberikan kepada penduduk yang mendiami pulau itu, kecuali bila ada hubungannya dengan perlindungan sang Varanus.

Sejak 1975, dalam rangka persiapan National Park Komodo, yaitu suatu United Nations Development Project, telah diadakan tindakan-tindakan yang diperlukan untuk perlindungan alam dan kepariwisataan. Pelaksanaannya menyangkut juga penduduk pulau di satu pihak karena kegiatan mereka di darat dan di laut sangat dibatasi, dan di pihak lain karena mereka diikutsertakan dalam kegiatan di cagar alam.

Pulau yang terpencil itu menjadi semakin mudah dicapai oleh orang luar, namun penduduk pulau pun dapat menggunakan hubungan kendaraan laut bermotor, yang semula hanya ada angkutan sampan atau perahu. Cara-cara penangkapan ikan telah menaikkan penghasilan rakyat secara menonjol. Sekolah swasta yang didirikan tahun 1965 dan yang dijalankan oleh satu orang guru kini telah menjadi sekolah negeri. Suatu pemukiman tetap akan didirikan bagi pegawai yang bekerja di cagar alam, dan sekelompok rumah akan didirikan bagi wisatawan yang tinggal untuk waktu yang agak lama.

Patut dikhawatirkan bahwa bahasa serta budaya milik masyarakat yang terdiri atas lima ratus lebih jiwa ini1 akan mengalami kerusakan berat akibat pergolakan-pergolakan yang mendadak itu.

Pada tahun 1937 dan 1947 saya telah berusaha mencapai pulau itu dari Manggarai, Flores Barat, tempat saya bekerja, tetapi usaha saya tanpa hasil. Setelah itu baru tahun 1977 saya menginjakkan kaki di Komodo.

Sekitar tahun 1970 saya tertarik oleh nama-nama pada peta Komodo yang berbunyi seperti bahasa Manggarai. Orang berasumsi bahwa bahasa yang umum dipakai di situ adalah bahasa Bima, padahal dari bentuknya dapat dipastikan bahwa nama-nama itu bukanlah bahasa Bima. Pada tahun 1974 saya berhasil mendapatkan sebuah daftar berisi empat puluh kata melalui Bapak T. Nanta yang selama beberapa waktu bekerja sebagai pegawai negeri di pulau itu. Pada tahun 1976 Bapak H. Man yang pernah bekerja sebagai guru di Komodo, berhasil mengisi sebuah daftar yang berisi dua ratus kata. Hal ini meyakinkan saya bahwa saya berhadapan dengan suatu bahasa tersendiri. Akan tetapi usaha untuk merekam beberapa cerita tidak berhasil.

Akhirnya pada tahun 1977, berkat sarana perhubungan yang makin baik, muncullah kesempatan untuk mengunjungi pulau bersama rombongan pelancong. Bapak Hana, satu-satunya guru pada sekolah swasta di sana, segera saja menghubungkan saya dengan seorang informan yang sangat baik, yaitu Bapak Abdulrajab, seorang kepala adat. Malam pertama itu saya masih dapat memanfaatkan pengetahuannya selama dua jam. Maka saya memutuskan untuk tidak kembali bersama rombongan, melainkan langsung memanfaatkan kesempatan yang baik ini untuk penelitian. Dengan demikian, dari tanggal 16 sampai 24 Juli 1977, saya dapat mengadakan penelitian pribadi. Dengan perantaraan instansi-instansi pemerintah di Ruteng dan Labuanbajo di Flores dan di Komodo sendiri saya mendapat kamar dengan meja, kursi, tempat tidur, dan lampu minyak tanah. Dengan kemudahan itu saya dapat menerima informan, mengolah sementara bahan yang terkumpul, dan mempersiapkan penelitian esok harinya pada malam hari. Dengan tulus hati saya menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pejabat pemerintah yang bersangkutan yaitu Bapak P. Papu. Dalam penelitian ini semua informan akan disebut. Penghargaan yang khusus saya sampaikan atas kebaikan hati keluarga ‘Thayeb yang telah menampung saya.

Mula-mula rencana saya ialah mempelajari bahasanya saja. Namun ketika saya pada tahun 1978 di Bogor mendengar bahwa perencanaan cagar alam sudah berkembang jauh, saya memutuskan untuk mengolah bahan-bahan yang lain juga. Penelitian saya tentang bahasa memang melibatkan sebagian besar segi kehidupan di Komodo. Untunglah bahwa kemudian saya beberapa kali mendapat kesempatan untuk melengkapi dan memperbaiki bahan-bahan saya dengan bantuan informan-informan dari Komodo.

Pada tahun 1982 saya berkesempatan lagi untuk mengunjungi pulau. Kunjungan kedua ini berlangsung dari 1 sampai 7 Juni. Saat itu saya melengkapi penelitian saya. Perhatian khusus saya berikan kepada identifikasi dan verifikasi nama tetumbuhan, moluska, dan nama geografi. Penelitian ini dimungkinkan oleh bantuan uang dan moril kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam VII di Kupang dan Kepala Subbalai Kawasan Pelestarian Alam Komodo dan Sekitarnya di Labuanbajo.

Menurut hemat saya penelitian yang tidak mendalam ini hanya mencakup bahan-bahan baru tentang tanah, penduduk, serta bahasa. Singkatnya waktu penelitian di tempat serta kurangnya pendidikan para informan mengakibatkan bahwa sejumlah kesalahan, kekurangan, dan kekisruhan tidak dapat dihindarkan.

Amat disayangkan bahwa studi mengenai suatu bahasa dan suatu bangsa yang terancam terpaksa ditulis dalam bahasa Belanda. Telah saya usahakan untuk mengurangi kerugian ini barang sedikit dengan membuat paling tidak bagian leksikografinya bercorak lebih internasional. Oleh karena dalam daftar utama bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa untuk memberi penjelasan, maka dapatlah dimanfaatkan untuk semua peneliti di bidang ini. Terjemahan singkat dalam bahasa Inggris ditambahkan pula. Selanjutnya pencarian kata-kata Komodo dipermudah dengan adanya daftar kata Indonesia-Komodo, dan Inggris-Komodo.

Penelitian ini bukanlah suatu studi yang mendalam. Namun telah diusahakan pendekatan multidisipliner dengan memberikan juga nama ilmiah (Latin) kepada flora dan fauna, serta memberi perhatian khusus kepada toponimi dan peta. Diharapkan bahwa dengan demikian karya ini bermanfaat juga bagi mereka yang bukan ahli bahasa.

Saya sangat berterima kasih terhadap bagian redaksi Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde, atas pekerjaan yang telah dilakukannya guna mempersiapkan naskah saya untuk percetakan.

Dra. Margaretha H. Dirkzwager penuh dedikasi telah mewakili saya pada bagian redaksi. Berdasarkan pengetahuannya yang luas tentang Flores, banyak usul telah dikemukakannya untuk penambahan serta perbaikan. Ia juga menunjukkan kepada saya sejumlah besar kesalahan, yang kadang-kadang serius. Kedua peta dan gambar-gambar adalah hasil pekerjaannya pula. Gambar kulit diberikan oleh George Collins. Setelah mengalami penambahan dan penggarapan terus-menerus, naskah saya nyaris tak terbaca lagi. Ny. M. Wokke-Groen-lah yang mengetiknya menjadi suatu keutuhan yang dapat dibaca dan dicetak. Kepada mereka semua saya menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya.

Harapan saya mudah-mudahan kajian ini bermanfaat bagi penduduk Komodo yang budiman; mau tidak mau mereka ikut tercakup dalam cagar alam; semoga itu akan membawa ke arah kebahagiaan mereka.

Renungan

Dipandang dari sudut jumlahnya, penduduk Komodo yang jumlahnya kurang dari enam ratus jiwa, merupakan minoritas yang tidak penting di Indonesia. Dan memang pulau itu terkenal hanya karena kehadiran Varanus Komodoensis yang langka itu; yang namanya diangkat dalam kosa kata Indonesia sebagai ‘komodo’, tetapi yang dianjurkan menjadi ‘ora’.

Namun demikian, kita di sini berhadapan dengan suatu bangsa yang memiliki bahasa tersendiri dan kebudayaan tersendiri pula, dan lagi mempunyai sejarah yang tuanya kira-kira 2000 tahun. Mungkin sejarah itu tidak berawal di Komodo; saya pikir barangkali ada hubungannya dengan peradaban Warloka di Flores Barat di pantai Selat Molo. Menilik penemuan uang logam dan gerabah dalam lapangan pekuburan yang luas, kebudayaan yang bagi Flores unik ini, diperkirakan berkembang antara abad ke-11 dan ke-16.

Dari keterangan-keterangan kebahasaan dapat disimpulkan bahwa orang Komodo asli merupakan penghuni pantai yang terutama hidup dari hasil laut serta pantai. Dari kosa bahasa pun ternyata bahwa sejumlah besar orang Manggarai telah berimigrasi ke pulau Komodo. Mereka ini berpengaruh besar terhadap pertanian, pengumpulan hasil hutan serta perburuan. Kita mendapat kesan bahwa infiltrasi semacam ini telah berlangsung selama berabad-abad, pada waktu yang berbeda-beda, dan dalam kelompok-kelompok kecil yang tidak saling berhubungan.

Kata pungutan Bima yang begitu besar jumlahnya tidak mungkin disebabkan oleh imigrasi, walaupun dapat dipastikan bahwa sejak abad ketujuh belas orang Bima menguasai Komodo. Sebaliknya bila diingat bahwa dalam separuh pertama abad kesembilan belas penduduk Komodo pernah mengungsi ke Bima selama beberapa waktu, maka kehadiran kata-kata pungutan tersebut dapat dimengerti.

Tradisi yang menyebutkan tentang kedatangan nenek-moyang dari Sumba dan Ambon, agaknya mengandung kebenaran historis, tetapi pengaruhnya hampir-hampir tak terlihat dalam bahasa. Sebaliknya, adanya hak-hak tertentu pada ‘klen’ Sumba, Ambon, Munting, Welak, dan Sape menunjukkan bahwa klen-klen tersebut pada asal mulanya memiliki kekuasaan mandiri.

Orang Komodo memiliki bahasa tersendiri yang tidak dapat dipahami oleh segenap bangsa yang bertetangga. Dari perbandingan di bidang etimologi, morfologi, dan sintaksis, dan berdasarkan hasil hasil leksikostatistik ternyata bahwa bahasa ini paling dekat dengan Kelompok Bahasa Manggarai. Jelas pula bahwa lafal bahasa Komodo dalam berbagai seginya belum seluruhnya dapat dideskripsikan.

Bangsa yang luar biasa ini, yang hingga kini hidup terpencil, kini memasuki suatu kurun waktu yang baru. Pulau Komodo dibuka untuk pariwisata, maka amatlah dikhawatirkan bahwa pemburu wisatawan dan pedagang akan berusaha menembus ke dalam masyarakat. Mungkin pengaruh yang lebih besar lagi atas bahasa dan kebudayaan akan datang dari sejumlah manusia yang dari segi intelektual, ekonomi, dan sosial, merupakan kelompok yang lebih tinggi tarafnya. Pegawai perlindungan alam dan pariwisata akan menetap di Liang; dan mungkin juga orang-orang yang bekerja di bidang pendidikan dan kesehatan, serta pejabat pemerintahan lainnya.

Ada bahaya bahwa pertanian, perikanan, pengumpulan di pantai dan di darat, serta kebebasan gerak penduduk pada umumnya akan lebih dibatasi lagi. Dengan demikian hancurlah hak mereka atas karya, tradisi, dan lingkungan hidup bebas. Kecintaan saya terhadap tumbuhan dan hewan cukup besar, tetapi kepentingan manusia harus didahulukan. Namun kesan saya ialah bahwa instansi tertinggi kepariwisataan bermaksud mempertahankan hak-hak penduduk Komodo.[]

[Dinukil dari: Verheijen, J.A.J. 1987. Pulau Komodo: Tanah, Rakyat, dan Bahasanya. (Jakarta: Balai Pustaka). Hlm. XI-XIV, 291-292.]


1Pada hari-hari ini, penduduk Pulau Komodo diperkirakan mencapai 1.850 jiwa.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*