JELAJAH LITERASI

Penyebaran Wahabisme dan Tanggung Jawab Barat kepada Dunia

in Nukilan by

Oleh Karen Armstrong

Pada 2013, Uni Eropa menyatakan Wahabisme sebagai sumber utama terorisme global. Namun, Wahabisme bukan hanya “masalah Timur Tengah”, ia adalah masalah kita juga.

DEKLARASI perang melawan ISIS (dikenal juga sebagai Islamic State, Negara Islam) oleh François Hollande mungkin merupakan suatu reaksi alami terhadap pembantaian yang terjadi di Paris1. Namun, situasi sekarang begitu gawatnya sehingga kita tidak bisa hanya bereaksi; kita juga perlu melakukan perenungan yang terus-menerus, yang berbasis pengetahuan, dan objektif. Presiden Prancis secara tidak sadar telah jatuh ke dalam genggaman permainan para pemimpin ISIS, yang telah lama mendaku berperang melawan Barat dan kini dapat menampilkan diri sebagai para pejuang perlawanan nan mulia. Maka, daripada menjatuhkan bom ke target-target ISIS dan, dalam prosesnya, membunuhi penduduk sipil yang malang, kekuatan-kekuatan Barat dapat menarik lebih banyak keuntungan dengan memperkuat seluruh perbatasan Turki dengan Suriah. Sebab, tidak diragukan lagi, Turki telah menjadi markas strategis terpenting bagi kaum jihadi ISIS.

Kita tidak bisa membiarkan kesedihan dan kemarahan kita menjelma menjadi rasa benar sendiri. Ini bukanlah semata-mata “masalah Timur Tengah”; ini adalah masalah kita (Barat—red) juga. Berbagai rekayasa kolonial yang telah kita lakukan, ketidakstabilan inheren yang melanda negara-negara yang kita bentuk, dan dukungan yang telah kita berikan kepada para pemimpin otoriter di negara-negara itu, semuanya turut andil dalam menghancurkan tatanan sosial di kawasan tersebut dewasa ini secara mengerikan. Banyak pemimpin Barat (termasuk Perdana Menteri kita sendiri), yang berjalan berbaris demi membela prinsip kebebasan di Paris setelah peristiwa pembantaian Charlie Hebdo, merupakan kepala negara-negara yang selama berpuluh-puluh tahun telah menyokong berbagai rezim di negeri-negeri mayoritas Muslim—padahal, rezim-rezim itu menolak memberi sedikit pun kebebasan berekspresi bagi rakyatnya—suatu sokongan yang kerap mengakibatkan malapetaka.

Salah satu dari rezim ini adalah Arab Saudi. Meskipun sejarah hak asasi manusianya kelam, kerajaan tersebut sangatlah penting bagi kebijakan politik Barat di Timur Tengah sejak 1970-an. Oleh karena itu, pemerintah-pemerintah Barat diam-diam telah mendukung proses “Wahabisasi” Dunia Muslim yang dilakukan Arab Saudi. Wahabisme lahir di Semenanjung Arabia pada Abad ke-18 sebagai ikhtiar untuk kembali ke ajaran Islam murni sebagaimana yang dibawa Nabi Muhammad. Oleh karena itu, para penganut Wahabi akhirnya mengecam seluruh perkembangan Islam yang terjadi pada masa-masa selanjutnya—seperti Sufisme dan Mazhab Syi’ah—sebagai bentuk pembaruan-pembaruan yang sesat.

Namun, tindakan penganut Wahabi ini justru merupakan penyimpangan yang radikal terhadap pesan Al-Quran, yang dengan tegas menyatakan bahwa “tidak ada paksaan dalam agama” (QS Al-Baqarah [2]:256) dan bahwa keragaman agama merupakan kehendak Allah (QS Al-Midah [5]:48). Setelah Revolusi Iran, Kerajaan Saudi menggunakan kekayaannya yang berlimpah ruah untuk menghadang kekuatan Islam Syi’ah dengan cara membiayai pembangunan masjid-masjid berkhatib Wahabi dan mendirikan banyak sekolah agama yang menyediakan pendidikan gratis bagi kalangan miskin. Maka demikianlah, sungguh-sungguh mencengangkan bagi banyak kalangan di Dunia Muslim, sebuah generasi utuh telah tumbuh berkembang dengan bentuk Islam yang tidak lazim ini—baik di Eropa dan Amerika Serikat, maupun di Pakistan, Yordania, dan Malaysia.

Pada 2013, Uni Eropa menyatakan bahwa Wahabisme adalah sumber utama terorisme global. Namun, mungkin lebih tepat jika dikatakan bahwa sempitnya visi Wahabi merupakan lahan subur bagi berkembangnya ekstremisme. Pada Abad ke-19 dan awal Abad ke-20, para kepala suku beraliran Wahabi memang benar-benar melakukan serentetan ekspedisi militer penuh kekerasan terhadap kaum Syi’ah. Namun, selama dasawarsa 1930-an, Kerajaan Arab Saudi meninggalkan jihad militer dan Wahabisme pun menjadi gerakan keagamaan konservatif. Kini, sejumlah anggota dari kelas penguasa Saudi mendukung ISIS, tetapi Mufti Agung Kerajaan telah mengutuknya dengan sekeras-kerasnya. Seperti Osama bin Laden, para pemimpin ISIS bertujuan menggulingkan rezim Saudi dan melihat gerakan mereka sebagai pemberontakan terhadap Wahabisme modern.

Aksi militer di Suriah tidak akan membasmi tuntas ekstremisme para Islamis di tempat-tempat lain. Agar dapat sungguh-sungguh berhasil, kampanye Presiden Hollande juga harus mencakup penelaahan ulang atas kebijakan dalam negerinya. Prancis telah nyata-nyata gagal mengintegrasikan warga negaranya yang beragama Islam. Sebagian besar teroris yang bertanggung jawab atas kekejaman 13 November tampaknya merupakan warga negara Prancis yang kecewa terhadap pemerintah. Begitu pula dengan Kouachi bersaudara yang melakukan pembantaian Charlie Hebdo, juga Amedy Coulibaly yang membajak pasar swalayan Yahudi pada bulan Januari. Tiga-tiganya tinggal di daerah pinggiran Kota Paris yang terkenal serba-melarat dan—mengingatkan kita akan masa lalu kolonial Prancis—merupakan keturunan Aljazair dan Mali (yakni, negeri-negeri jajahan Prancis pada masa lalu—red). Para psikiater yang menyelidiki orang-orang yang terlibat dalam merencanakan Peristiwa 9/11 dan rangkaian serangan berikutnya mendapati bahwa tindakan para teroris ini utamanya bukanlah digerakkan oleh agama. Yang jauh lebih mendesak adalah hasrat untuk terbebas dari cekikan rasa tidak berarti. Karena tidak berdaya di rumahnya, dan banyak di antara mereka diasingkan oleh kebudayaan negeri tempat tinggalnya, para pemuda Muslim di Barat pun tertarik pada sosok jantan mujahid dan pada prospek bisa tinggal dalam masyarakat dengan pola pikir yang sama, seraya yakin bahwa mati syahid akan membuat hidup mereka menjadi berarti.

Sementara mereka memperdebatkan apakah serangan udara Inggris di Suriah bisa dilakukan atau tidak, beberapa anggota parlemen telah menekankan bahwa tindakan itu harus disertai dengan perundingan dan diplomasi. Sekali lagi, semua ini tidak dapat dilakukan dengan semangat merasa diri paling benar. Harus ada pengakuan bahwa Barat bukanlah satu-satunya korban ekstremisme Muslim. Anehnya, kita sepertinya buta terhadap hal ini. Jumlah umat Muslim yang dibunuh oleh ISIS jauh lebih banyak dibandingkan dengan yang non-Muslim, tetapi hal ini jarang disebut. Dua minggu sebelum terjadinya kekejaman Charlie Hebdo pada bulan Januari, Taliban membunuh 145 orang Pakistan, yang sebagian besarnya adalah anak-anak; dua hari setelah itu, Boko Haram membantai sebanyak 2.000 penduduk desa di Nigeria. Akan tetapi, jika dibandingkan dengan serangan di Paris, liputan media di Barat atas kejadian itu dangkal dan ala kadarnya saja. Sedikit sekali ada pengakuan bahwa para pengungsi, yang oleh banyak orang hendak dicegah agar jangan sampai masuk ke Eropa itu, juga telah mengalami hal-hal mengerikan di Suriah atau Irak—kengerian yang sama seperti yang kita saksikan di Paris. Namun bedanya, kengerian di Suriah dan Irak itu mereka alami secara rutin. Kita tampaknya telah lupa bahwa ada lebih dari 40 orang yang terbunuh di Beirut oleh dua pelaku bom bunuh diri ISIS pada 12 November.[]

[Karen Armstrong adalah sejarawan agama dan penulis asal Inggris. Di antara karyanya yang terkemua adalah A History of God (1993, telah diterjemahkan Penerbit Mizan dengan judul Sejarah Tuhan) dan The Battle for God: Fundamentalism in Judaism, Christianity and Islam (2000, telah diterjemahkan Penerbit Mizan dengan judul Berperang demi Tuhan: Fundamentalisme dalam Islam, Kristen, dan Yahudi). Armstrong dijuluki The Washington Post sebagai “sejarawan agama paling produktif dan terkemuka”]

[Dinukil dari: Armstrong, Karen, dkk. 2018. Islamofobia: Melacak Akar Ketakutan terhadap Islam di Dunia Barat. Bandung: PT Mizan Pustaka. Hlm. 17-21.Artikel ini pertama kali diterbitkan oleh The New Statesman pada 26 November 2015 dengan judul “The spread of Wahhabism, and the West’s responsibility to the world”.]


1Merujuk kepada serangkaian serangan terkoordinasi oleh para teroris di berbagai tempat umum di Paris pada 13 November 2015. Sembilan orang teroris melakukan beberapa serangan bom bunuh diri, penembakan massal, dan penyanderaan terhadap penduduk sipil di stadion olahraga, gedung konser, serta sejumlah restoran dan kafe di pinggir jalan. Korban tewas sebanyak 137 orang (tuju orang di antaranya adalah para pelaku teror), sedangkan yang terluka sebanyak 368 orang (80-99 di antaranya terluka parah).

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Latest from Nukilan

“Hotel Tua”

Cerpen Budi Darma Cerpen “Hotel Tua” dinukil dari kumpulan cerpen berjudul sama
Go to Top