JELAJAH LITERASI

Mau Cerdas? Kenali Otak Anda!

in Wacana by

Jalaluddin Rakmat sebenarnya lebih seorang pendidik daripada tokoh agama ataupun politisi. Belajar Cerdas: Belajar Berbasiskan Otak adalah sumbangannya kepada dunia pendidikan setelah dia risau karena para pendidik tak mau mengenali bagaimana dan mengapa otak bekerja.

KITA semua tahu otak adalah organ terpenting bagi manusia. Organ seukuran anggur dan hanya kurang dari 2,5 persen berat tubuh kita ini mengatur segala hal, dari mulai makan, minum, tidur, gembira, sedih, hingga menciptakan peradaban (merumuskan teori ilmu pengetahuan, menggubah musik, melukis, menulis novel dan lain-lain).

Tapi, pernahkah sebagian besar kita setidaknya meluangkan waktu sejenak untuk mempelajari otak: mengetahui bagaimana ia bekerja dan mengapa? Jawabanya: nyaris tidak pernah. Bahkan, para pendidik, guru, atau mahasiswa pedagogik tak mempelajari otak. Organ yang sebagian besar isinya protein itu hanya dipelajari segelintir manusia di jurusan neurologi fakultas kedokteran.

Kenyataan itulah yang merisaukan Jalaluddin Rakhmat.

Ya, Kang Jalal—begitu ia bisa disapa—baru saja meninggalkan kita pada 15 Februari 2021. Dia lebih dikenal sebagai cendekiawan muslim—banyak menulis buku tentang keislaman, salah satu yang ‘cukup mengejutkan’ dan mungkin fenomenal adalah Dahulukan Akhlak di Atas Fikih (2005). Atau dia lebih disoroti sebagai tokoh Syiah dan politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Padahal, Kang Jalal mengawali karir dan menjalani sebagian besar hidupnya sebagai seorang pendidik. Sejak lulus dari sekolah menengah atas, dia sudah mengajar. Dia kemudian mendirikan SMA Plus Muthahhari, sekolah yang menerapkan kurikulum dan metode pembelajaran terobosan.

Nah, sebagai pendidik itulah, Kang Jalal prihatin dengan minimnya perhatian kita, terutama para pendidik, kepada cara kerja dan perkembangan otak. “Otak—organ yang berpikir, merasa, dan belajar—tidak pernah dipertimbangkan oleh para pendidik, kecuali ketika mereka menghardik muridnya dengan kata-kata ‘otak udang’ atau ‘otak miring’,” tulisnya dalam Belajar Cerdas: Belajar Berbasiskan Otak.

  • Judul: Belajar Cerdas: Belajar Berbasiskan Otak
  • Penulis: Jalaluddin Rakhmat
  • Penerbit: Kaifa
  • Terbit: 2005
  • Tebal: xx + 288 halaman

Buku tersebut merangkum ketertarikan Kang Jalal kepada cara kerja otak. Dia menjelajahi literatur tentang otak serta dampaknya terhadap kecerdasan dan pembelajaran. Di antara bacaan yang banyak dia rujuk adalah Your Miracle Brain (Jean Carper, 2000), The Brain Compatible Classroom (Laura Erlauer, 2005), Teaching to the Brain: Natural Learning System (Barbara Given, 2005), Brain-Based Learning: The Science of Teaching and Training (Eric Jensen, 2000), Superteaching (Eric Jensen, 1995), dan How the Brain Learns (David Sousa, 2001). Pembaca bisa memperoleh informasi-informasi penting dari sumber-sumber bacaan tersebut sambil menikmati gaya khas penulisan Kang Jalal yang bercerita—dan kadang bercanda.

Namun, di sedikit bagian dalam buku ini, Kang Jalal—tampaknya mau tidak mau—sedikit terlalu teknis menjelaskan detail fungsi dan kerja otak, terutama saat memasuki penjelasan tentang bagian-bagian otak dan neurotransmitter, senyawa kimia yang membantu sel-sel saraf otak (neuron) berinteraksi satu sama lain. Bejibun istilah teknis neurologis dia muntahkan di sini, yang mungkin membuat pembaca awam agak kewalahan. Dia sendiri menyatakan bahwa pembaca bisa melewatkan bagian ini.

Yang terpenting, katanya, kita harus mempertimbangkan untuk mengenali otak dan cara kerjanya. Jangan sampai ketika mengalami kesulitan belajar, kita hanya memohon doa dari ustad atau ahli agama. Ini, dia beranalogi, seperti orang yang memukul-mukul televisi saat perangkat elektronik itu tak menampilkan gambar.

Otak adalah organ terunik yang dimiliki manusia. Ia menentukan jatidiri kita. Jika otak Anda rusak, Anda tak dapat menggantinya dengan otak orang lain, kecuali Anda bukan lagi diri Anda. Ini berbeda dengan hati, misalnya. Jika hati Anda rusak, Anda bisa menerima transplantasi hati orang Cina, misalnya, tanpa kemudian Anda mendadak bisa berbicara Mandarin. Tapi, jika dicangkokkan ke dalam batok kepala Anda otak orang lain, maka Anda akan memiliki memori dan pikiran orang itu—termasuk rencana-rencana rahasianya. Anda bukan lagi Anda yang dulu.

Mengutip pakar neurosains dan mikroanatomi Santiago Ramon y Cajal, Kang Jalal menyatakan bahwa misteri otak adalah misteri alam semesta, dan pada giliran misteri Sang Pencipta. Sebab, alam semesta ini merefleksikan struktur otak kita. “Misteri otak mencerminkan misteri alam semesta. Misteri alam semesta pasti membawa kita untuk merenungkan misteri Tuhan. Maka, neurologi yang dimulai dari neurokimia dan neurobiologi sekarang sudah mulai memasuki neurotheology.”

Selama berabad-abad, para ilmuwan coba mempelajari dan mengungkap misteri kerja otak manusia. Mereka dulu hanya bisa meneliti otak yang sudah tak aktif karena diambil dari orang mati. Tapi, berkat kemajuan teknologi, mereka kini bisa mengamati langsung kerja otak saat pemiliknya masih hidup.

Alhasil, setidaknya dua anggapan yang lama diyakini manusia bisa mereka buktikan sekadar mitos. Pertama, anggapan bahwa kecerdasan atau kapasitas otak seseorang ditentukan secara genetis atau karena keturunan. Kedua, anggapan bahwa kapasitas otak makin menurun seiring bertambahnya usia seseorang.

Para pakar berkesimpulan genetik hanya menyumbang 50 persen kecerdasan. Separuhnya lagi sangat ditentukan oleh rangsangan lingkungan. Ini karena sel-sel otak tidak statis seperti saat kita lahir. Mereka terus tumbuh dan berkembang sesuai dengan tingkat aktivitasnya. Makin sering sel-sel saraf otak yang jumlahnya lebih daripada 100 miliar itu saling berinteraksi, makin berkembanglah otak kita. Otak bekerja berdasarkan prinsip, use it or lose it. “Jika Anda tidak menggunakan otak Anda, Anda akan kehilangan dia,” tulis Kang Jalal.

Perintis neurosains dan peneliti otak Albert Einstein, Marian Diamond, mengatakan bahwa otak akan terus berubah sepanjang hidup, berapa pun usia kita. Ia akan berubah positif jika diberi rangsangan. Sebaliknya, ia akan berubah negatif jika dibiarkan tanpa rangsangan.

Saat kita menua, memang ada sel-sel saraf otak yang hilang tapi itu tidak berpengaruh besar. Otak tua bekerja lebih lamban tapi memiliki keistimewaan yang disebut oleh para ilmuwan sebagai “kecerdasan terkristal”, yakni sekumpulan pengetahuan terspesialisasi selama pengalaman hidup bertahun-tahun. Keistimewaan ini membuat otak tua memiliki kemampuan verbal dan penilaian yang lebih baik daripada otak muda dengan “kecerdasan cairnya”.

Penurunan kemampuan kognitif di usia tua sebenarnya lebih disebabkan oleh faktor-faktor seperti asupan makanan dan lingkungan. Lebih tepatnya, ancaman paparan radikal bebas dari makanan, udara, dan air. Dari asupan, radikal bebas ini disumbang oleh makanan berlemak atau makanan-makanan lain yang diistilahkan dengan “brain buster”. Sementara itu, pencemaran udara, asap rokok, dan zat beracun di dalam air juga menyumbang radikal bebas yang bisa merusak otak.

Oleh karena itu, setelah menelusuri berbagai literatur, Kang Jalal menyarankan kita mengonsumsi makanan yang mengandung antioksidan tinggi. Dia menyebut lima super antioksidan, yakni vitamin E, vitamin C, glutation, koenzim Q10, dan asam lipoik. Zat-zat super antioksidan ini banyak dikandung di dalam buah-buahan dan sayur-sayuran, seperti prem, bayam, kismis, tomat, dan bawang.

Jika dibandingkan dengan organ lain, otak mudah terpengaruh oleh asupan makanan. Karenanya, selain zat antioksidan di atas, Kang Jalal menyarankan kita meminimalisasi asupan makanan yang menghasilkan lemak buruk. Kita harus rajin mengonsumsi makanan yang mengandung asam lemak omega-3, yang terutama dikandung oleh ikan. Ini pulalah mengapa banyak peradaban besar dilahirkan di pesisir karena penduduk pesisir lebih banyak mengonsumsi ikan.

Selain asupan makanan, otak rupanya juga sangat dipengaruhi oleh gerakan tubuh. Menurut Kang Jalal, adanya hubungan signifikan antara gerakan dengan kecerdasan cukup mengejutkan karena kita sering memandang remeh kontribusi aktivitas fisik kepada kemampuan penalaran.

Manusia belajar untuk pertama kalinya saat bergerak-gerak sebagai janin dalam rahim ibu. Gerakan ternyata berperan besar dalam mengaktifkan interkasi jaringan neuron. Berbicara memungkinkan kita mengatur dan menyusun pikiran. Menulis membuat koneksi antara gerakan tangan dengan pikiran. Itulah mengapa fisikawan peraih Nobel, Richard Feynman, menyarankan kita untuk mengulang materi pembelajaran dengan berbicara kepada orang lain atau menuliskannya dalam sebuah catatan. Gerakan ternyata mengikat pikiran.

Dalam buku ini, Kang Jalal menyarankan kepada para guru agar menggunakan metode permainan dalam pembelajaran agar siswa juga bergerak dan tak hanya duduk pasif. Sebuah penelitian yang dikutip dalam buku ini juga mengungkap bahwa murid-murid yang diberi waktu melakukan aktivitas fisik di sela-sela kegiatan belajar menunjukkan tingkat kecemasan yang rendah dan tingkat keberhasilan akademik yang tinggi. Dalam buku Sistem Pendidikan Finlandia, Ratih Adiputri bercerita bagaimana tiap 45 menit pembelajaran, siswa di Finlandia diberi kebebasan bermain selama 15 menit.

Selain menjelaskan betapa mengagumkannya otak manusia, buku ini juga memberi Anda saran-saran praktis meningkatkan kecerdasan, baik melalui asupan makanan, gerakan, maupun pengayaan (pengondisian lingkungan). Buku ini karenanya perlu dibaca oleh siapa pun yang merasa memiliki otak, terutama tentu saja oleh para pendidik agar jangan sampai mereka hanya bisa mencela murid-murid mereka dengan “otak udang” dan “otak miring”.[]

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Latest from Wacana

Go to Top