JELAJAH LITERASI

Polemik Kebudayaan (III): Menuju Masyarakat dan Kebudayan Baru

in Nukilan by

Oleh Sutan Takdir Alisjahbana

Catatan Redaksi: Dalam tulisan ini, Sutan Takdir Alisjahbana menanggapi tanggapan Sanusi Pane “Persatuan Indonesia” atas tulisannya “Menuju Masyarakat dan Kebudayaan Baru”. Dilampirkan juga di dalamnya tanggapan balik Sanusi Pane.

Dalam Bintang Timur dan Suara Umum termuat karangan yang membicarakan karangan saya yang berjudul seperti di atas ini. Kedua karangan itu berisi tuduhan bahwa saya hendak menciptakan sesuatu yang dalam semua hal baru, yang tidak sedikit pun bersangkut paut dengan yang lain. Tuduhan yang demikian sama sekali tidak pada tempatnya. Saya pun sadar bahwa sejarah itu sesuatu yang berlanjut dan tidak berhenti. Bahwa tiap-tiap masa dalam sejarah itu berkelanjutan dengan masa yang sebelumnya.

Pembagian sejarah Nusantara ini dalam bagian pra-Indonesia dengan bagian Indonesia, bukan sekali-kali berarti zaman Indonesia itu tiba-tiba jatuh dari langit, tiba-tiba terjadi dari ketiadaan. Hal yang demikian sama sekali tidak terkandung dalam pra. Kalau kita membagi sejarah dalam pra-sejarah, kita sadar bahwa zaman sejarah itu kelanjutan dari pra-sejarah. Demikian juga pemakaian “pra” itu di tempat yang lain, seperti: pra-akil balig dengan akil balig, pra-logis dengan logis, pra itu hanya menunjukkan bahwa ada suatu ciri khas dari zaman sesudahnya yang belum terdapat pada zaman sebelumnya. Demikian juga halnya dengan pembagian Indonesia dan pra-Indonesia. Dalam zaman keindonesiaan terdapat semangat Indonesia yang belum ada pada zaman pra-Indonesia.

Apakah semangat Indonesia itu? Semangat Indonesia ialah kemauan yang timbul pada Abad Keduapuluh di kalangan rakyat yang berjuta-juta ini untuk bersatu. Dengan jalan demikian hendak berusaha bersama-sama menduduki tempat yang layak di sisi bangsa-bangsa lain. Kemauan dan cita-cita yang dijunjung dengan kesadaran semacam ini tidak pernah terjadi di lingkungan kepulauan ini sebelum Abad Keduapuluh.

Kehendak bersatu dan cita-cita mulia bersama yang dijunjung dengan sadar inilah ciri khas zaman Indonesia Abad Keduapuluh. Zaman sebelum itu yang belum mempunyai kemauan dan cita-cita secara sadar saya sebut dengan nama pra-Indonesia.

Semangat keindonesiaan yang hidup di kalangan rakyat Indonesia sekarang tentu akan melahirkan kebudayaan sendiri. Kebudayaan baru itu akan berbeda dengan kebudayaan pra-Indonesia. Perbedaan itu bukan berarti bahwa dalam kebudayaan Indonesia tidak terkandung unsur zaman pra-Indonesia sama sekali. Perbedaan itu hanya berarti bahwa kebudayaan Indonesia harus sesuai dengan semangat Indonesia. Yang utama ialah semangat keindonesiaan untuk membangun kebudayaan sendiri. Dalam mengambil dan mencari ramuan tentu ada juga ramuan yang akan diambilnya dari zaman pra-Indonesia. Meskipun bukan menjadi keharusan[1]. Ia dapat, bahkan akan sangat banyak, mengambil ramuan dari luar, khususnya dari Barat. Sebab hakikat semangat Indonesia itu bersaudara dengan semangat dinamis Barat.

Kekeliruan Tuan Sanusi Pane dalam pikiran saya ialah, ia tidak mengerti arti semangat keindonesiaan. Dan sebab itu, mencampuradukkan arti “Indonesia” seperti arti yang dipakai ahli bangsa-bangsa dengan arti Indonesia yang dipakai oleh pergerakan kebangkitan penduduk kepulauan ini. Hal itu nyata sekali dalam ucapannya:

Tuan Sutan Takdir Alisjahbana menyebut bahwa dalam zaman Majapahit, Diponegoro, Teuku Umar, belum ada keindonesiaan. Pikiran ini menurut pendapat kami kurang benar. Keindonesiaan pada waktu itu pun sudah ada, keindonesiaan dalam adat, dalam seni. Hanya bangsa Indonesia belum sadar bahwa mereka berbangsa.

Keindonesiaan yang dimaksud Tuan Sanusi Pane yang ada pada zaman Majapahit, Diponegoro, Teuku Umar itu ialah keindonesiaan menurut ahli bangsa-bangsa. Keindonesiaan yang dimaksudnya itu adalah keindonesiaan yang tidak disadari, keindonesiaan yang terdapat juga di Filipina, Malaka, dan lain-lain.

Sedangkan keindonesiaan yang saya pisahkan dari pra-Indonesia itu ialah keindonesiaan yang disadari, yang lahir dalam Abad Keduapuluh ini. Keindonesiaan seperti yang saya maksud sampai sekarang belum terdapat di Malaka, dan lain-lain.

Satu hal juga hendak saya tunjukkan terkait dengan pandangan Tuan Sanusi Pane bahwa pekerjaan pembangunan kebudayaan baru itu termasuk pekerjaan kreativitas secara spontan. Apabila Pujangga Baru bernyanyi ia tidak usah teringat dan terikat akan dendang anak pedati. Ia bernyanyi menurut getar jiwanya sendiri, sebab baginya yang terpenting ialah suara kalbunya dan tidak sekalipun menyentuh cara bernyanyi generasi sebelumnya.

Tuan Sanusi Pane membicarakan juga soal Barat dan Timur.

Saya tidak setuju dengan pandangan Tuan Sanusi Pane bahwa Barat mementingkan jasmani dan Timur mementingkan ruhani. Menurut pikiran saya, baik Timur maupun di Barat orang mementingkan ruhani dan jasmani. Dalam hal ruhani orang Barat tidak kalah dari orang Timur.

Namun, dalam hal jasmani orang Barat dapat mengalahkan orang Timur. Hal itu disebabkan oleh perbedaan cara berpikir antara Barat dengan Timur. Selanjutnya tentang soal Barat-Timur ini saya mengajak pembaca untuk sementara membaca karangan saya “Synthese Barat dan Timur” yang termuat dalam surat kabar ini belum lama berselang. Di kemudian hari saya berharap akan dapat menerangkannya lebih lanjut.

Catatan Sanusi Pane:

Setelah Tuan Sutan Takdir Alisjahbana menjelaskan makna pra-Indonesia dan Indonesia ini lebih lanjut, hilanglah salah terima dari pihak saya tentang pendapatnya dalam hal perjalanan sejarah. Sementara itu saya tidak setuju dengan: Dalam mengambil dan mencari ramuan tentu ada juga ramuan yang akan diambil dari zaman Pra-Indonesia. Namun hal itu bukan keharusan dan sebagainya.

Menurut pikiran saya hal itu bukan saja harus, tapi terpaksa, karena ke-ada-an yang sudah ada di sini tidak bisa dihapuskan.

Boleh jadi perselisihan tentang masalah ini pun cuma karena saja.

Tentang arti keindonesiaan itu, saya tidak merasa mencampuradukkan paham ilmu dan politik. Keindonesiaan dari dulu sudah ada, sekarang pun masih ada. Hanya sekarang terasa perlunya mengemukakan keindonesiaan itu sehingga boleh dikatakan bahwa baru sekaranglah lahir bangsa Indonesia, kalau kita hanya mementingkan masalah psikologis dan hal-hal berkepentingan sama yang ada di dalamnya.

Tentang cara Pujangga Baru bernyanyi acc, memang pujangga tidak usah tahu bahwa ia berkaitan dengan masa silam. Namun bukan berarti tak ada hubungannya. Walaupun orang misalnya tidak tahu bagaimana cara darahnya mengalir, toh darahnya mengalir juga. Dan kita tak perlu tahu bahwa kita berusus untuk bisa mencerna makanan.

Dari soal Timur dan Barat itu saya tidak melihat alasan untuk mengubah pendapat saya. Supaya jangan salah terima, saya jelaskan lagi bahwa saya sama sekali bukan menyebut bahwa Timur lebih tinggi dari Barat, atau sebaliknya. Kedua-duanya sama belum hidup dengan cara yang sepatutnya, menurut pikiran saya.

Dalam hal ini boleh jadi ada salah terima pula, karena makna jasmani dan ruhani barangkali tidak jelas atau tidak jauh berbeda.

Dan sekiranya hal yang di atas itu menimbulkan perselisihan, saya menghormati pendirian Tuan Sutan Takdir Alisjahbana yang sebagai penulis memang dibolehkan, kalau bukan harus, berpendirian ekstrem. Sebagai penulis amatir saya pun merasa bahwa seorang yang kreatif seringkali melebih-lebihkan, sebagai reaksi atas hal yang ada atau sudah ada.

Catatan Sutan Takdir Alisjahbana:

[1] Ucapan “bukan keharusan” berarti bahwa dalam bagian kebudayaan Indonesia satu per satu harus selalu terdapat unsur zaman pra-Indonesia. Namun, dalam kumpulan kebudayaan umumnya tentu selalu ada unsur zaman yang lalu. Sebagai contoh, menurut pikiran saya mungkin di sebuah lukisan, sebuah roman, sebuah lagu, atau lain-lain yang tidak sedikit pun mengandung unsur pra-Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Latest from Nukilan

Ziarah Lebaran

Cerpen Umar Kayam “Ziarah Lebaran” merupakan salah satu dari 17 “Cerpen Pilihan

Terbang

Cerpen Ayu Utami Dengan berlatarkan kecemasan terkait keamanan transportasi udara, Ayu Utami

Pemintal Kegelapan

Cerpen Intan Paramaditha Dalam cerpen ini, Intan Paramaditha meramu horor dan misteri

Cinta Sejati

Cerpen Isaac Asimov Anda yang pernah mencoba aplikasi atau situs web kencan
Go to Top