JELAJAH LITERASI

Polemik Kebudayaan (IV): Sambungan Zaman

in Nukilan by

Oleh Purbatjaraka | Catatan Redaksi: Dalam artikel ini, filolog dan ahli sastra Jawa, Purbatjaraka ikut menanggapi tulisan Sutan Takdir Alisjahbana. Guru Besar UI dan UGM itu memandang bahwa Indonesia modern adalah sambungan dari zaman-zaman sebelumnya. Dia juga menolak pandangan bahwa Indonesia harus berkiblat ke Barat. Sebab, “Kalau demikian, kelak jadinya kita terpaksa selalu mengejar saja.”

KARANGAN Tuan Sutan Takdir Alisjahbana di dalam Pujangga Baru tahun III nomor 2 Agustus 1935, buat saya, yang kurang paham bahasa Melayu agak sulit dimengerti. Karena hal yang diuraikannya sangat menarik minat saya, saya perlu mengartikan seluas-luasnya. Dengan alasan demikian, saya minta izin untuk menjelaskan pendapat pribadi saya. Namun, setelah karangan Tuan Sutan Takdir Alisjahbana disambut oleh Bintang Timur No. 198, 2 September 1935, dan oleh Tuan Sanusi Pane di Suara Umum No. 276, 4 September 1935,1Mengucapkan banyak terima kasih kepada Tuan Armijn Pane yang telah suka memberi pertolongan memberi nomor dan tanggal kabar kedua tersebut di atas saya tidak perlu memberi keterangan panjang lebar lagi, cukup pendek saja.

Di dalam karangannya, Tuan Sutan Takdir Alisjahbana kadang-kadang meniadakan hubungan zaman masa silam dengan zaman sekarang ini. Oleh Tuan Sanusi Pane hal itu diartikan begitu juga. Namun, kadang-kadang Tuan Sutan Takdir Alisjahbana mengakui juga adanya hubungan atau kelanjutan itu. Sebenarnya, seperti Tuan Sanusi Pane telah berkata, kelanjutan itu ada, dan tidak boleh dihilangkan. Oleh karena ada kelanjutan itu, saya berkeyakinan bahwa jalannya sejarah tidak boleh tidak, harus diselediki dan diketahui. Inilah alasannya orang menengok ke belakang. Pengetahuan yang diperoleh dari menengok ke belakang agar dapat melihat keadaan sekarang, yakni zaman kebaratan di tanah kita ini. Jika kita telah menengok ke belakang kemudian melihat keadaan yang sekarang ini, barulah bisa mulai mengatur hari yang akan datang. Sebab jika tidak begitu — hanya melihat zaman sekarang saja, hal itu saya rasa ada bahayanya, yakni kita lantas terus jalan membarat saja. Apakah kita berpikir bahwa kita harus bisa mengejar bangsa Barat? Barangkali untuk sementara bisa. Di Barat tentu juga sudah jalan terus lagi, entah kembali entah terus. Kalau demikian, kelak jadinya kita terpaksa selalu mengejar saja.

Menurut perasaan saya, yang berguna buat tanah air dan bangsa kita ini ialah mengetahui jalannya sejarah dari dulu sampai sekarang. Dengan pengetahuan ini kita sekuat tenaga berusaha mengatur hari yang akan datang. Sebab hanya dengan pengetahuan inilah orang dapat memilih mana yang baik, mana yang tidak baik buat tanah air dan bangsa kita kelak.

Adapun pendapat Tuan Sutan Takdir Alisjahbana bahwa apa yang kita lakukan sekarang tidak harus berakar pada zaman silam, tetapi pada zaman yang akan datang, itulah sepanjang pikiran saya, terbalik belaka. Ada juga yang menyebutnya waringin sungsang, yakni pohon yang akarnya tumbuh di tempat pupusnya mesti keluar. Namun, istilah ini biasanya dipakai orang di dunia mistik: di sana keadaannya memang serba terbalik dengan kehidupan di dunia ini.

Pendek kata: janganlah mabuk kebudayaan kuno, tetapi jangan mabuk kebaratan. Ketahuilah dua-duanya, pilihlah mana yang baik dari keduanya itu, supaya kita bisa memakainya dengan selamat di hari yang akan datang kelak. Inilah tugas berat untuk penganjur kita yang mau memperhatikan nasib bangsa ini, bangsa Indonesia kelak.[]

Catatan Sutan Takdir Alisjahbana:

Tuan Purbatjaraka mengatakan bahwa saya kadang-kadang meniadakan, kadang-kadang mengakui adanya kelanjutan zaman silam dengan zaman sekarang. Saya keberatan dengan “kadang-kadang” yang dipakai Tuan Purbatjaraka. Menurut perasaan saya, “kadang-kadang” menunjukkan sesuatu yang sangat semaunya sendiri. Padahal menurut pikiran saya, nyata benar, kadangkala ada hubungan antara masa yang silam dengan masa yang sekarang, dan kadangkala tidak.

Dalam arti mutlak masa yang sekarang selalu berhubungan dengan masa yang silam. Sejarah berlanjut terus. Tidak ada satu kekosongan antara dua bagian sejarah, sebab hakikat sejarah ialah perjalanan waktu yang tidak ada hentinya.

Namun, sejarah selalu dibagi-bagi orang menurut ciri khas yang terdapat dalam penggalan sejarah. Revolusi Perancis, misalnya, dianggap orang sebagai suatu batas dalam sejarah. Bentuk pemerintahan kuno telah tertutup, lenyap, tidak berlanjut lagi. Sejarah baru pun dimulai. Dalam arti ini pulalah saya berkata, bahwa zaman pra-Indonesia tidak berlanjut dengan zaman Indonesia. Zaman pra-Indonesia sudah tertutup dan sekarang mulai zaman Indonesia. Antara kedua zaman itu ada perbedaan: yang satu mengandung semangat Indonesia yang insaf dan sadar, yang lain tidak. Dalam perbedaan ini pun saya menyadari bahwa perbedaan tentang kebudayaan dan sejarah bukanlah seperti perbedaan dalam matematika: lingkaran dengan segitiga selalu jelas perbedaannya. Sebaliknya, zaman pra-Indonesia dengan zaman Indonesia ada bentuk peralihannya meskipun batas keduanya menjadi kabur.

Hubungan antara zaman yang silam dengan zaman yang baru itu tidak ada sama sekali, apabila kita hanya menemui pencipta kebudayaan baru orang per orang. Seorang pencipta kebudayaan baru mencipta menuruti getar jiwanya.

Ia tidak usah sedikit pun memedulikan kebudayaan nenek moyang dulu. Yang terpenting, malah satu-satunya yang penting, baginya ialah gerak jiwanya sendiri. Ucapan ini sama sekali tidak bersangkut paut dengan hal-hal yang tidak disadari di dalam jiwanya itu. Kalau kita berbicara tentang masalah yang tidak disadari itu, maka terlampau lebarlah pintu yang akan terbuka bagi dugaan-dugaan. Akhirnya, segala sifat manusia akan muncul padanya.

Masalah-masalah yang tidak disadari hidup dalam jiwa seseorang pencipta baru dapat kita ketahui, apabila ciptaannya sudah selesai. Baru kita dapat membandingkan, berapa banyak ia terpengaruh oleh zaman yang silam, berapa banyak ia terpengaruh oleh kebudayaan asing. Pengaruh asing tak selalu kurang dari pengaruh zaman yang silam.

Saya tidak pernah berkata bangsa kita harus selalu mengejar Barat dari belakang. Bukan pekerjaan kita membeo pada Barat. Kita hanya mesti secepatnya memperoleh sifat dinamis Barat yang melahirkan kebudayaan Barat yang dinamis. Bangsa kita hanya mungkin mempunyai harapan untuk masa yang akan datang, apabila semua yang dicapai oleh Barat itu membutuhkan waktu berabad-abad, dapat menjadi milik kita dalam waktu yang singkat. Sesudah itu pastilah kita akan mencari jalan sendiri, bersama-sama atau tidak bersama-sama dengan bangsa lain di muka bumi.

Kalau saya berkata bahwa kebudayaan yang baru itu bukan berakar di masa yang silam, tetapi di masa yang akan datang, maka maksud saya bahwa segala daya cipta dalam kebudayaan baru itu hanya terjadi menurut keperluan masyarakat yang akan datang. Tenaga pendorongnya ialah cita-cita penduduk kepulauan ini untuk mampu duduk sejajar di pergaulan bangsa di masa yang akan datang. Generasi muda menatap ke depan, apa yang mau dikejarnya dan bukan menengok ke belakang, apa yang sudah ditinggalkannya.

Saya tidak pernah berkata bahwa generasi baru tidak usah tahu kebudayaan lama. Saya hanya berkata bahwa generasi baru harus bebas, jangan terikat pada kebudayaan lama. Generasi baru harus mengetahui sebanyak mungkin tentang semua kebudayaan dunia dan di dalamnya tentu mencakup kebudayaan nenek moyang sendiri.


Sekilas tentang Purbatjaraka

Lahir di Surakarta pada 1 Januari 1884, Purbatajaraka dikenal sebagai filolog dengan spesialisasi sastra Jawa. Dia mulai tertarik menekuni sastra dan kebudayaan Jawa sejak usia muda melalui buku-buku koleksi pengadilan. Berkat ketekunannya, dia bisa bekerja di layanan arkeologis pemerintah kolonial dan bahkan menempuh studi doktoral di Leiden meskipun hanya lulusan sekolah dasar. Setelah Kemerdekaan, dia menjadi guru besar di Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, dan Universitas Udayana.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Latest from Nukilan

Ziarah Lebaran

Cerpen Umar Kayam “Ziarah Lebaran” merupakan salah satu dari 17 “Cerpen Pilihan

Terbang

Cerpen Ayu Utami Dengan berlatarkan kecemasan terkait keamanan transportasi udara, Ayu Utami

Pemintal Kegelapan

Cerpen Intan Paramaditha Dalam cerpen ini, Intan Paramaditha meramu horor dan misteri

Cinta Sejati

Cerpen Isaac Asimov Anda yang pernah mencoba aplikasi atau situs web kencan
Go to Top