“The Leftovers”: Mendalam dan Provokatif

in Film by

Bagaimana jika mendadak orang-orang terdekat Anda menghilang di saat Anda sudah jemu dengannya atau kegetiran hidup tiba-tiba lenyap? Apakah kehilangan itu meringankan atau malah menghadirkan kelinglungan baru? Itulah ide utama film seri televisi The Leftovers.

APA yang terjadi setelah hampir 140 juta orang “menghilang”? Dan apa rasanya bila peristiwa mahaaneh dan ultratragis itu terjadi persis selepas puncak berbagai gairah, hari ulang tahun, bersatunya keluarga, ekspresi saling mencintai dan sebagainya? Atau sebaliknya, semua itu terjadi persis setelah serangkain kesalahan yang kita lakukan dan perasaan berdosa akibat beragam ketidaksengajaan? Apa yang kita rasakan sekiranya semua kegetiran, kesumpekan akibat rutinitas dan beban mengurus keseharian hidup mendadak lenyap? Apakah kita akan menjadi lebih ringan dan bahagia atau kita malah bakal seperti terperosok dalam jurang kelinglungan tak bertepi? Apakah rutinitas yang menjemukan itu lebih berat daripada perasaan kehilangan semuanya?

Itulah ide-ide utama yang membingkai film serial televisi The Leftovers (2014-2017). Film adaptasi novel Tom Perrotta dengan judul sama ini menggali pelbagai kekisruhan, keanehan, dan ketidakwarasan warga kota fiktif Mapleton, New York, (dan juga berbagai kota lain di dunia) setelah “hilangnya” 140 juta nyawa manusia dalam satu momen ajaib. Peristiwa itu agaknya berdasar pada konsep apokaliptik rapture (kenaikan atau pengangkatan roh ke alam baka) dalam ajaran Kristen. Film ini kemudian mengisahkan psikologi orang-orang yang harus melanjutkan hidup di bawah puing-puing kenormalan baru, dengan berbagai dampak psikisnya yang berbeda-berbeda, termasuk ide tentang siapakah sebenarnya yang tertinggal (the leftovers). Dengan kata lain, mereka yang “berangkat” (departed)itu meninggalkan kita ataukah kita yang membiarkan mereka “berangkat” duluan?

  • Judul Film: The Leftovers
  • Kreator: Damon Lindelof, Tom Perrotta
  • Pemain: Justin Theroux, Amy Brenneman, Christopher Eccleston, Liv Tyler, Chris Zylka, Margaret Qualley, Carrie Coon, Emily Meade, Amanda Warren, Ann Dowd, Michael Gaston, Max Carver, Charlie Carver
  • Season: 3
  • Episode: 28
  • Durasi: 51-72 menit
  • Rilis: 2014-2017 (HBO)

Keberangkatan seketika (sudden departure) itu memang ada tanda-tandanya. Tapi seperti banyak tanda lain, ia bersifat laten dan sumir. Umpamanya, keretakan sosial yang muncul di mana-mana, yang berlangsung dalam kurun waktu panjang dan mulai menciptakan ketidakharmonisan yang dipaksakan sebagai kenormalan. Begitu pula bocornya “balon-balon” impian dan kesenangan banyak orang dengan perlahan dan halus. Entah kebocoran itu terjadi akibat gesekan dengan kesibukan yang sama sekali tak penting atau hasrat yang banal yang mendadak timbul atau pilihan yang telah lama kita timbang-timbang. Singkatnya, para penghuni bumi perlahan-lahan kian jenuh dan bosan dengan keadaan, dan seakan tidak menemukan alasan untuk mensyukuri apa yang terjadi.

Ibu-ibu yang sibuk bekerja, seperti Nora Durst (Carrie Coon), mulai lebih mementingkan kerja ketimbang mengurus keluarga. Sebagian ibu mulai jemu melayani anak dan suami, gundah mendengar tangisan bayi, terganggu dengan rengekan anak-anaknya dan sebagainya. Para suami, di lain sisi, tak lagi melihat kecantikan wajah istri mereka, atau tak lagi menemukan kelucuan anak-anak mereka. Ibu-ibu hamil yang menyesali kehamilannya dan menganggap memiliki anak di dunia yang kian tak bermakna itu adalah suatu kesalahan. Di saat-saat seperti itu, sekonyong-konyong orang-orang di sekitar kita, entah yang benar-benar kita kasihi atau terpaksa dan ala kadarnya kita sayangi, sontak menghilang dalam sekejap mata.

Kehilangan seketika dalam sudden departure itu ternyata tak memberi kelegaan seperti hilangnya rasa sakit kepala. Sebaliknya, ia justru membetot saraf-saraf terdalam, menghujam dada, mengaduk-aduk sanubari, menimbulkan kebingungan, kegelisahan, dan kecemasan tiada tara. Ia datang sebagai perasaan penyesalan akan lalainya kita terhadap guyuran karunia gratisan yang ada. Ternyata, bersama hilangnya derita yang harus kita tanggung sehari-hari itu pun, lenyap pula berjuta-juta kesenangan dan kenangan bersamanya. Dan sungguh, tiap orang mulai menyadari bahwa kepedihan yang selama ini dideritanya sejatinya mengandung imbalan keriangan yang tak pernah kita syukuri.

Film ini mencoba menggugat kerapuhan pelbagai konsep yang kita kira sudah benar-benar kita pahami. Dengan satu pukulan keras ke tengah-tengahnya, tumpukan konsep itu pun pecah berkeping-keping. Dan sesaat setelahnya, suatu kegilaan dalam diri kita, dalam tiap individu masyarakat, mulai tumbuh liar mencari bentuk baru. Dalam transisi yang morat-marit itu, pihak yang berwenang menjaga kenormalan lama tidak dapat membantu—untuk tidak mengatakan justru menjadi hambatan yang tidak perlu. Dalam konteks itulah film ini memperkenalkan tokoh utamanya, Kevin Garvey (Justin Theroux). Kevin dan ayahnya (diperankan aktor gaek Scott Glenn yang kini berusia 81 tahun) memerankan pihak berwenang yang semula mencoba mengendalikan keadaan tapi malah terjatuh pada petualangan ajaib yang membingungkan.

Beberapa saat sebelum departure, Kevin junior menjabat sebagai kepala polisi Mapleton menggantikan ayahnya yang mengalami kegilaan. Tak jelas apa sebab-musababnya, entah persoalan psikis ataupun dorongan gaib yang tak terperikan. Kevin senior senantiasa merasa ada yang menguntitnya, menyuruhnya berbuat macam-macam hal aneh. Sosok itu akhirnya dia hilangkan dengan cara memasuki kematian dan membunuhnya di sana, dan kembali ke kehidupan ini. Tapi obsesi Kevin senior tak hanya sampai di situ, karena dia pun akhirnya ingin menyelamatkan dunia dari bencana besar di akhir masa.

Sebagai kepala polisi baru, Kevin junior bertekad mempertahankan kenormalan. Tapi tekad itu membentur tembok baja. Tiap hari dia sendiri harus menghadapi tumpukan persoalan tak berujung. Dia sering mengalami tidur sambil berjalan (sleepwalking). Tidak jarang kemudian Kevin menembak sekawanan anjing di lingkungan rumahnya tanpa sadar. Gangguan psikis membuatnya tak ingat persis apakah dia sendiri yang menembak ataukah Dean (rekan misterius Kevin dalam banyak petualangan misterius). Kevin juga dirundung perasaan berdosa bercampur rasa tanggungjawab yang berlebihan.

Selain itu, Kevin harus menghadapi seabrek masalah keluarga. Ayahnya gila dan kadang melakukan agresi yang berbahaya. Putrinya, Jill (Margaret Qualley), mengalami krisis masa remaja yang akut dan juga cenderung melakukan kekerasan. Putranya, Tom (Chris Zylka), mengabdi pada Holy Wayne yang mengaku sebagai Yesus yang terlahir kembali ke dunia. Lalu istrinya yang bekerja sebagai psikiater sukses, Laurie (Amy Brenneman), memutuskan meninggalkan keluarga, bergabung dengan sekte Guilty Remnants dan menolak berhubungan dengan semua anggota keluarganya. Guilty Remnants sendiri adalah sekte nihilis yang percaya bahwa semua orang harus diingatkan akan kesia-siaan melanjutkan kenormalan yang ada.

Di season dua, kita baru mendapat gambaran mengapa Kevin mengalami banyak keanehan itu. Ternyata di saat sudden departure, dia persis sedang berselingkuh dengan seorang perempuan yang telah dia tolong dari sebuah kecelakaan. Di tengah perselingkuhan, perempuan itu tiba-tiba menghilang, raib tanpa jejak, seperti dua persen penduduk bumi lain. Saat mengenang kejadian itu, dia bertanya pada ayahnya, “Mengapa yang sudah ada ini terasa tidak pernah cukup?!” Ayahnya pun menjawab: “Karena semua orang cenderung memberontak pada gagasan bahwa hanya inilah yang ada!

Dalam kemelut dan kekalutan seperti itu biasanya orang kebanyakan akan kembali kepada agama. Tapi benarkah agama bisa menjawab kekalutan sebesar ini? Apakah ucapan pendeta penuh iman seperti Matt Jamison (Christopher Eccleston) yang menganggap semuanya sebagai ujian mampu memberikan jawaban memuaskan? Ternyata tidak. Akibatnya, Matt sehari-hari melihat betapa pengunjung gerejanya terus menyusut. Dia sendiri juga menghadapi setumpuk masalah rumah tangga maupun pendapatan—yang menurun seiring turunnya partisipasi jemaat.

Di dalam rumah, Matt harus menghadapi kenyataan istrinya lumpuh total akibat tabrakan mobil yang terjadi di momen departure. Di luar, dia gagal membayar cicilan dan gerejanya terpaksa dijual pihak bank. Padahal, sehari sebelum eksekusi, dia sudah melakukan yang mustahil untuk melunasi tunggakan: memenangkan uang sebesar $140 ribu dari permainan judi roulette. Namun, begitu keluar dari kasino, seorang yang semula dia tolong memukul kepalanya dan membuatnya pingsan beberapa hari.

Matt sendiri adalah kakak Nora yang kehilangan suami dan dua anaknya sekaligus. Nora kemudian bekerja sebagai peneliti senior di pemerintahan yang mengurusi para korban departure. Karena besarnya kehilangan yang dia rasakan, Nora mendapat status sebagai legacy. Kisah Nora yang unik lantas menjadi salah satu magnet dalam film serial ini. Apalagi kemudian Nora menjalin hubungan serius dengan Kevin sambil mempertahankan hubungan kekeluargaan yang kikuk dengan Matt.

Kepada adiknya yang saban hari melakukan berbagai aktivitas untuk mengenang kehilangan satu keluarganya, Matt semula hendak berhutang. Dia meyakinkan Nora bahwa gereja itu adalah warisan keluarga yang harus dijaga dan dipertahankan. Nora setuju dengan satu syarat: Matt meninggalkan kebiasaannya berdakwah di jalanan dan menyebar keburukan-keburukan para korban departure. Apalagi jika tujuannya adalah untuk mengatakan bahwa yang mengalami departure itu adalah orang-orang yang berdosa. Tapi Matt menolak dengan satu alasan: publik harus tahu kebenaran.

Nora dengan tenang mencoba menyadarkan Matt: apa yang kau lakukan, gerejamu, dakwahmu, dan segala apa yang kau kerjakan, kini sudah tak efektif lagi. Semua itu sudah tak ada lagi yang percaya. Dan semua itu juga tak membuat keadaan lebih baik. Nora yang punya latar belakang sebagai peneliti mencoba untuk bernalar dengan Matt, sang “mukmin” yang teguh dan kukuh.

Seperti bisa diduga, Matt membalas dengan mengungkapkan pada Nora bahwa suaminya telah berselingkuh sebelum menghilang. Nora yang sehari-hari mempertahankan eksistensi dan harapan hidupnya dengan kenangan indah anggota-anggota keluarganya pun tak mampu berkata-kata. Dia kini seolah ikut menghilang. Nora tak percaya bahwa Matt tega mengutarakan rahasia yang menghancurkan dirinya itu.

Dialog tersebut agaknya mewakili fenomena yang kerap kita hadapi. Orang-orang yang terus mempertahankan apa yang mereka yakini, iman mereka pada sesuatu, karena mengira itu lebih penting daripada apa pun, dan untuk itu mereka siap mengorbankan apa saja, termasuk menyakiti perasaan orang terkasih yang sejatinya selalu mereka andalkan dalam hidup. Dan itulah salah satu intisari cerita film ini: iman itu suka lepas kontrol dan menggoda kita untuk menjerumuskan kita pada pertengkaran, perdebatan, dan permusuhan muspra.

Matt adalah orang “beriman”. Dan seperti umumnya orang beriman, dia selalu ingin menularkan imannya pada orang lain. Dan untuk itu, dia siap melakukan apa pun. Yang masuk akal maupun yang tidak. Dia ingin orang-orang di sekitarnya beriman dan selamat seperti dirinya. Dalam sebuah dialog dengan sosok “Tuhan” di season 3, Matt sembari berteriak berkata: “Aku melakukan semua pengorbanan untuk-Mu.” Tuhan menjawab, “Kau melakukan semuanya karena kau mengira Aku melihatmu dan memperhatikanmu. Kau mengira Aku menghakimimu. Tapi Aku tidak melakukan itu. Kau tidak pernah melakukan sesuatu untuk-Ku. Kau lakukan semua itu untuk dirimu, untuk menarik perhatian-Ku padamu. Di situlah letak kebingungan ini terjadi.”

Ada dialog menarik antara Kevin dan Matt saat menguburkan Patricia “Patti” Levin (Ann Dowd), pimpinan sekte Guilty Remnants di season 2. Matt ingin Kevin yang sedang dirundung perasaan bersalah membaca pasase dari Injil sambil menyemayamkan jenazah. Kevin terkejut dan menolak. Saat ditanya alasannya menolak, Kevin berterus-terang: “Aku tidak percaya dengan isinya.” Matt menukas: “Aku yakin dia (Baca: Patti) juga tidak percaya. Tapi kau memintaku menolongmu. Dan beginilah caraku menolongmu.” Seolah Matt ingin mengingatkan bahwa ritual menjadi ritual bukan karena keyakinan semua pihak, tapi karena hanya begitulah ritual penguburan jenazah orang beriman.

Barangkali seperti banyak kejadian luar biasa lain, alih-alih mengubah keyakinan orang, departure itu malah memerosokkan sebagian besar mereka ke sumur keyakinan lama yang lebih dalam. Sebagaimana Matt, para ateis juga makin yakin bahwa Tuhan tak ada. Bahwa segalanya terjadi dalam kuasa hukum sebab-akibat. Bahwa tak ada guna menanti datangnya keadilan Ilahi. Anak-anak muda makin liar. Sekte-sekte baru dengan bermacam-macam figur unik bermunculan. Benar bahwa sebagian yang ragu akan jatuh dan gugur, tapi yang sudah yakin justru akan semakin percaya dengan pelbagai konsep yang telah lama mereka pegang.

Semua yang kehilangan ingin melupakan prahara itu. Kenangan akan kehilangan itu pun terasa ditelan pahit dibuang sayang. Akibatnya, manakala sekte Guilty Remnants berupaya mengingatkan orang ihwal apa yang terjadi, mereka semua marah. Mereka lalu melakukan kekerasan pada kelompok nihilis itu dan memaksa mereka diam. Tapi GR justru mengonsolidasi diri dan mengeraskan propaganda mereka, hingga menjadi tak ubahnya sekte-sekte dogmatis radikal lainnya.

Laurie, mantan istri Kevin yang bergabung dengan GR dan kemudian menjadi salah satu pentolan menemukan banyak kejanggalan sekte ini. Setelah cukup lama taat mengikutinya, dia menyempal dan berusaha menarik anggota-anggota lain keluar darinya. Baginya, bahaya besar doktrin GR terletak pada fakta bahwa kehancuran yang mereka janjikan itu tak kunjung datang. Lantaran kiamat alami tak kunjung datang meski segala persiapan sudah matang, maka sekte ini jadi kian tertarik pada kekerasan dan kekacauan. Sebagai psikiater profesional, Laurie pun tak kuasa melihat para penganut sekte ini mengalami komplikasi emosional dan psikologis yang akut.

Sudden departure juga membuka peluang bagi para penjahat, penipu, dan pemanjat sosial yang ingin perubahan cepat dalam hidup mereka. Dengan menjadikan musibah sebagai kambing hitam, mereka melakukan trik dan intrik yang merugikan banyak orang. Anggota-anggota keluarga yang ingin meninggalkan keluarga demi kesenangan lain juga seperti punya kesempatan dan dalih tambahan. Walhasil, banyak yang mencoba mengail di air keruh dan mencuri kesempatan dalam kesempitan.

Di season 2, film ini menambah satu unsur baru, yakni kota idaman. Nama aslinya Jarden, tapi kemudian diganti dengan Miracle. Konon tak ada korban departure di kota ini. Perlahan-lahan kota ini berubah jadi tempat ziarah internasional. Seperti umumnya tempat ziarah, orang berkunjung untuk mendapat berkah, membeli benda-benda keramat, atau sekedar mencari ketenangan. Tapi benarkah kota ini penuh mukjizat? Kevin, Matt dan Nora mencoba menguaknya dan menemukan sebaliknya.

Orang berebut masuk dan tinggal di kota ini. Yang kaya pakai duit, dan yang tak punya duit pakai akal-akalan dan kenakalan. Juga kekerasan. Kota mukjizat pun jadi seperti umumnya kota besar lainnya, penuh kontradiksi dan konflik kelas, ketegangan yang timbul akibat menganganya gap antara kenyataan dan harapan, realitas versus ekspektasi, kelas berharta versus kaum lemah dan sebagainya.

John Murphy (Kevin Carroll) sebagai penduduk asli Miracle sejak awal tahu persis bahwa harapan orang-orang yang berkunjung ke kota itu terhadap keajaiban adalah palsu dan konyol belaka. John mengkonfrontir Matt yang mengira istrinya yang telah lama lumpuh otak seketika tersadar saat pindah ke kota ini. Apalagi kemudian John menemukan bahwa istrinya hamil. Dia mengingatkan Matt bahwa yang terjadi sebenarnya Matt sedang kebingungan dan tak sengaja meniduri istrinya yang koma.

John mewakili kalangan rasionalis skeptis yang menolak percaya ada peristiwa di balik yang terlihat. Sampai akhirnya dia menemukan bahwa banyak sekali dugaannya yang salah. Putrinya, Evie (Jasmin Savoy Brown), yang begitu mereka cintai dan banggakan, ternyata bergabung dengan sekte nihilis GR. Lalu di suatu malam setelah pesta ulang tahun John, Evie menghilang. Istrinya, Erika (Regina King), tak bisa menerima kenyataan. John yang mencoba meyakinkannya soal ini terpaksa dia tinggalkan. John lamat-lamat terpaksa percaya dengan kemungkinan bahwa Evie tak benar-benar berangkat (departed), melainkan bersembunyi.

Saat John mengetahui bahwa Kevin menemukan Evie, John langsung ingin bertemu dengan Kevin dan meminta Kevin melakukan mukjizat yang pernah dilakukannya sebelum ini: pingsan, berangkat dan bertemu dengan orang-orang yang “di sana” dan kembali ke sini. Laurie, mantan istri Kevin yang kini bersama John, bertanya: “Untuk apa kau ingin Kevin menemui Evie? Apakah kau ingin bertanya kepadanya mengapa dia meninggalkan keluarganya?” Dengan wajah sendu, John menjawab: “Tidak. Aku hanya ingin Kevin menyampaikan pesanku untuk putriku: dia akan selalu kita cintai.”

Di season 3 kita makin dibuat takjub dan bertanya-tanya tentang siapakah Kevin sebenarnya. Benarkah dia santo, Yesus atau sosok adikodrati lain? Ataukah dia sekedar orang biasa dengan kemampuan luar biasa? Terbukti dia beberapa kali “berangkat” ke alam lain, menunaikan sejumlah tugas di sana dan kembali ke bumi ini. Sedemikian sehingga Kevin senior merayu putranya untuk sekali lagi menenggelamkan dirinya sampai dia kehabisan napas, berangkat ke ranah yang sudah mati dan menyampaikan sejumlah pesan: John ingin Evie tahu bahwa dia dicintai; Grace (Lindsay Duncan) ingin mengetahui apa yang terjadi pada anak-anaknya; sedangkan ayahnya sendiri ingin Christopher Sunday (David Gulpilil) mengajarinya mantra menolak banjir.

Sebenarnya keajaiban Kevin dimulai sejak season 2, ketika dia memutuskan menghadapi bayang-bayang Patti yang gentayangan mengganggunya. Tiap saat penampakan Patti datang mengganggu dengan melontarkan pertanyaan, paradoks dan berbagai isu yang membingungkan. Kevin percaya Patti yang sudah bunuh diri itu benar-benar ada di sampingnya. Saat Kevin bertemu dengan Laurie, dia mendapat komentar ini: Patti tidak nyata. Dia hanya bersitan dari kegelisahan emosional. Dan orang yang gelisah akan berpegang pada konstruk mental apa pun yang dapat membuatnya memiliki secuil kepercayaan. Saat itulah dia rentan mempercayai hal-hal yang palsu.

Untuk membuang Patti, Michael Murphy (Jovan Adepo), putra John, punya saran khusus untuk Kevin: temuilah Virgil, kakek John. Dalam pertemuan itu, Virgil memberinya jalan keluar menghilangkan penampakan Patti. Tentu bagian ini harus Anda tonton sendiri karena termasuk dari pelintiran alur cerita yang terus akan diperdebatkan oleh para penggemar. Intinya, season 2 film ini melontarkan pertanyaan inti: Apakah manusia terganggu oleh apa yang di luar dirinya ataukah oleh apa yang di dalam dirinya?

Season 3 memuncaki seri ini dengan sejumlah pengungkapan. Yang mungkin paling menarik ialah dimensi-dimensi lain dari tokoh bernama Kevin. Tokoh yang setidaknya tiga kali mengalami kematian tapi tetap hidup ini memang penuh rahasia. Siapakah Kevin sebenarnya? Mengapa dia begitu penuh pengorbanan, altruisme dan heroisme di satu sisi, tapi di sisi lain selalu ragu, cemas, sinis, kasar, dan gemar mengambil risiko-risiko besar? Diakah sosok Kristus yang bangkit kembali? Ataukah dia adalah personifikasi dari konflik baik-buruk, malaikat-iblis, dalam diri tiap manusia? Ataukah dia hanya sedang mengidap penyakit jiwa yang akut? Apakah Kevin Senior, Kevin Junior dan Patti itu adalah personifikasi profan dari Tritunggal Bapa, Putra (Yesus Kristus), dan Roh Kudus?

Bagaimanapun, film ini membuka banyak tafsir yang bermacam-macam tentang tokoh-tokoh yang ada, mengikuti banyak film brilian lain dari Hollywood yang menjelajahi hal-ihwal tentang tema multiverse atau tingkat-tingat realitas semesta yang berbeda-beda. Dan seperti Interstellar atau Contact, serial ini tidak memberi jawaban yang mudah. Sebaliknya, ia justru membiarkan sayap imajinasi penonton terbang ke mana saja maunya.[]

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*