JELAJAH LITERASI

“The Caravan”: Abdullah Azzam dan Bagaimana Jihad “Go Global”

in Wacana by

The Caravan: Abdallah Azzam and the Rise of Global Jihad karya Thomas Hegghammer, peneliti Norwegia, adalah biografi yang detail dan cermat tentang ideolog jihadisme, Abdullah Azzam. Buku ini juga arkeologi jihadisme yang melacak globalisasi jihadisme dari akarnya, berupa ketertindasan individual dan komunal.

SUKA atau tidak, kita harus mengakui peneliti Barat tentang Islam di era modern punya elan luar biasa, yang belum bisa disaingi peneliti Muslim sendiri. Mereka punya ketahanan keingintahuan dalam membedah suatu isu hingga puluhan tahun (tentu saja didukung pendanaan tak terbatas—isu klasik di dunia penelitian negeri-negeri Muslim). Mereka juga punya kegigihan melacak sumber-sumber utama dan kemudian memverfikasinya.

Itulah yang akan Anda rasakan saat membaca The Caravan: Abdallah Azzam and the Rise of Global karya Thomas Hegghammer. Dia meneliti Abdullah Azzam, figur utama ideologi jihadisme, selama lebih daripada satu dekade. Selama itu, dia tak hanya mengulik bahan-bahan di perpustakaan tapi menyambangi kediaman keluarga Azzam di Amman, Yordania. Dari keluarga Azzam, Hegghammer bisa mengakses kerabat dan sahabat serta catatan-catatan yang belum dipublikasikan dari “mentor” Osama bin Laden tersebut.

  • Judul Buku: The Caravan: Abdallah Azzam and the Rise of Global Jihad
  • Penulis: Thomas Hegghammer
  • Penerbit: Cambridge University Press
  • Terbit: 2020
  • Tebal: 718 halaman

Hasilnya adalah sebuah biografi mendalam, detail, dan cermat tentang Azzam. Dia petani dari al-Sila al-Harithiyya, desa di utara Tepi Barat, Palestina, yang kemudian menjadi ideolog-perekrut serdadu global. Dia profesor syariah Islam lulusan Universitas Al-Azhar yang kemudian memilih hidup di kamp militer. Dia berpindah-pindah dari apartemen bawah tanah, tempat-tempat mewah, hingga gua-gua. Dia tak hanya berteman dengan aktivis Islam tapi juga bertemu para pangeran Arab, agen CIA, dan bintang musik pop Cat Stevens. Dia dipuja sebagai “bapak spiritual” para jihadis tapi kematiannya oleh bom pinggir jalan (roadside bomb) pada 1989 di Afghanistan menjadi salah satu misteri terbesar dalam sejarah jihadisme.

The Caravan bukan cuma biografi Azzam. Buku ini juga—meminjam istilah Hegghammer sendiri—“arkeologi jihadisme”. Ia mencoba membedah mengapa dan bagaimana jaringan serdadu-serdadu asing itu—yang kemudian dikenal dengan sebutan “Afghan Arab”(meskipun tak semuanya berasal dari negeri-negeri Arab)—terbentuk menjelang dan selama Perang Afghan-Soviet pada 1980-an dan menjadi “Big Bang” bagi kelompok-kelompok jihadis internasional di kemudian hari. Jaringan itu melahirkan Al-Qaeda yang kita tahu selanjutnya beranak pinak, menetaskan sejumlah kelompok teror termasuk ISIS.

Ya, jika membaca buku ini, Anda akan menyadari bahwa semua itu berawal di sosok Abdullah Azzam, lebih tepatnya pada upaya mobilisasi dan pemikiran idelogisnya meskipun, menurut buku ini, Azzam tidak secara langsung terlibat dalam pembentukan Al-Qaeda. Jika Anda aktif dalam pergerakan Islam, terutama di era 1980-an hingga awal 1990-an, nama Abdullah Azzam hampir pasti tak asing di telinga Anda. Risalahnya yang paling populer Ilhaq bi al-Kafila (“Bergabunglah dengan Kafilah”) adalah bacaan utama para aktivis muslim masa itu. Judul risalah inilah yang Hegghammer jadikan judul bukunya.

Hegghammer pernah menjadi peneliti di sejumlah kampus, di antaranya Universitas Harvard, Princeton, New York, dan Stanford. Ia kini meneliti untuk Norwegian Defence Research Establishment (FFI), lembaga tangki pemikiran militer Norwegia, yang bertugas memberi masukan strategis kepada pemimpin politik dan militer negara Skandinavia tersebut. Ia menjalani studi Islam dan Timur Tengah di Universitas Oxford dan Sciences-Po (Paris Institute of Political Studies). The Caravan adalah buku terbarunya setelah Jihad in Saudi Arabia: Violence and Pan-Islamism since 1979 (2010).

Dengan dimensi 6 x 1,5 x 9 inci (nyaris seukuran A4), buku 700-an halaman ini bisa dibilang tebal, bahkan untuk Anda yang doyan membaca. Hegghammer bahkan mengatakan (melalui akun Twitter-nya), dia terpaksa membuang sedikitnya 120 ribu kata selama proses penulisan ulang. Tapi, Anda tak akan bosan membaca buku ini. Hegghammer menyajikan ulasan dengan gaya bercerita. Ini dimungkinkan karena dia berinteraksi langsung dengan saksi-saksi hidup di kehidupan Azzam. Istilah yang digunakan juga sangat tidak akademis atau teoritis. Misalnya, istilah “Big Bang” di atas atau “Islamist rock star” untuk menggambarkan betapa berpengaruhnya seorang Abdullah Azzam di kalangan Islamis.

Bagi Hegghammer, dalam buku ini, fenomena kelahiran jaringan global jihadis dalam perang Afghan-Soviet adalah keunikan—dia menyebutnya anomali. Beberapa dekade sebelumnya, dunia Muslim menyaksikan konflik di Aljazair dan Filipina. Tapi, tak satu pun dari keduanya yang memikat serdadu-serdadu asing dalam skala seperti di Afghanistan. Bahkan, pendudukan Israel di Palestina hanya berhasil menarik serdadu-serdadu asing dari negara-negara tetangga, antara lain yang tergabung dalam “fedayeen”, milisi yang dimobilisasi negara-negara Arab pada periode 1948 hingga 1970-an.

Soal “fedayeen”, ada poin menarik yang diungkap buku ini. Fedayeen dikenal luas sebagai gerilyawan kiri dan nasionalis. Hegghammer mendapati bahwa ada setidaknya satu unit kecil dari kelompok milisi ini yang berisi aktivis Ikhwanul Muslimin, dan Azzam tergabung dalam unit ini pada akhir 1960-an hingga awal 1970-an. Dia berperang bersama unit ini di perbatasan Yordania-Israel.

Dalam periode inilah, terbangun perasaan tak suka—jika bukan benci—kepada pejuang fedayeen dari kiri. Saking tak sukanya kepada kelompok Marxis ini, Azzam pernah berkata, “Demi Allah, kita harus lebih menjaga diri terhadap orang-orang kiri daripada terhadap Yahudi.” Lebih jauh, sebagaimana dikutip Hegghammer kata demi kata, Azzam melukiskan bagaimana perilaku para Marxis di kamp fedayeen: mereka memakan anjing, menghina Muslim jika azan dikumandangkan, tidur dengan perempuan-perempuan berpakaian ketat, dan kerap menyanyikan lagu-lagu Beatles dan Hippie.

Mungkin perasaan benci kepada kelompok kirilah yang salah satunya mendorong Azzam menggalang “jihad” ke Afghanistan demi mengusir Tentara Merah daripada ke Palestine, tanah airnya sendiri. Entahlah. Hegghammer sendiri menulis bahwa, tiap kali muncul tudingan bahwa Azzam mengabaikan Palestina, Azzam seringkali berdalih bahwa upaya mobilisasinya di Afghanistan adalah tahap pertama dari sebuah strategi jangka panjang untuk membebaskan Yerusalem dengan membangun sebuah pasukan Muslim yang kuat. Dalih—atau visi—yang tak pernah diwujudkan para Islamis yang terinspirasi olehnya. Kita tahu, Al-Qaeda dan ISIS tak pernah melakukan aksi melawan pendudukan Israel, dan bahkan pada satu periode tertentu dalam perang di Suriah, menerima bantuan Israel.

Namun, visinya tentang “jihad global” ke Afghanistan tidaklah datang seketika. Hegghammer menunjukkan bagaimana ketertindasan Azzam di Yordania (pada masa Raja Hussein mulai memberangus faksi “garis keras” dari Ikhwanul Muslimin) membawanya berimigrasi ke Arab Saudi dan kemudian Pakistan. Dan inilah kesimpulan utama buku ini. Marginalisasi Islam politik dari ruang-ruang kebijakan publik di negara-negara Arab membawa aktivis Muslim berbondong-bondong berkumpul di Peshawar, perbatasan Pakistan-Aghanistan, dan membangun lingkungan serta kekuatan “jihad global”.

Sebelumnya, penting untuk dicatat bahwa aktivisme Azzam berakar di Ikhwanul Muslimin cabang Yordania. Berbeda dengan di Mesir pada akhir 1960-an di mana Ikhwan dipersekusi rezim Gamal Abdel Nasser, Ikhwan di Yordania relatif berhubungan mesra dengan rezim Raja Hussein. Kondisi inilah yang memungkinkan Azzam menjalani periode kehidupan yang terbilang stabil: menjadi dosen dan bahkan gurubesar bidang hukum Islam di Universitas Yordania.

Kondisi berubah ketika terjadi friksi internal di Ikhwan, yang membelah kelompok itu secara informal menjadi “Bannais” dan “Qutbis”. Yang pertama—mengklaim mengikuti ajaran Hassan Al-Banna—lebih memilih jalan kooperasi dengan rezim-rezim berkuasa di tanah Arab. Sementara, yang kedua—yang mengakui mengikuti ajaran Sayyid Qutb—memilih “jalan pedang”. Sial—atau untungnya—Azzam masuk ke dalam kelompok kedua. Dan inilah yang membuat Azzam terusir, bukan hanya dari universitas tapi juga dari negara itu, ketika Raja Hussein mulai mengambil kebijakan keras terhadap para “Qutbis” di Yordania pada akhir 1970-an—meskipun sebelumnya kelompok ini ikut membantu rezim memberangus kelompok kiri fedayeen pada awal 1970-an. Buku ini juga mencatat, para Bannais di Ikhwan diam-diam lega dan senang dengan terusirnya Azzam.

Bagi Azzam, Qutb bukan semata tokoh senior Ikhwan tapi juga idolanya. Sayang, keduanya tak pernah bertemu karena Qutb lama berada di penjara rezim Nasser sebelum kemudian digantung pada 1966. Sementara, Azzam pada saat itu hanya seorang kader muda Ikhwan cabang Yordania. Tapi, di kemudian hari setelah Qutb dieksekusi, Azzam menjalin hubungan dekat dengan keluarga Qutb, terutama dua adiknya, Muhammad Qutb dan Amina Qutb. Nama pertama bahkan mengikuti dakwah Azzam ke Amerika Serikat pada 1977 selepas keluar dari penjara. Begitu kagumnya kepada Qutb, Azzam mewajibkan para serdadu “Afghan Arab” untuk membaca Fi Zhilal al-Quran, tafsir terkenal karya Qutb, setiap hari sehabis subuh. Selama perang, Azzam juga menulis tiga artikel panjang tentang pemikiran sang idola.

Ideologi Azzam mencerminkan pandangan Qutb. Pandangan hidup Islam superior jika dibandingkan dengan sistem keyakinan apa pun. Nasionalisme adalah ideologi yang diimpor dari dunia Barat. Dunia Muslim selalu berada dalam bahaya dan ancaman.

Namun, menurut Hegghammer, upaya mobilisasi “Afghan Arab” melalui Biro Layanan (lembaga yang dibentuk Azzam untuk menampung para serdadu Islamis dari seluruh negeri dengan berlabelkan sosial-kemanusiaan) menunjukkan keterputusan Azzam dari ide-ide Sayyid Qutb. Sebab, Qutb tak pernah menyentuh isu “jihad global” untuk merebut teritori. Qutb berfokus kepada perlawanan lokal melawan penguasa despotik dan korup.

Di sinilah, terjadi perubahan pandangan signifikan di kalangan Islamis, dari yang awalnya bersifat revolusi lokal-nasional menuju mobilisasi global, dan Azzam, menurut buku ini, berperan sentral menginspirasi para Islamis dari seluruh sudut bumi melalui tulisan-tulisannya. Perubahan itu, seperti terkesan ingin ditunjukkan buku ini, antara lain dipicu oleh ketertindasan dan marginalisasi sang ideolog, Abdullah Azzam, dari aktivisme politik lokal-nasional.

Lalu, apakah konstelasi politik internasional sama sekali tak berperan mendorong mobilisasi para jihadis ke Afghanistan, seperti dinarasikan banyak penelitian? Di titik ini, Hegghammer sedikit berbeda. Dia menilai negara-negara Barat dan Arab yang berkoalisi memerangi Soviet di Afghanistan melihat milisi “Afghan Arab” ini tak signifikan dalam membentu upaya mereka meskipun fakta menunjukkan sebagian besar serdadu asing datang dari Amerika Serikat, satu-satunya negara Barat yang memiliki cabang Biro Layanan. Negara-negara itu hanya tidak berupaya menghalangi proses penggalangan dana, rekruitmen, dan mobilisasi—pembiaran yang kita tahu kemudian menjadi bumerang bagi negara-negara itu. Hanya Arab Saudi setidaknya yang memberi dukungan dengan menyediakan tempat di negara itu bagi para Islamis yang tertindas di negeri-negeri mereka.

Di bagian akhir buku, Hegghammer mengulas pembunuhan terhadap Azzam pada 24 November 1989 (saat itu perang usai setelah Soviet mundur pada Februari 1989), yang dia sebut misteri terbesar dalam sejarah para jihadis. Siapa pelaku dan otak pembunuhan itu hingga kini belum diketahui. Menjelang kematiannya, Azzam setidaknya menghadapi permusuhan dari lima sisi: pemerintah Pakistan yang cemas dengan keberadaan milisi “Afghan Arab” di wilayah mereka; Saudi yang secara khusus tidak menyukai akar Ikhwanul Muslimin dari Azzam; kaum jihadis sendiri yang menilai Azzam terlalu moderat; kelompok Mujahidin pimpinan Gulbudin Hekmatyar yang tidak suka Azzam dekat dengan kelompok Mujahidin rivalnya pimpinan Ahmad Shah Massoud; dan Israel yang mulai mencium keterlibatan Azzam dengan intifada Palestina.

Setelah menjelaskan berbagai kemungkinan, Hegghammer “berspekulasi” bahwa kandidat pembunuh Azzam paling kuat adalah dinas intelijen Pakistan, ISI. Spekulasi mungkin kata paling tepat menggambarkan kesimpulan itu karena Hegghammer sendiri mengakui dia tak memiliki bukti yang cukup. Yang terpenting, menurutnya, pembunuhan atas Azzam telah menahbiskan Azzam sebagai ikon jihadisme, yang dihormati oleh setiap kelompok dari Ikhwanul Muslimin, Al-Qaeda, hingga bahkan ISIS.[]

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Latest from Wacana

Hidup Mati Petani Kita

Sejarawan Eric Hobsbawm menulis bahwa paruh kedua abad ke-20 dunia menyaksikan perubahan
Go to Top