JELAJAH LITERASI

Surabaya

in Nukilan by

Cerpen Idrus

Surabaya (1947) adalah cerpen panjang kontroversial dari Idrus, pelopor prosa Angkatan 45. Gara-gara cerpen ini, Idrus dilabeli “kontrarevolusioner”. Di sini, Idrus mencemooh pejuang Perang Kemerdekaan bak koboi menenteng revolver dan belati sambil membusungkan dada di jalanan.

1

ORANG-orang dalam mabuk kemenangan. Segala-galanya di luar dugaannya dan mimpinya. Keberanian timbulnya sekonyong-konyong seperti ular dari belukar. Kepercayaan kepada diri sendiri dan cinta tanah air meluap seperti luapan bir. Pemakaian pikiran menjadi berkurang, orang-orang bertindak seperti binatang dan hasilnya memuaskan. Orang tidak banyak percaya lagi kepada Tuhan. Tuhan baru datang dan namanya macam-macam, bom, mitraliur, mortir.

Waktu beberapa orang Belanda-Indo berani menaikkan bendera merah putih biru di hotel Yamato, orang-orang Indonesia tercengang-cengang. Orang-orang yang tercengang bertambah banyak, dan makin lama makin mendekati hotel itu. Tiba-tiba melompat seorang pemuda ke depan. Dipanjatnya tiang bendera, dirobeknya kain biru dari bendera itu. Orang-orang tercengang bertepuk dan bersorak, tetapi orang-orang Belanda-Indo marah-marah. Bukan untuk dirobek mereka menaikkan bendera. Mereka terkenang pada masa tiga setengah tahun yang lalu dan kepada ayah-ayahnya, yang betul-betul orang Belanda. Mereka merasa terhina seperti ayah-ayahnya sendiri ditelanjangi orang. Karena itu mereka marah-marah. Dan waktu itu marahnya menjelma menjadi pukulan dengan tinju hingga terjadi keributan, seperti dalam film-film koboi. Dan waktu film habis, datang mobil-mobil ambulans dan setelah berisi muatan, mobil-mobil ini berangkat pula. Sopir-sopirnya kelihatan sangat berhati-hati, roda mobil, serta tangan sopir penuh darah.

Waktu itu orang Indonesia masih percaya kepada Tuhan lama. Akan tetapi, setelah ancaman kepada diri dari sehari ke sehari bertambah tajam terasa, dirampas mereka kehormatan Jepang, pedang samurai dan senjata, seperti laki-laki jahat merampas kehormatan seorang gadis. Jepang merintih-rintih kesakitan dan menyerah.

Film koboi baru diputar. Di belakang jerajak-jerajak besi kelihatan muka-muka kuning. Di tengah jalan berdiri koboi-koboi. Di pinggang mereka revolver-revolver dan pisau-pisau belati. Revolver-revolver digunakan mereka untuk menembak pencuri-pencuri sapi dan pisau-pisau belati hanya untuk perhiasan. Anak-anak gadis tidak suka melihat lagi kepada titel-titel mentereng atau paras-paras yang elok. Mereka sekarang hanya melihat kepada revolver-revolver dan pisau-pisau belati dengan perasaan cinta dan menyerahkan diri kepada benda-benda pembunuh itu. Orang-orang berjalan dengan dada busung. Pencurian sapi tiada pernah terjadi, tetapi tembakan-tembakan revolver setiap hari kedengaran. Mula-mula orang-orang terkejut kalau mendengar tembakan, tetapi setelah mereka tahu, bahwa tembakan-tembakan itu ditujukan ke atas, ke tempat Tuhan lama, sekarang mereka bersorak gembira mendengar setiap tembakan.

Tiba-tiba terdengar guntur di hari cerah, keluar dari pesawat radio, sekutu mau mendarat. Orang-orang terkejut dan merasa khawatir seperti menunggu bahaya datang. Di mana-mana tampak kegelisahan, pada orang-orang, pada mobil-mobil yang menderu-deru di tengah jalan, pada mesin-mesin cetak, dan pada anjing-anjing. Anjing-anjing ini menyalak sampai parau sampai akhirnya suaranya hilang sama sekali dan perutnya kempes seperti ban sepeda bocor, mereka kelupaan diberi makan. Di mana-mana orang-orang berkata hampir sama.

Sekutu memang bukan musuh, tetapi mereka membunuh dan menculik di Jakarta.

Dan seperti nyanyian bersama yang jelek mereka berteriak, “Kita tidak mau diperlakukan seperti orang-orang Jakarta. Kita akan menolak. Kita akan berjuang. Kita punya revolver dan pisau belati.”

Teriakan-teriakan membelah udara, tetapi pemimpin-pemimpin Indonesia membelah dua jantung rakyat. Mereka ini dengan sekuat tenaga memberikan penerangan kepada rakyat, sekutu tidak akan berlaku seperti di Jakarta. Sekutu hanya akan mengambil tawanan-tawanan perang dan orang-orang Jepang. Jantung rakyat yang sebelah percaya kepada kata-kata pemimpin, tetapi jantungnya yang sebelah lagi tetap mencurigai sekutu. Sungguhpun begitu mereka tahu disiplin dan melihatkan sekutu mendarat dengan perasaan mengkal dalam hati. Serdadu-serdadu sekutu, hitam-hitam seperti kepala kereta api, dicurigai koboi-koboi seperti bandit-bandit yang dibiarkan lepas dan berkuasa. Jika bandit-bandit lepas bebas seperti burung di udara dan berkuasa seperti Hitler almarhum, masyarakat menjadi kacau. Segalanya tidak aman, sapi-sapi, gadis-gadis, emas-emas, dan juga revolver-revolver dan pisau-pisau belati kepunyaan koboi-koboi ditahan oleh bandit-bandit dan diharuskan menyerahkan senjatanya. Bandit-bandit berteriak sambil mengacungkan bayonetnya.

Jiwamu atau senjatamu!

Koboi-koboi tidak mengangkat tangannya dan tidak pula mau memberikan senjatanya. Mereka berteriak, ambillah jiwa kami! Pada waktu berteriak itu mereka menembak. Bandit-bandit pun menembak dan pertempuran seru terjadi.

Satu hari satu malam pertempuran itu. Sudah itu terbang dari Jakarta kepala koboi dan kepala bandit. Mereka berapat dengan pemimpin-pemimpin lainnya. Hasilnya sehelai kertas berisi huruf-huruf Inggris dan Indonesia. Dan di bawah huruf-huruf itu tanda-tanda tangan, Sukarno, Hawthorn. Bandit-bandit menyerah dan hanya dibolehkan tinggal dekat pelabuhan. Surat-surat kabar memuat berita-berita penting: Kita mau damai, tetapi juga bersedia untuk perang. Pada pihak kita seribu orang mati, sedangkan di pihak musuh tiga ratus orang.

Kemenangan berturut-turut memabukkan manusia. Orang-orang bertambah percaya kepada Tuhan baru dan meninggalkan Tuhan lama sama sekali. Karabin dan revolver dicintai seperti gadis-gadis molek jelita, dibelai-belai, dicium, dan dijual dengan harga yang sangat tinggi. Muka-muka kelihatan gembira dan bangga. Kepercayaan kepada kekuatan sendiri memancar dari gagang-gagang senapan dan mulut-mulut manusia. Orang-orang bersukaria, seperti orang-orang Roma sehari sebelum peletusan Gunung Vesuvius.

Mulut-mulut berbau tembakau dan omongan bual. Gunung Vesuvius mengeluarkan api dan asap. Sebentar lagi ia akan meletus.

Sejak beberapa hari sekutu mendaratkan serdadu-serdadu lebih banyak dan tank-tank raksasa. Tank-tank ini turun dari kapal seperti malaikal maut turun dari langit, diam-diam dan dirahasiakan oleh orang yang menurunkannya. Map Vesuvius bertambah tebal dan bergumpal-gumpal. Hujan surat selebaran turun dari langit, orang-orang Indonesia harus menyerahkan senjatanya kepada sekutu! Persis seperti perintah Tuhan dalam mimpi orang-orang Roma, hai, orang-orang Roma, kamu harus menyerahkan dirimu kepadaKu, kalau tidak Gunung Vesuvius akan Kuletuskan. Malaikal maut akan Kuturunkan memusnahkan kamu!—dan persis pula seperti orang-orang Roma, orang-orang Indonesia menolak perintah itu dan tidak mengindahkannya. Malaikal maut berjalan di atas dunia, menderu-deru dengan giginya yang besar-besar. Gunung Vesuvius meletus. Ribuan manusia berhamparan mati di tengah jalan. Udara diliputi asap hitam dan tebal. Kilat sabung-bersabung.

Api kebakaran menjilat gedung-gedung dan jiwa bangsa Indonesia…

2

JALAN-jalan di luar kota penuh dengan manusia, kebanyakan kaum perempuan. Muka mereka kelihatan letih dan lesu karena lama berjalan. Di belakang mereka asap, api kebakaran, koboi-koboi dan bandit-bandit dan segala yang dicintainya: suaminya, rumahnya yang terbakar, ayam Eropanya, anaknya, dan tempat tidur kero-nya. Sedang berjalan mereka menangis seperti anak kecil, mengeluh, dan beberapa orang perempuan melahirkan anak. Ibu-ibu yang beruntung itu merasa mendapat kecelakaan. Mereka merintih-rintih kesakitan di tepi jalan dan dalam hatinya mereka menyumpahi Tuhan. Tidak seorang pun dari mereka menghendaki anak pada waktu ini. Dengan perut-perut gendutnya mereka melarikan diri dari maut dan di tengah jalan perut-perut gendut itu tiba-tiba menjadi kempes dan terdengar teriakan bayi. Tidak banyak orang yang mengacuhkan nasib ibu-ibu ini. Mereka berjalan dengan kaki-kaki berat seperti terbuat dari timah menuju tujuan hidupnya yang utama pada waktu itu: kota lain yang aman, rumah tempat menginap. Panas membakar segalanya: daun-daun, punggung manusia dan kerongkongannya. Daun-daun membalikkan diri menghindarkan panas itu, tetapi manusia tiada berbuat apa-apa. Mereka berjalan terus, berjalan terus sambil berdiam diri dengan pikirannya masing-masing.

Seorang perempuan tua menjadi gila. Ia sebenarnya tidak mau melarikan diri. Ia mau tetap tinggal dalam kota terbakar itu di dalam rumahnya yang indah permai, di sebelah radio Erres menantunya dan di dekat lemari gudang emasnya. Berkali-kali ia berkata dalam hatinya, “Aku tidak mau lari. Biar mati bersama-sama barangku.”

Akan tetapi, waktu bom jatuh dekat rumahnya, ia berlari ke luar, berlari, berlari, dan diseret oleh gerombolan manusia yang berjalan menuju keluar kota. Waktu itu ia sebenarnya bukan manusia lagi, ia seorang pingsan, tak sadarkan diri. Dengan senyum gembira di bibir ia berjalan-jalan bersama yang lain. Langkahnya dan lenggoknya seperti orang hendak pergi ke peralatan. Ia terus tersenyum dan mengajak orang-orang berjalan di sebelahnya dan berbicara. Macam-macam pertanyaan diajukannya, “Nyonya kenal dengan Nyonya Dokter Mustafa? O, dia sangat baik, peramah. Akan tetapi, jeleknya, ia suka berkata yang buruk-buruk tentang orang-orang lain. Siapa suami Nyonya? Hati-hati Nyonya menjaga suami. Jarang laki-laki yang tiada pernah pergi kepada perempuan jahat. Pengalaman ini Nyonya. Apa merek radio Nyonya?”

Perempuan tua itu tidak heran sama sekali karena tidak mendapat jawaban dari nyonya yang berjalan di sebelahnya itu. Akan tetapi, waktu seorang laki-laki tua berteriak, kita sudah dekat Krian, ia berhenti berjalan. Dikerutnya keningnya seperti berpikir dan tiba-tiba ia menangis keras-keras dan berteriak, “Barang-barangku, rumahku, radioku!”

Ia berlari kian kemari dan berteriak tidak keruan. Dirobek-robeknya bajunya, kutangnya, dan ditanggalkannya kainnya. Dalam keadaan seperti Siti Hawa, ia lari kencang-kencang menuju ke Surabaya untuk membelai-belai barang-barangnya dan radio Erres-nya.

Di udara, di atas kaum pelarian, sering terbang burung-burung putih seperti perak. Burung-burung ini menderu-deru dan menjatuhkan kotoran saat terbang itu, peluru-peluru senapan mesin. Kaum pelarian bersiduga cepat masuk got-got. Mereka sangat takut kepada burung-burung putih itu, seperti kucing dibawakan lidi. Kotoran-kotoran itu menembus badan-badan kaum pelarian dan meninggalkan lubang-lubang terbakar dalam badan-badan itu. Sesudah itu, burung-burung itu menghilang, seperti malaikal maut yang sudah menjalankan kewajibannya.

Laki-laki tua yang berteriak, bahwa Krian sudah dekat itu, kena tembakan pada tangan kanannya. Ia menggerung-gerung kesakitan, minta belas kasihan dan pertolongan dari kaum pelarian yang lain. Akan tetapi, ketika beberapa orang perempuan mendekati hendak memberikan pertolongan, mereka ini tertawa gelak-gelak. Mereka berseru kepada teman-temannya yang lain keras-keras, sambil menunjuk kepada orang kesakitan itu, “Lihat, ia tidak tua, masih muda!”

Sesudah berseru itu, mereka melompat kepada orang tua yang bukan tua itu, ditariknya baju jasnya, rambut palsu dan kumis palsunya dan berseru sekali lagi, “Lihat! Lihat!”

Panas sedang teriknya, cahaya panas melalui jangat kepala, masuk ke dalam kepala. Orang-orang menjadi marah dan galak seperti harimau. Mereka berteriak, “Jahanam! Pengecut! Pemuda lain menyabung nyawanya. Engkau melarikan diri seperti perempuan.”

Tiba-tiba terdengar sebuah teriakan, mengatasi teriakan orang banyak, “Bunuh dia! Beberapa orang perempuan datang dengan batu-batu besar dan melepaskan batu-batu itu di atas kepala anak muda itu. Anak muda itu mengeluarkan keluhan panjang dan penghabisan. Kaum pelarian meneruskan perjalanannya ke kota aman.”

Seorang wartawan terkenal datang dari Jakarta. Ia hendak melihat kaum pelarian. Dadanya tipis dan juga pantatnya. Setiap orang melihat dia yakin, bahwa wartawan itu tidak pernah main sport dan banyak sekali main onani. Akan tetapi, otaknya tajam dan agak dari atas ia bertanya kepada seorang dokter, “Berapa orang pelarian yang menjadi korban tembakan sekutu di tengah jalan?”

Dokter yang sedang asyik bekerja itu, marah karena diganggu dan jawabnya, “Aku bukan kantor statistik! Hitunglah sendiri!”

Wartawan itu merasa dihina dan untuk menghilangkan pil pahit itu, dilayangkannya pandangannya kepada pelarian-pelarian perempuan yang manis-manis. Dalam hatinya ia berkata, “Banyak kesempatan di sini. Surga betul-betul.”

Waktu ia ada di Jakarta lagi, ia lupa kepada perempuan-perempuan manis itu. Terdengar olehnya kembali perkataan tajam dokter itu dan tanpa setahunya ditulisnya dalam surat kabarnya.

Perawatan kepada kaum pelarian jelek sekali. Dokter-dokter banyak yang belum insaf akan perjuangan sekarang.

Di Krian, kaum pelarian menginap semalam. Rumah-rumah penginapan tiada mencukupi. Kebanyakan mereka tidur di atas peron stasiun, seperti balok-balok kayu atau seperti angka-angka lima. Tengah-tengah malam mereka mimpi keras-keras. Mimpinya tentang segala macam yang indah-indah dan enak-enak. Seorang perempuan muda mengeluh senang dalam mimpinya dan katanya keras-keras, “Baik, baik, nanti kelihatan orang lain.”

Di sebuah sudut duduk seorang perempuan. Ia tidak bisa tidur. Dalam tangannya digendongnya sebuah bungkusan. Bungkusan itu digerak-gerakkannya beraturan, sambil menyanyikan lagu anak-anak perlahan-lahan. Sesudah lelah bernyanyi, katanya kepada gendongannya, “Minum susu, Nak?”

Dibukanya botol susu dengan tangan kanannya, tetapi waktu mulut botol itu dihadapkannya ke gendongan itu, ia terkejut. Segala benda yang ada di tangannya jatuh ke atas lantai, botol susu dan sebuah bantal guling. Lama perempuan itu melihat ke bantal guling di atas peron itu. Sesudah itu, ia berteriak dan menangis tersedu-sedu, “Anakku! Anakku !”

Orang-orang yang tidur dekat sudut terbangun oleh teriakan itu, tetapi perempuan itu sudah menghilang dalam gelap gulita di luar stasiun. Orang-orang yang terbangun itu melihat ke botol susu pecah dan bantal guling di atas peron. Mereka heran dan bertanya dalam hati, “Siapa yang berteriak? Ah, mungkin bantal guling dan botol susu!”

Dan mereka tertidur kembali dengan nyenyak…

3

TUMINAH diberi sebuah kamar kecil oleh familinya di Sidoarjo. Sebenarnya ini bukan kamar biasa. Waktu famili itu belum begitu makmur lagi, ia dipakai untuk menyimpan arang dan segala perabotan-perabotan yang tiada terpakai lagi. Waktu itu kamar itu berbau buah-buahan busuk. Setelah famili ini agak berada sedikit, kamar itu dipakainya sebagai kandang anjing yang baru dibelinya. Akan tetapi, bau buah-buahan busuk masih ada dan sekarang bertambah dengan bau kotoran anjing. Nyonya rumah tidak punya anak, sebab itu ia memelihara anjing, meskipun anjing itu tiada pernah dipangku-pangkunya seperti anak kandungnya. Akan tetapi, seperti biasanya, di depan rumah itu ditaruh sebuah papan bergambar kepala anjing dan huruf-huruf, Awas! Ada Anjing. Orang-orang yang lewat dan tukang minta-minta melihat ketakutan kepada kepala anjing di papan itu dan mereka lekas-lekas pergi dari rumah itu. Melihat ini, nyonya rumah tertawa geli sendirian dan katanya seperti mengulangi pelajaran sekolah rakyat, “Anjing adalah binatang yang setia?”

Sesudah itu, pertempuran Surabaya pecah dan Tuminah datang kepada famili itu, kepayahan karena lama berjalan dan kurang makan. Lama famili itu berpikir untuk memberikan kamar itu kepada Tuminah. Anjing itu disayanginya, tetapi menurut adat ia harus kasihan dengan Tuminah. Setelah menyumpahi adat itu dalam hatinya, nyonya rumah berkata dengan pendek, “Bersihkanlah sendiri kamar itu. Tempat tidur tidak ada. Kami miskin. Jangan harapkan apa-apa dari kami. Besok carilah pekerjaan.”

Banyak lagi perkataan nyonya rumah itu, tetapi Tuminah tidak mendengarnya. Ia telah buta dan tuli karena kelelahan. Lagi pula ia tidak peduli apa yang akan dikatakan orang kepadanya. Ia perlu tempat membaringkan badan, semalam ini, semalam ini saja. Apa yang akan dilakukan besoknya, ia tiada mempunyai waktu hari ini untuk memikirkannya. Bergegas dibukanya pintu kandang anjing itu. Anjing itu menyalak kepada Tuminah, tetapi Tuminah tidak mendengarnya, ya, ia tidak melihat anjing itu sama sekali. Bau buah-buahan busuk dan kotoran anjing menguap melalui pintu masuk ke dalam lubang hidung Tuminah, tetapi Tuminah tidak membauinya. Yang dilihatnya hanya sebidang lantai dalam kamar itu, persis sepanjang badannya dan dibaringkannya badan itu di atas lantai itu dan segera mendengkur seperti kerbau. Di bawah kakinya dan di ujung kepalanya terdapat onggokan-onggokan kotoran anjing itu, dan anjing itu sendiri menjilat-jilat dahi Tuminah dengan senangnya.

Pada waktu itu nyonya rumah sedang bercakap-cakap dengan tamunya di ruang makan. Sekali-sekali kedengaran tertawa riang. Akan tetapi, waktu membicarakan pertempuran Surabaya, nyonya rumah kelihatan sungguh-sungguh dan katanya bersemangat, “Kita harus gotong-royong. Kita harus memberikan pertolongan secukupnya kepada kaum pelarian. Kalau kita punya baju tiga, kita harus dapat memberi satu potong kepada mereka.”

Setelah berkata, ia tertawa gelak-gelak dan lekas pula kesungguhan tadi hilang dari mukanya.

Di sebuah kota, tempat kaum pelarian terbanyak pergi, didirikan badan-badan amal dua buah bedeng. Yang satu untuk pelarian-pelarian perempuan dan yang satu lagi untuk pelarian-pelarian laki-laki tua. Badan-badan amal telah mengatur dengan sebaik-baiknya supaya kedua bedeng itu mendapat makanan yang sama. Akan tetapi, setelah pelarian-pelarian perempuan berjalan-jalan dengan pengawal bedeng di tempat gelap dan di bawah cahaya bulan kabur, pembagian makanan itu menjadi berat sebelah. Bedeng laki-laki. tua memprotes ke atas dan penuh harapan mereka menunggu-nunggu hasil protesnya. Tepat keesokan harinya, hasil itu pun datang dan dirasai oleh laki-laki tua dan oleh setiap perut mereka: hari itu kepada bedeng laki-laki tua tidak dibagikan makanan sama sekali. Pengawal-pengawal bedeng tertawa geli dan katanya kepada laki-laki tua, “Jangan suka protes. Tiru pelarian-pelarian perempuan itu. Mereka menyerahkan diri kepada nasib dan dapat makanan berlebih-lebihan.”

Laki-laki tua mendongkol dan tidak menjawab apa-apa. Dalam hatinya ia berkata, “Alangkah enaknya jadi perempuan. Dapat kesenangan dan makanan.”

Akan tetapi, akhirnya mereka berteriak bersama-sama kepada pengawal-pengawal itu, “Kalian jahanam! Jahanam! Semuanya!”

Bedeng pelarian-pelarian perempuan makin lama makin banyak mendapat makanan dan cinta pengawal-pengawal. Perempuan-perempuan itu dari hari ke hari semakin liar. Mereka sering lupa kepada suaminya yang ditinggalkannya bertempur di Surabaya dan pergi mengecap kesenangan dengan pengawal-pengawal ke tempat gelap. Gadis-gadis kehilangan benda berharganya di sini, tetapi mereka tidak menyesal. Minggu-minggu yang akhir ini penderitaan mereka bukan main, perjalanan kaki yang berkilo-kilo meter panjangnya, haus dan lapar dan waktu kesenangan datang, akan mereka tolak mentah-mentah? Manusia tetap manusia. Ia mau menderita segala apa saja, tetapi sudah itu ia minta bersenang-senang. Di dalam bedeng setiap hari lahir perkataan-perkataan kotor baru dan beberapa bulan lagi bayi-bayi.

Kaum pelarian Surabaya terdapat di seluruh Jawa. Mereka yang masih berpikiran sehat, hidup seperti tikus kapal. Waktu ombak besar, mereka diempas-empaskan ombak ke dinding kapal dan mati. Yang lain menjalani kehidupan senang seperti perempuan-perempuan hotel atau seperti tukang minta-minta di tengah jalan. Pikiran mereka pendek-pendek seperti pikiran orang putus asa.

Amat, seorang pemuda yang dapat meloloskan diri dari penjagaan prajurit, membual di mana-mana. Ia tidak suka dinamakan pelarian. Ia pemuda yang berjuang gagah perkasa dan baru mencari tempat aman, setelah semua teman-temannya gugur seperti bunga bangsa. Ia dapat menceritakan, bagaimana makannya mortir, bagaimana bentuknya senapan mitraliur, bagaimana ia berhasil membunuh sepuluh serdadu Inggris sendirian, dan untuk membuat orang lebih percaya ditambahnya di belakang, dengan sebuah granat tangan yang tepat mengenai sasarannya. Mula-mula orang dengan penuh perhatian mendengarkan ceritanya itu, tetapi akhirnya orang-orang bosan dan mual seperti perempuan jahat yang baru selesai dipakai.

Seorang laki-laki tua menangis setiap hari dalam kamarnya seperti anak kecil yang kehilangan sesuatu. Ia tidak pernah mencintai istrinya. Kepada teman-teman karibnya sering ia berkata, “Aku tidak dapat berterus terang dalam hal ini. Hanya yang bisa kukatakan kepadamu, bahwa ada sesuatu yang tidak enak pada istriku.”

Itu barangkali sebabnya ia terlupa membawa istrinya, waktu hendak lari dari Surabaya. Mula-mula ia mengucapkan syukur kepada Tuhan Yang Maha Penolong seperti seorang yang baru terlepas dari penderitaan yang bertahun-tahun. Akan tetapi, waktu di tempat kediaman barunya mengalami kesusahan-kesusahan hidup, ia menangis sehari-hari dan berkali-kali berseru, “Maafkan aku, Jaleah. O, jika engkau ada di sini, tentu penderitaanku tidak akan seberat ini benar.” Dan malam-malam dalam mimpinya dilihatnya Jaleah sedang bersenda gurau dengan serdadu-serdadu Gurkha dan teriaknya keras-keras, “Jaleah, jangan! Jangan!”

4

JIKA orang-orang berani menentang mulut meriam, o, mereka alangkah takutnya kepada mata-mata musuh. Hantu takut ini menderu-deru seperti angin topan di atas kota-kota, di dalam jiwa manusia dan merebahkan segala yang ada di jalannya, semangat berjuang, dan pikiran sehat. Setiap orang mencurigai orang lain dan untuk melepaskan diri dari siksaan hantu itu, mereka saling membunuh.

Di stasiun-stasiun dekat medan pertempuran semua penumpang kereta api harus turun. Laki-laki di kamar untuk laki-laki, dan perempuan-perempuan di kamar untuk perempuan. Ini bukan klinik rumah sakit, tetapi tempat pemeriksaan di stasiun-stasiun. Laki-laki dan perempuan ditelanjangi seperti Adam dan Siti Hawa, diperiksa di mana-mana, juga di tempat-tempat yang biasanya orang-orang malu memperlihatkannya, kalau-kalau ada tanda mata-mata musuh. Mula-mula yang memeriksa orang-orang perempuan, pemuda-pemuda. Mereka ini meraba-raba badan perempuan-perempuan itu, dan jika ada yang harus mereka katakan, mereka tidak dapat berkata apa-apa karena terpesona dan hawa nafsu. Akan tetapi, setelah perkumpulan-perkumpulan wanita mengajukan protes atas tindakan yang ‘biadab’ ini, pemuda-pemuda itu ditukar dengan perempuan-perempuan tua.

Pada suatu kali tertangkap seorang mata-mata musuh laki-laki. Pengawal-pengawal stasiun berkerumun ke tempat pemeriksaan. Mereka berteriak-teriak dan bersorak gembira seperti anak kecil mendapatkan gula-gula. Kata mereka, “Bunuh! Bunuh saja!”

Mata-mata musuh itu pucat seperti mayat. Waktu orang bertambah banyak berkerumun ke tempat pemeriksaan di sekelilingnya, ia tidak membantah-bantah lagi. Ia telah menyerahkan diri kepada Tuhan dan orang banyak itu. Suara-suara kacau balau memenuhi ruangan. Yang satu mengatasi yang lain, “Bunuh saja!”

Ya, itu tentu, tapi bagaimana caranya?

Tembak! Tembak!

Tidak, itu terlalu lekas dan ringan. Kita gantung. Kita gantung. Dan seperti bunyi guntur kedengaran, “Kita seret di belakang kepala kereta api.”

Tiba-tiba suara kacau-balau hilang lenyap, seperti bunyi radio pada waktu listrik kontak tiba-tiba. Di ambang pintu berdiri kepala stasiun. Dengan suara tenang ia bertanya, “Ada apa? Ada apa?”

Beberapa pegawai stasiun menjawab, “Mata-mata musuh, Pak! Kita bunuh saja!”

Kepala stasiun masuk kamar pemeriksaan dan kepada orang banyak katanya, “Jangan bertindak sendiri-sendiri, Saudara-saudara. Ini harus kita laporkan kepada polisi.”

Dari orang banyak keluar kata-kata tidak setuju. Suara-suara ini makin lama makin keras. Ada seorang pemuda maju ke depan dan berkata, “Tidak bisa, Pak. Tindakan polisi tidak radikal. Kita bunuh saja!”

Orang banyak berteriak tanda setuju, “Ya, bunuh! Bunuh! tidak perlu diserahkan kepada polisi. Kita radikal. Kita, kedaulatan rakyat, kedaulatan rakyat!”

Dan seperti gerakan refleks, tangan orang-orang menjangkau baju mata-mata musuh. Mula-mula kepalanya dipukul dengan tinju-tinju, sudah itu dengan kayu-kayu, dengan potongan-potongan rel kereta api dan akhirnya dengan golok-golok. Dari telinga, hidung, dan mulut keluar darah, hitam merah seperti warna buah manggis yang sudah masak. Dari rangka kepala keluar otak, cair dan putih seperti sumsum ayam jago.

Di pasar Mojokerto berjalan seorang perempuan muda. Sebentar-sebentar ia tersenyum sendirian, ia baru kawin dan sekarang pergi ke pasar membeli makanan untuk suaminya. Ia selalu tersenyum sendirian, jika ia mengerjakan sesuatu untuk menyenangkan hati suaminya. Ia sangat cinta kepada suaminya. Tiba-tiba senyumnya hilang. Di mukanya berdiri seorang pemuda dengan revolver di pinggang dan pisau belati di tangan. Kata pemuda itu dengan kasar, “Nyonya, ikut saya!”

Keheran-heranan dan ketakutan perempuan muda itu mengikuti pemuda itu ke belakang pasar. Di sana banyak lagi pemuda-pemuda lain, semua pakai revolver di pinggang seperti kenpei Jepang. Seorang daripadanya maju ke muka dan bertanya, “Hai, Karto, siapa kaubawa?”

Karto tersenyum dan katanya, “Biasa, siapa lagi.”

Mendengar jawaban itu pemuda-pemuda berkerumun di sekeliling perempuan muda itu. Perempuan muda itu pucat seperti kapur dan pikirannya melayang kepada suaminya. Sangkanya, pemuda-pemuda itu hendak mencemarkan kehormatannya, tetapi sangkaannya itu lekas-lekas dibuangnya, orang yang hendak memperkosa perempuan, tidak suka kepada orang-orang banyak. Tiba-tiba seorang pemuda berkata, “Mata-mata musuh, ya?”

Keheranan perempuan muda itu bertambah-tambah. Ia hendak menjawab dengan beberapa perkataan, tetapi mulutnya terkunci karena ketakutan. Digelengkannya saja kepalanya seperti kuda menghalau lalat dari tengkuknya. Sesudah menggeleng itu, ia tersenyum. Melihat senyum itu, pemuda-pemuda bertambah marah dan keras-keras katanya, “Hendak dibujuknya kita dengan senyum manisnya! Ya, begitu caranya selalu, selalu begitu. Hm, selendang merah, baju putih dan selop biru, he. Dikiranya kita tidak tahu cara-caranya.”

Muka perempuan muda itu bertambah putih. Baru ia tahu sekarang, mengapa ia dianggap mata-mata musuh. Berturut-turut dilihatnya selendang dan bajunya. Namun, waktu ia menekur hendak melihat selopnya, ia dipukul dari belakang. Ia terjatuh ke atas tanah. Hidungnya berdarah. Beberapa pukulan lain tiba di bagian badannya yang lain. Maki-makian memenuhi udara. Tiba-tiba seorang pemuda berkata terkejut, “Saudara-Saudara, berhenti memukul! Kita salah, kita salah. Selopnya bukan biru, tetapi hitam.”

Beberapa orang menundakan pemuda yang berteriak itu ke samping dan kata mereka, “Tutup mulutmu, Parman! Engkau buta warna.”

Waktu mereka hendak meneruskan memukul, datang polisi ke tempat itu bersenjata lengkap. Pemuda-pemuda bersikap seperti tidak tahu apa-apa. Polisi membawa beberapa pemuda ke seksinya dan perempuan muda yang setengah mati itu ke rumah sakit. Waktu ia sadarkan diri, katanya kepada seorang juru rawat, “Aku telah memaafkan mereka. Mereka muda-muda dan berjuang untuk Tanah Air.”

Akan tetapi, polisi berpendapat lain, berjuang tinggal berjuang. Kesalahan harus dihukum.

5

ORANG-orang seperti kuda beban. Mereka menanggungkan segala penderitaan dengan tidak mengeluh dan mereka tidak tahu, mengapa mereka harus menderita sedemikian benar beratnya. Semuanya bagi mereka sekarang kabur, hari kemudian dan perjuangan yang menimbulkan putus asa. Satu-satunya yang masih terang benderang bagi mereka ialah bahwa mereka harus membunuh dan mengusir musuh yang menginjak-injak tanah tumpah darahnya yang sudah merdeka. Pekerjaan ini dilakukannya dengan hati yang tetap, semangat yang berkobar-kobar dan perut yang setengah lapar.

Kota merupakan rumah Rebecca yang habis terbakar dan dalam rumah terjadi suatu tragedi yang dahsyat. Dari balok-balok kayu yang hangus-hangus keluar asap seperti asap rokok Zipper dan dari mulut-mulut manusia keluar keluh kematian. Udara berbau mesiu, bangkai-bangkai manusia dan binatang dan rumah-rumah sakit berbau aether dan air mawar. Sebentar-sebentar terdengar ledakan, sudah itu banyak asap hitam mengepul-ngepul ke udara. Air hujan berisi debu-debu hitam lagi kotor, menyakitkan mata dan hati.

Tentara sekutu bertambah maju masuk kota, sedangkan tentara Indonesia bertambah mundur keluar kota. Demikian selalu dalam peperangan, yang kuat maju, dan yang kalah mundur dan mati. Orang-orang agama akan berkata bahwa yang kuat diberi Tuhan kemenangan, karena mereka berjuang untuk keadilan. Untuk mengeraskan ucapan itu ditambahkannya, “Jika yang kuat tidak berjalan di atas jalan keadilan, bagaimanapun kuatnya, ia akan diberi Tuhan kekalahan dan malapetaka.” Akan tetapi, jenderal-jenderal zaman dua puluh berpendapat lain, mereka lebih percaya kepada meriam-meriamnya daripada kepada dogma-dogma khayal itu.

Seluruh perhatian rakyat Indonesia ditujukan kepada perjuangan yang sedang berlaku di Surabaya itu. Pada setiap kabar yang mengatakan, gedung ini, gedung itu sudah hancur, mereka mengeluh sedih seperti orang tua yang dihinakan anaknya. Dari mulut mereka keluar perkataan-perkataan yang seorang pun tidak dapat membantah kebenarannya, “Nanti harus diperbaiki lagi, tetapi tidak apa.”

Dari segala penjuru datang lemper-lemper, bulat-bulat seperti granat tangan. Anggota-anggota tentara tertawa melihat lemper-lemper itu dan katanya antara mereka, “Seperti ini rupanya tank-tank raksasa Inggris menerima granat-granat tangan kita.”

Sambil tertawa juga digantungkannya lemper-lemper itu di pinggangnya seperti menggantungkan granat-granat tangan dan dibawanya ke medan pertempuran untuk dilemparkan ke dalam mulut di tengah-tengah pertempuran maha dahsyat.

Pada suatu hari meriam penangkis udara Indonesia menembak jatuh beberapa kapal terbang musuh. Dunia tiba-tiba seperti tersentak dari tidur. Telegrafis-telegrafis di seluruh dunia bekerja giat dan dalam surat-surat kabar hari itu termuat berita penting, “Kepintaran menembak orang-orang Indonesia sama dengan serdadu-serdadu Jerman.” Kabar ini menggirangkan hati rakyat, semangat perjuangan menjadi tambah meluap dan kepercayaan kepada kekuatan sendiri timbul kembali. Akan tetapi, tank-tank raksasa musuh bergerak pula dengan giatnya sehingga segalanya menjadi hilang, semangat yang berkobar tadi serta kepercayaan kepada kekuatan sendiri dan beratus-ratus jiwa. Terhadap malaikal maut ini rakyat dan tentara Indonesia hanya dapat memberikan nyawanya sambil tersenyum penghabisan. Yang masih hidup, setelah berhadapan dengan malaikal maut itu berkata, “Ia seperti presiden kita… onschendbaar.”

Anggota-anggota tentara sudah mengetahui bahwa perjuangan mereka mempertahankan kota Surabaya segera akan berakhir dengan kekalahan. Mereka tahu pula, bahwa yang menyebabkan kekalahan itu bukan kelalaian atau kelembekan semangat mereka atau karena serdadu-serdadu sekutu lebih berani daripada mereka. Mereka tidak akan sombong, kalau berkata, bahwa keberanian mereka ada dua kali lipat. Dengan tombak bambu mereka tidak hanya dapat merampas tank-tank biasa musuh, tetapi juga tank-tank raksasa yang dua puluh meter panjangnya itu dan kapal-kapal terbang yang selalu menjatuhkan kotorannya itu… Ya, inilah sebab dari segala kekalahan mereka. Sebab itu mereka benci kepada kedua benda pembunuh ini dan bencinya sangat besarnya, sebesar kebencian mereka kepada imperialisme.

Waktu puncak perjuangan sudah tiba, pemimpin-pemimpin tentara berapat. Waktu berapat itu hati mereka penuh dengan kesedihan dan kebencian, serta muka mereka penuh dengan kerinyut di sekeliling mata karena kurang tidur. Rapat itu sangat demokratis dan seperti rapat perkumpulan anak-anak. Jika ada orang yang mendengarkan rapat itu, ia tidak ada teringat bahwa ia ada di tengah-tengah dentuman meriam dan mortir. Ketua rapat membentangkan dengan panjang lebar perjalanan perjuangan beberapa minggu akhir-akhir ini. Ia tidak lupa pula mengatakan, bahwa ia sendiri sebenarnya harus pergi ke Malang untuk melihat istrinya melahirkan anak. Akan tetapi, katanya pula, kita harus bersyukur kepada Tuhan karena masih ada terus yang lahir, sebab kalau tidak begitu, kita akan putus asa melihat banyaknya manusia yang mati di sini ini. Dengan senyum sedih ia meneruskan, “Tetapi aku tidak dapat pergi. Biarkan manusia lahir di tempat aman. Kita di sini akan mati. Supaya ada keseimbangan dalam segala-galanya. Aku telah mengirim surat untuk istriku dan lemper pembagianku untuk anakku yang baru lahir itu.”

Rapat itu memutuskan menerima usul ketua rapat untuk mati semuanya di Surabaya, karena di tempat aman banyak lagi yang akan lahir. Mereka akan bertahan sampai titik darah yang penghabisan. Di tengah-tengah kegembiraan menerima putusan mati itu, tiba-tiba seorang opsir mendapat ilham, ilham yang baik sekali. Pada waktu ia bicara membentangkan ilhamnya itu kepada rapat, pikirannya tidak ada Surabaya, tetapi sedang melayang-layang di atas negeri Belanda. Di hadapannya kelihatan negeri Belanda digenangi air, sewaktu fascis Jerman hendak memasuki negeri itu. Memang katanya, fascis Jerman dapat juga menduduki negeri Belanda, tapi mereka banyak yang mati karena air bah itu. Dan dengan suara nyaring ia bertanya kepada rapat, “Bagaimana, kalau kita melakukan yang seperti itu untuk menahan fascis sekutu masuk ke negeri kita?”

Banyak lagi ilham lain yang dikemukakan oleh opsir-opsir lainnya. Yang seorang mengusulkan, supaya pada saat genting ini seluruh rakyat Indonesia diajak berbaris, ketujuh puluh jutanya, di hadapan tank-tank raksasa dan menyuruh giling badan mereka, ketujuh puluh jutanya, oleh tank-tank raksasa itu. Pengendara-pengendara tank itu pasti akan lelah karena menggiling demikian banyaknya manusia dan akhirnya ia mati karena lelah dan kita rampas tank-tanknya. Opsir lain mengusulkan supaya dalam dua hari ini hendaknya pemerintah sudah dapat memesan tank-tank raksasa dari luar negeri. Waktu seorang opsir lain bertanya, dengan apa akan dibawa tank-tank itu dalam waktu yang sesingkat itu, ia menjawab, “Dengan kapal terbang, Saudara. Dari Australia dan Amerika hanya dua hari perjalanan dengan kapal terbang, bukan?”

Rapat tertawa gelak-gelak. Usul yang akhir ini ditolak dengan tiada memungut suara. Hasil rapat, yang berlangsung tiga jam lamanya itu, ialah penerimaan usul menggenangi kota Surabaya seperti negeri Belanda dan selanjutnya sumpah semua opsir yang berapat untuk mati di medan pertempuran, karena di tempat aman yang lain akan lahir pula beribu-ribu dan berjuta-juta lagi.

6

ADA pepatah: orang dagang pintar sekali membohong sampai ia sendiri tidak dapat membedakan lagi antara mana yang bohong dengan mana yang tidak bohong. Penjahat-penjahat tiada pernah mengotorkan tangannya dengan kejahatan-kejahatan. Semua yang mereka kerjakan adalah pekerjaan biasa seperti pekerjaan seorang klerek di kantor. Jika ada orang yang menjadi korban dari pekerjaannya, tiada menjadi soal bagi mereka. Yang demikian itu dapat juga terjadi karena pekerjaan seorang klerek yang birokratis. Kaum pelarian semua sudah mendapat atap di atas kepalanya, hotel-hotel, bedeng-bedeng, dan kandang-kandang anjing. Surat-surat kabar tidak banyak lagi membicarakan soal kaum pelarian ini. Kadang-kadang kita merasa, seakan-akan mereka itu sudah tidak ada lagi di atas dunia. Hanya sekali ada pengumuman dari sebuah kementerian yang memperingati tukang-tukang catut, supaya jangan menjadikan perempuan-perempuan pelarian menjadi perempuan-perempuan jahat dengan uangnya yang bertumpuk-tumpuk itu.

Akan tetapi, tukang-tukang catut tertawa membaca pengumuman yang aneh itu. Mereka heran, mengapa sesuatu kementerian ikut campur dengan soal-soal seksual. Adakah kementerian penerangan Prancis melarang penambahan jumlah perempuan-perempuan jahat di Paris? Itu adalah soal biasa, bahwa di atas dunia harus ada orang-orang yang suka menjadi perempuan jahat, seperti seharusnya ada orang-orang yang suka menjadi ahli-ahli kesusastraan. Bagi ahli-ahli kesusastraan didirikan orang sekolah-sekolah tinggi dan bagi perempuan-perempuan jahat didirikan orang rumah-rumah tinggi. Segalanya itu dapat dicapainya dengan uang, itu pun adalah soal biasa pula. Tidak, kementerian-kementerian harus mengurus soal-soalnya sendiri, merencanakan rancangan lima tahun misalnya dan jangan mengotorkan tangan dengan perempuan-perempuan jahat. Tukang-tukang catut tertawa dan jumlah perempuan-perempuan jahat dari sehari ke sehari bertambah banyak. Sampai-sampai kita tidak dapat membedakan lagi antara perempuan biasa dengan perempuan yang istimewa, persis seperti orang-orang dagang tidak dapat membedakan omongannya yang bohong dengan yang tidak bohong.

Di antara kaum pelarian perempuan tentu ada juga orang-orang yang patuh kepada agamanya dan suaminya. Mereka ini tidak mau dibeli oleh tukang-tukang catut. Setiap kali tukang-tukang catut mengajak mereka menginjak jalan serong, mereka sembahyang kepada Tuhannya tujuh kali sehari dan menolak tukang-tukang catut dengan senyuman pahit dan getir. Mereka, masih dapat tersenyum, meskipun pahit dan getir, itu adalah ajaran yang mereka dapat dari suami-suami mereka yang sekarang sedang menemui matinya di bawah tank-tank raksasa.

Perempuan-perempuan beragama ini pun harus hidup dan mempunyai uang. Uang tidak dapat mereka minta kepada Tuhannya, biarpun mereka sembahyang tiga belas kali sehari. Pemerintah sendiri tidak dapat memberikannya secukupnya hingga muncul dewa-dewa yang pengasih dan penyayang dari negeri antah berantah. Dewa-dewa ini berjalan masuk kampung keluar kampung, khusus untuk mencari kaum pelarian dan untuk menolong mereka yang sengsara. Dewa-dewa ini memberikan uangnya sambil tersenyum manis dan waktu orang yang menerima uang itu hendak mengambil air teh buat diminumnya, dewa-dewa menolak dengan perkataan-perkataan yang menunjukkan sopan santun, “Tidak usah, Nyonya. Tidak usah, Tuan. Jangan susah-susah!”

Dan memang, pada waktu itu dewa-dewa tidak bohong, ia betul-betul tidak memerlukan air teh atau air limun sekalipun. Yang mereka butuhkan hanya satu: sebuah hitungan murid sekolah rakyat: sepuluh menjadi dua belas. Murid-murid sekolah rakyat akan menambahkan dua batang lidi kepada sepuluh batang lidi, untuk mendapatkan angka dua belas. Akan tetapi, dewa-dewa ini tidak menambahkan apa-apa. Ia hanya menunggu, menunggu, dan tiba-tiba angka sepuluh dengan sendirinya menjadi angka dua belas.

Tentu ada orang-orang yang tidak setuju dengan pekerjaan dewa-dewa itu. Mereka ini berkata kian kemari dengan marahnya, “Itu menyolok mata benar!” Pada waktu bicara itu pikirannya berbelit-belit mencari jalan yang tidak begitu menyolok mata. Jika mereka ini orang-orang yang mengurus makanan kaum di bedeng-bedeng, mereka tidak mengadakan hitungan sepuluh menjadi dua belas, tetapi hitungan lain yang lebih mudah dan yang tidak menyolok mata benar, yaitu hitungan 200 gram menjadi 195 gram, 195 gram menjadi 190 gram, dan 190 gram menjadi 185 gram. Begitu seterusnya dan selalu kurangnya lima gram. Akhirnya setiap kaum pelarian hanya berhadapan dengan sebuah onggokan makanan seperti yang diberikan orang kepada burung-burung peliharaan.

Waktu luar negeri mengatakan bahwa pemerintah republik membunuh rakyatnya sendiri, pemerintah membantah kabar bohong itu sekeras-kerasnya. Pemerintah menegaskan bahwa ia bersedia memberikan daftar-daftar makanan yang diberikannya kepada orang-orang yang di bawah perlindungannya. Orang-orang yang bekerja pada kantor statistik akan berkata bahwa angka-angka itu adalah barang-barang yang hidup, dan dapat bicara. Akan tetapi, dalam hal makanan di bedeng kaum pelarian ini, angka-angka ini adalah barang-barang yang mati dan bisu seperti lukisan yang jelek. Satu-satunya yang dapat bicara dan memang hidup ialah orang-orang yang membuat hitungan 185 gram menjadi 180 gram tadi itu, dan satu-satunya orang yang dapat memaksa mereka ini bicara adalah hakim pengadilan dan algojo.

Makin lama makin banyak orang yang menaruh perhatian yang besar sekali kepada kaum pelarian ini. Waktu terdengar kabar, bahwa banyak orang, beribu-ribu, melarikan diri dari Surabaya, tiba-tiba semua rumah dalam kota-kota dekat Surabaya, seperti berisi semuanya. Kaum pelarian yang mempunyai uang sedikit masuk kampung keluar kampung mencari rumah, sebuah kamar atau sebuah garasi mobil, tetapi sia-sia. Dan selalu, jika kaum pelarian hampir putus asa, muncul dewa-dewa lain, juga pengasih dan penyayang, menawarkan bantuannya. Mereka ini pintar sekali berbicara, katanya, “Rumah susah di sini, sejak dahulu!”

Biasanya mereka berhenti sebentar, jika sudah sampai kepada kalimat yang akhir ini. Dengan saksama diperhatikannya muka kaum pelarian yang hendak menyewa rumah itu, seperti seorang dokter jiwa memperhatikan air muka orang-orang sakitnya. Dan jika muka ini melihatkan keputusasaan, diteruskan mereka, “Tetapi saya ada kenalan yang mau mengalah untuk kaum pelarian. Hanya permintaannya sedikit, supaya ia diberi uang sedikit untuk ongkos memindahkan barang-barangnya.”

Dan waktu kaum pelarian bertanya, berapa banyaknya uang yang sedikit itu, dewa-dewa itu menyebutkan angka-angka yang kecil seperti 1, 2, dan 3. Akan tetapi, sambil tersenyum dikatakannya pula, bahwa di belakang setiap angka itu harus ditambahkan tiga buah benda yang tidak ada artinya sama sekali: 000. Sebuah kamar kecil, angka 1 dengan 000. Sebuah garasi mobil, angka 2 dengan 0 dan sebuah rumah kecil, angka 3 dengan 000. Dan uang yang sedikit ini adalah untuk membayar ongkos memindahkan barang-barang kepunyaan orang-orang yang mau mengalah untuk menolong kaum pelarian yang dikasihani dan yang banyak menderita itu. Sambil menerima uang yang sedikit itu dengan rasa turut menanggungkan penderitaan kaum pelarian, orang-orang yang mau mengalah itu berkata dengan suara sayup-sayup, “Dalam zaman revolusi ini, kita harus bersatu dan gotong royong!”

7

PADA detik-detik penghabisan dari perjuangan mempertahankan kota Surabaya, orang-orang kembali ingat kepada Tuhan lama. Setiap malam kedengaran keluar dari radio, “Pemberontakan” kata-kata dari kitab suci: Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar! Akan tetapi, entah karena apa, entah Tuhan tidak punya pesawat penerima suara, entah karena Tuhan sudah bosan melihat tingkah laku manusia yang hanya ingat kepada-Nya waktu ada kesusahan, entah bagaimana, suara-suara suci yang keluar dari radio itu tidak didengarkan Tuhan. Kekalahan demi kekalahan menimpa rakyat Indonesia dan akhirnya seperti yang dikatakan radio sekutu, “Surabaya sudah aman kembali.”

Berakhir sudah pertempuran koboi dengan bandit dan sekali ini bandit yang menang. Akan tetapi, luka-luka masih ternganga besar, penderitaan rakyat Surabaya masih berjalan terus. Gedung-gedung mati dijilati api, dan yang tidak ada apinya lagi masih seperti onggokan-onggokan kotoran kerbau.

Rakyat Indonesia di Surabaya yang dikuasai bandit-bandit hidup seperti prajurit di medan perang yang paling depan. Setiap waktu badannya dapat dilanggar peluru kesasar, setiap waktu dapat ditangkap, dan setiap waktu dapat mengeluh panjang penghabisan. Akan tetapi, sebelum itu mereka tidak mau mengeluh dan tidak mau menyerah. Seperti orang Jerman yang kalah perang, mereka tidak membungkuk-bungkuk seperti orang Jepang kalah perang. Dalam hatinya mereka bangga seperti orang-orang politik saat digiring oleh Belanda masuk penjara.

Seorang ulama besar menjadi gila dan mati. Dahulu ia bersahabat kental dengan Jepang dan percaya kepada Jepang seratus persen. Akan tetapi, waktu Jepang bertindak seperti Belanda, kejam dan hanya pintar memberikan janji-janji kosong belaka, ia mencurigai Jepang seperti mencurigai saudara yang tidak jujur: ia tidak memukul saudaranya sampai mati, tetapi hanya berdiam diri dan menunggu saatnya saudaranya terpukul mati sendirian oleh keadaan. Keadaan ini datangnya terlalu lama dan lama sebelum Jepang terpukul mati sendirian, ia dibawa orang ke rumah sakit gila. Akan tetapi, waktu kemerdekaan Indonesia diproklamirkan, ia baik sedikit. Dengan gembira ia berteriak-teriak dengan orang-orang lain: Merdeka! Merdeka! Sayang hanya sebentar. Waktu penduduk Surabaya bertindak seperti koboi-koboi dalam cafe-cafe, menciumi gadis-gadis dan revolvernya, ia menjadi gila kembali. Ia tidak dapat ikut-ikut memuja Tuhan baru penduduk Surabaya. Dan waktu kota itu “sudah aman kembali”, ia bertambah gila dan meninggal dunia dengan senyum mengejek dan kebencian.

Seorang laki-laki setengah tua selalu menyembunyikan tangan kirinya ke dalam saku celananya. Hanya untuk yang perlu-perlu saja dikeluarkannya tangannya itu. Orang-orang melihat keheranan kepada tangan itu, mereka tidak pernah melihat tangan itu telanjang, selalu dibungkus rapi-rapi dengan saputangan putih. Seorang daripada mereka tidak dapat menahan keheranannya lagi dan pada suatu hari ditanyakan, “Maaf, Tuan, tetapi tangan kiri Tuan selalu menimbulkan pertanyaan dalam diri saya. Jika saya teringat kepada tangan kiri Tuan, malam-malam saya tidak dapat tidur dan siang hari saya tidak dapat berpikir dan makan, seperti orang mengingatkan kekasih yang tidak jujur. Selalu saja timbul pertanyaan ini dalam kalbu saya. Mengapa selalu disembunyi-sembunyikan? Mengapa selalu dibungkus-bungkus?”

“Tuan, lepaskanlah saya dari penderitaan pikiran ini dan jawablah pertanyaan kalbu saya itu.”

Orang itu tiba-tiba menjadi pucat seperti kapur dan dengan kemalu-maluan dijawabnya, “Tidak ada apa-apa, Tuan. Hanya kelima jarinya tidak ada lagi, sudah dipotong serdadu sekutu. Sebab itu kubungkus rapi-rapi supaya orang lain jangan merasa jijik melihatnya. Karena saya sendiri jijik melihat tanganku yang tiada berjari lagi itu.”

Orang itu kemalu-maluan dan tiada seorang pun yang merasa perlu menanyakan, mengapa serdadu sekutu itu memotong kelima jarinya. Mencurikah dia? Menggedorkah dia? Orang-orang tiada merasa perlu menanyakan itu, seakan-akan sudah sewajarnya serdadu sekutu harus memotong jari tangan dan leher manusia. Pemuda-pemuda Indonesia tidak tampak berkeliaran lagi di jalan-jalan Surabaya seperti zaman koboi. Mereka ini sekarang tinggal rapi-rapi dalam rumah panjang-panjang. Pagi-pagi benar mereka sudah bangun, dan setelah memakan roti keras sepotong kecil, mereka buru-buru naik ke atas truk-truk Inggris dan dibawa ke mana-mana untuk melakukan suatu pekerjaan yang mahapenting untuk pembangunan: menyapu jalan-jalan, mengangkut runtuhan-runtuhan gedung-gedung, serta mengangkat barang-barang di pelabuhan. Jika diceritakan begitu, mungkin ada orang yang menyangka bahwa pemuda-pemuda itu dengan kemauannya sendiri mengerjakan segala pekerjaan itu. Akan tetapi, sangkaan itu salah lama sekali. Mereka bangun pagi-pagi benar itu karena teriakan-teriakan dan maki-makian pengawal-pengawal rumah-rumah panjang itu. Waktu mereka dengan truk-truk pergi ke tempat pekerjaan, selalu ikut bersama mereka beberapa serdadu Gurkha bersenjata lengkap. Serdadu-serdadu Gurkha yang baik-baik selalu berusaha menimbulkan suasana yang agak gembira, tetapi pemuda-pemuda Indonesia di atas truk itu hanya dapat tersenyum pahit dan getir, serta menekurkan kepalanya, seperti malu, memandang orang-orang yang lalu lintas di jalanan.

Tidak! Pada waktu itu pemuda-pemuda Indonesia itu bukanlah makhluk-makhluk yang mempunyai kemauan sendiri. Mereka adalah “tawanan perang sekutu”. Tawanan-tawanan perang sekutu ini melakukan pekerjaan-pekerjaan itu dengan tiada mengeluh. Dari mukanya yang tersenyum pahit dan getir itu memancar cahaya baja, yaitu baja sejati, baja kemerdekaan.

Seorang gadis muda remaja, bajunya compang-camping, berkata kepada setiap orang yang dijumpainya: Inggris, Gurkha, maupun Indonesia, “Saya bukan perawan lagi! Periksalah! Periksalah sendiri!”

Sehabis berkata itu, diraba-raba pinggangnya dengan tangannya di bawah roknya dan tiada berapa lama seperti permainan sulap meluncur sebuah lap kuning kotor melalui kedua belah kakinya ke bawah. Orang-orang Inggris melihat sebentar ke lap kuning lagi kotor itu, tetapi lekas-lekas dipalingkannya mukanya kembali dan tersenyum mengerti kepada temannya. Orang Gurkha tertawa gelak-gelak melihat lap kuning lagi kotor itu, melihat bermenit-menit kepadanya, seakan-akan mereka kena pesona. Orang-orang Indonesia tidak melihat sama sekali kepada lap kuning lagi kotor itu. Waktu mereka mendengar perkataan gadis muda remaja itu, muka mereka menjadi merah padam karena dendam dan kebencian. Mereka cepat- cepat meneruskan perjalanannya dan dalam hatinya mereka berkata, “Seorang korban revolusi!”

Dan agak keras diteruskannya, “Seperti aku, seperti kita semua. Seperti seluruh rakyat Indonesia…”

8

ENAM bulan sudah sejak pertempuran di Surabaya dimulai. Pada hari peringatan itu surat-surat kabar Malang terbit dengan tinta merah. Orang-orang tercengang melihat tinta merah itu dan dalam hatinya mereka bertanya, “Mengapa tinta merah? Apakah pertempuran Surabaya pertempuran Trotsky melawan Kaisar Nikolas II? Ataukah itu darah Indonesia yang mengalir di kota itu?”

Orang-orang tidak tahu, begitu pula pemimpin surat-surat kabar itu sendiri tidak. Yang mereka ketahui dan rasakan sekali ialah bahwa mata mereka menangis makin melihat tinta merah itu. Orang-orang yang melihat orang menangis itu tentu menyangka, bahwa tangis itu disebabkan oleh sesuatu karangan asli yang sedih merindukan atau karena berasa bersatu dengan pemuda-pemuda harapan bangsa yang telah gugur di medan pertempuran. Persangkaan ini meleset pula, karena orang-orang menangis itu setelah menghapus air matanya, tertawa gelak-gelak dan meludahi tinta merah itu seperti orang meludahi barang yang jijik dan kotor.

Di Mojokerto, dapur umum bertimbun-timbun pekerjaannya pada hari itu. Kepala divisi tentara mendapat perintah untuk menyediakan tiga puluh ribu lemper untuk dihadiahkan kepada anggota-anggota tentara yang ada di garis depan. Dalam surat kepala divisi kepada dapur umum tertulis, “Anak-anak kita di garis depan dapat merayakan hari peringatan seperti penduduk kota. Untuk memelihara semangat anak-anak kita pada hari itu, harap dikirimkan tiga puluh ribu biji lemper berisi daging. Saya tahu, bahwa beras susah didapat dan harganya tinggi sekali. Sebab itu saya tidak minta nasi, tetapi cukup lemper saja.”

Mula-mula kepala dapur umum bangga menerima surat semacam itu dari kepala divisi. Kepada anggota-anggota pengurus yang lain katanya, “Itu baru orang perjuangan. Ia tahu beras susah. Sebab itu ia minta lemper saja. Aku bangga mempunyai pemuda-pemuda seperti itu.”

Akan tetapi, pada waktu ia tiba di pasar hendak membeli rempah-rempah untuk lemper itu, ternyata harga ketan lebih mahal daripada beras dan harga daging untuk pengisi lemper itu demikian tingginya sehingga dapur umum tidak cukup mempunyai uang untuk membeli daging. Setelah menyumpahi tukang-tukang jual ketan dan daging, ia buru-buru pulang dan segera ditulisnya surat kepada kepala divisi, “Harus Tuan tahu, bahwa harga ketan lebih mahal daripada beras. Daging untuk mengisi lemper, dapur umum tidak sanggup membelinya. Kami akan mengirim saja tiga puluh ribu pisang ambon untuk anak-anak Tuan. Harap Tuan maklum.”

Kepala divisi mendapat sebuah pisang ambon, dan waktu dimakannya dicobanya menghilangkan ingatan kepada pisang ambon yang hampir busuk itu, dan menganggapnya saja sebagai sebuah lemper berisi daging yang enak lagi lezat. Selain dari surat-surat kabar bertinta merah, Malang mengadakan pula rapat “Samudra”. Dahulu rapat-rapat semacam itu dinamakan rapat “Raksasa”, tetapi setelah mendapat protes dari orang-orang yang anti Jepang seratus persen, ia diberi nama lain.

Beribu-ribu manusia datang berduyun-duyun ke stadion Malang. Panas matahari ditahannya dengan sabar seperti menghadapi penjajahan yang tiga ratus lima puluh tahun lamanya itu, dalam hati mereka mendongkol. Akan tetapi, waktu lagu “Indonesia Raya” dimainkan, mereka berdiri dengan tegap seperti prajurit dan ikut menyanyikan lagu kebangsaan itu. Setiap orang merasa tengkuknya seperti digili-gili orang. Segala bulu berdiri: bulu tengkuk dan bulu kaki. Waktu lagu itu habis, beberapa orang nasionalis tulen menangis dan katanya parau, “Hu, yang kita perjuangkan sepanjang masa. Dan untuk itu kita mengorbankan harta benda dan jiwa pemuda-pemuda kita. Bukan main indahnya lagu itu. Ya, perjuangan kita tidak sia-sia!”

Tiba-tiba orang-orang semua berdiam diri. Mata mereka mengarah ke depan, ke sebuah pal putih di atas panggung. Pal itu kecil dan pendek dan mengeluarkan suara seperti gersik daun kayu kering. Wakil gubernur Jawa Timur sedang bicara. Tentang wakil gubernur ini banyak tersiar kabar angin yang baik dan yang buruk. Akan tetapi, pada waktu ia membentangkan tentang keadaan Surabaya sehari sebelum terjadi pertempuran, semua orang ternganga mendengarkan kesombongan tentara sekutu. Waktu ia berkata, bahwa penghinaan semacam itu tidak dapat dibiarkan begitu saja, semua orang, tidak ada kecualinya, setuju dengan wakil gubernur yang baik dan yang buruk itu.

Sesudah itu, kepala divisi tentara Malang yang berbicara. Ia sudah tua, tetapi dengan segala daya upaya dicobanya berpidato seperti anak muda. Katanya bersemangat, “Saya jenderal bukan karena tanda-tanda di leher saya ini. Saya jenderal karena rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Demi Allah, saya adalah jenderal rakyat.”

Setiap kali selesai disampaikan sebuah pidato, biasanya keluar tepuk sorak dari stadion itu seperti pada pertandingan sepak bola internasional. Akan tetapi, setelah pidato divisi Malang itu, tepuk sorak yang bergema diikuti dengan senyum lebar mengejek, kata-kata seperti itu sudah terlalu sering didengar orang. Sekarang orang selalu menghendaki sesuatu yang baru dan sehat dan mengejekkan segala sesuatu yang basi dan sakit.

Kejadian yang mahabesar dan menarik hati akan berlaku. Orang-orang bertepuk sorak sepuluh kali lebih hebat daripada yang sudah-sudah. Semua mata mengarah kembali ke depan, tetapi sekali ini tidak lagi kepada pal putih kecil pendek, tetapi kepada benda hitam dan kotor. Di puncak bendera itu tergerak rambut panjang seperti rambut perempuan dan dari rambut itu keluar bau bantal yang tiada pernah dijemur-jemur.

Bung Tomo, kepala “Pemberontak” bicara! Mula-mula ia bicara lambat-lambat untuk menenteramkan rakyat. Suaranya besar dan bengis, meskipun orangnya kecil dan manis. Matanya bersinar-sinar seperti cahaya menara di tengah lautan. Dengan pendek dan tegas diceritakannya pengalamannya di medan pertempuran:

Yang saya takutkan hanya satu, yaitu mata-mata musuh perempuan. Perempuan jika berjiwa penjahat biasanya lebih kejam dan licik daripada laki-laki. Jika saya berjalan-jalan di kota Malang, anak-anak gadis sering melihat kepada saya dengan senyum merayu. Akan tetapi, ketahuilah, hai gadis-gadis, bahwa Bung Tomo hanya akan mengambil satu gadis, dan gadis itu pasti harus bukan mata-mata musuh. Sebab itu, selama revolusi ini, Bung Tomo akan tetap sendirian saja. Oleh sebab itu, janganlah lagi melihat kepada Bung Tomo dengan pandangan yang merayu-rayu sukma Bung Tomo itu.

Orang-orang yang beribu-ribu itu tertawa gelak-gelak dan bersorak karena setuju dengan Bung Tomo. Pemuda-pemuda yang sudah beristri berminat dalam hatinya hendak menceraikan istrinya setiba di rumah nanti. Akan tetapi, setelah berpikir agak panjang, kata-katanya hanya untuk membujuk diri sendiri.

Ah, tidak apa, istri saya pasti bukan mata-mata musuh! Mendengar sorak yang riuh rendah itu, Bung Tomo tiba-tiba menjadi manusia lain, banteng ketaton. Dengan suara yang besar lagi bengis itu dicelanya perbuatan-perbuatan sekutu di Surabaya sejak hari mendaratnya. Dengan sinar mata yang menghipnotisir pendengar-pendengar dan penonton-penonton, digambarkannya kekejaman-kekejaman serdadu sekutu terhadap pemuda-pemuda Indonesia yang ditangkapnya. Setelah kering air ludahnya karena lama bicara, ia menyudahi pidatonya yang berapi-api dan yang membakar semangat itu dengan kata-kata tegas, “Kita harus memberantas tukang-tukang catut: tukang catut biasa, tukang catut pangkat, tukang catut peluru, tukang catut pakaian militer, dan tukang catut Inggris! Kita harus berjuang terus! Sekarang baru enam bulan, tetapi kalau perlu enam puluh tahun lagi kita akan terus berjuang! Kita harus mengusir Belanda-Belanda dan semua bangsa asing yang hendak menjajah kita!”

9

SURABAYA sudah dikuasai sama sekali oleh sekutu dan “sudah aman kembali”. Rakyat Indonesia tidak berbuat apa-apa lagi. Setiap waktu dan pada setiap kesempatan, pemimpin-pemimpin tentara berkata dengan kepastian seratus persen, “Surabaya akan kita rebut kembali! Selekas mungkin!”

Akan tetapi, setelah ada di garis depan, mereka berhadapan dengan kenyataan yang seratus persen pula. Tank-tank raksasa musuh masih ada. Kapal-kapal terbangnya masih ada dan kedua benda itu tidak dapat digertak dengan perkataan bual belaka. Garis depan sekarang bukan lagi pelabuhan Tanjung Perak, tetapi sudah jauh masuk ke dalam negeri.

Sekali-sekali terjadi pertempuran kecil-kecil dan terdengarlah kembali bunyi-bunyi senapan, meriam, dan mortir seperti pada hari-hari pertama. Biasanya keadaan medan pertempuran sepi, dan kesepian yang berhari-hari dan berbulan-bulan lamanya ini, menekan jiwa sangat hebatnya dan terasa kepada anggota-anggota tentara lebih memutuskan asa daripada pertempuran besar-besaran. Pada pertempuran besar-besaran, orang tiada memikirkan kekasih yang ditinggalkan bersedih hati di garis belakang. Pendek kata, pada pertempuran orang-orang tiada berpikir, orang hanya bertindak: membunuh atau jika tidak ada harapan lagi lari pontang-panting masuk negeri.

Pada hari-hari sepi itu pemimpin-pemimpin tentara repot sekali. Anggota-anggota tentara biasanya banyak sekali permintaannya, permintaan yang tidak-tidak. Karena tidak tertahankan lagi, pemimpin-pemimpin tentara berkirim surat ke mana-mana, “Paduka Tuan, kirimkan kami gerombolan sandiwara. Anak-anak tidak tahan lagi menanggungkan kesepian semacam itu. Atau jika tidak ada sandiwara, apa saja yang dapat memecah kesepian itu.”

Pemimpin-pemimpin tentara itu tahu betul apa sebenarnya yang diminta anak-anaknya. Ia tidak minta dikirimkan pisang atau lemper untuk memecah kesepian, tetapi sandiwara. Sandiwara selalu mempunyai gadis-gadis, dan gadis-gadis inilah yang sebenarnya dikehendaki oleh anggota-anggota tentara dengan permintaan yang tidak-tidak itu.

Pemimpin tentara tahu bahwa sandiwara setelah bermain segera akan meninggalkan mereka pula, tetapi tidak selekas lemper atau pisang ambon yang setengah busuk meninggalkan mereka. Dan lagi pula bagi anggota-anggota tentara yang romantis, gadis-gadis sandiwara itu akan tetap tinggal dalam ingatannya untuk selama-lamanya.

Sandiwara datang dengan gembira, tetapi muka pemimpin tentara tiba-tiba mendung seperti hari hendak hujan. Waktu ditanyakan, mengapa mukanya masam saja, dijawabnya dengan kasar, “Orang-orang di garis belakang itu sudah gila barangkali. Mereka bekerja serampangan. Kita bertempur habis-habisan di sini dan mereka mengirimkan kita sandiwara dengan perempuan-perempuan jelek.”

Akan tetapi, anggota-anggota tentara girang juga. Mereka tidak melihat kepada jelek atau bagus, tetapi kepada perempuan. Dan perempuan di medan pertempuran sama dengan air di padang pasir Sahara. Karena sekarang zaman kedaulatan rakyat, pemimpin-pemimpin tentara terpaksa mengalah dan melihat kepada perempuan-perempuan jelek itu dengan perasaan benci dan mual. Pada hari-hari sepi yang lain pemimpin-pemimpin tentara menulis pula ke orang garis belakang, “Paduka Tuan, kesepian sudah memuncak pula. Harap kirimkan kami dengan segera lemper atau pisang ambon saja. Jika ini tidak, apa saja pun baik, asal jangan sandiwara.”

Medan pertempuran sekeliling Surabaya sangat luas. Selain pos-pos tentara, terdapat juga pos-pos palang merah. Selain itu, hutan belukar dan kesepian juga ikut menekan jiwa tadi itu.

Pada pos-pos palang merah banyak bekerja gadis-gadis jelita, sebab itu orang-orang yang patuh kepada agama mengadakan garis demarkasi antara pos-pos jejaka dan pos-pos wanita itu, dan di tengah-tengah garis itu dipancangkanlah sebuah papan berisi sebuah maklumat dari kepala pos tentara, “Dilarang keras melanggar garis perbatasan ini tanpa seizin kepala pos tentara atau kepala pos palang merah.” Garis itu dijaga oleh beberapa anggota tentara yang berdisiplin.

Begitu berjalan beberapa minggu, akhirnya orang bosan sendirian. Pikiran sehat timbul kembali: bukan jejaka dan gadis-gadis yang harus dijaga tentara, tetapi tank-tank raksasa, kapal-kapal terbang, dan seluruh imperialisme yang hendak menjajah tanah tumpah darah.

Penjagaan garis demarkasi dihilangkan, papan maklumat itu hilang entah ke mana, dan timbullah suasana yang menghibur hari yang dalam kesepian, yang menghilangkan ingatan kepada segala yang kecil-kecil: pertempuran, kekasih-kekasih di garis belakang, ya, kepada mati sekali pun. Karena sekarang anggota tentara dan gadis-gadis palang merah menghadapi sesuatu yang mahabesar, lebih besar daripada segala-galanya, yaitu melanjutkan umur dunia!

Dalam sidang, dewan perwakilan rakyat Malang kepada divisi sekitar Surabaya, mendapat kritik habis-habisan. Seorang anggota sangat marah karena ia pernah ditahan oleh pengawal-pengawal batas dengan cara tidak sopan. Ia meminta dengan sangat, supaya keadaan fascistis itu segera diubah. Negeri kita tidak boleh menjadi negeri yang militeristis katanya. Tentara sebenarnya harus tunduk kepada pegawai-pegawai pemerintahan sipil.

Anggota lain sangat kecewa karena anggota tentara banyak bertindak bertentangan dengan adat kesopanan. Ia tidak suka jika anggota tentara bercumbu-cumbu dengan perempuan-perempuan Belanda yang diinternir. Saya tidak keberatan, katanya, jika mereka bercumbu-cumbu dalam kamar gelap gulita. Akan saya pastikan tidak akan menjadi rusak jiwanya, tetapi saya sangat keberatan, jika hal itu dilakukan di tengah-tengah pasar. Sebagai penutup katanya, bahwa hal ini adalah salah satu faktor yang menyebabkan kekalahan-kekalahan di Surabaya.

Wakil tentara sudah itu diberi kesempatan bicara. Tampangnya gagah dan setiap orang sebenarnya bangga, jika tentara seluruhnya mempunyai badan dan sikap seperti wakil tentara itu. Ia mula-mula bicara sangat lambat-lambat dan beraturan sekali, tetapi kemudian sangat bersemangat dan memengaruhi jiwa anggota dewan sehingga sehabis pidato itu semua orang mencela kritik-kritik yang diucapkan oleh beberapa anggota terhadap kelakuan-kelakuan anggota tentara. Wakil tentara itu berkata kira-kira demikian, “Keadaan tentara kita sangat menyedihkan. Mereka boleh dikatakan hanya mempunyai bambu-bambu runcing sebagai senjata. Dengan bambu-bambu itu mereka menahan, ya, memukul mundur serangan-serangan musuh, dan dengan itu mereka menyelamatkan kita semua di garis belakang ini. Saya tidak akan membantah kritik-kritik terhadap anak-anak saya, tetapi hendak menambah kritik-kritik itu dengan sebuah keadaan yang lebih menyedihkan lagi.”

Di sini ia berpaling sebentar kepada anggota wanita, lalu dilanjutkan pula, “Maaf anggota-anggota wanita, tetapi saya di sini hendak bicara dengan terus terang. Keadaan yang menyedihkan itu ialah 95% dari anak-anak kita yang memanggul senapan sekarang ini, 95% Saudara-saudara, menderita suatu penyakit yang menegakkan bulu roma: 95% dari mereka sekarang mendapat penyakit sipilis, penyakit raja singa, Saudara-saudara. Sekutu menghamburkan perempuan-perempuan jahat ke medan pertempuran yang paling depan, dan anak-anak kita yang sedikit sekali mendapat hiburan dari bapak-bapaknya dari garis belakang mencari hiburan pada perempuan-perempuan jahat ini. Sekarang, Saudara, sekarang cobalah katakan kepada saya, bagaimana jalan untuk memberantas semua itu. Bagaimana? Ya, bagaimana? Kami dari tentara sering berdiam diri, tetapi ketahuilah, bahwa kami berjuang menghadapi berbagai rintangan: kekurangan salvarsan dan obat-obat lainnya dan kelebihan kritik-kritik, Saudara-saudara!”

Semua anggota terdiam dan yang melepaskan kritik-kritik pedas tadi, merasa malu. Yang mempunyai anak di medan pertempuran yang paling depan hendak mengirimkan kawat kepada anaknya supaya menjaga dirinya dengan hati-hati. Akan tetapi, setelah diadakan penyelidikan yang saksama sebulan kemudian, ternyata bahwa wakil tentara itu adalah seorang romancier yang memberi jalan kepada fantasinya seluas-luasnya. Dari penyelidikan ternyata bahwa anggota tentara tidak ada lagi yang memakai bambu runcing dan yang terpenting ialah bahwa angka 95% itu adalah angka yang fantastis dan sangat dilebih-lebihkan. Maka dalam rapat dewan yang berikut, anggota yang diperlakukan tentara kurang sopan dahulu itu memberanikan diri dan berkata kepada wakil tentara dengan marah-marah, “Kami telah mengadakan penyelidikan yang saksama tentang segala apa yang Tuan katakan dalam dewan ini dahulu. Ternyata semua yang Tuan katakan itu bohong, bohong belaka! Tuan waktu itu hanya hendak memengaruhi jiwa kami, supaya kami tidak lagi membuat kritik yang pedas-pedas. Sekarang dengan sangat saya minta kepada rapat, supaya mendesak kepada tentara untuk menghilangkan kebohongan dan penyakit sipilis itu sama sekali.”

Anggota-anggota dewan semua bertepuk sorak tanda setuju dan katanya hampir bersamaan, “Ya, penyakit sipilis dan imperialisme! Hancurkan!”[]

[Dinukil dari: Idrus, Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma, (Jakarta: Pusat Bahasa, Kementerian Pendidikan Nasional), 2010, hal. 116-149]

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Latest from Nukilan

Demokrasi Kita (2)

Oleh Mohammad Hatta Setelah mengkritik perilaku partai dan politikus, Hatta mengungkap tiga

Demokrasi Kita (1)

Oleh Mohammad Hatta Demokrasi Kita tulisan Mohammad Hatta yang dimuat dalam Pandji

Pasar Malam

Cerpen Hamka Berbeda dari novel Tenggelamnya Kapal van der Wijck atau Di
Go to Top