JELAJAH LITERASI

“Hotel Tua”

in Nukilan by

Cerpen Budi Darma

Cerpen “Hotel Tua” dinukil dari kumpulan cerpen berjudul sama karya Budi Darma. Seperti juga banyak karya lain Budi Darma, cerpen ini tak mudah dijelaskan. Lalu, apa hubungan cerpen ini dengan cerpen Edgar Allan Poe “The Purloined Letter” yang dikutip di dalamnya?

RAPAT berlarut-larut sampai malam, tidak mungkin saya pulang ke Surabaya. Kebetulan di pekarangan gedung rapat ada sopir taksi berwajah kocak, berlagak seolah-olah sedang khusus menunggu saya. “Tadi banyak yang akan naik taksi saya, tapi saya tolak,” katanya.

Lebih kurang setengah jam kemudian, taksi masuk ke pekarangan sebuah hotel tua dan kumuh.

Sopir taksi berkata, “Hotel baru, dibikin seperti tua. Klasik. Kumuh tampaknya, tapi bersih.”

Seorang pegawai berpakaian badut buru-buru menjemput saya, mengarahkan saya ke resepsionis. Dengan mata tajam resepsionis memandang saya, lalu dengan senyum tersembunyi mempersilakan saya mengisi daftar tamu, lalu berkata, “Bos memberi titah, tamu terhormat tidak perlu membayar. Nginap, makan, cuci, tilpun ditanggung hotel.”

Lift menuju ke kamar saya di tingkat lima berjalan sangat lamban, berguncang-guncang, dan mengeluarkan bunyi gaduh. Rasanya hampir jatuh berantakan. Lampunya redup, baunya apek.

Ternyata kamarnya bagus, lapang, dan bersih. Ada panci dan wajan penggorengan, tapi tidak ada dapurnya. Ada palu, tapi tidak ada pakunya. Ada penumbuk padi, tapi tidak ada lesungnya. Ada senapan angin, tapi kosong. Dan ada macam-macam lagi yang tampaknya bisa membuat gaduh.

Di laci meja tersembul tulisan kabur pada kertas tipis: “Penggunaan semua alat dalam kamar di luar tanggung jawab hotel”.

Tidak lama kemudian dua pegawai hotel mengetuk pintu, mengajak saya bertemu bosnya di lantai 10. Seperti tadi, lift bergerak lamban, bergoyang-goyang, berbunyi gaduh, rasanya akan segera jatuh. Lampunya redup, baunya apek.

Bos mereka duduk di kursi roda dan begitu melihat saya, dia berseru, “Selamat datang, Burhan.”

Dia memperkenalkan diri dengan nama Wibowo, nama Indonesia, dan dia menamakan diri Pedro di Filipina, Prangsang di Thailand, Nikimura di Jepang, dan Sagan di Perancis. Tergantung di negara mana dia berada. Lalu dia pamer, dia menguasai banyak bahasa.

“Mungkin kamu tidak kenal saya. Beberapa tahun setelah kamu lulus sebagai doktor filsafat dari Indiana University, saya masuk.”

Dia memencet laptop dan terpampanglah data mengenai saya lengkap dengan gambar yang sebagian kusam dan sebagian meyakinkan. Ada juga video agak gelap ketika saya menolong anjing di Sungai Jordan.

“Wajah kamu tampak tenang ketika kamu berhadapan dengan perempuan-perempuan telanjang,” katanya, bergantian menuding-nuding saya dan gambar di layar dinding.

Memang, ketika saya menjadi mahasiswa, beberapa kali saya diminta oleh biro iklan untuk ikut memilih model, tapi saya tidak menduga semua gerak-gerik saya ditangkap oleh kamera foto dan video.

“Kalau kamu ingin tahu nama saya yang sebenarnya, saya Johny, Johny Gallagher. Karena dalam tubuh saya mengalir berbagai darah, saya tidak pernah tahu siapa saya sebenarnya. Darah Perancis ada, darah Jerman ada, darah Ukraina ada, dan darah-darah lain. Kamu pasti tahu, di Ngagel Surabaya dulu ada pabrik tekstil. Tidak jauh dari makam. Di pojok perempatan. Pemiliknya pernah menjadi serdadu Perang Dunia I. Dia salah seorang nenek moyang saya.”

Setelah memandangi saya agak lama dia berkata, “Mengapa kamu diam, Burhan?”

“Saya tertarik cerita kamu. Rasa-rasanya saya mengenal kamu.”

Dia diam sebentar, kemudian meluncurkan kursi rodanya menuju ke piano. Dia mainkan lagu Madonna, Don’t Cry for Me Argentina, dari film Evita Peron. Evita lahir dalam keluarga melarat, pernah menjadi pelacur murahan untuk mempertahankan hidupnya. Karena pribadinya kuat dan otaknya cerdas, dia diperistri oleh Juan Peron, Presiden Argentina yang mampu bertahan dengan tangan besi sampai tiga masa jabatan. Di bawah pengaruh Evita, Argentina menjadi makmur. Dalam lagu Don’t Cry for Me Argentina Madonna mampu menghayati pahit getirnya kehidupan Evita dan rakyat Argentina, dan laki-laki di kursi roda itu juga mampu menghayati jiwa Evita melalui permainan pianonya.

Setelah usai memainkan piano, dia kembali ke laptopnya, kemudian memutar cuplikan film, dan berkata, “Tengok! Salah seorang di antara kerumunan orang itu adalah saya. Itu dia, yang menyanyi dengan suara lirih. Mengiringi suara menyayat hati Madonna.”

“Kamu hebat, Johny,” kata saya.

Wajahnya biasa-biasa saja, lalu berkata, “Kamu lebih hebat, Burhan. Saya tahu kamu pengagum ayah kamu, seorang pedagang keliling. Kamu diajari cara tepat untuk menembak burung terbang dengan senapan angin. Dalam tujuh kali tembakan, tujuh burung rontok satu-satu, seolah-olah jatuh dari surga ke neraka. Ingat, saya punya banyak data mengenai kamu.”

Diam sebentar. Kemudian dengan kursi rodanya dia meluncur ke sebuah almari, mengambil sebuah buku, lalu meluncur kembali ke arah saya, lalu meletakkan buku itu di meja.

“Saya tahu, sesudah kamu lulus dari Indiana University di Bloomington, sudah beberapa kali kamu balik ke Bloomington.”

“Saya punya banyak mata dan saya punya banyak kuping di Bloomington. Dan saya bisa membayangkan, ada seorang mahasiswa cerdas, mampu membuat onar. Pada suatu malam di bulan Desember, ketika musim salju sedang mencapai puncaknya dan salju sedang berguguran dengan amat lebatnya, segerombolan mahasiswa laki-laki telanjang menggedor-gedor pintu asrama mahasiswa perempuan, pura-pura takut dikejar gerombolan serigala. Pintu dibuka, beberapa mahasiswa perempuan pingsan. Ketika polisi dilapori, mereka malah tertawa terbahak-bahak. Saya bisa membayangkan, komandan gerombolan mahasiswa telanjang itu pasti cerdas.”

Sesudah itu, seolah-olah terkena sihir, saya kurang tahu apa yang saya lakukan. Saya merasa berjalan dalam mimpi, diikuti dua pegawai hotel dengan sembunyi-sembunyi. Dan saya juga merasa ternyata jumlah tamu hotel cukup banyak. Di setiap lantai saya melihat banyak tamu keluar masuk kamar mereka.

Begitu masuk kamar, rasa kantuk saya hilang dan pikiran melayang ke peristiwa dalam lift. Semua lift itu merek Otis. Saya buka laptop, lalu saya ketik Otis dan bermunculanlah begitu banyak data mengenai Elisha Otis, pencipta lift pertama di dunia. Lift pertama ciptaan Otis selalu lambat, bergoyang-goyang, dan suaranya gaduh. Dan sekarang banyak orang ingin memakai lift Otis yang aman, tapi lambat, bergoyang-goyang, terasa akan jatuh, dan gaduh. Banyak orang, terutama yang kaya, tidak bisa membebaskan diri dari kerinduan masa lampau.

Tidak lama kemudian, tiga pegawai hotel mengetuk pintu, menyampaikan permohonan maaf karena bos mereka lupa memberikan buku di meja tadi. Buku ditulis oleh Johny Gallagher, judul Psycho-Revenge: The Imperative Human Needs, didedikasikan kepada Burhan, penulis buku New Paradigm of Psycho-Revenge. Balas dendam, demikianlah bunyi sebagian kalimat dalam buku itu, tidak bisa dinafikan dalam naluri manusia. Ada pula kutipan kisah mengenai surat yang dicuri, saduran cerpen Edgar Allan Poe, “The Purloined Letter”, tentang persaingan cinta dan dendam, sampai akhirnya membuahkan kematian. Demikianlah kisahnya.

Menteri sedang berdiskusi dengan Ratu, lalu dengan mendadak dan tanpa diduga, Raja datang. Raja tahu bahwa Ratu berusaha agar Raja tidak mengetahui surat di tangan Ratu, namun Ratu tidak dapat menyembunyikannya. Ketika perhatian Raja dan Ratu sedang tidak berada pada surat itu, Menteri mengganti surat itu dengan surat lain yang mirip dari sakunya.

Ratu kemudian sadar bahwa surat di tangannya tadi telah hilang dan dia langsung mencurigai Menteri. Begitu Menteri pergi, Ratu memberi titah kepada Kepala Polisi dan anak-buahnya untuk menggeledah tempat-tinggal Menteri. Kepala Polisi beserta anak-buahnya dengan segala daya dan cara berusaha untuk menemukan surat itu, namun, ternyata, mereka tidak dapat menemukan apa-apa.

Karena putus asa, Ratu minta tolong Dupin. Menurut kesimpulan Dupin, tidak mungkin surat itu disembunyikan di rumah Menteri. Kalau memang disembunyikan, surat itu pasti akan ditemukan. Karena tidak ditemukan, maka pasti surat itu tidak disembunyikan. Akhirnya memang dia menemukan surat itu, lalu surat itu diletakkan sedemikian rupa sehingga nanti kalau dia kembali lagi ke rumah Menteri, dia dapat mengganti surat itu dengan surat serupa.

Dupin datang lagi, lalu mengganti surat itu dengan surat palsu yang serupa. Oleh Dupin surat dikembalikan ke Ratu dan sadarlah Menteri kemudian bahwa dia akan segera jatuh. Sebuah catatan dalam surat palsu tersebut menyatakan bahwa tindakan Dupin terhadap Menteri adalah sebuah balas dendam. Dulu, ketika Dupin dan Menteri masih sama-sama muda, mereka rebutan pacar dan dengan akal bulus Menteri dapat mengalahkan Dupin.

Kantuk menyerang lagi. Beberapa saat sebelum tertidur saya masih sempat bertanya-tanya mengapa wajah Johny Gallagher tampak kosong ketika saya bercerita mengenai gerombolan mahasiswa telanjang. Seolah-olah dia tidak merasa bahwa saya berbicara mengenai dia.

Sekonyong-konyong saya terlempar dan tahu-tahu sudah berdiri dekat meja, memegang kertas dengan tulisan kabur, “Penggunaan semua alat dalam kamar ini di luar tanggung jawab hotel”. Hotel terasa bergetar oleh teriakan-teriakan kasar, suara saling beradu, dan benda-benda keras dibentur-benturkan ke tembok dan entah ke mana lagi.

Apa yang pernah saya bayangkan menjadi kenyataan. Johny Gallagher dulu menjadi pemimpin asrama Beta Kapa Kapa dan dia mempunyai resep jitu untuk meredam rasa tertekan mahasiswa. Salah satunya dengan cara mengirim gerombolan mahasiswa telanjang. Dia mengatasnamakan mahasiswa, tapi sebetulnya untuk kepentingannya sendiri. Dia bermasalah, dan atas nama mahasiswa, dia memperalat mahasiswa. Lalu, pada malam-malam tertentu dia memerintah teman-temannya untuk berteriak keras-keras, memaki-maki, memukul-mukul dengan apa pun dan kepada siapa pun, selama sepuluh menit. Juga untuk meredam rasa tertekan. Itu dulu. Sekarang dia pasti lebih licin.

Dengan memencet tombol dan menimbulkan dering memukau di seluruh bagian hotel, Johny Gallagher menyihir semua tamu untuk berteriak keras-keras, memaki-maki, kalau perlu sesama tamu saling gebuk. Semua alat untuk menggebuk sudah tersedia di kamar. Maka mereka pun saling tinju, saling pukul, kalau perlu saling hantam kepala dengan palu. Dan mereka dipersilakan keluar kamar untuk mengejar tamu-tamu lain.[]

[Dinukil dari: Budi Darma. 2017. Hotel Tua. Jakarta: Penerbit Kompas. Hlm. 224-231]


Ulasan Singkat

Cerpen “Hotel Tua” pertama kali terbit pada 7 Desember 2014 di Harian Kompas. Pada 2017, Penerbit Kompas menerbitkannya kembali dalam kumpulan cerpen yang diberi judul serupa dengan cerpen ini. Kumpulan tersebut memuat 18 cerpen Budi Darman dalam periode lebih dari empat dasawarasa.

Cerpen-cerpen dalam kumpulan tersebut, termasuk “Hotel Tua”, memaksa kita berpikir keras. Apa yang sebenarnya dimaksud pengarang dengan ceritanya? Meskipun plot dan narasi sebagian besar cerpen disusun realis, tak mudah menemukan relasi logis di dalamnya, sehingga pembaca bisa memahami makna yang ingin disampaikan. Pemahaman akan makna, bagaimanapun, menyumbang pada kepuasan pembaca dalam mengapresiasi sastra.

Sayangnya, tak banyak kritikus dan pembaca umum yang mencoba mengulas cerpen demi cerpen dalam kumpulan ini untuk menggali maknanya masing-masing. Bre Redana, redaktur Kompas yang memberi kata pengantar dalam kumpulan ini, hanya memuji Budi Darma sebagai pengarang senior yang tetap produktif. Bre, misalnya, menilai Budi bisa menulis lebih dari satu cerita dari satu inspirasi. Pembaca yang mencoba menulis ulasan di situs Goodreads milik Amazon juga serupa dengan Bre: terpukau dengan kebesaran nama Budi Darma dan menyatakan terpesona dengan imajinasi dan keanehan ceritanya. Ketika membedah kumpulan ini di Bentara Budaya, Yogyakarta, Agus Noor dan B Rahmanto juga demikian, hanya mengulas kepengarangan Budi Darma secara umum dan tak menukik ke dalam karya-karyanya.

Padahal, Budi Darma pernah mengatakan, sastra Indonesia sesak dijejali dengan ulasan soal pribadi dan pengalaman hidup pengarang ketimbang karyanya. Guru besar sastra Universitas Negeri Surabaya ini juga sebenarnya memberi kritikus dan pembaca ruang besar untuk mengapreasiasi karyanya. Dia mengatakan tak pernah mau “membaca” ulang karya-karyanya. Sekali menulis, sesudah itu terserah pembaca.

“Hotel Tua” salah satu cerpen yang tersulit dipahami dalam kumpulan ini, misalnya jika dibandingkan dengan “Pistol”, “Pengantin”, “Pilot Bejo”, “Tangan-Tangan Buntung”, “Percakapan”, atau “Laki-laki Pemanggul Goni” yang surealis sekalipun. Sulit menemukan relasi logis di antara plot-plotnya. Misalnya, apa hubungan antara Johny Gallagher dengan Burhan (narator) meskipun keduanya pernah kuliah dalam periode berbeda di Indiana University; meskipun Gallagher memiliki data tentang Burhan; dan meskipun Burhan merasa mengenal Gallagher melalui kisah gerombolan mahasiswa telanjang di musim dingin yang membeku di Indiana? Apa hubungan yang terjadi di antara keduanya sehingga terjadi keributan di hotel tua milik Gallagher?

Setidaknya terdapat dua penanda yang bisa dijadikan petunjuk awal untuk memahami cerpen ini. Pengarang merujuk kepada dua teks lain di luar ceritanya, yakni Don’t Cry for Me, Argentina yang dilantunkan Madonna sebagai lagu tema film Evita Peron dan “The Purloined Letter”, cerpen karya Edgar Allan Poe (yang pernah memancing perdebatan semiotik antara Jacques Lacan dan Jacques Derrida pada 1970-an).

Pengarang memberi porsi lumayan ketika menceritakan kedua teks tersebut, terutama untuk cerpen “The Purloined Letter”. Narator, misalnya, bercerita kepada pembaca tentang Evita Peron yang cerdas dan kemudian menikah dengan politisi sayap kiri Juan Peron. Duet Peron yang kemudian mendaki ke puncak kekuasaan di Buenos Aires itu di satu sisi berhasil menyejahterakan kaum pekerja tapi di sisi lain mempertahankan kekuasaan dengan tangan besi. Lalu, kisah C. Auguste Dupin, karakter detektif rekaan Poe, yang cerdas membaca pikiran lawannya, Menteri D, ketika menyelesaikan kasus surat Ratu yang dicuri. Berbeda dengan motivasinya dalam “The Murders in the Rue Morgue” dan “The Mystery of Marie Rogêt”, Dupin kali ini terdorong menyelesaikan kasus karena dendamnya kepada Menteri D yang pernah berbuat buruk kepadanya di Wina.

Ada “kecerdasan” dan “dendam” yang ditandai oleh dua penanda tersebut, terutama dalam “The Purloined Letter”. Dengan bantuan dua penanda itu, saya berasumsi bahwa Gallagher memiliki hubungan kelam dengan Burhan, sang narator. Gallagher memendam dendam kepada Burhan meskipun Burhan belum menyadarinya hingga bagian akhir cerita. Asumsi ini setidaknya diperkuat oleh judul buku karya Gallagher The Psycho-Revenge: The Imperative Human Needs yang sepertinya merupakan respons terhadap buku Burhan New Paradigm of Psycho-Revenge. Apalagi tertulis di dalamnya “balas dendam tidak bisa dinafikan dalam naluri manusia”.

Berbeda dengan “The Purloined Letter” di mana Poe membuat jelas hubungan masa lalu Dupin dan Menteri D, dalam “Hotel Tua”, Budi Darma menyamarkan hubungan masa lalu Burhan dan Gallagher. Apa yang diperbuat Burhan terhadap Gallagher sehingga yang terakhir sampai perlu membalaskan dendam? Bagian inilah yang dibuat samar oleh Budi Darma.

Jika asumsi saya berlaku, maka “Hotel Tua” sebenarnya adalah cerita horor psikologis yang menarik untuk diulas lebih jauh. Di titik ini, “Hotel Tua” sebenarnya telah menyajikan kata-kata kunci menarik untuk dibicarakan secara psikoanalisis, yakni soal “masa lalu”, “dendam”, dan “kecerdasan”. Mungkin epigraf yang dikutip Poe dalam “The Purloined Letter”—dan secara keliru diatribusikan kepada filsuf stoisisme Romawi, Seneca—bisa membantu menjelaskan maksud cerpen “Hotel Tua”: nihil sapientiae odiosius acumine nimio (kecerdikan berlebihan akan menghilangkan akal sehat).[] (Irman Abdurrahman)


Budi Darma

Lahir di Rembang, 25 April 1937, Budi Darma adalah salah satu pengarang sekaligus akademisi bidang sastra. Setelah menyelesaikan studi di Universitas Gadjah Mada pada 1963, Budi mendapatkan kesempatan menjalani kursus Program Penulisan Internasional di University of Iowa, Amerika Serikat, dan kemudian menyelesaikan studi master dan doktor filsafat di Indiana University Bloomington.

Budi memiliki gaya kepengarangan khas. Tema-temanya berfokus pada absurditas perasaan dan perilaku manusia dalam hubungannya dengan manusia lain. Gaya bertuturnya terkadang surealis dan tak jarang juga realis. Dia mengatakan setiap karyanya lahir dari sekali tulis, berbeda dengan kebanyakan pengarang yang kerap menerapkan penulisan ulang. Imajinasinya kerap liar, dan dia bilang datang dari alam bawah sadarnya. Tak heran jika banyak kritikus menilai karyanya absurd dan tak mudah dipahami.

Guru besar sastra Universitas Negeri Surabaya ini telah menghasilkan banyak karya, dari mulai novel, kumpulan cerpen, esai, dan kritik sastra. Sejumlah karyanya yang dikenal banyak orang adalah novel Olenka (1983) dan kumpulan cerpen Orang-Orang Bloomington (1980). Olenka mengantarkan Budi menerima penghargaan sastra bergengsi Asia Tenggara S.E.A Write Award. Karya lainnya adalah novel Rafilus (1988) dan Ny. Talis (1996). Karya-karyanya telah diterjemahkan ke dalam sejumlah bahasa.[]

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Latest from Nukilan

Go to Top