JELAJAH LITERASI

“The Black Cat and Other Stories”: Poe, Si Pembongkar Sisi Gelap Manusia

in Fiksi by

Jika Anda penggemar kisah misteri, horor, dan detektif, Edgar Allan Poe tak boleh Anda lewatkan. Penerbit Noura menerjemahkan 13 cerpen dari sang perintis genre tersebut. Karyanya menunjukkan Poe piawai membongkar sisi gelap manusia.

Dari H.P. Lovecraft hingga Stephen King, dari Sir Arthur Conan Doyle sampai Alfred Hitchcock, semuanya merasa berutang pada Edgar Allan Poe. Poe bukan hanya perintis genre misteri, horor, detektif, dan fiksi sains tapi juga mengenalkan karakter genre-genre tersebut, yang hingga kini memengaruhi banyak pengarang.

Poe, misalnya, mengintensifkan kegilaan, kengerian, dan kejijikan dengan memermainkan kata-kata, mengeksploitasi rasa bahasa, dan memanipulasi narasi (salah satu genre yang ditekuni Poe adalah juga hoaks—istilah yang kini menjadi korban pemaknaan negatif politisi dan para pendukungnya). Poe juga mewarisi C. Auguste Dupin, karakter detektif yang menyelesaikan perkara-perkara kriminal dengan kekuatan pikiran deduktif—yang menginspirasi banyak pengarang kisah detektif dengan karakter seperti Sherlock Holmes (Doyle) atau Hercule Poirot (Agatha Christie).

Jadi, jika menggemari atau bercita-cita mengarang genre-genre tersebut, Anda tak boleh melewatkan nama pengarang legendaris sekaligus mengenaskan Amerika ini. Dan beruntunglah Anda karena Penerbit Noura berinisiatif menyusun dan menerjemahkan 13 cerita pendek Poe. Kumpulan yang berjudul The Black Cat and Other Stories ini terbit pada 2016.

  • Judul Buku: The Black Cat and Other Stories
  • Pengarang: Edgar Allan Poe
  • Penerjemah: Shinta Dewi
  • Penerbit: Noura
  • Terbit: 2018 (Cetakan ke-9)
  • Tebal: 378 halaman

Ketiga belas cerpen itu dibagi menjadi dua bagian: kisah horor dan kisah detektif. Penerjemahannya terbilang mulus dan mengalir.

Shinta Dewi, penerjemah, memilih menerjemahkannya secara kontekstual, tak semata mengalihbahasakan. Kata desease (“Jantung yang Mengaduh”), misalnya, yang merujuk kepada “keadaan sangat gugup” diterjemahkan menjadi “kegugupan”. Pilihan penerjemahan semacam ini membuat penceritaan tetap mengalir dan membantu pembaca memahami konteks. Meskipun, bagi Anda yang pernah membaca cerpen Poe dalam bahasa Inggris, ada rasa yang hilang karena kata desease dalam cerpen “Jantung yang Mengaduh” (The Tell-Tale Heart) tampaknya dimaksudkan Poe untuk merujuk kepada gangguan jiwa tertentu (mungkin PTSD atau depresi), dan bukan “kegugupan” biasa.

Tulisan ini akan membahas enam cerpen secara tematik, tidak terpisah-pisah. Bagaimana dari keenam cerpen tersebut, kita bisa mengenali gaya kepengarangan Poe.

Poe sendiri sebenarnya cukup rigid dalam mengarang. Dia punya teori bahwa sastra itu harus memiliki kesatuan efek. Karenanya, menurut Poe yang pada masanya dikenal sebagai kritikus sastra yang kejam, seorang pengarang harus memperhitungkan setiap kata dan sentimen. Karangan yang begitu telanjang mengungkap makna, atau bahkan pesan moral, bagi Poe bukanlah sastra.

Keenam cerpen itu adalah “Kucing Hitam” (The Black Cat), “Jantung yang Mengaduh (The Tell-Tale Heart), “Tong Amontillado” (The Cask of Amontillado), “Lubang dan Pendulum” (The Pit and the Pendulum), “Topeng Maut Merah” (The Masque of the Red Death), dan “Peristiwa Pembunuhan di Rue Morgue” (The Murders in the Rue Morgue). Lima cerpen terakhir pernah membangun narasi The Raven (2012), film James McTeigue yang memfiksikan hari-hari terakhir Poe (diperankan John Cusack), di mana sang pengarang memburu pembunuh berantai yang menjadikan cerpen-cerpennya sebagai rujukan.

Poe kebanyakan bercerita dalam bentuk orang pertama (“aku” sebagai narator), kecuali dalam “Topeng Maut Merah”. Ini memungkinkan Poe mengeksplorasi perasaan, pikiran, dan imajinasi protagonisnya lebih intens, kecuali dalam “Peristiwa Pembunuhan di Rue Morgue” di mana protagonisnya, Auguste Dupin, bukanlah narator. Menjadikan Dupin sebagai narator akan mengalihkan perhatian pembaca dari pengungkapan kasus di akhir cerita. Sementara, dalam “Topeng Maut Merah”, Poe ingin menggambarkan pikiran dan perasaan banyak orang, sehingga memilih orang-ketiga-segala-tahu sebagai narator.

Terkecuali dalam “Topeng Maut Merah” dan “Peristiwa Pembunuhan di Rue Morgue”, semua cerpen lain menampilkan narator berkepribadian ganda, sulit dipercaya. Mereka tampak waras tapi gila. Mereka tampak baik tapi berniat jahat. Mereka hidup di antara kenyataan dan imajinasi yang saling tumpang tindih. Mereka mendengar suara-suara di kepala. Mereka tak bisa membedakan antara logika dan emosi meskipun tetap berusaha menyatakan diri mereka logis.

Itulah salah satu gaya khas Poe, menyelami dan membongkar sisi gelap manusia. Jika banyak pengarang pada masa itu (dan juga masa kini) percaya bahwa manusia itu pada dasarnya baik, Poe justru ingin menyatakan bahwa salah satu sifat dasar manusia adalah keburukan: sakit hati, dendam, marah, dan gelisah. Manusia memiliki sisi dalam jiwanya yang mendorongnya melakukan kejahatan. Meskipun tahu perbuatan itu jahat, ia tetap melakukannya dan bahkan terus melakukannya.

Dalam “Kucing Hitam”, narator melukiskan bagaimana dorongan primitif membuatnya melakukan kejahatan. Dorongan itu ia sebut “roh yang suka menentang”. Inilah yang membuatnya membunuh kucing hitam peliharaannya dan istrinya. Ia sadar itu kejahatan tapi tak mampu membendung dorongan primitif tadi.

Dalam “Jantung yang Menganduh”, protagonis berkeras menyatakan dirinya waras. Tapi, dari cerita selanjutnya, kita tahu bahwa dia tak bisa membedakan mana pikiran logis dan bayangan ketakutannya, yang dipicu oleh tatapan mata-burung-pemakan-bangkai milik seorang lekaki tua. Bayangan ketakutan akan mata biru berselaput itu bahkan mengalahkan rasa cintanya kepada lelaki tua itu, sehingga ia memutuskan membunuhnya.

Demikian pula dalam “Tong Amontillado”. Narator berupaya meyakinkan “kau” (orang kedua yang tidak diketahui, dan ini kerap dilakukan Poe seakan narator bercerita kepada keluarga atau teman) bahwa dia orang yang lemah lembut dan penyabar meskipun menerima perlakuan buruk Fortunato. Tapi, pada akhirnya, narator (yang kemudian kita tahu bernama keluarga “Montresor”) tidak bisa tahan dengan penghinaan dan bertekad membalas dendam: membunuh Fortunato.

Narator dalam “Lubang dan Pendulum” sedikit berbeda. Meskipun dia menunjukkan gejala psikosis serupa tapi itu muncul karena penyiksaan yang dia alami. Jika narator pada tiga cerpen sebelumnya memiliki kepribadian ganda karena kegilaan dan kemarahan internal, narator dalam “Lubang dan Pendulum” mengalaminya karena ketakutan dan kelemahan fisik akibat didera siksaan dalam sebuah ruang tahanan. Dalam cerpen ini, narator bisa mengidentifikasi dan mengakui gangguan jiwa tersebut, sesuatu yang tidak mampu dilakukan tiga narator sebelumnya.

Dalam “Topeng Maut Merah”, sisi gelap manusia ditunjukkan dalam skala komunal: Pangeran Prospero dan seribuan teman bangsawannya. Kebahagiaan orang-orang ini—dan juga kegilaan mereka dalam pesta topeng di sebuah puri—terjadi di tengah penderitaan dan kematian banyak orang akibat wabah “Maut Merah” (Red Death). Alih-alih membantu rakyat mereka, para bangsawan ini malah bersembunyi dan berpesta pora.

Mereka seakan berbahagia dalam pesta. Mereka seolah berbahagia karena bisa menghindari kematian. Tapi, semua itu cuma “topeng”. Pada akhirnya, Poe menunjukkan bahwa lari dari kematian adalah upaya sia-sia.

Poe melukiskan secara intens sisi gelap manusia itu dalam penceritaan yang detail berisi alegori. Sebagai contoh, dalam “Topeng Maut Merah, jam raksasa dari kayu eboni yang dentangannya setiap satu jam sejenak menghentikan pesta bisa kita andaikan dengan sang kala yang tak bisa dihentikan manusia (Poe punya obsesi khusus dengan waktu). Demikian pula, tujuh kamar dengan warna dinding dan jendela yang berbeda bisa kita bayangkan sebagai perlambang episode kehidupan manusia, sejak kelahiran hingga kematian.

Selain itu, Poe kerap menggunakan oksimoron, seperti dalam frase “kecemerlangan yang kasar” (“Topeng Maut Merah”). Oksimoron seperti ini akan banyak kita temui dalam karya-karya Poe.

Lalu, dia dengan cermat menciptakan ironi dalam setiap kisahnya. Narator yang tampak tenang ternyata tak tahan diusik oleh suara detak jantung korbannya—yang sebenarnya bisa kita pahami sebagai detak jantungnya sendiri—(“Jantung yang Mengaduh”). Narator yang yakin benar bahwa kejahatannya teramat sempurna ternyata akhirnya itu terungkap hanya gara-gara seekor kucing (“Kucing Hitam”). Bangsawan yang berpesta dengan segala kostum gemerlap, gila, dan menjijikkan ternyata bisa gelisah begitu melihat sosok berkostum kain kafan dan bertopeng wajah mayat dengan percikan darah (“Topeng Maut Merah”). Ironi juga terbaca ketika Montresor meminum anggur bersama Fortunato. Montresor menyulang demi hidup panjang Fortunato sementara Fortunato menyulang demi keluarga besar Montresor yang sudah tinggal kerangka—tanpa menyadari bahwa dia akan menjadi bagian dari kumpulan tulang belulang yang dikubur di ruang bawah tanah kediaman Montresor.

Poe menggambarkan pembunuhan dalam cerpen-cerpennya dengan brutal: mutilasi, penguburan hidup-hidup, pemenggalan, atau pemotongan tubuh dengan bilah sabit pada pendulum. Tapi, sebenarnya bukan di situ letak kengeriannya. Kisah Poe semakin mengerikan justru karena dia menggambarkan bagaimana hasrat membunuh merayap ke dalam jiwa manusia karena alasan teramat subtil—yang korbannya sendiri tak menyadari itu bisa menjadi dalih bagi kematiannya.

Para protagonis-pembunuh juga mengeksekusi niat jahat mereka dengan ketenangan dan penuh perhitungan. Narator dalam “Jantung yang Mengaduh” mengamati calon mangsanya selama tujuh malam sebelum menghabisinya di malam kedelapan. Narator dalam “Tong Amontillado” bahkan menyatakan bahwa kejahatannya harus sempurna agar dia bisa menikmati perasaan yang pernah dinikmati calon korbannya: berbuat jahat tapi lolos dari hukuman. Pembalasan dendam tak akan paripurna jika si pembalas akhirnya dihukum. Karenanya, dia merancang dengan cermat rencana jahatnya itu: memanfaatkan waktu karnaval, bersikap akrab dengan calon korban, dan bahkan menciptakan alibi dengan menyatakan kepada para pembantunya bahwa dia akan pergi (karena dia tahu para pembantunya akan meninggalkan rumah untuk menikmati karnaval begitu dia pergi).

Selain itu, dalam “Tong Amontillado”, narator (Montresor) memerangkap calon korban (Fortunato) dengan memanfaatkan kelemahannya: obsesinya kepada anggur berkualitas tinggi. Membaca pikiran dan memanfaatkan kelemahan orang lain adalah juga karakter yang ada dalam diri Auguste Dupin dalam “Peristiwa Pembunuhan di Rue Morgue”. Perbedaannya, jika Montresor menggunakan itu untuk menyembunyikan kejahatan, maka Dupin untuk mengungkap kejahatan.

Dupin adalah tipikal karakter detektif yang bisa kita temui pada karakter yang datang belakangan: Sherlock Holmes dan Hercule Poirot. Dupin menyelesaikan kasus dengan kekuatan deduksi, yang Poe istilahkan dengan “rasionalisasi”. Dupin bisa mengungkap pelaku kejahatan hanya dengan membaca pemberitaan koran tentang kasus tersebut (pembunuhan di Rue Morgue) meskipun sempat mengamati langsung lokasi pembunuhan.

Kekuatan Dupin, yang digambarkan narator sekaligus sahabatnya, adalah kemampuannya mengimajinasikan pikiran pembunuh dan kemudian merekonstruksi perbuatannya. Kemampuan ini tak dimiliki oleh mereka yang tak berjarak dengan kerumitan (dalam hal ini polisi).

Narator menganalogikan ini dengan membandingkan antara permainan catur dan dam. Catur itu rumit di mana tiap bidak memiliki langkah berbeda, sehingga permainan ini lebih membutuhkan konsentrasi ketimbang imajinasi. Sementara, dam itu sederhana, di mana langkah bidaknya terbatas, sehingga permainan ini lebih membutuhkan imajinasi: menimbang segala kemungkinan dengan mengamati gerak-gerik lawan.

Bagi si narator, orang imajinatif pasti cerdas. Tapi, orang cerdas belum tentu bisa berimajinasi. Dan, Dupin adalah tipe orang pertama.

Dari karangan-karangannya, Poe tampak terobsesi dengan kematian: bagaimana manusia mengalami kematian dan apa yang sebenarnya ditemui manusia setelah mati (kesadaran setelah kematian). Ia juga terobsesi dengan waktu, misteri pasangan kematian yang sama-sama tak bisa “ditangkap”, “diungkap”, dan “dibunuh”, seperti perintah Pangeran Prospero terhadap Si Topeng Maut Merah.[]

Edgar Allan Poe

Edgar Poe (1809-1849) lahir di Boston, Massachusetts, dari pasangan aktor David dan Elizabeth Poe. Di usia dua tahun, Poe sudah yatim-piatu. Bapaknya minggat sementara ibunya meninggal karena TBC. Dia kemudian diasuh oleh keluarga John dan Frances Allan.

Kehidupan Poe sarat dengan kegagalan dan kematian. Dia terpaksa meninggalkan bangku kuliah di University of Virginia karena kekurangan uang. Dia juga gagal menjadi kadet di akademi militer. Lalu, istrinya, Virginia Clemm meninggal pada usia 24 tahun (setelah 11 tahun menikah) juga karena TBC.

Poe kemudian memutuskan total menjadi pengarang dan penyair. Keputusan ini membuat kehidupan ekonominya karut-marut. Pada masa itu, penulis-pengarang di Amerika Serikat belum semakmur saat ini.

Poe merupakan salah satu pengarang Amerika yang pertama kali menulis bentuk cerita pendek. Ia dianggap sebagai salah satu perintis genre horor, misteri, kisah detektif, dan fiksi sains. Poe juga menulis bidang lain di luar kesusastraan, seperti kosmologi dan kriptologi.

Poe tak hanya menulis cerpen tapi puisi dan kritik sastra. Sebagai kritikus, Poe dikenal tanpa ampun terhadap pengarang lain, sehingga dijuluki “tomahawk man”.

Tapi, dia juga tak lepas dari kritik, terutama dari rival abadinya, Rufus Wilmot Griswold. Griswold bahkan terus menyerang reputasi Poe setelah kematiannya. Griswold menulis “memoar” penuh tuduhan, yang menggambarkan Poe sebagai orang gila dan pecandu obat-obatan.

Uniknya, “memoar” kelam Poe yang ditulis Griswold (dan sebagian besar isinya dianggap palsu) justru makin melambungkan nama Poe. Banyak orang kemudian membaca karya Poe karena tertarik dengan karya “orang gila”.

Poe pun melegenda. Bukan hanya karya tapi juga dirinya sendiri. Sejumlah film, seperti The Raven (2012), memfiksikan kisah hidupnya.

Banyak pengarang dan sutradara horor, misteri, kisah detektif, dan sains fiksi yang mengaku mendapat inspirasi dari Poe. “Karena sangat menyukai cerita Edgar Allan Poe, saya mulai membuat film suspense,” kata master suspense, Alfred Hitchcock.

Poe meninggal pada 7 Oktober 1849, empat hari setelah dia ditemukan menggelandang di jalanan Baltimore. Dia mengenakan pakaian yang bukan miliknya dan terus mengigau sambil menyebut nama “Reynolds” pada malam kematiannya. Sebab kematiannya hingga kini menjadi pertanyaan, semisterius cerita dalam karya-karyanya.[]

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Latest from Fiksi

Go to Top