JELAJAH LITERASI

Ia Punya Leher yang Indah

in Nukilan by

Cerpen WS Rendra

WS Rendra dikenal sebagai penyair dan dramawan. “Si Burung Merak” sebenarnya pernah mengarang sejumlah cerpen pada dekade 1950-an. “Ia Punya Leher yang Indah” adalah salah satunya, yang dinukil dari kumpulan cerpen Pacar Seorang Seniman.

PAGI ini Maryam akan dilukis pelukis Nadjib, tunangannya sendiri. Ia menumpang kereta andong yang ditarik kuda yang disewa Paman Kirdjo secara berlangganan itu sampai ke Pasar Gede, tempat di mana Paman Kirdjo berdagang kelontong, dari sana ia akan terus berjalan ke Gamelan.

“Berangkat jam tujuh pagi itu cukup, kan?” kata Paman Kirdjo kepada kusir. “Jangan lebih siang dari itu, seperti lusa yang lalu!”

“Selalu saya usahakan datang pagi,” kata kusir itu, “tapi, lusa dulu bannya lepas di jalan.

Bibi Kirdjo minta rokok pada suaminya. Suaminya memberinya rokok sebatang dan keduanya merokok bersama. Kemudian keduanya ngomong tentang dagangan sebagaimana orang lain ngomong tentang politik. Dalam pada itu rokok kreteknya mengeluarkan bunyi yang menyenangkan sewaktu cengkihnya terbakar.

Pagi itu pagi yang baik, dan semua orang di jalan kelihatan bersenang hati belaka. Paman Kirdjo melihat muka Maryam kurang bersinar, lalu bertanya:

“Ada apa Maryam?”

“Ada apa, Paman?”

“Kau sakit perut?”

“Rupaku seperti sakit perut?”

“Kurang lebih begitu.”

“Saya kira ada yang mengganggu pikiranku.”

“Apa itu?”

“Apa aku ini tidak cantik, ya?”

“Engkau merasa begitu?”

“Bukankah memang begitu?”

“Tanya saja bibimu.”

Paman Kirdjo tak mengerti mengapa tiba-tiba Maryam bertanya begitu. Maryam bertanya kepada bibinya.

“Aku ini tidak cantik, ya, Bibi?”

“Siapa bilang?”

“Aku seperti merasa begitu.”

“Ah, omong kosong saja! Jangan dipercaya hati yang usil, Nak!”

Maryam diam. Bibi diam. Orang bersepeda silang siur. Segerombolan mahasiswa yang akan berangkat kuliah melemparkan matanya ke kereta itu. Mereka memandang Maryam dan Maryam tidak melihat mereka.

“Mengapa kau pikir kau tidak cantik?” tanya Bibi Kirdjo.

“Aku rasa memang begitu,” jawab Maryam.

“Kau dikhianati tunanganmu?”

“Nadjib? Bah! Lelaki itu memang gila, tapi ia tak akan berkhianat.”

“Kau ada saingan? Lalu, apa lagi?”

“Aku kurang berhias, ya?”

“Engkau ini ada-ada saja, Nak?” keluh Bibi.

“Ya, saya kira kurang sedikit,” sambung Paman.

Semuanya diam pula. Langkah-langkah kuda berdetak-detak berirama memukuli jalan. Kereta itu berjalan sangat pelan di tengah keramaian jalan. Seolah-olah apabila penumpangnya tidur, mimpi dan bangun lagi, ia belum juga sampai pada tempat yang ditujunya.

Keluarga Maryam dan keluarga Paman Kirdjo mendiami satu rumah bersama dengan keluarga yang lain. Memang penuh sesak dalam rumah itu, tetapi mereka berbahagia saja sehari-hari dengan rumah macam begitu karena mereka kurang berada.

“Kau dulu tak pernah merasa kurang berhias,” kata Bibi, “mengapa tiba-tiba sekarang kau merasa begitu?”

Maryam diam dulu. Ia menundukkan kepalanya ke jalan. Ia melihat kotoran kuda melekat seperti bubur membedaki jalan itu. Ia memalingkan pandangnya dan menjawab pertanyaan bibinya.

“Mereka banyak ngomong tentang pakaian-pakaian dan perhiasan-perhiasan. Mereka ngomong tentang kalung, nilon, dan anting-anting yang sangat artistik.”

“Mereka? Siapa mereka?”

“Mereka teman-teman gadis di sekolah, Isti, Retno, Eny, Ira, Djinah, Titik, dan yang lain-lain. Mereka semua punya pakaian-pakaian indah. Mereka semua menarik dan aku suka melihat mereka berpakaian begitu. Ah, aku tidak secantik mereka!”

“Kau pun berpakaian tidak buruk. Pakaian yang sekarang kau pakai pun tidak mengecewakan. Saya mengatakan baik juga.”

“Ini yang terbaik dari semua gaunku. Aku mau dilukis Nadjib. Tapi, pakaian teman-teman lain jauh lebih baik. Mereka ke pesta dengan gaun nilon dan kalung yang bagus.”

“Apa itu nilon?”

“Nilon semacam plastik. Tipis seperti sutra, tak terbikin dari benang. Bening semacam kaca dan lembut sekali.”

“Tubuh orang bisa terlihat jadinya,” kata Bibi dengan terkejut.

“Tentu saja orang memakai gaun dalam. Dan, kulit punggung yang lembut akan bisa tampak.”

“Kami tak akan suka kau berpakaian biadab begitu.”

Maryam diam, matanya memandang ke jalan. Paman dan Bibi Kirdjo diam, mata mereka memandang Maryam. Kusir diam, matanya memandang kudanya. Seorang pemuda memboncengkan seorang pemudi di atas sepeda bagus, melintasi mereka. Pemudi itu banyak memakai minyak wangi. Baunya yang harum tertinggal waktu sepeda itu melintas dengan diam-diam.

Maryam mengeluh.

“Aku merasa tidak bahagia.”

“Kita rasa begitu juga?” tanya Paman pada Bibi.

“Tidak!” jawab Bibi pada Paman.

“Aku pun juga tidak merasa tidak berbahagia,” kata Paman, “kita bisa bersenang hati juga.”

“Kalau begitu, aku saja yang merasa celaka. Dan, aku memang anak yang celaka,” kata Maryam.

Mereka diam lagi. Detak-detak kuda terdengar lagi. Keramaian jalan terdengar lagi. Keramaian jalan terasa lagi.

Tiba-tiba Paman Kirdjo berkata, “Kau sungguh cantik, Maryam!”

Maryam memandang tepat-tepat muka Paman Kirdjo. Bibi memandang tepat-tepat muka suaminya. Paman Kirdjo tidak memandang siapa-siapa.

Kedua wanita tadi saling menunduk. Dan, keadaan menjadi dingin lagi. Tiba-tiba Maryam berkata, “Alangkah telanjangnya leher saya.”

“Telanjang?” tanya Paman Kirdjo dengan mata terbelalak.

“Terus terang saja,” kata Bibi, “lehermu sangat indah dan sempurna. Kau ini mengada-ada saja.”

“Leher tanpa kalung kelihatan telanjang dan mencolok.”

“Jangan kau cari-cari perkataan itu, Maryam,” kata Bibi.

“Bukan saya! Mereka yang berkata begitu.”

“Mereka?” tanya Bibi.

“Gadis-gadis temanku.”

“Oh! Omongan mereka gila semuanya. Leher mereka buruk, mereka perlu kalung. Leher kau bagus, kau tak perlu kalung.”

“Mereka selalu jadi perhatian orang karena kalung mereka.”

“Biar saja mereka diperhatikan orang karena kalung mereka, tapi kau akan diperhatikan orang karena kau cantik.”

“Saya malu pada mereka.”

“Malu?” tanya Paman Kirdjo. Matanya membelalak lagi.

“Ya!” jawab Maryam. “Mereka semua lebih cantik. Semuanya memakai baju-baju yang bagus dan leher mereka tidak telanjang.”

“Percayalah,” kata Bibi, “kau lebih cantik dari mereka. Mata lelaki akan mengatakan begitu. Lihat saja mata lelaki. Laki-laki mengatakan kecantikan wanita dengan mata mereka.”

Mereka telah sampai ke pasar. Kereta berhenti, Paman dan Bibi mulai memunggah muatannya. Maryam turun dan berkata, “Aku akan terus ke Gamelan, ke rumah Nadjib.”

“Baik-baik saja, ya, Maryam!” seru Bibi.

“Maryam!” kata Paman. “Jangan ngomong tentang leher telanjang itu di depan ibumu. Kau akan membuatnya bersedih saja.”

Maryam diam saja dan terus berjalan. Sebentar-sebentar ia memegangi lehernya.

Sinar matahari pagi enak di badan. Udara kota dipenuhi kebisingan kendaraan, suara anak-anak yang liar dan menyenangkan, suara orang-orang menuju pasar, dan tak terdengar burung menyanyi seekor pun.

Dengan berjalan menunduk, akhirnya Maryam sampai ke Gamelan, rumah Nadjib. Ia mengucapkan selamat pagi seperti orang mengucapkan selamat malam. Nadjib mengucapkan selamat pagi seperti burung.

“Aku telah sediakan kopi untuk kau,” kata Nadjib.

Maryam diam saja. Ia mengikuti Nadjib ke meja makan dan mereka minum kopi. Mata Nadjib selalu saja tak lepas dari wajah Maryam. Selesai minum kopi, Nadjib bertanya, “Kapan bisa kita mulai?”

“Sesuka kau.”

“Baik, sekarang juga.”

Hari ini Nadjib hanya menyelesaikan pekerjaan yang beberapa hari lalu telah dimulainya. Ia asyik dengan catnya dan Maryam duduk di ranjang agak di hadapnya, di mana ia duduk ketika dilukis mula pertama.

“Lucu sekali,” kata Nadjib, “mukanya belum selesai-selesai juga. Sukar sekali menangkap sesuatu dari muka kau itu. Barangkali ini disebabkan karena aku takut kalau-kalau lukisan ini nanti gagal.”

Maryam diam saja. Seolah-olah ia duduk tak dengan sepenuh hatinya. Nadjib ngomong lagi, sambil mengolah catnya.

“Badan dan lengan sudah selesai. Ini permulaan yang lucu bagi saya. Hari yang lalu saya ragu-ragu menghadapi kandungan wajah kau, itu saya lampiaskan pada latar belakangnya. Wajah dan jari-jari sangat belum selesai. Yang ini mesti kuat menggenggam kandungan dada dan watak fitrimu, supaya nanti bisa menonjol kuat di antara latar belakang dan warna baju yang ragu-ragu.”

Ia sekarang mulai duduk di kursi dengan kuas di tangannya. Lama ia memandang wajah Maryam dan belum mulai-mulai juga.

“Mengapa belum kau mulai juga?” tanya Maryam.

“Biar saja. Menggerakkan kuas itu sangat mudah, tetapi menangkap sesuatu yang cukup berarti untuk bisa menggerakkan kuas itu tidak begitu mudah. Aku belum melihat sesuatu yang menegakkan bulu kudukku.”

“Djib, aku sedang muram.”

“Biar saja.”

“Ada yang mengganggu perasaanku,” kata Maryam lagi dengan suara merajuk.

“Bagus.”

“Bagus bagaimana.”

“Aku bisa menangkap wajahmu dalam berbagai keadaan.”

“Bagus untuk kau, tidak bagus untukku.”

Nadjib mulai menggerakkan kuasnya, tetapi baru merupakan suatu gerakan-gerakan iseng yang hampir-hampir tak menyentuh kanvas.

“Leherku telanjang, ya?” Maryam memulai lagi.

“Ya.”

Tiba-tiba sambil menggerakkan kuasnya, yang telah lebih dulu ia lekati cat baru, Nadjib berkata, “Ya. Ya. Telanjang bulat dan asli.”

“Telanjang bulat dan asli?” tanya Maryam ngeri dan hampir-hampir menitikkan air mata. “Ah, aku memerlukan sebuah kalung untuk leher ini.” Lalu, ia meraba lehernya sendiri dengan mesra.

“Leher yang malang,” katanya lagi dengan suara yang sentimental.

Nadjib mendiamkannya saja. Setelah ia selesaikan leher itu, ia menatap Maryam tajam-tajam pada mukanya. Maryam dibawa perasaannya sendiri sehingga ia lupa bahwa ia sedang dilukis. Ia duduk seenaknya saja dengan melupakan sikapnya yang semula. Namun, Nadjib mendiamkannya saja. Ia memandang saja ke muka Maryam dengan matanya yang tajam.

“Pesta sekolah sudah dekat dan aku belum punya kalung,” Maryam bersuara lagi.

Nadjib diam saja. Ia mulai mengerjakan muka itu dengan gerakan-gerakan tangan yang belum tegas, tetapi merasa sudah mendapatkan jalannya.

“Aku tidak cantik, ya?” tanya Maryam kepadanya.

Matanya yang berair ikut bertanya pula.

Nadjib menatap muka itu tajam-tajam dan menjawab pelan-pelan, “Kau cantik, Maryam!”

Sementara itu, tangan Nadjib bergerak dengan pasti mengerjakan muka itu. Seolah-olah kuasnyalah yang menjawab pertanyaan Maryam tadi.

“Hari pesta nanti mereka akan berpakaian bagus-bagus. Mereka akan memakai gaun nilon dan mengenakan kalung yang indah di leher mereka. Mereka semua berkalung di hari pesta, dan aku akan merupakan domba hitam di antara mereka.”

Nadjib sudah asyik mengerjakan muka di lukisannya. Maryam merebahkan dirinya di ranjang dan mengeluh.

“Semalam-malaman hal itu saya pikirkan hingga saya tidak bisa tidur.” Ia menguap dan berkata lagi, “Djib. Berhentilah saja melukis sekarang. Saya tak bisa dilukis sekarang.”

Ia menyempurnakan letak tubuhnya yang merebah itu dan matanya ditutupinya. Nadjib tak memedulikannya. Ia asyik mengerjakan muka itu. Ia tadi sudah menangkap sesuatu yang sangat mengesan di angannya. Itu tak bisa terhapus lagi dan harus dilukisnya. Begitu kuat kesan itu menggores di angannya hingga ia sanggup melukiskannya tanpa model.

Beberapa waktu kemudian ia berhenti dan menarik napas lega: tinggal disempurnakan saja!

“Maryam!” panggilnya pelan.

Maryam tak menjawab karena ia telah tertidur. Nadjib mendekatinya. Ia tersenyum dan memandang wajah Maryam. Lalu, ia kembali lagi mengerjakan lukisannya.

Ia mengerjakan jari-jari itu, lalu menyempurnakan mukanya. Pukul setengah satu siang. Maryam membukakan matanya. Ia melihat keliling sebentar. Ketika melihat Nadjib mengerjakan makan siang, ia tersenyum. Ia lupa, bahwa ia tadi bersedih.

“Nadjib Besar!” Ia bersuara dengan manja.

“Halo, Nona! Sudah bangun?” Nadjib menghampirinya dan menciumnya sambil duduk di ranjang.

“Kau tidak lagi bersedih?” tanya Nadjib.

Tiba-tiba Maryam ingat, bahwa ia tadi bersedih. Lalu, dicobanya untuk bersedih lagi.

“Ah, leherku yang malang! Betapa telanjang ia!” katanya sentimental.

“Kalau lukisannya laku lagi, kau akan kubelikan sebuah kalung.”

“Kapan itu?”

“Kita bersabar saja.”

Maryam memeluk Nadjib dan merengkuh muka Nadjib ke dadanya.

“Mengapa tak bertunangan saja dengan orang kaya?” tanya Nadjib.

“Sebab aku cinta kau dan tampang kau, Nadjib Besar!”

“Akan saya cari kata yang tepat untuk lukisan itu.”

“Lukisan mana?” tanya Maryam.

“Lukisan dirimu!” kata Nadjib sambil bangkit dan menunjuk ke lukisan yang masih terletak di sandaran.

Maryam bangkit dan pergi ke depan lukisan itu. Ia meletakkan kedua tangannya ke dada dan matanya terpaku pada lukisan itu.

“Bagus sekali!” katanya.

“Kau memang cantik, Maryam. Lihatlah leher telanjang yang indah dan asli itu. Ia mendukung muka cantik dari orang yang sangsi akan kecantikannya. Masalah hidup sehari-hari yang berat menindas naluri perawanmu untuk berdandan. Namun, apabila kau masuki dunia pergaulan gadis-gadis yang sempat menikmati kelezatan usia muda mereka, nalurimu untuk berdandan itu bangkit lagi. Kau pengin berdandan, tapi kau tak ada perhiasan. Lalu, kau merasa kurang dari yang lain, dan hilanglah kesadaranmu bahwa kau cantik. Lihatlah mata yang sangsi itu. Ia tak bisa lagi melihat raut hidung dan mulut sendiri yang terukir sempurna. Orang dalam lukisan itu memang cantik, tapi kehilangan kesadaran bahwa ia cantik.”

Maryam mendengarkannya diam-diam saja. Ia sekarang tahu bahwa ia cantik. Matahari tiba-tiba menyinar di tanah lembap. Ia amat-amati lukisan itu. Tiba-tiba ia menggigit bibirnya, mengernyitkan dahinya, lalu berkata:

“Nadjib Besar, aku tahu sesuatu.”

“Apa itu?”

“Aku ada usul tentang lukisan ini.”

“Ya?”

“Mengapa tidak kau lukiskan kalung pada lehernya?”

Tiba-tiba Nadjib berteriak keras-keras.

“Gila! Leher yang begitu indah dan asli tak perlu kalung macam mana pun juga!”

Yogyakarta, 12 Januari 1956. Majalah KISAH, April 1956.

[Dinukil dari: Rendra, W.S. 2016. Pacar Seorang Seniman. Yogyakarta: Bentang.]

[Sumber foto: Historia.id]


WS Rendra (1935-2009)

Willibrordus Surendra Rendra atau biasa disingkat WS Rendra lahir di Solo. Setelah menamatkan SMA di kota kelahirannya, Rendra melanjutkan studi di Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Usai kuliah, dia mempelajari drama di American Academy of Dramatical Arts di Amerika Serikat pada 1964. Pulang ke Indonesia pada 1967, Rendra mendirikan Bengkel Teater.

Bakat seni Rendra mulai terlihat sejak kecil. Ibunya, seorang penari keraton, memperhatikan Willy kecil mampu membetot perhatian teman sebaya saat bercerita. Rendra sedari awal memang bercita-cita menjadi penyair, seakan meneruskan tradisi keluarga dari garis ibu, di mana kakeknya, Raden Wedono Sosrowinoto II, adalah penulis suluk pedalangan—narasi puitis dalam pementasan wayang kulit.

Melalui Bengkel Teater, Rendra memadukan tradisi masyarakat dan ritus keagamaan dengan seni eksperimental Barat. Pertunjukkan teaternya kerap dibanjiri penonton. Ekspresi flamboyan Rendra di atas panggung memberinya julukan “Si Burung Merak”. Selain karya drama orisinal seperti Mastodon dan Burung Kondor, Panembahan Reso, dan Kisah Perjuangan Suku Naga, Rendra mementaskan saduran karya Sophokles, William Shakespeare, dan Berthold Brecht.

Dia juga produktif menulis puisi. Kumpulan puisinya antara lain Ballada Orang-Orang Tercinta, Blues untuk Bonnie, Sajak-sajak Sepatu Tua, Nyanyian Orang Urakan, Potret Pembangunan dalam Puisi, dan Doa untuk Anak-Cucu.

Pementasan drama dan puisinya sarat dengan kritik sosial terutama terhadap ideologi pembangunanisme Orde Baru. Ini yang mendorong rezim Soeharto beberapa kali melarang pementasan Bengkel Teater. Pada 1979, dalam pembacaan puisi di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, aparat keamanan sampai harus menggunakan bom amonia untuk membubarkan pementasan dan menahan Rendra tanpa proses peradilan.

Rendra pun mendekam di terungku militer Guntur selama sembilan bulan, di ruang isolasi dengan langit-langit rendah dan penuh nyamuk. Tapi, penahanan ini tak membuat dia jera. Pada 1986, dia menggubah dan mementaskan Panembahan Reso (drama berdurasi delapan jam) yang berbicara soal suksesi kepemimpinan politik—hal sangat tabu pada masa itu.

Keberanian Rendra menghadapi represi Orde Baru dipuji pengarang Pramoedya Ananta Toer. “(Rendra) satu orang yang punya keberanian melawan kekuasaan Soeharto, atas namanya sendiri. Jika kalian tak menghormati itu, setidaknya belajarlah (kepadanya).”

Di tengah jejak panjang drama dan puisinya, Rendra ternyata pernah menulis sejumlah cerita pendek pada dekade 1950-an. Cerpen-cerpennya dimuat antara lain di Majalah Kisah dan Majalah Siasat. Beberapa peneliti yang mengunjungi Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Jakarta, menemukan dokumentasi cerpen-cerpen tersebut.

“Si Burung Merak” lalu berpesan agar cerpen-cerpennya diterbitkan kembali meskipun dia lebih ingin dikenang sebagai penyair. “Di dalam cerpen-cerpenku itu berisi kehidupanku di masa lalu,” katanya sebagai dikutip Edi Haryono, sahabat Rendra, yang menulis pengantar dalam kumpulan cerpen Pacar Seorang Seniman (2016, Bentang).

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Latest from Nukilan

“Hotel Tua”

Cerpen Budi Darma Cerpen “Hotel Tua” dinukil dari kumpulan cerpen berjudul sama
Go to Top