JELAJAH LITERASI

Polemik Kebudayaan (IV): Sambungan Zaman

Nukilan by

Oleh Purbatjaraka | Catatan Redaksi: Dalam artikel ini, filolog dan ahli sastra Jawa, Purbatjaraka ikut menanggapi tulisan Sutan Takdir Alisjahbana. Guru Besar UI dan UGM itu memandang bahwa Indonesia modern adalah sambungan dari zaman-zaman sebelumnya. Dia juga menolak pandangan bahwa Indonesia harus berkiblat ke Barat. Sebab, “Kalau demikian, kelak jadinya kita terpaksa selalu mengejar saja.”

Keep Reading

The Invention of the Jewish People: Melacak Jejak Penduduk Asli Palestina dan Imigran Yahudi

Wacana by

Dengan menelusuri catatan sejarawan awal Yahudi, Shlomo Sand berkesimpulan bahwa penduduk asli Palestina adalah keturunan bangsa Yahudi Kuno. Sebaliknya, imigran Yahudi tak pernah memiliki afinitas historis dengan Tanah Yang Dijanjikan.

Keep Reading

Polemik Kebudayaan (III): Menuju Masyarakat dan Kebudayan Baru

Nukilan by

Oleh Sutan Takdir Alisjahbana

Catatan Redaksi: Dalam tulisan ini, Sutan Takdir Alisjahbana menanggapi tanggapan Sanusi Pane “Persatuan Indonesia” atas tulisannya “Menuju Masyarakat dan Kebudayaan Baru”. Dilampirkan juga di dalamnya tanggapan balik Sanusi Pane.

Keep Reading

7 Langkah Menjadi Pembaca yang Lebih Baik

Infografis by

Otak kita saat ini kian sibuk. Itu artinya kita sulit fokus, apalagi mengingat kembali apa yang sudah kita baca. Tapi, tip membaca dari peneliti neurosains berikut ini akan membantu kita mendapatkan yang terbaik dari apa yang kita baca.

Keep Reading

Polemik Kebudayaan (II): Persatuan Indonesia

Nukilan by

Oleh Sanusi Pane

Catatan redaksi: polemik kebudayaan adalah momen pergulatan pemikiran di kalangan budayawan Indonesia pada 1930-an. Satu bagiannya adalah polemik seputar apakah zaman Indonesia modern pada awal Abad ke-20 merupakan kelanjutan zaman sebelumnya ataukah justru sama sekali baru. Bagian ini diisi dengan saling balas tulisan antara Sutan Takdir Alisjahbana, Sanusi Pane, dan Poerbatjaraka. Perdebatan mereka dan tokoh-tokoh budayawan lainnya dikumpulkan oleh Achdiat Karta Mihardja dan dijadikan buku Polemik Kebudayaan yang diterbitkan Balai Pustaka pada 1948. Kami menghadirkan tulisan Alisjahbana, Pane, dan Mihardja secara berseri.

Keep Reading

Polemik Kebudayaan (I): Menuju Masyarakat dan Kebudayaan Baru Indonesia – Prae – Indonesia[1]

Nukilan by

Oleh Sutan Takdir Alisjahbana

Catatan redaksi: polemik kebudayaan adalah momen pergulatan pemikiran di kalangan budayawan Indonesia pada 1930-an. Satu bagiannya adalah polemik seputar apakah zaman Indonesia modern pada awal Abad ke-20 merupakan kelanjutan zaman sebelumnya ataukah justru sama sekali baru. Bagian ini diisi dengan saling balas tulisan antara Sutan Takdir Alisjahbana, Sanusi Pane, dan Poerbatjaraka. Perdebatan mereka dan tokoh-tokoh budayawan lainnya dikumpulkan oleh Achdiat Karta Mihardja dan dijadikan buku Polemik Kebudayaan yang diterbitkan Balai Pustaka pada 1948. Kami menghadirkan tulisan Alisjahbana, Pane, dan Mihardja secara berseri.

Keep Reading

Menolak Ayah: Novel Kaya Makna dari Ashadi Siregar

Fiksi by

Setelah menjani hiatus 30 tahun dari dunia kepengarangan, Ashadi Siregar (Cintaku di Kampus Biru) kembali dengan Menolak Ayah pada 2018. Novel ini, menurut Nestor Rico Tambunan, mengungkap banyak hal yang tak terungkap dalam sejarah, budaya orang Batak, dan kehidupan manusia Indonesia pada umumnya. Ia juga membangkitkan pathos, membantu kita lebih memahami manusia dan kemanusiaan.

Keep Reading

Sekolah yang Memusuhi Pendidikan

Utama by

Apa sasaran pendidikan: memintarkan atau membahagiakan anak? Pertanyaan itu diajukan Haidar Bagir dalam bukunya Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia. Haidar mengkritik sekolah yang terobsesi memintarkan anak, sehingga mengabaikan kekuatan terdahsyat manusia: imajinasi dan intuisi. 

Keep Reading
Go to Top